Kasih Tak Sampai


Kalian akan menemukan cerita tentang perundungan di sosial media, keresahan tentang bencana, dan kondisi ekonomi negeri yang memburuk.


Tapi di sini juga ada kisah tentang cinta masa muda, harapan, dan perjuangan dalam menjaga kebahagiaan di dunia yang tidak ideal.





Kisah ini ditulis karena rasa kangen penulis kepada Valko, karakter yang tidak jadi rilis di game Love and Deepspace.


#SongTember2026 ini diprakarsai oleh Studio Aksara, dan lagu yang aku pilih untuk menemani kalian adalah Kasih Tak Sampai dari Padi.





⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


BAB 1


Aku adalah seorang pemain game dating simulator yang lumayan aktif di media sosial. Game seperti itu selalu jadi pelarian paling ampuh setelah seharian berkutat dengan pekerjaan kantor yang melelahkan.

Rasanya sangat menyenangkan bisa pulang ke rumah lalu rebahan dan membuka game untuk membaca cerita romantis untuk melepas penat.


Sesekali aku juga ikut meramaikan fandom, mulai dari membahas teori dari cerita di game, membagikan fanart, sampai bercanda soal daftar "suami virtual" yang terus bertambah.


Suatu sore, saat sedang membuka ponsel setelah pulang kerja, sebuah notifikasi muncul di layar.


"Special Announcement, New Character Reveal Today."


Tanpa pikir panjang, notifikasi itu kubuka. Layar berubah menjadi video teaser bernuansa gelap. 


Kabut memenuhi hutan, suara langkah kaki bergema pelan, lalu sepasang mata kuning menyala muncul di balik bayangan. 


Sosok serigala perlahan terlihat sebelum sosok pria itu akhirnya menoleh ke arah kamera. Nama yang muncul di akhir video adalah Valko.


Entah kenapa, kesan pertamaku langsung bagus. Auranya misterius, desainnya keren, dan konsep serigala itu terasa berbeda dibanding karakter lain. Sebagai kolektor "suami" di game, aku langsung memasukkannya menjadi target cinta selanjutnya 


Kolom komentar saat itu masih dipenuhi orang-orang yang sama antusiasnya. Ada yang membahas teori latar belakang Valko, memuji desainnya, bahkan ada yang sudah menghitung berapa banyak mata uang game yang harus ditabung sebelum bannernya rilis.


Namun euforia itu tidak bertahan lama.


Seperti hampir semua produk baru di fandom besar, karakter baru selalu datang bersama pro dan kontra. Fandom game ini terkenal sangat fanatik dan mudah bergejolak.


Karena game menjual pengalaman romansa, kedekatan emosional pemain dengan setiap love interest menjadi alasan utama mereka rela menghabiskan uang untuk gacha, membeli paket, atau top up demi mendapatkan kartu favorit.


Perasaan itu ternyata membuat suasana cepat memanas.


Awalnya, kemarahan pemain sebenarnya bukan ditujukan kepada Valko. Banyak yang sudah lama mengeluhkan pengembang karena terlalu agresif menjual konten berbayar, sementara pembaruan cerita utama justru terasa lambat. 


Padahal, bagi game otome, main story adalah jantung permainan. Tanpa cerita yang berkembang, banyak pemain merasa hubungan dengan karakter favorit mereka seperti berhenti di tempat.


"Aku bukan butuh banner baru," tulis seseorang di X.


"Main story aja belum lanjut."


Komentar serupa bermunculan di mana-mana.


Sayangnya, kemarahan yang seharusnya mengarah kepada pengembang justru berbelok ke karakter baru itu.


Valko, yang bahkan belum resmi dirilis, mulai dijadikan sasaran. Semakin hari, unggahan tentangnya dipenuhi komentar negatif. 


Ada yang menyebut kehadirannya tidak perlu, ada yang menuduh ia mencuri jatah karakter lama, bahkan ada yang terang-terangan meminta pengembang membatalkan perilisannya.


Aku membaca semua itu sambil mengernyit.


Di sisi lain, penggemar beberapa love interest lama ikut memperkeruh keadaan. Sebagian memang tetap santai, tetapi ada juga kelompok yang sangat protektif terhadap karakter favorit mereka. 


Sulit memastikan alasan setiap orang, tetapi dari luar terlihat seperti ada kekhawatiran bahwa karakter baru akan membagi perhatian pemain atau menggeser popularitas love interest yang sudah ada lebih dulu.


Timeline media sosial berubah menjadi medan perang kecil.


Satu akun mengunggah fanart Valko.


Lima menit kemudian muncul puluhan balasan yang memperdebatkan keberadaannya.


Ada yang membela, tapi banyak juga yang mengejek. Ada yang saling menyerang hanya karena berbeda karakter favorit.


Aku hanya bisa menghela napas sambil menutup kolom komentar yang semakin rusuh.


Padahal, bagiku saat itu Valko hanyalah karakter baru dengan desain keren yang bahkan belum sempat menunjukkan ceritanya sendiri. 


Namun melihat besarnya gelombang penolakan itu, aku mulai bertanya-tanya. Bagaimana rasanya menjadi karakter yang bahkan belum lahir ke dalam permainan, tetapi sudah dibenci oleh begitu banyak orang?



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Serangan terhadap Valko ternyata tidak berhenti di media sosial. Semakin lama, situasinya berubah menjadi sesuatu yang sulit dipercaya.


Awalnya hanya tagar boikot, komentar kebencian, dan laporan massal terhadap akun yang mengunggah fanart Valko. 


Namun beberapa hari kemudian, kabar yang beredar justru semakin gila. Ada orang yang mengirim tahi sapi ke kantor developer sebagai bentuk protes. 


Yang lebih mengerikan, muncul berita tentang seseorang yang datang membawa senjata tajam dengan niat melukai pegawai perusahaan game itu.


Aku membaca berita itu sambil mematung di kursi kantor. Tak terbayangkan jika harus bekerja di perusahaan seperti itu dan menerima ancaman nyata.


"Ini serius?"


Temanku yang juga bermain game itu mengangguk sambil menunjukkan layar ponselnya. 


"Iya. Udah kelewatan banget."


Aku tidak tahu seberapa banyak rumor yang benar atau dibesar-besarkan, tetapi satu hal terlihat jelas. Situasinya sudah jauh melampaui sekadar perang fandom.


Di tengah kekacauan itu, muncul dugaan bahwa perusahaan game pesaing ikut memanfaatkan kemarahan publik untuk memperburuk keadaan. 


Timeline dipenuhi akun-akun baru yang menyebarkan provokasi, membuat rumor semakin sulit dipisahkan dari fakta. Entah benar atau tidak, hasil akhirnya tetap sama. Kebencian terus membesar seperti api yang disiram bensin.


Lalu pengumuman itu datang.


Aku masih ingat malam ketika developer mengunggah surat resmi berisi pengumuman penting. Jantungku langsung berdebar sebelum sempat membaca isinya.


"Setelah mempertimbangkan berbagai situasi perilisan karakter Valko dibatalkan."


Aku menatap layar beberapa detik tanpa berkedip.


"Hah...?"


Rasanya otakku menolak memproses kalimat itu. Kukira mereka hanya menunda rilis atau mengubah jadwal. Ternyata bukan. Mereka benar-benar menghapusnya.


Tanganku gemetar saat membuka media sosial. Timeline langsung dipenuhi tangisan digital. Fanart terakhir bermunculan, orang-orang mengunggah ulang teaser Valko, sementara banyak pemain yang selama ini membelanya menulis pesan perpisahan untuk karakter yang bahkan belum sempat hadir di dalam game.


Aku ikut marah.


Sebagai konsumen, aku merasa dikhianati. Bukan hanya karena karakter favoritku batal dirilis, tetapi karena rasanya kebencian berhasil memenangkan segalanya. 


Aku dan banyak teman di media sosial sudah berhari-hari membela Valko dari komentar-komentar kasar, melaporkan akun perundung, dan mencoba mengingatkan bahwa masalah utamanya adalah keputusan developer, bukan karakter fiksi itu sendiri.


Semua usaha itu berakhir sia-sia.


Aku bahkan menangis.


Sebagai sesama budak korporat, aku membayangkan kesedihan team kreatif yang kerja keras membuat desain karakternya, dan harus merelakan bayi mereka “diaborsi”.


Kalau kupikir sekarang, mungkin terdengar konyol bahwa aku menangisi karakter fiksi yang bahkan belum pernah berbicara satu kalimat di dalam game.


Namun saat itu rasanya nyata. Dadaku sesak seperti baru diputuskan seseorang yang kusayangi, padahal pria itu tidak pernah benar-benar ada. 


Yang tersisa hanyalah teaser berdurasi beberapa detik dan kemungkinan-kemungkinan yang tidak akan pernah menjadi cerita.


Hari-hari setelah pengumuman terasa lebih berat.


Pekerjaan kantor tetap berjalan tanpa peduli suasana hatiku. Klien terus mengirim revisi, rapat mendadak muncul, dan masalah baru selalu menunggu sebelum masalah lama selesai.


"File yang kemarin bisa direvisi lagi?" tanya atasku.


Aku menarik napas panjang. "Baik, Pak."


Saat akhirnya jam kerja selesai, tubuhku seperti kehabisan tenaga. Bahuku pegal, mataku perih karena terlalu lama menatap monitor, dan kepalaku dipenuhi campuran lelah serta kecewa.


Sesampainya di rumah, aku melakukan rutinitas yang hampir tidak pernah berubah. Mandi, makan seadanya, lalu naik ke tempat tidur sambil mengambil ponsel untuk bermain game sebentar saja.


Game itu terbuka seperti biasa. Musik latarnya tetap lembut. Layar utama menampilkan para love interest yang tersenyum seolah menyambutku pulang


Aneh sekali.


Biasanya senyum mereka cukup membuat suasana hatiku membaik. Kali ini justru terasa kosong.


Aku membuka galeri karakter.


Valko tidak ada.


Aku memeluk lutut sambil menatap layar yang perlahan meredup. Pertanyaan yang sejak beberapa hari lalu terus mengganggu pikiranku kembali muncul.


Apakah kebencian akan selalu menang?


Kalau orang yang paling berisik selalu menang, untuk apa orang lain berusaha membela sesuatu yang mereka anggap benar?


Air mataku akhirnya jatuh lagi. Bukan deras seperti sebelumnya, tetapi cukup untuk membuat pandanganku kabur.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Di tengah rasa lelah yang menumpuk setelah seharian bekerja dan kesedihan yang belum benar-benar hilang, kelopak mataku terasa semakin berat.


Tanpa sadar, aku tertidur dengan ponsel yang masih berada di samping bantal.


Lalu sesuatu berubah di tengah kegelapan yang sunyi.


Cahaya yang menyilaukan itu semakin terang hingga membuatku refleks menutup mata. Rasanya seperti seluruh tubuhku melayang, ringan tanpa pijakan, sementara suara-suara di sekitarku menghilang satu per satu. 


Saat keberanianku kembali dan aku membuka mata perlahan, dunia yang kulihat sudah benar-benar berbeda. Aku berdiri di sebuah tempat yang asing sekaligus kosong.


Langit di atas berwarna jingga seperti senja yang tak pernah selesai. Anehnya, tidak ada matahari yang menggantung, tidak ada awan yang bergerak, bahkan tidak ada satu bintang pun yang menemani langit itu. 


Cahaya seolah berasal dari udara itu sendiri, membuat seluruh tempat diselimuti warna hangat yang terasa sunyi.


Di hadapanku hanya terbentang hamparan tanah tanpa ujung. Tidak ada bangunan, pepohonan, atau suara angin.


Lalu sebuah suara memecah keheningan.


"Akhirnya kamu datang juga."


Aku menoleh cepat.


Dadaku langsung berdegup keras ketika melihat sosok yang berdiri beberapa langkah di depanku.


Valko.


Bukan gambar tiga dimensi di layar ponsel atau potongan teaser beberapa detik yang berulang kali kutonton. 


Kali ini ia berdiri utuh di hadapanku, begitu nyata hingga aku bisa melihat helaian rambut merahnya yang bergerak pelan dan sorot matanya yang jauh lebih lembut daripada yang kubayangkan.


"Aku beneran mimpi? Tapi kenapa ini terlalu nyata?"


Valko hanya tersenyum tipis.


Tanpa sempat berpikir lagi, kakiku bergerak sendiri. Aku berlari menghampirinya dan langsung memeluk tubuhnya erat.


Hangat.


Aku bisa merasakan detak jantungnya yang pelan di balik pelukan itu. Tangannya terangkat perlahan, lalu mengusap kepalaku dengan gerakan tenang, seolah sedang menenangkan seseorang yang sudah lama menahan tangis.


Entah sejak kapan air mataku kembali jatuh.


"Kenapa nangis?" tanyanya lembut.


"Kamu harusnya ada."


Kalimat itu membuat tenggorokanku tercekat. "Harusnya kamu dirilis."


Ia tidak langsung menjawab. Usapan di rambutku tetap berlanjut beberapa saat sebelum akhirnya kami saling menjauh sedikit. Wajahnya kini terlihat jelas dari jarak sedekat itu.


Tangannya yang besar menghapus air mata di pipiku dengan ibu jari.


"Aku tahu ini mungkin cuma mimpi," kataku sambil tertawa kecil di sela tangis. "Tapi rasanya nyata banget."


Valko menatap langit jingga di atas kami sebelum kembali menatapku.


"Kamu dapat berkah dari langit. Dalam waktu beberapa bulan, hidupmu akan berubah."


Aku menunggu penjelasan lebih lanjut, tetapi ia berbicara dengan cara yang terasa seperti teka-teki.


"Kamu akan hidup di dimensi lain, lalu bertemu versi lain diriku."


Jujur aku tidak mengerti maksudnya. Banyak pertanyaan memenuhi kepalaku, tapi tanah di bawah kakiku tiba-tiba bergetar.


Sebuah pusaran muncul tepat di bawah telapak kakiku. Warnanya gelap, berputar semakin cepat seperti air yang menghisap apa pun di atasnya.


Aku mencengkeram tangan Valko sekuat tenaga, tetapi kekuatan itu terlalu besar.


Jari kami perlahan terpisah satu per satu. Aku berusaha meraih kembali tangannya, tetapi tubuhku sudah lebih dulu terseret ke bawah.


"Valko!"


Pandangan kami bertemu untuk terakhir kalinya.


"Kita pasti ketemu lagi."


Itu kalimat terakhir yang kudengar darinya sebelum seluruh tubuhku tenggelam ke dalam pusaran, sampai akhirnya aku sampai di suatu tempat asing.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


BAB 2



Aku sekarang berada di hadapan akademi yang sangat megah. Gedung-gedung batu putih menjulang tinggi dengan jendela kaca besar yang memantulkan cahaya pagi. 


Pilar-pilar tinggi berjajar di sepanjang halaman, sementara jalan batu yang lebar dipenuhi mahasiswa yang berjalan sambil bercakap-cakap.


Aku berdiri terpaku di tengah halaman. Sebelum sempat memahami keadaan, seseorang memanggilku dari belakang.


"Sayang."


Aku menoleh.


Seorang pria berambut merah berjalan menghampiriku dengan langkah santai.


Jantungku hampir berhenti berdetak. Dia adalah Valko yang terlihat jauh lebih hidup, lebih ceria, seolah sudah mengenalku sejak lama.


Ia berhenti tepat di depanku, lalu mengangkat sebelah alis.


"Kamu kok kebingungan gitu?"


Sebelum aku sempat menjawab, tangannya sudah terulur untuk merapikan rambutku yang sedikit berantakan.


"Masih ngantuk ya?"


Aku membeku karena kaget. Barusan dia memanggilku sayang. Dan dari caranya menatapku, itu bukan panggilan iseng kepada teman biasa.


"Aku cuma agak pusing."


Valko menatapku beberapa saat, seolah memastikan kondisiku.


"Kurang tidur lagi?"


"Hmm mungkin?"


"Kalau gitu kita ke perpustakaan dulu aja. Kamu tadi juga bilang mau cari bahan buat tugas, kan?"


Aku sama sekali tidak tahu tugas apa yang dia maksud, tetapi itu justru menjadi alasan sempurna untuk mengumpulkan informasi.


Kami berjalan berdampingan melewati halaman akademi. Dari dekat, bangunan itu jauh lebih megah daripada yang kulihat sebelumnya.


Beberapa orang melambaikan tangan ke arah kami.


"Val, nanti ketemu di kelas ya!"


Valko membalas sapaan mereka dengan santai.


"Oke!"


Tak lama kemudian kami tiba di perpustakaan. Bangunannya menyerupai perpaduan kastil tua dan perpustakaan modern. 


Rak-rak kayu tinggi memenuhi ruangan, sementara jendela kaca berukuran besar membiarkan cahaya pagi masuk hingga membuat debu-debu kecil tampak berkilauan di udara. 


Aroma kertas dan kayu tua langsung menyambutku begitu pintu terbuka.


"Aku cari referensi dulu ya," kataku.


"Ya udah, kalau begitu aku di meja sana."


Valko menunjuk sebuah meja dekat jendela sebelum mengeluarkan laptop tipis dari tasnya. Melihat ia mulai sibuk mengetik, aku akhirnya bisa bergerak lebih bebas.


Langkah pertamaku menuju rak koran dan majalah terbaru.


Aku berharap menemukan tanggal, nama kota, atau apa pun yang bisa menjelaskan dunia ini.


Namun sesuatu yang justru membuatku berhenti adalah dinding besar di dekat pintu masuk.


Di sana tergantung lambang negara.


Seekor singa jantan berdiri tegak dengan surai yang mengembang megah, sementara di bawahnya tertulis huruf emas.


“Kerajaan Ondinesia”


Aku menatapnya cukup lama sebelum tanpa sadar menahan tawa.


Kalau dipikir-pikir, lambangnya benar-benar mengingatkanku pada Gryffindor di Harry Potter. Nama negaranya juga terdengar lucu di telingaku, mirip nama negara Konoha.


Aku kembali menyusuri rak majalah. Sampul edisi terbaru langsung menarik perhatianku.


Seorang pria berkumis tebal berdiri di atas podium dengan tangan terangkat tinggi saat berpidato. Pose semangatnya mengingatkanku pada foto-foto legendaris Bung Tomo yang sering kulihat di buku sejarah.


Aku mengambil majalah itu lalu duduk di kursi baca dekat rak.


Judul utamanya berbunyi:


"Soeharno, Kandidat Wakil Raja dari Partai Serigala."


"Wakil Raja?"


Aku mengernyit. Istilah itu terdengar aneh. Bukankah kerajaan biasanya hanya punya raja?


Aku buru-buru merogoh saku. Syukurlah ponselku masih ada.


Layar menyala seperti biasa. Internet juga berfungsi. Aku langsung membuka mesin pencari dengan hati-hati, berharap tidak ada yang memperhatikan.


Kerajaan Ondinesia.


Hasil pencarian bermunculan.


Semakin kubaca, semakin terasa bahwa sistem negara ini unik.


Ondinesia memang kerajaan, tetapi rajanya lebih berperan sebagai kepala negara simbolis yang dihormati karena garis keturunan. 


Sementara pemerintahan sehari-hari dijalankan oleh seorang Wakil Raja, jabatan yang dipilih melalui pemilu dan didukung mayoritas parlemen.


"Jadi Wakil Raja mirip Perdana Menteri."


Wewenangnya ternyata sangat besar. Mengelola kabinet, menentukan kebijakan nasional, memimpin pemerintahan, hingga menjadi wajah utama negara dalam urusan politik. 


Kalau diterjemahkan ke dunia asalku, posisinya terasa seperti gabungan perdana menteri dan presiden sekaligus.


Menarik! Aku kembali membuka majalah tadi.


Soeharno, atau yang lebih akrab dipanggil Bung Harno, sedang menjadi kandidat dari Partai Serigala.


Sementara itu, artikel lain membahas pemerintahan saat ini.


Partai Garuda masih memegang kekuasaan.


Namun grafik survei yang terpampang di halaman berikutnya menunjukkan tren dukungan rakyat yang terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.


Aku membaca lebih teliti.


Pusat kritik ternyata mengarah pada Wakil Raja saat ini, Subiatno. Banyak pengamat politik di artikel itu menilai kepemimpinannya sering dianggap tidak mandiri karena terlalu dipengaruhi oleh Ketua Partai Garuda, Mulyana.


Beberapa kebijakan pemerintah disebut sering berubah setelah pertemuan internal partai, sehingga muncul anggapan bahwa keputusan penting lebih banyak lahir dari ruang rapat Partai Garuda daripada dari kantor Wakil Raja sendiri.


Aku membalik halaman demi halaman majalah itu dengan semakin serius. Semakin banyak kubaca, semakin terasa bahwa Kerajaan Ondinesia sedang berada dalam masa yang penuh gejolak. 


Hampir setiap edisi memuat berita tentang kebijakan pemerintah, kritik masyarakat, hingga laporan investigasi yang saling bersambung seperti potongan puzzle.


Aku mulai membuat rangkuman kecil di kepalaku agar tidak kewalahan.


Masalah pertama yang paling sering muncul adalah Program Makanan Nasional untuk para siswa. Di atas kertas, program itu terdengar mulia. Namun laporan di lapangan menceritakan hal yang berbeda. 


Ada sekolah yang menerima makanan terlambat, ada yang kualitasnya buruk, bahkan beberapa daerah melaporkan banyak siswa mengalami keracunan setelah menyantap menu yang dibagikan.


Aku mengerutkan kening.


"Ini implementasinya berantakan banget."


Berita berikutnya membahas Program Koperasi Desa, proyek besar yang berkali-kali dipromosikan sebagai solusi untuk menggerakkan ekonomi rakyat. 


Sayangnya, artikel investigasi itu mempertanyakan pelaksanaannya. Banyak koperasi disebut belum berjalan optimal, alur pendanaannya membingungkan, sementara anggaran yang sudah dikeluarkan justru sangat besar.


Beberapa media menyoroti hal serupa, meski dengan sudut pandang berbeda. Ada yang menilai program itu masih membutuhkan waktu, ada pula yang mempertanyakan transparansinya.


Belum selesai sampai di situ, masalah lingkungan ternyata menjadi topik yang paling sering memenuhi halaman depan surat kabar.


Kebijakan eksploitasi hutan mendapat sorotan tajam setelah kebakaran besar melanda beberapa wilayah. 


Foto-foto udara memperlihatkan lautan asap yang menutupi kota, sementara artikel di bawahnya memuat kesaksian warga yang kesulitan bernapas dan kehilangan mata pencaharian.


Aku menatap foto itu cukup lama.


"Asapnya sampai segini parah."


Di halaman lain, majalah itu mengulas kritik publik terhadap sejumlah pejabat yang dianggap lebih sering tampil dalam acara seremonial dan kampanye citra dibanding memberikan solusi konkret saat krisis berlangsung. 


Berbagai editorial membandingkan pidato-pidato optimistis dengan keluhan masyarakat yang terus muncul dari berbagai daerah.


Aku bersandar pelan di kursi.


"Rumit juga."


Dari beberapa artikel yang kubaca, masyarakat sebenarnya sudah lama menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan itu. Demonstrasi, surat pembaca, diskusi publik, hingga opini media terus bermunculan. 


Namun tanggapan resmi pemerintah sering menekankan bahwa berbagai upaya perbaikan sedang dilakukan dan meminta masyarakat memberi waktu agar program-program tersebut membuahkan hasil.


Aku membuka artikel politik berikutnya.


Di sinilah nama Partai Serigala kembali muncul.


Berbagai media menggambarkan partai itu sebagai oposisi utama yang aktif membangun citra dekat dengan masyarakat. 


Banyak laporan menyoroti kegiatan mereka mengadakan dapur umum saat bencana, menggalang bantuan untuk warga kurang mampu, hingga turun langsung ke beberapa daerah terdampak.


Aku terus membaca.


Salah satu berita yang paling menarik perhatian membahas keputusan mereka bekerja sama dengan tim pemadam dari luar negeri untuk membantu menangani kebakaran hutan. 


Sebagian pihak memuji langkah itu sebagai tindakan pragmatis demi mempercepat penanganan bencana, sementara pihak lain memperdebatkan keterlibatan pihak asing dalam urusan domestik.


"Dunia ini benar-benar punya dinamika politik sendiri," gumamku.


Rasa penasaranku beralih kepada keluarga kerajaan.


Kalau situasinya sepanas ini, kenapa rajanya terlihat tidak banyak mengambil keputusan?


Aku kembali membuka mesin pencari.


Jawabannya ternyata cukup jelas.


Konstitusi Kerajaan Ondinesia memang membatasi kekuasaan raja. Raja berperan sebagai kepala negara simbolis yang dihormati karena garis keturunan, sementara keputusan pemerintahan berada di tangan Wakil Raja bersama kabinet dan parlemen.


"Jadi memang bukan rajanya yang bikin kebijakan."


Berita lain mulai membahas hubungan antara keluarga kerajaan dengan dunia politik.


Media ramai mengulas kedekatan Raja Yudhonegoro VI dengan beberapa tokoh Partai Serigala. 


Beberapa artikel menampilkan foto sang raja menghadiri acara publik yang juga dihadiri tokoh partai tersebut. 


Di sisi lain, liputan mengenai kegiatan Partai Garuda lebih sering memperlihatkan kehadiran menantu raja dibanding sang raja sendiri.


Aku menggeser layar lagi. Sebuah kalender digital membuatku berhenti. Dua bulan menuju Pemilu Nasional.


Berarti aku datang ke dunia ini tepat ketika suhu politik sedang memanas.


Pemilu itu bukan hanya menentukan komposisi parlemen, tetapi juga memilih Wakil Raja berikutnya. Tidak heran berita politik memenuhi setiap media yang kubuka.


"Dalam sejam aku udah belajar sistem negara baru," gumamku pelan.


Rasanya aneh sekali. Baru beberapa jam lalu aku masih lembur di kantor di dunia asalku. Sekarang aku duduk di perpustakaan akademi kerajaan sambil membaca politik negara yang bahkan belum pernah kudengar sebelumnya.


Saat hendak menutup majalah, aku merasakan seseorang yang memperhatikanku.


Valko masih duduk di meja dekat jendela dengan laptop terbuka. Namun bukannya fokus mengetik, ia justru menopang dagu sambil menatapku dengan senyum yang sejak tadi tidak hilang.


"Kenapa sih senyum terus?"


Aku berjalan menghampirinya lalu, tanpa sadar, mencubit pelan pipinya.


Ia tertawa kecil.


"Kamu serius banget bacanya."


Aku mengangkat majalah itu.


"Wajar dong, ini isinya politik semua."


Valko malah terlihat semakin bingung.


"Loh, kamu lagi baca majalah tentang ayahmu sendiri."


Aku membeku. "Hah?"


"Ayahmu." Ia menunjuk sampul majalah yang masih kupegang. "Bung Harno."


Otakku seperti berhenti bekerja beberapa detik. Aku buru-buru mengeluarkan ponsel.


Tanganku sedikit gemetar saat membuka galeri foto. Ratusan foto muncul begitu saja, seolah ponsel ini memang sudah lama menjadi milikku di dunia ini.


Aku membuka album keluarga.


Di layar muncul sebuah foto yang membuat napasku tertahan.


Empat orang berdiri berdampingan sambil tersenyum lebar.


Di sana ada aku, dan di sebelahku seorang wanita yang tampak hangat dan anggun, kemungkinan ibuku.


Seorang anak laki-laki yang lebih muda berdiri sambil merangkul lenganku, pasti adikku.


Dan di sisi paling kanan, terlihat pria berkumis yang tadi kulihat di sampul majalah.


Bung Harno.


Senyumnya sama persis seperti di foto kampanye, tetapi kali ini ia mengenakan pakaian santai dan merangkul bahuku seperti ayah yang bangga pada putrinya.


Aku menatap foto itu cukup lama. Jadi dunia ini aku benar-benar putri Bung Harno.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Terlalu banyak informasi membuat kepalaku terasa penuh. Politik kerajaan, sistem pemerintahan, fakta bahwa Bung Harno adalah ayahku di dunia ini, semuanya bercampur menjadi satu. 


Belum sempat aku mencerna semuanya, suara perutku berbunyi cukup keras hingga membuat Valko tertawa.


Aku menutup wajah dengan telapak tangan.


"Jangan diketawain."


Ia berdiri sambil meraih tasnya.


"Ayo kita pergi untuk makan siang."


Aku mengangguk. Jujur saja, sejak datang ke dunia ini aku belum benar-benar memperhatikan rasa lapar. Rupanya tubuhku mulai menagih energi setelah semua kejutan hari itu.


Valko mengajakku keluar perpustakaan menuju kantin yang berada di basement akademi.


Suasana koridor jauh lebih ramai dibanding sebelumnya. Mahasiswa mulai berbondong-bondong menuju area makan sambil membawa buku dan laptop. 


Dari kejauhan sudah terdengar suara peralatan makan beradu serta aroma makanan yang samar-samar mulai tercium.


Begitu sampai di dekat tangga menuju basement, Valko tiba-tiba berbalik menghadapku dengan senyum jahil.


"Siapa terakhir sampai bawah traktir minum."


"Hah? Curang!"


"Siap?"


Belum sempat aku menyetujui tantangan itu, ia sudah menggenggam tanganku.


"Ayo!"


Ia berlari menuruni tangga dengan langkah ringan sambil menarikku ikut bersamanya. Aku ikut tertawa karena melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan, tetapi ritme langkahku tidak secepat dirinya.


"Pelan-pelan dong!" ujarku kesal.


"Bentar lagi nyampe!" kata Valko dengan semangat.


Pegangannya tetap hangat, tetapi langkahku mulai kacau. Sepatuku sedikit tergelincir di ujung anak tangga.


"Valko!"


Semuanya terjadi dalam hitungan detik. Kakiku kehilangan pijakan. Tanganku terlepas dari genggamannya.


Tubuhku terlempar ke depan sebelum akhirnya menghantam lantai dengan keras.


Brak.


Benturan di kepalaku membuat telingaku berdenging.


"Sayang!"


Suara Valko terdengar jauh.


Pandanganku berputar.


Langit-langit basement berubah kabur, wajah-wajah mahasiswa mulai kehilangan bentuk, sementara kepalaku terasa berdenyut hebat.


"Bangun, dengar aku."


Aku ingin menjawab. Namun bibirku tidak mampu bergerak. Cahaya di sekitarku perlahan menghilang hingga semuanya berubah menjadi gelap.


Aku terbangun dengan napas terengah. Samar-samar terlihat kamar tidurku. Aku langsung duduk sambil memegang kepalaku.


Ternyata aku kembali berada di dunia nyata.


Jam di meja menunjukkan pagi hari. Alarm ponsel berbunyi beberapa menit kemudian, mengingatkanku bahwa aku harus bersiap berangkat kerja.


Aku mengusap wajah beberapa kali.


"Mimpi."


Rasanya begitu nyata hingga telapak tanganku masih seolah mengingat hangatnya genggaman Valko.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


BAB 3



Malam datang lebih cepat daripada yang kusadari. Mungkin karena hari ini aku cukup sibuk di kantor.


Aku merebahkan tubuh di kasur sambil menatap langit-langit kamar.


"Mimpi kemarin absurd banget."


Aku tertawa pelan sendiri.


"Mungkin karena kangen Valko."


Atau mungkin karena terlalu banyak membaca berita politik sampai otakku mencampuradukkan semuanya.


Lampu kamar kupadamkan, kemudian rasa kantuk datang lagi. Begitu mataku terpejam, kesunyian yang sama kembali menyelimutiku.


Aku sedang duduk di atas kasur empuk di sebuah kamar yang asing namun terasa mewah. 


Dindingnya dihiasi panel kayu terang, tirai tebal berwarna krem menutupi sebagian jendela besar, sementara lampu gantung kristal memantulkan cahaya hangat ke seluruh ruangan.


Di luar jendela, langit sudah gelap. Aku menoleh ke samping. Valko tertidur di kursi yang diletakkan tepat di sisi tempat tidur.


Tangannya masih menggenggam tanganku erat sambil kepalanya menunduk.


Aku buru-buru menarik tanganku.


Gerakan kecil itu membuat Valko langsung terbangun. Ia mengedip beberapa kali sebelum wajahnya berubah lega.


"Kamu udah bangun ya?"


Tanpa terlihat kesal karena dibangunkan, ia justru tersenyum lalu segera berdiri menyalakan lampu di dekat tempat tidur.


Ruangan menjadi lebih terang.


"Kepalamu masih sakit?"


Aku spontan menyentuh dahiku. Tidak terlalu sakit.


Ekspresinya berubah sedikit bersalah.


"Maaf, aku tadi narik kamu untuk lari, malah kamu jadi terjatuh"


Aku menggeleng pelan.


"Itu juga aku yang nggak hati-hati."


Sebelum percakapan kami berlanjut, terdengar ketukan di pintu.


Seorang wanita paruh baya masuk sambil membawa nampan besar berisi makan malam. Wajahnya ramah, senyumnya hangat seperti seseorang yang sudah lama mengenalku.


"Ayo, Non makan dulu."


Ia meletakkan nampan itu di meja kecil dekat tempat tidur.


"Mas Valko juga diajak ya."


Wanita itu melirik Valko sambil tersenyum geli.


"Kasihan lho. Dari tadi pacarnya nungguin terus, disuruh pulang juga nggak mau."


Aku langsung menoleh ke Valko.


Pacar? Ternyata memang benar hubungan kami spesial.


Valko hanya menggaruk tengkuknya dengan wajah sedikit salah tingkah.


Wanita itu terkekeh kecil melihat reaksi kami sebelum keluar lagi sambil menutup pintu perlahan.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Setelah makan malam, kepalaku justru bekerja semakin cepat. Kalau setiap hari aku harus bolak-balik ke dunia ini, aku tidak mungkin terus berpura-pura mengerti semuanya. 


Cepat atau lambat aku pasti akan salah menyebut nama orang, lupa kebiasaan, atau bingung dengan peristiwa yang seharusnya sudah kuketahui.


Aku butuh alasan yang masuk akal. Lalu sebuah ide muncul. Amnesia.


Kalau aku berpura-pura kehilangan sebagian ingatan akibat benturan di tangga, semua pertanyaanku akan terdengar wajar.


Aku menoleh ke Valko yang sedang membereskan piring kosong di meja. Aku memasang wajah seserius mungkin.


"Sepertinya aku hilang ingatan."


Suara sendok di tangannya langsung berhenti. Ia menatapku beberapa detik, lalu buru-buru mendekat.


"Kamu serius?"


Aku mengangguk pelan sambil memegang kepala. Ekspresinya langsung berubah panik.


"Bagian mana yang lupa?”


"Banyak hal yang kabur. Val, kita kuliah di mana, sih?"


"Akademi Elite Ondinesia. Kita seangkatan, tapi beda jurusan.”


Aku terus melempar pertanyaan seperti sedang menyusun puzzle.


Ternyata aku dan Valko sudah berpacaran selama satu tahun sejak masa SMA. Hubungan kami dimulai menjelang kelulusan, lalu berlanjut ketika sama-sama diterima di Akademi Elite Ondinesia.


Aku mengangguk-angguk sambil menghafalnya.


"Jurusanku apa?"


"Hubungan Internasional."


"Terus kamu?"


"Teknik Informatika."


Karena jurusan kami berbeda gedung, kami ternyata jarang bertemu saat kuliah. Makan siang bersama menjadi kebiasaan yang hampir selalu kami usahakan setiap hari agar tetap punya waktu berdua.


Aku mengangguk pelan sambil melihat tubuhnya yang berotot. Lalu muncul pertanyaan lain.


"Terus kamu suka olahraga?"


"Waktu SMA aku aktif pencak silat. Kalau sekarang lebih sering nge-gym."


Di dunia asalku, Valko memang digambarkan bertubuh atletis. Sekarang aku malah tahu penyebabnya. 


Ditambah lagi, kemarin dia berhasil menggendongku saat pingsan tanpa terlihat kesulitan sedikit pun.


Aku kembali mengajukan pertanyaan berikutnya.


"Kalau keluargaku gimana?"


Ekspresinya berubah lebih hati-hati.


"Yang mana dulu?"


"Ayah."


"Ayahmu lagi sibuk banget."


"Karena pemilu?"


"Iya."


Dari penjelasannya, Bung Harno memang menjadi salah satu petinggi penting Partai Serigala. Menjelang pemilu tiga bulan lagi, jadwalnya hampir tidak pernah kosong. 


Rapat, kunjungan daerah, debat, hingga pertemuan partai memenuhi hari-harinya.


"Makanya beberapa hari ini beliau jarang di rumah."


Aku mengangguk.


"Lalu ibu?"


"Ibumu baik."


"Tinggal di sini?"


Valko menggeleng.


"Nggak, ibu dan adikmu tinggal di luar negeri."


Menurut cerita Valko, ibuku memilih mengejar karier internasional sejak beberapa tahun lalu. Dunia politik ternyata bukan kehidupan yang cocok untuknya. 


Hubungan mereka tetap baik sebagai keluarga, tetapi memilih menjalani kehidupan di negara yang berbeda.


Aku menatap jendela kamar yang gelap. Di dunia ini aku tinggal di rumah mewah sebesar ini.


Kamar tidurnya lebih luas daripada apartemen kontrak yang kutinggali di dunia nyata. Namun tetap saja terasa sepi.


Aku teringat keluargaku di dunia asal. Rumah kami jauh lebih sederhana, tetapi suasananya hangat. 


Memang sekarang aku juga hidup sendiri karena merantau untuk bekerja, tetapi setiap pulang selalu ada rasa nyaman yang sulit dijelaskan.


"Ternyata jadi anak orang kaya juga ada masalahnya," gumamku pelan.


Untungnya Valko tidak mendengarnya karena ia sedang berdiri mengambil remote yang tergeletak di meja.


"Mau nonton film?"


Aku mengangguk. "Boleh."


Televisi besar di depan tempat tidur menyala. Kami memilih film ringan tanpa banyak berpikir. Entah aku benar-benar menikmati ceritanya atau tidak, karena sebagian besar perhatianku justru tertuju pada tingkah Valko.


Aku tersenyum kecil lalu menyandarkan kepala di bahunya.


Pelukannya terasa hati-hati, seolah masih takut kepalaku yang terbentur akan kembali sakit. Saat aku sedikit mengangkat wajah, pipinya terlihat memerah.


Malam semakin larut dan film berakhir. Valko akhirnya berdiri sambil mengambil jaketnya.


"Aku pulang dulu."


Ia mengusap pelan kepalaku sebelum berjalan menuju pintu.


"Kalau ada yang nggak kamu inget lagi, tanya aja ke aku."


Aku mengangguk dan pintu tertutup perlahan.


Kamar kembali sunyi. Aku berbaring di tempat tidur empuk itu sambil menatap langit-langit.


Aku menutup mata, dan ketika membukanya lagi, sinar matahari pagi menyelinap melalui tirai kamarku di dunia nyata.



 ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


BAB 4



Hari-hariku perlahan terbagi menjadi dua kehidupan.


Pagi hingga malam aku tetap menjadi pegawai kantor yang bergelut dengan deadline, rapat, dan revisi klien. 


Namun setiap kali tertidur, aku selalu kembali ke Kerajaan Ondinesia, seolah dunia itu memang menungguku pulang.


Dan di sana, Valko selalu ada.


Awalnya aku mengira mimpi itu hanya akan berlangsung sekali atau dua kali, tapi ternyata berlangsung setiap hari.


Rasanya seperti menjalani kehidupan kedua yang sama nyatanya dengan dunia asalku.


Valko dan aku menjalani rutinitas layaknya pasangan mahasiswa biasa. Berangkat ke kampus bersama kalau jadwal memungkinkan, berpisah ketika masuk gedung fakultas masing-masing, lalu bertemu lagi saat makan siang.


Hari-hari seperti itu terasa sederhana, tetapi justru membuatku semakin menyukai kehidupan di Ondinesia.


Sebagai mantan pemain game yang kehilangan Valko karena ia dibatalkan debutnya, mimpi-mimpi ini terasa seperti hadiah yang mustahil. 


Aku akhirnya bisa mengenalnya sebagai manusia, bukan sekadar teaser beberapa detik yang tersisa di internet.


Hal paling aneh baru kusadari beberapa hari kemudian. Waktu di Ondinesia ternyata berjalan dengan caranya sendiri.


Pernah suatu malam aku tidur setelah meninggalkan Valko pada hari Rabu. Keesokan malam ketika kembali bermimpi, kalender di dunia mimpi sudah menunjukkan hari Sabtu.


Lompatan waktu seperti itu ternyata sering terjadi. Kadang beberapa hari berlalu begitu saja, tetapi ingatan tentang kejadian penting tetap tersambung dengan rapi.


Weekend menjadi waktu favoritku karena bisa kencan lebih lama. Kalau di hari kerja, paling hanya mampir ke mall atau cafe.


Sabtu kali ini terasa lebih spesial karena kami akan ke pantai.


Kami berangkat menggunakan mobil. Jalan menuju pantai melewati bukit hijau dan beberapa desa pesisir yang tenang. Semakin dekat ke tujuan, aroma laut mulai masuk melalui jendela yang sedikit terbuka.


Cuacanya cerah. Langit biru bersih tanpa mendung.


Pantainya jauh lebih indah daripada yang kubayangkan. Pasir putih membentang luas, ombak bergulung pelan, sementara deretan pohon kelapa bergoyang diterpa angin laut.


Kami bermain pasir seperti anak kecil. Valko dan aky bahkan iseng membuat benteng pasir, walaupun akhirnya hancur tersapu ombak.


Setelah puas bermain di bibir pantai, kami berpindah ke kolam renang yang langsung menghadap laut.


Dari tepi kolam, garis cakrawala terlihat menyatu dengan laut. Kami duduk di pinggir kolam sambil mencelupkan kaki ke air.


Saat sedang bercanda, aku mulai menyadari sesuatu. Beberapa orang tampak melirik ke arah kami.


Awalnya kupikir kebetulan. Namun semakin lama, semakin banyak tatapan yang terasa mengikuti.


Seorang pria berpakaian kasual pura-pura melihat ponsel. Dua orang lain berdiri di dekat pintu masuk. Seorang wanita sedang membaca buku, tetapi sesekali mengangkat kepala ke arah kami.


Aku mulai merasa tidak nyaman.


"Val, kamu kenal mereka?"


Valko mengikuti arah pandangku.


Ekspresinya sempat bingung beberapa detik sebelum akhirnya berubah paham.


"Oh, kamu lupa karena amnesiamu ya?"


Aku langsung mengangguk.


"Mereka pengawal milik ayahmu."


Aku menoleh lagi ke arah orang-orang itu. Valko menjelaskan dengan nada yang jauh lebih serius.


Semakin dekat pemilu, Bung Harno semakin mengkhawatirkan keselamatanku. Sebagai salah satu tokoh penting Partai Serigala, keluarganya ikut dianggap memiliki risiko keamanan yang tinggi.


"Itu anggota pertahanan partai," kata Valko pelan. "Mereka bukan pengawal kerajaan."


Aku menatap lagi ke sekitar.


Kalau tidak diberi tahu, aku tidak akan menyadarinya. Mereka berpakaian seperti pengunjung biasa. Ada yang membawa kamera, ada yang duduk di kafe pantai, bahkan ada yang pura-pura bermain bersama anak kecil.


Valko melanjutkan ceritanya.


Beberapa waktu lalu pernah terjadi kasus penculikan terhadap anggota keluarga salah satu petinggi Partai Serigala. Korbannya berhasil ditemukan, tetapi peristiwa itu meninggalkan ketakutan besar di internal partai.


"Pelakunya berhasil tertangkap?"


Ia menggeleng. "Penyelidikannya mentok."


"Dugaan pelakunya siapa?"


"Banyak yang mencurigai ada kaitan dengan orang-orang yang berafiliasi ke Partai Garuda. Sayang buktinya dianggap belum cukup buat membawa kasusnya lebih jauh."


Di balik semua pidato, debat, dan poster politik yang memenuhi kota, ada ketakutan nyata yang membuat seorang ayah menempatkan pengawal di belakang putrinya ke mana pun ia pergi.


Aku mulai sadar bahwa menjadi putri Bung Harno bukan sekadar hidup di rumah mewah, tapi juga ikut berdiri di tengah pusaran politik yang semakin hari semakin berbahaya.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Aku akhirnya memutuskan berhenti memikirkan urusan politik untuk hari itu. Hari ini aku hanya ingin menjadi mahasiswa biasa yang sedang menikmati akhir pekan bersama pacarnya.


Aku menatap Valko yang sedang berdiri di air setinggi pinggang. Tanpa peringatan, aku mencipratkan segenggam air tepat ke wajahnya.


Byur.


Ia langsung memejamkan mata. Aku tertawa puas.


"Itu serangan pembuka."


Valko mengusap wajahnya pelan sebelum tersenyum jahil.


"Oh, jadi gitu."


Ia membalas dengan cipratan yang jauh lebih besar hingga air mengenai rambut dan wajahku sekaligus.


"Curang!"


"Kamu duluan."


Perang air pun dimulai.


Kami saling mengejar di dalam kolam sambil tertawa tanpa peduli tatapan beberapa pengunjung lain. 


Suara ombak dari laut bercampur dengan percikan air yang memenuhi udara, membuat suasana terasa jauh lebih hidup.


Saat aku sedang berusaha kabur, Valko tiba-tiba berhasil menangkap lenganku.


"Dapet."


"Lepasin!"


"Bilang dulu nyerah."


"Nggak akan."


Ia terkekeh sebelum tiba-tiba mengangkat tubuhku begitu saja. Aku refleks melingkarkan tangan di lehernya.


Ia malah berjalan keluar dari kolam sambil tetap menggendongku seperti tidak merasakan beban apa pun.


"Kamu mau ngapain?"


Senyumnya membuatku langsung curiga.


Ia menghitung pelan.


"Satu. Dua. Tiga."


Byur!


Tubuhku melayang sepersekian detik sebelum jatuh kembali ke air di bagian kolam yang lebih dalam.


Aku langsung panik karena air masuk ke hidungku. Aku berusaha mengayuh tangan sembarangan.


"Val!"


Kepalaku sempat tenggelam sesaat. Namun rasa panik itu tidak berlangsung lama. Sebuah lengan kuat langsung melingkari pinggangku.


Valko sudah menyusul masuk ke kolam. Ia menarikku naik hingga kepalaku kembali berada di atas permukaan air.


"Napas dulu."


Aku terbatuk beberapa kali sambil memegang bahunya erat.


"Jangan diulangi lagi ya!"


"Maaf."


Nada suaranya benar-benar terdengar bersalah. Saat napasku mulai normal, aku tanpa sengaja melihat ke arah tepi kolam.


Para pengawal yang tadi berpura-pura santai kini berdiri dengan wajah tegang. Dua orang bahkan sudah setengah berlari ke arah kami sebelum berhenti ketika melihat aku baik-baik saja.


Aku malah tidak bisa menahan tawa.


Begitu mendengar tawaku pecah, ketegangan para pengawal perlahan mencair. Mereka saling memberi isyarat kecil sebelum kembali ke posisi masing-masing, berpura-pura sibuk dengan aktivitas mereka seolah tidak terjadi apa-apa.


Valko menghela napas lega, lalu ia menatapku dengan ekspresi bingung.


"Sayang, kamu kan bisa berenang, sekarang kok jadi nggak bisa?"


Aku buru-buru mengingat alasan penyelamatku.


"Amnesia."


Ia terlihat benar-benar menerima penjelasan itu.


"Mungkin refleks tubuhmu juga ikut berubah."


Aku hanya tersenyum misterius. Maaf ya, Val. Di dunia asal, aku memang tidak bisa berenang.


Melihat wajahnya yang masih dipenuhi rasa bersalah, aku tiba-tiba mendapat ide kecil untuk membalasnya.


"Ayo sini."


Aku menarik pergelangan tangannya. Valko ikut mendekat tanpa curiga. Begitu ia berada cukup dekat, aku tiba-tiba menariknya turun hingga kami sama-sama masuk ke dalam air.


Gelembung-gelembung kecil memenuhi pandangan. Dalam hitungan detik itu, aku memberanikan diri mengecup bibirnya singkat.


Lalu kami kembali muncul ke permukaan.


Aku langsung memalingkan wajah karena malu sendiri. Valko berkedip beberapa kali, pipinya berubah merah.


Setelah puas berenang, kami mandi lalu berganti pakaian kering. Kami berjalan menuju kafe yang berdiri tepat di tepi pantai dengan teras terbuka menghadap laut.


Meja kami berada di dekat pagar kayu. Ombak terlihat jelas dari sana. Kami makan sambil bercerita tentang hal-hal ringan. Suasana terasa begitu damai.


Sampai ponselku berdering.


Nama di layar membuatku langsung duduk lebih tegak. Aku segera mengangkatnya karena ayah menelepon.


Suara Bung Harno terdengar lebih berat dari biasanya.


"Kamu sekarang di mana?"


"Masih di pantai."


"Dengar ayah baik-baik."


Nada bicaranya berubah semakin serius.


"Kamu pulang sekarang."


Dadaku langsung menegang.


"Kenapa?"


"Salah satu markas Partai Serigala diserang."


Aku spontan berdiri.


Valko langsung memperhatikanku.


"Ada korban?"


"Syukurnya tidak, sayang pelakunya kabur."


Ia menjelaskan singkat bahwa kebakaran terjadi di bagian garasi salah satu markas. Api berhasil dipadamkan sebelum merambat ke ruang utama, sehingga kerusakannya tidak terlalu besar.


"Itu bukan kecelakaan."


Kalimat ayah terdengar tegas.


"Ini bentuk teror."


Telepon berakhir setelah beliau memastikan kami segera berangkat pulang.


Aku menatap Valko.


"Kita harus balik."


Ekspresinya langsung berubah serius.


"Ada apa?"


Aku menceritakan semuanya dalam perjalanan menuju parkiran.


Begitu mobil mulai bergerak meninggalkan pantai, suasana di sekitar kami terasa berbeda. Kalau tadi para pengawal menjaga dari kejauhan, sekarang jarak mereka jauh lebih dekat.


Sebuah mobil mengikuti tepat di belakang kami. Motor di depan beberapa kali memberi isyarat kepada kendaraan lain. Aku menyadari pola mereka berubah menjadi formasi pengawalan yang lebih rapat.


Radio mobil menyiarkan berita terbaru.


"...insiden kebakaran di salah satu fasilitas Partai Serigala menjadi perhatian publik..."


"...pelaku masih dalam pencarian..."


Aku mematikan radionya.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


BAB 5



Aku terbangun ketika matahari sudah tinggi. Cahaya matahari yang terik masuk melalui celah tirai kamar, membuatku sadar bahwa aku ketiduran sampai siang. 


Hal pertama yang kulakukan adalah mengecek jam di ponsel. Untung saja hari ini libur.


Aku mengembuskan napas lega lalu kembali merebahkan tubuh ke kasur. Setelah bermalas-malasan beberapa menit, rasa penasaranku muncul lagi.


Aku membuka media sosial. Jempolku otomatis menuju akun resmi developer game.


Masih sama. Tidak ada secuil kabar tentang Valko.


Aku menggulir timeline lebih jauh. Bukannya membaik, suasana fandom justru terasa semakin kacau.


Para penggemar Valko kembali menjadi sasaran ejekan dan perundungan. Beberapa unggahan fanart dipenuhi komentar sinis, sementara akun-akun yang terang-terangan membela Valko masih terus diperdebatkan.


Namun di tengah semua kekacauan itu, komunitas penggemar Valko justru melakukan sesuatu yang tidak kuduga.


Seseorang menyewa billboard bertuliskan dukungan untuk Valko.


Komunitas lain mengadakan donasi untuk penampungan hewan atas nama karakter itu.


Ada yang membuat proyek amal, membagikan makanan, bahkan mengumpulkan dana untuk berbagai kegiatan sosial sebagai bentuk kampanye positif.


Sayangnya, developer tetap diam.


Tidak ada tanggapan terhadap semua usaha itu.


Sementara itu, efek boikot mulai terlihat di mana-mana. Banyak pemain mengaku berhenti bermain, beberapa kreator konten meninggalkan komunitas, dan laporan penurunan penjualan menjadi bahan pembicaraan di timeline.


Fandom itu seperti pecah menjadi beberapa kubu.


Namun ada satu hal yang menurutku ironis. Valko justru semakin hidup. Setiap hari muncul ilustrasi baru. Fan fiction terus bermunculan. Animasi pendek, edit video, dan banyak karya lain buatan penggemar memenuhi beranda.


Aku terkekeh pelan.


"Aneh ya, Valko ada di mana-mana, kecuali di game yang menciptakannya.


Sudah lebih dari seminggu aku mengalami mimpi yang terus berlanjut setiap malam. Kalau dihitung berdasarkan waktu di Ondinesia, aku sudah hidup hampir satu bulan di sana.


Perbedaan aliran waktunya masih membuatku bingung. Karena takut kehilangan urutan kejadian, aku mulai membuat kebiasaan baru.


Di Ondinesia, aku membeli buku kecil yang kujadikan buku harian.


Setiap malam sebelum tidur di dunia mimpi, aku menulis tanggal, kejadian penting, dan siapa saja yang kutemui hari itu.


Begitu bangun di dunia nyata, aku langsung membuka aplikasi catatan di ponsel dan menulis ulang mimpi sebelum ingatanku memudar.


Rutinitas itu lama-kelamaan terasa lucu. Aku seperti punya dua diary untuk dua kehidupan berbeda.


Siang itu aku membuka catatan. Menurut perhitunganku, bulan depan di Ondinesia akan berlangsung pemilu nasional.


Aku penasaran apakah Bung Harno benar-benar akan memenangkan pemilihan Wakil Raja atau justru kalah di saat-saat terakhir.


Pikiran itu membuatku tertawa sendiri.


Di dunia nyata, aku sering bercanda bahwa kalau diberi kesempatan, aku pasti bisa jadi wakil presiden.


Eh, sekarang malah jadi calon anak Wakil Raja di dunia mimpi.


"Hidup emang aneh."



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Mimpi kali ini waktunya tidak meloncat jauh. Hari ini tepat sehari setelah kejadian di pantai. Aku kembali menjalani rutinitas kampus.


Saat jam makan siang tiba, aku bertemu Valko di kantin seperti biasa. Namun sejak melihatnya berjalan dari kejauhan, aku langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda.


Langkahnya lebih lambat. Wajahnya tampak pucat. Senyumnya tidak muncul lebih dulu seperti biasanya.


Aku melambaikan tangan.


"Val."


Ia tetap menghampiri, tetapi senyumnya hanya sebentar.


"Hai."


"Kamu sakit?"


Ia langsung menggeleng.


"Nggak."


Aku memperhatikannya diam-diam saat kami duduk makan.


Biasanya Valko selalu punya cerita, tapi kali ini ia lebih banyak diam. Setelah makan selesai, ia melihat jam tangannya.


"Aku pergi dulu ya, masih ada urusan."


"Bukannya kelas berikutnya masih lama?"


"Iya, tapi aku harus pergi karena ada urusan lain."


Ia berdiri sambil merapikan tasnya.


Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, ia sudah berjalan meninggalkan kantin. Aku memandangi punggungnya sampai menghilang di balik koridor.


Malam harinya aku mencoba menghubunginya lewat pesan. Tapi dia belum membalasnya sampai aku ketiduran.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


BAB 6



Begitu terbangun di dunia nyata, perasaan yang sebelumnya sudah mulai tenang justru kembali terasa berat. 


Aku masih bisa mengingat ekspresi Valko ketika terakhir kali meninggalkanku di kantin dan pesanku yang belum dibalas.


Awalnya aku mengira dunia mimpi adalah tempat yang bisa kuatur sesuka hati. Aku bisa bertemu Valko, menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, bahkan memiliki keluarga dan kehidupan sosial yang sama sekali berbeda dari dunia nyata. 


Rasanya seperti mendapatkan kesempatan kedua untuk mengenal karakter yang sudah kehilangan kesempatan debut di game.


Namun semakin lama aku berada di sana, semakin sulit menganggap semuanya hanya mimpi karena semuanya terasa sangat nyata.


Aku bisa merasakan angin, mencium aroma makanan, mengingat percakapan kami, bahkan merasakan hangatnya tangan Valko ketika menggenggam tanganku. 


Lebih aneh lagi, dunia itu terus berjalan meskipun aku tidak sedang berada di sana. Mungkinkah ini bukan mimpi dan aku sebenarnya sedang mengunjungi sebuah dunia paralel?


Aku tidak menemukan jawabannya.


Tiga malam berikutnya justru semakin buruk karena Valko semakin sulit ditemui.


Dunia yang awalnya terasa seperti tempat pelarian perlahan berubah menjadi sesuatu yang membuatku frustrasi.


Aku membuka catatan untuk menghitung waktu yang telah berlalu. Ternyata perbedaan waktunya cukup besar saat Valko sulit dihubungi.


"Ternyata kali ini waktu di mimpi berjalan lebih cepat dari biasanya.


Menurut catatan, Valko sudah sulit dihubungi dan menjauh selama tiga minggu di dunia mimpi,” gumamku kesal.


Kalau aku tidak bisa bertemu dia, buat apa aku terus datang ke sini? Pertanyaan itu terdengar menyedihkan bahkan di dalam kepalaku sendiri.


Aku memang menyukai dunia Ondinesia, tetapi alasan terbesarku untuk kembali tetap sama sejak awal, aku ingin bersama Valko. Tanpa dirinya, semuanya kehilangan daya tarik.


Aku kembali memeriksa kalender. Pemilu Kerajaan Ondinesia tinggal satu minggu lagi dalam waktu dunia mimpi.


Aku bahkan belum tahu apa yang sedang terjadi pada ayahku, bagaimana kondisi Partai Serigala, atau apa yang sebenarnya membuat Valko menjauh. 


Semua pertanyaan itu semakin menumpuk, tetapi aku tidak punya siapa pun untuk bertanya.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Hari ini, aku berhasil memaksa Valko untuk bertemu. Taman kampus terlihat jauh lebih tenang saat sore hari.


Matahari mulai turun di balik gedung-gedung, meninggalkan cahaya keemasan yang menyusup di antara pepohonan. 


Beberapa mahasiswa duduk mengerjakan tugas, sementara sebagian lainnya berjalan pulang sambil membawa tas di bahu.


Aku sudah menunggu di salah satu bangku ketika Valko akhirnya muncul.


Rambut merahnya tertiup angin pelan, dan senyum yang kukenal kembali menghiasi wajahnya.


"Maaf lama."


"Kamu sengaja, ya?"


Ia terkekeh sambil duduk di sebelahku.


"Nggak. Tadi ada dosen yang nahan kelas."


Aku memperhatikannya diam-diam.


Dari luar, Valko memang terlihat seperti biasanya.


Ia masih bisa bercanda, masih tersenyum, bahkan sesekali menggodaku seperti dulu.


Tetapi ada sesuatu di matanya, seperti ada rahasia yang tidak ingin ia ceritakan.


Aku akhirnya berhenti basa-basi.


"Kenapa kamu susah banget ditemui belakangan ini?"


Valko menoleh.


"Aku sibuk."


"Sibuk apa?"

"Tugas kampus."


"Cuma itu? Jangan bohong!"


Senyumnya perlahan menghilang.


"Kenapa kamu bilang begitu?"


"Karena sesibuk apa pun kamu, kamu biasanya tetap menghubungiku."


Aku menahan napas sebelum melanjutkan.


"Sekarang kamu hampir nggak pernah menelepon. Pesanku juga dibalas seperlunya. Kalau aku cari kamu, kamu selalu punya alasan untuk pergi."


Valko menundukkan pandangan ke tangannya sendiri. Ia tidak menjawab pertanyaanku.


Angin sore melewati pepohonan, membuat beberapa daun kering jatuh di sekitar kaki kami. Aku menunggu, berharap kali ini dia akan memberiku penjelasan.


Tetapi Valko tetap diam. Aku hampir tertawa karena ironinya terasa terlalu sempurna. Persis seperti developer game yang menciptakanmu.


Ketika mereka membatalkan debut Valko, developer game sialan itu juga tidak memberiku jawaban yang benar-benar memuaskan.


Mereka hanya mengeluarkan pengumuman, lalu menghilang di balik keheningan. Sekarang, di dunia ini, Valko melakukan hal yang sama kepadaku.


Aku menggeser posisi duduk sedikit lebih dekat.


"Val, kalau memang ada masalah, bilang ke aku."


Senyumnya kembali muncul, tetapi kali ini terasa dipaksakan.


"Nggak ada apa-apa. Aku janji."


Valko membuka mulutnya, seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi lagi-lagi tidak ada suara yang keluar.


Ia hanya menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca. Entah mengapa, diamnya kali ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata apa pun.


Kesabaranku akhirnya habis.


“Kalau begitu, kita putus saja.”


Kalimat itu keluar begitu saja. Aku sendiri bahkan tidak benar-benar menginginkannya.


Aku hanya ingin membuatnya panik, ingin dia berhenti menghindar dan akhirnya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. 


Seperti orang yang sedang merajuk, aku berharap Valko akan membantah, menarikku kembali, atau setidaknya bertanya kenapa aku tega mengatakan hal seperti itu.


Namun, reaksinya justru membuat seluruh tubuhku membeku.


Valko terdiam, senyum yang sejak tadi masih tersisa di wajahnya perlahan menghilang. 


Tatapannya turun, dan untuk sesaat aku melihat matanya berkaca-kaca. Ia berusaha menahannya, tetapi ekspresi itu terlalu jelas untuk disembunyikan.


Tangannya kemudian meraih tanganku.


“Baiklah,” katanya pelan.


Aku menatapnya tidak percaya.


“Kalau itu yang kamu mau.”


“Valko, aku belum selesai bicara.”


Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, ia mengusap kepalaku dengan lembut. Gerakannya begitu akrab, begitu biasa, sampai-sampai terasa semakin menyakitkan. 


Seolah-olah ia sedang berpamitan dengan seseorang yang sangat disayanginya, bukan sekadar menanggapi ancaman putus dari pacarnya.


Setelah itu, Valko berdiri.


Ia tidak marah atau membentak. Bahkan tidak memintaku berubah pikiran. Ia hanya menatapku beberapa detik, kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan taman.


Aku tetap duduk di sana sambil melihat punggungnya yang semakin menjauh dan tidak menoleh ke belakang.


“Valko…”


Suaraku bahkan tidak cukup keras untuk membuatnya berhenti. Aku hanya bisa terdiam dengan pikiran yang benar-benar kosong.


Bagaimana mungkin cintaku kandas semudah itu?


Aku tadi hanya merajuk. Aku tidak benar-benar ingin berpisah. Aku bahkan berharap dia akan memelukku dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Mengapa dia justru menerimanya begitu saja?


Dadaku terasa sesak. Aku terlambat menyadari bahwa mungkin ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kesibukan kuliah. 


Ada sesuatu yang selama ini berusaha ia sembunyikan dariku, dan sekarang aku justru mendorongnya pergi dengan tanganku sendiri.


Aku menundukkan kepala. Tanganku yang tadi digenggamnya masih terasa hangat. Kini semuanya harus berakhir.


Sudah

Lambat sudah

Kini semua harus berakhir

Mungkin inilah jalan yang terbaik

Dan kita mesti relakan kenyataan ini


Aku tertawa kecil dengan getir.


“Ahaha… sialan.”


Air mataku akhirnya jatuh.


“Kenapa aku harus hidup di mimpi bodoh ini?”


Aku pikir dunia ini akan menjadi tempat pelarian sehingga aku bisa melupakan kehidupan nyata yang melelahkan, pekerjaan yang menumpuk, dan segala sesuatu yang membuat kepalaku terasa penuh. 


Aku pikir selama bisa bertemu Valko, semuanya akan terasa lebih ringan.


Ternyata aku salah. Bahkan di dunia mimpi pun aku masih bisa sakit hati dan patah hati untuk kedua kalinya oleh orang yang sama.


Aku menutup wajah dengan kedua tangan. Tangisku pecah begitu saja di bangku taman, tanpa peduli apakah ada mahasiswa lain yang lewat dan melihatku. 


Dadaku terasa sakit, napasku berantakan, sementara air mata mengalir begitu deras sampai akhirnya mencapai bibirku dan meninggalkan rasa asin yang membuat kenyataan itu terasa semakin nyata.


Aku teringat kembali pada hari ketika pengumuman dari developer muncul.


Hari itu seharusnya menjadi hari yang menyenangkan.


Aku masih ingat betapa bersemangatnya diriku ketika akhirnya misteri tentang karakter baru itu terungkap. 


Semua orang ingin tahu siapa pria misterius yang terus muncul dalam petunjuk kecil itu. Aku juga ikut menunggu. 


Sebagai pemain yang memang suka mengoleksi love interest, tentu saja kemunculan karakter baru membuatku bersemangat.


Aku masih ingat kegembiraanku saat Valko diumumkan.


Rasanya seperti mendapatkan sesuatu yang sudah lama ditunggu.


Lalu, dalam waktu yang sangat singkat, semuanya dicabut.


Pengumuman pembatalan rilis Valko muncul dan euforia yang baru saja tumbuh langsung berubah menjadi kesedihan. 


Rasanya tidak masuk akal. Bagaimana mungkin karakter yang sudah diperkenalkan kepada pemain tiba-tiba tidak jadi hadir?


Yang lebih menyakitkan adalah berita mengenai tim pengembangnya.


Aku membaca bahwa anggota tim yang selama bertahun-tahun mengerjakan Valko ikut menangis ketika keputusan itu dibuat. 


Mereka telah menghabiskan begitu banyak waktu untuk merancangnya, menulis ceritanya, membangun karakternya, dan bekerja lembur demi membuatnya siap diperkenalkan kepada pemain.


Lalu semuanya berhenti begitu saja.

Bertahun-tahun pekerjaan mereka seakan tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk benar-benar hidup.


Saat membaca berita itu, pikiranku kosong.

Aku bahkan tidak langsung merasa sedih. Aku hanya menatap layar tanpa tahu harus bereaksi bagaimana.


Namun beberapa detik kemudian, air mata mulai jatuh ke pipiku. Barulah kesadaranku menyusul.

Aku benar-benar kehilangan Valko.


Malam itu aku menangis tersedu sampai bantal yang kupakai menjadi basah. Rasanya konyol, karena dia hanyalah karakter dalam sebuah permainan. Tetapi perasaan kehilangan itu tetap nyata.


Dan ternyata aku tidak sendirian.


Lebih dari 250 ribu orang ikut menandatangani petisi agar Valko tetap dirilis. Ratusan ribu pemain ternyata merasakan kekecewaan yang sama, ikut mempertanyakan keputusan tersebut dan berharap masih ada kemungkinan bagi Valko untuk kembali.


Namun waktu terus berjalan karena petisi itu belum mengubah apa pun. Valko tetap tidak dirilis.


Aku pikir setidaknya dunia mimpi ini memberiku kesempatan untuk bertemu dengannya.


Ternyata bahkan di sini pun aku harus kehilangannya lagi.


Bukan karena keputusan developer, tapi aku sendiri yang mengucapkan kata putus kepadanya.


Dan yang paling menyakitkan adalah Valko menerimanya tanpa berusaha menahanku.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


BAB 7



Mimpi selanjutnya ternyata membawa aku ke dua hari sebelum Pemilu.


Ketika aku menginjakkan kaki di kampus pagi itu, ada sesuatu yang terasa berbeda.


Bukan karena suasananya lebih ramai dari biasanya, melainkan karena ada banyak orang yang memperhatikanku. 


Seorang laki-laki yang sejak tadi berdiri di dekat pintu gedung fakultas tampak mengikuti arah langkahku dengan pandangan yang terlalu lama untuk disebut kebetulan.


Aku memperlambat langkah dan melirik ke belakang.


Dua orang berdiri tidak jauh dariku. Mereka mengenakan pakaian biasa, tetapi cara mereka mengamati sekitar membuatku langsung mengenali pola itu.


Pengawal dari Partai Serigala. Sepertinya jumlah mereka bertambah.


Aku menarik napas pelan dan kembali berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Sejak ancaman terhadap keluargaku meningkat, keberadaan pengawal sebenarnya bukan sesuatu yang baru. 


Namun hari ini jumlah mereka terasa jauh lebih banyak. Bahkan ketika aku berpindah gedung, selalu ada seseorang yang berada dalam jarak pandang.


Mereka tidak menempel padaku seperti bayangan, tetapi cukup dekat untuk membuatku sadar bahwa setiap gerakanku sedang diperhitungkan.


Aku memilih menuju perpustakaan.


Ada alasan sederhana mengapa aku lebih suka mencari berita di sana daripada langsung mencari di internet.


Berita di internet memang jauh lebih cepat, tetapi perpustakaan punya sesuatu yang tidak bisa diberikan layar ponsel, yaitu percakapan manusia yang penuh gosip.


Kadang informasi paling menarik justru muncul dari bisikan mahasiswa yang sedang membahas berita terbaru, komentar dosen, atau rumor yang belum masuk media. 


Aku hanya perlu duduk diam, membuka koran, dan membiarkan telingaku menangkap potongan-potongan percakapan di sekitar.


Begitu memasuki perpustakaan, aku mengambil beberapa koran yang tersedia di meja baca, lalu memilih tempat duduk yang menghadap sebagian besar ruangan.


Baru beberapa menit membaca, aku mendengar namaku disebut.


“Kamu tahu gak kalau anaknya Bung Harno yang pacaran sama anak teknik itu udah putus?”


Aku menahan gerakan tanganku dan mencoba mengupingnya. Suara itu berasal dari meja di belakangku.


“Katanya begitu. Bukannya mereka sudah lama pacaran?”


“Iya. Makanya aneh. Apalagi sekarang situasinya lagi begini. Apa ada hubungannya sama kondisi politik yang memanas ya?”


“Biasanya anak pejabat gitu kan dijodohin.”


Aku pura-pura fokus pada halaman koran di hadapanku, tetapi tidak ada satu pun kalimat yang benar-benar masuk ke kepalaku.


Berita tentang aku dan Valko ternyata sudah menyebar.


Entah siapa yang membocorkannya, tetapi kabar itu rupanya cukup menarik perhatian mahasiswa. 


Aku membalik halaman koran dengan tenang, berusaha menunjukkan bahwa aku sama sekali tidak peduli.


Padahal telingaku masih menangkap setiap kata.


“Sayang banget, padahal mereka kelihatannya cocok.”


Aku menghela napas kecil, tapi muncul lagi distraksi dari pintu perpustakaan yang baru terbuka. Refleks, aku mengangkat kepala.


Valko.


Langkahnya berhenti sesaat ketika pandangan kami bertemu. Dari kejauhan, aku bisa melihat ekspresinya berubah. Dia seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi kemudian mengurungkan niatnya.


Aku kembali menundukkan kepala dan berusaha melanjutkan membaca.


Dari sudut mata, aku masih bisa melihat Valko berjalan mendekat. Untuk beberapa detik, aku sempat berpikir dia akan duduk di sebelahku seperti biasanya.


Dia bahkan sudah menarik kursi di meja yang sama. Namun tangannya berhenti di sandaran kursi.


Setelah jeda yang terasa terlalu lama, dia akhirnya melepaskan kursi itu dan berjalan pergi.


Dia memilih meja di sudut ruangan dan memilih untuk menjauhiku.


Aku menekan ujung koran sedikit lebih kuat karena menahan kesal.


“Bagus,” gumamku sangat pelan sambil membalik halaman. “Memang seharusnya begitu.”


Aku melirik ke arahnya sekali.


Valko sedang membuka laptop. Wajahnya tampak serius, seolah seluruh perhatiannya tertuju pada layar.


Tidak ada usaha untuk memandangku lagi.


Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang terasa aneh. Jarak di antara kami sebenarnya tidak terlalu jauh, tetapi rasanya seperti ada sesuatu yang membentang di antara meja kami dan membuat kami tidak lagi berada di ruangan yang sama.


Lalu tiba-tiba terdengar suara kencang.


DUAR!


Ledakan keras mengguncang seluruh gedung.


Aku tersentak begitu hebat sampai koran di tanganku terjatuh ke lantai.


Rak-rak buku bergetar, beberapa benda di atas meja bergeser, dan suara jeritan langsung memenuhi perpustakaan.


Untuk sesaat, aku hanya terpaku. Kemudian sirene meraung.


Suara peringatan terdengar dari pengeras suara, memerintahkan seluruh mahasiswa untuk segera meninggalkan gedung dan melakukan evakuasi.


“KELUAR! SEMUA KELUAR!”


Kursi-kursi bergeser dengan suara keras. Mahasiswa mulai berdiri dan berlari menuju pintu. 


Ada yang panik mencari temannya, ada yang mencoba mengambil tas, sementara beberapa orang langsung meninggalkan barang mereka begitu saja.


Aku ikut berdiri dan jantungku berdegup sangat cepat.


“Ayo, keluar!”


Seseorang berteriak dari dekat pintu.


Aku meraih ponselku dan bergegas mengikuti arus mahasiswa. Lorong yang biasanya tenang kini dipenuhi orang-orang yang berdesakan. Suara langkah kaki, teriakan, dan alarm bercampur menjadi satu.


Aku mencoba menjaga keseimbangan ketika seseorang tidak sengaja menyenggol bahuku.


“Permisi!”


Aku terus bergerak menuju pintu keluar.


Namun di tengah kepanikan itu, aku masih sempat mencari sosok berambut merah itu, tapi Valko tidak terlihat di tempat dia duduk sebelumnya.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Guncangan keras yang terasa begitu nyata akhirnya membuatku terbangun dari mimpi. Aku membuka mata dengan napas yang masih tidak beraturan, sementara kamar hanya diterangi cahaya samar dari luar jendela. 


Selama beberapa detik aku masih bingung membedakan mana yang nyata dan mana yang baru saja terjadi dalam mimpi. 


Aku meraih ponsel di samping tempat tidur dan melihat jam. Ternyata masih tengah malam.


“Baru jam segini?” gumamku sambil mengusap wajah.


Aku duduk perlahan, kemudian mengambil segelas air dan meminumnya sampai beberapa teguk.


Tenggorokanku terasa kering, tetapi rasa tidak nyaman di dada justru membutuhkan waktu lebih lama untuk mereda. 


Aku menarik napas dalam-dalam dan mencoba mengingatkan diri sendiri bahwa aku sedang berada di kamar, bukan di kampus dalam mimpi tadi. Hanya malam yang sunyi.


Untuk melupakan pikiran buruk, aku meraih ponsel di samping ranjang. Namun setelah melihat sosial media, ketenangan itu kembali terasa rapuh.

 

Beranda berita dipenuhi berbagai kabar buruk yang seolah tidak pernah berhenti datang.


Dalam beberapa waktu terakhir, bencana terjadi di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari gempa, letusan gunung berapi, kebakaran hutan, hingga kecelakaan dan tenggelamnya kapal laut. 


Satu berita belum selesai kubaca, berita lain sudah muncul menggantikannya. Aku menggeser layar perlahan.


“Kenapa hal buruk rasanya tidak ada habisnya?” bisikku.


Di luar sana, rakyat juga sudah berusaha menyuarakan keresahan mereka. Demonstrasi dilakukan, tuntutan disampaikan, dan berbagai kelompok masyarakat berusaha meminta perhatian pemerintah. 


Aku meletakkan ponsel di kasur. Mungkin aku seharusnya berhenti membaca berita.


Malam ini aku hanya ingin mencari sesuatu yang ringan, sesuatu yang bisa membuat pikiranku beristirahat sebentar. 


Karena itu, aku membuka fandom game yang biasanya menjadi tempat pelarianku ketika kehidupan nyata terasa terlalu melelahkan.


Namun ternyata aku salah karena kondisinya justru lebih buruk.


Di antara berbagai unggahan, aku menemukan berita mengenai seorang player yang mengalami krisis berat setelah menjadi sasaran perundungan dari sesama penggemar. 


Awalnya dia datang ke kantor developer bukan untuk membuat keributan. Dia membawa bukti berupa hasil cetak percakapan yang berisi komentar-komentar buruk yang diterimanya hanya karena dia menyukai Valko.


Bahkan setelah membaca penjelasan singkatnya, aku masih sulit memahami bagaimana sesuatu yang tak berbahaya seperti mencintai suatu karakter bisa jadi sasaran kebencian.


Dia mencoba menyerahkan bukti tersebut kepada pihak keamanan, tetapi situasinya tidak berjalan seperti yang diharapkan. 


Penolakannya kemudian memicu keadaan darurat berupa percobaan bunuh diri dan kepanikan di sekitar lokasi. 


Untungnya, orang-orang di sana segera bertindak dan dia akhirnya berhasil mendapatkan pertolongan.


“Cuma karena suka dengan karakter game lalu orang menjadikannya target bully?” tanyaku kepada diriku sendiri.


Rasanya sulit dipercaya.


Game seharusnya menjadi tempat orang mencari hiburan. Fandom seharusnya menjadi tempat bertemu dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama dan penuh energi positif.


Valko memang bukan manusia nyata, dia hanya karakter yang hidup di dalam sebuah permainan.


Banyak yang menjadikan Valko sebagai sasaran kebencian, tapi masalahnya fans Valko pun juga terseret jadi target.


Padahal orang yang menyukai Valko adalah manusia nyata. Mereka punya perasaan, punya kehidupan, dan bisa terluka oleh sesuatu yang bagi orang lain mungkin hanya dianggap sebagai candaan di layar.


Ketikan yang dilakukan dengan santai ternyata bisa meninggalkan dampak yang sangat nyata pada orang lain. 


Seseorang bisa bersembunyi di balik akun anonim, mengetik sesuatu yang kejam, lalu menutup aplikasinya tanpa pernah melihat akibat dari perkataannya secara langsung.


Mereka mungkin menganggapnya hanya beberapa kalimat. Bagi orang yang menerima, kalimat-kalimat itu bisa menjadi beban yang dibawa sepanjang hari.


“Kenapa orang bisa semudah itu menyakiti orang lain?” kataku pelan.


Aku kembali memandang layar ponsel yang kini gelap. Pantulan wajahku terlihat samar di permukaannya, dan untuk pertama kalinya malam itu aku merasa benar-benar lelah.


Terlalu banyak hal buruk yang terjadi.


Aku tidak memiliki kekuasaan untuk menghentikan bencana. Aku tidak bisa membuat semua orang berhenti bertengkar. Aku juga tidak bisa memperbaiki seluruh keadaan hanya dengan satu tindakan.


Pada akhirnya, aku hanya bisa melakukan apa yang mampu kulakukan.


Aku meletakkan ponsel jauh dari jangkauan, kemudian kembali berbaring dan menarik selimut sampai sebatas bahu. 


Sebelum memejamkan mata, aku menatap langit-langit kamar dan menarik napas panjang.


“Semoga besok lebih baik,” bisikku. “Tuhan, tolong jaga orang-orang yang sedang mengalami masa sulit. Semoga keadaan perlahan menjadi lebih baik.”


Setelah itu aku memejamkan mata dan hanya ingin tidur.


Untuk pertama kalinya setelah beberapa malam yang dipenuhi mimpi tentang dunia lain, aku akhirnya tertidur sampai pagi tanpa kembali bermimpi.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


BAB 8



Hari ini kondisi kantor terasa jauh lebih menyenangkan daripada beberapa hari terakhir. Target pekerjaan yang harus kami selesaikan akhirnya sudah terpenuhi, bahkan sedikit lebih cepat dari perkiraan. 


Begitu atasan mengumumkan bahwa kami boleh pulang lebih awal, suasana ruangan langsung berubah.


Orang-orang yang sejak pagi sibuk mengejar deadline mulai bersandar di kursi masing-masing, beberapa bahkan langsung membereskan meja sambil mengeluhkan betapa lelahnya mereka.


Setidaknya hari ini ada sesuatu yang bisa membuat pikiranku sedikit lebih ringan. Tadi siang juga ada traktiran dari salah satu rekan kerja yang sedang merayakan sesuatu. 


Makan siang sederhana itu ternyata cukup ampuh menghibur suasana hatiku yang sejak beberapa hari terakhir terasa buruk. Mungkin karena itulah malam ini aku memutuskan tidur lebih cepat.


Tidak lama kemudian, rasa kantuk datang dan membawaku masuk ke dalam tidur yang jauh lebih dalam daripada biasanya.


Begitu membuka mata, aku langsung mengenali tempatnya, ini adalah perpustakaan akademi.


Jantungku seketika berdegup lebih cepat ketika suara alarm terdengar dari kejauhan. 


Aku kembali berada di momen yang sama seperti mimpi sebelumnya, tepat setelah ledakan mengguncang gedung.


Para mahasiswa berlarian menuju pintu keluar, sementara suara sirene dan teriakan memenuhi seluruh ruangan.


“Jangan dorong!”


“Keluar dari sini!”


Aku ikut terseret arus manusia menuju pintu.


Tanganku memegang ponsel erat-erat, sementara pandanganku berusaha mencari jalan yang paling aman di antara mahasiswa yang berdesakan.


Aku sudah hampir mencapai pintu keluar ketika tiba-tiba sebuah tangan meraih lenganku.


Aku tersentak.


Sebelum sempat berbalik, tubuhku ditarik menjauh dari kerumunan.


Kakiku bahkan sempat kehilangan pijakan sebelum seseorang mengangkat tubuhku dan membawaku ke arah sudut rak buku.


Aku langsung panik dan berusaha melepaskan diri.


“Lepasin aku!”


Namun ketika aku melihat wajah orang yang membawaku, semua kata-kataku tertahan.

Valko.


Dia menggendongku menjauh dari pintu, lalu menurunkanku di balik deretan rak buku yang cukup tinggi untuk menghalangi pandangan dari lorong utama.


Wajahnya jauh lebih serius daripada biasanya. Tidak ada senyum, tidak ada gurauan, bahkan sorot matanya terlihat sangat waspada ketika terus memperhatikan arah pintu.


“Kenapa kamu narik aku ke sini?” tanyaku dengan suara bergetar. “Ayo, kita harus menyelamatkan diri.”


Valko segera menempelkan satu tangan ke depan mulutku.


“Tenang.”


Aku membelalakkan mata.


“Jangan bersuara dulu,” bisiknya. “Ikuti aku.”


Aku ingin bertanya apa maksudnya, tetapi sebelum sempat membuka mulut, suara keras kembali terdengar dari arah pintu masuk.


Disusul rentetan suara tembakan yang membuat seluruh perpustakaan seketika berubah menjadi kepanikan.


Jeritan mahasiswa terdengar dari berbagai arah.

Beberapa orang yang masih berada di dekat pintu langsung menjauh dan berlindung di balik meja.


Aku menahan napas, tubuhku refleks menegang ketika suara-suara tersebut menggema di antara rak buku.


Ini bukan sekadar serangan biasa.


“Jangan bergerak dulu,” kata Valko pelan.


Aku mengangguk.


Beberapa detik kemudian, empat mahasiswa lain muncul dari balik rak. Wajah mereka tegang, tetapi mereka bergerak dengan cukup terkoordinasi.


Mereka tampaknya sudah memahami situasi dan langsung mendekati kami.


“Valko, lewat sini,” bisik salah seorang dari mereka.


Valko mengangguk, lalu menatapku.


“Kita keluar lewat jalur belakang.”


“Siapa mereka?” tanyaku.


“Teman.”


Jawaban itu terlalu singkat untuk membuatku tenang, tetapi aku tidak sempat meminta penjelasan lebih lanjut. 


Keempat mahasiswa itu kemudian mengambil posisi mengelilingiku. Mereka membentuk semacam barikade sederhana dengan tubuh masing-masing, memastikan aku berada di bagian tengah dan tidak terlihat dari lorong.


Aku baru menyadari bahwa mereka bukan sekadar mahasiswa yang kebetulan panik bersama kami.


Mereka melindungiku seperti pengawal yang terlatih.


“Kenapa mereka melindungiku?” tanyaku lirih.


Valko menatapku sejenak.


“Nanti aku jelaskan. Sekarang percaya padaku.”


Anehnya, di tengah semua kekacauan itu, aku justru menuruti perkataannya.


Kami bergerak perlahan menuju sudut perpustakaan yang jauh dari pintu utama. Di sana terdapat sebuah jendela besar yang menghadap ke sisi belakang gedung. 


Valko memeriksa keadaan di luar melalui celah tirai, kemudian memberi isyarat kepada salah satu mahasiswa.


“Buka jalannya.”


Dengan benda yang tersedia di sekitar kami, mereka memecahkan kaca jendela. Suaranya cukup keras, membuatku refleks menundukkan kepala. 


Setelah memastikan pecahan kaca yang berbahaya sudah disingkirkan sebisa mungkin, Valko memberi tanda agar aku keluar lebih dahulu darinya, setelah 2 orang melompat duluan.


Aku memanjat dengan hati-hati, dibantu dua mahasiswa yang menjaga dari bawah. Setelah berhasil turun ke sisi luar gedung, kami tidak langsung berdiri dan berlari. 


Kami justru merunduk dan bergerak mengendap-endap menjauh dari area utama kampus.


Masih terdengar suara sirene dan kepanikan dari kejauhan, tetapi semakin jauh kami bergerak, suara itu perlahan tertinggal di belakang.


Kami berenam akhirnya mencapai gerbang belakang. Sebuah van hitam sudah menunggu di sana. Pintunya langsung terbuka begitu kami mendekat.


“Cepat masuk,” ujar Valko.


Aku naik terlebih dahulu, disusul empat mahasiswa tadi dan Valko yang memastikan tidak ada seorang pun tertinggal. Begitu pintu tertutup, kendaraan langsung bergerak meninggalkan kampus.


Aku duduk terdiam di dalam van, masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Napasku belum sepenuhnya stabil.


Tanganku bahkan masih gemetar ketika kusadari bahwa beberapa menit sebelumnya aku hampir saja berlari keluar melalui pintu utama, tepat ke arah bahaya.


Aku menatap Valko.


“Kamu sudah tahu?”


Dia tidak langsung menjawab.


“Valko.”


“Kita bicara setelah sampai.”


Aku mengerutkan kening. “Kamu selalu begini kalau tahu sesuatu.”


Perjalanan terasa jauh lebih lama karena tidak seorang pun banyak bicara. Sampai akhirnya van berhenti di sebuah rumah yang berada cukup jauh dari pusat kota. 


Lingkungannya jauh lebih sepi daripada kampus, dengan pepohonan di sekitar halaman dan beberapa rumah lain yang berdiri cukup berjauhan.


Begitu pintu dibuka, seorang perempuan yang sangat kukenal langsung berlari menghampiriku.


“Non!”


Bibi pelayanku memelukku erat. Matanya sudah penuh air mata.


“Untung Non bisa selamat,” katanya dengan suara bergetar. “Bibi sampai takut terjadi apa-apa.”


Aku membalas pelukannya, masih kebingungan.


“Bibi, ini sebenarnya kenapa?”


Dia mengusap wajahnya yang basah oleh air mata, tetapi sebelum sempat menjawab, aku kembali teringat pada satu hal.


“Ayah di mana?”


Bibi terdiam dan aku langsung merasa tidak enak. Valko akhirnya maju dan menjelaskan dengan suara yang lebih tenang.


“Ayahmu tidak ada di sini. Situasinya sedang genting menjelang Pemilu, jadi kamu dipindahkan dari rumah untuk alasan keamanan.”


Aku menatapnya tidak percaya.


“Jadi semua ini sudah direncanakan?”


“Bukan serangannya,” jawab Valko. “Evakuasimu.”


Aku menelan ludah. Barulah semuanya mulai tersusun di kepalaku. Kampus memang benar-benar diserang. Dan aku bukan korban yang kebetulan berada di sana.


Aku adalah target utamanya.


Pihak lawan rupanya percaya bahwa jika mereka berhasil menculikku, tekanan terhadap keluargaku akan meningkat drastis. 


Ayahku sedang berada dalam posisi penting menjelang pemilihan wakil raja, dan keberadaanku dianggap sebagai salah satu titik lemah yang bisa mereka manfaatkan.


“Kalau aku berhasil diculik...” Aku menatap Valko, mencoba menyelesaikan kalimat itu sendiri.


Dia mengangguk pelan.


“Mereka berharap ayahmu memilih mundur daripada mempertaruhkan keselamatanmu.”


Untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami mengapa sejak awal jumlah pengawal di sekitarku terus bertambah. 


Dan yang paling membuatku takut adalah kenyataan bahwa mimpi ini tidak lagi terasa seperti sekadar permainan.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Rasanya terlalu banyak informasi yang harus kucerna dalam waktu singkat di sebuah rumah asing setelah evakuasi dari serangan yang ternyata menargetkanku.


“Non sebaiknya istirahat dulu,” kata Bibi lembut ketika melihat wajahku yang masih kebingungan.


“Kamar Non sudah disiapkan.”


Aku mengangguk dan mengikuti Bibi menuju lantai atas. Begitu pintu kamar dibuka, aku langsung melihat sebuah kamar yang cukup nyaman dengan tempat tidur besar, lemari pakaian, meja kecil, dan jendela yang menghadap ke halaman belakang. 


Di atas tempat tidur sudah tersedia beberapa tas berisi pakaian dan perlengkapan pribadiku.


“Ini semua sudah disiapkan untuk menginap?” tanyaku.


“Sudah, Non. Pakaian, perlengkapan mandi, obat-obatan, dan beberapa barang pribadi lainnya. Cukup untuk tiga hari.”


Aku membuka salah satu tas dan memeriksa isinya. Bahkan pakaian yang biasa kugunakan di rumah sudah tersedia. 


Rupanya mereka memang sudah mempersiapkan kemungkinan bahwa aku harus tinggal di sini lebih lama daripada satu malam.


“Jadi aku benar-benar tidak boleh pulang?”


Bibi menggeleng pelan.


“Untuk sementara jangan, Non. Lebih baik aman di sini.”


Aku menghela napas dan menjatuhkan diri ke tepi tempat tidur. Belum sempat pikiranku kembali ke mana-mana, ponselku berdering.


Nama Ayah muncul di layar dan aku langsung mengangkatnya.


“Ayah?”


“Kamu sudah sampai?”


“Sudah. Tapi Ayah, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kampus sampai diserang?”


Di seberang telepon terdengar suara Ayah yang berusaha tetap tenang.


“Ayah tahu kamu takut. Tapi sekarang yang paling penting adalah kamu jangan keluar dari rumah itu.”


“Berapa lama?”


“Setidaknya sampai keadaan benar-benar aman dan hasil Pemilu keluar.”


Aku terdiam. Mendengar kata Pemilu membuat semuanya terasa semakin nyata.


“Ayah, apa mereka benar-benar menargetkanku?”


Ayah tidak langsung menjawab.


“Untuk sementara anggap saja keselamatanmu adalah prioritas utama. Jangan mengambil risiko yang tidak perlu. Ada orang-orang yang menjaga kamu di sana, jadi dengarkan mereka.”


“Tapi Ayah sendiri bagaimana?”


“Ayah baik-baik saja. Jangan pikirkan Ayah dulu.”


Nada suaranya terdengar tenang, tetapi aku tahu Ayah pasti sedang menghadapi tekanan yang tidak kalah besar.


“Ayah janji keadaan akan baik-baik saja?”


Terdengar jeda singkat sebelum dia menjawab.


“Keadaan akan kita lewati bersama. Kamu tenang saja. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja.”


Aku memejamkan mata sebentar.


“Jangan takut. Istirahatlah nak.”


Telepon berakhir beberapa saat kemudian. Aku masih memegang ponsel ketika pintu kamar diketuk.


“Masuk.”


Valko muncul di ambang pintu.


“Sudah selesai bicara dengan ayahmu?”


Aku mengangguk.


“Dia menyuruhku tetap di sini sampai hasil Pemilu keluar.”


“Bagus. Berarti kamu tidak perlu memikirkan untuk kabur.”


Aku menatapnya tajam.


“Aku kan tidak sebodoh itu.”


Valko tertawa kecil.


“Aku cuma memastikan.”


Dia kemudian memberi isyarat agar aku mengikutinya turun. Di ruang tengah, empat mahasiswa yang sebelumnya membantuku keluar dari perpustakaan sudah berkumpul. 


Mereka tampak jauh lebih santai dibandingkan ketika berada di kampus, meskipun pakaian mereka masih sama seperti sebelumnya.


“Sekarang waktunya kamu kenalan,” kata Valko.


Aku menatap mereka satu per satu.


“Kenapa baru sekarang?”


“Karena tadi kita sedang dikejar orang bersenjata,” jawab Valko santai. “Rasanya kurang sopan kalau aku berhenti untuk memperkenalkan mereka.


Aku mendengus karena menahan geli.


Salah seorang laki-laki mengulurkan tangan lebih dahulu.


“Aku Phainon.”


Di sebelahnya, laki-laki lain ikut memperkenalkan diri.


“Satoru.”


Laki-laki ketiga mengangguk kepadaku.


“Aku Zhongli.”


Kemudian satu-satunya perempuan di antara mereka tersenyum ramah.


“Simone.”


Aku mengangguk kepada mereka satu per satu.


“Senang berkenalan, meskipun situasinya agak tidak ideal.”


Simone terkekeh kecil.


“Sepertinya tidak ada yang menyangka perkenalan kita akan dimulai dengan lari dari perpustakaan.”


Aku memperhatikan mereka dengan lebih teliti. Kalau harus berada dalam situasi seperti ini, aku memang tidak heran mereka dipilih untuk melindungiku.


Mereka terlihat sigap, tenang, dan mampu bekerja sama tanpa banyak bicara.


Namun ada satu hal yang masih menggangguku.

Aku menoleh kepada Valko.


“Kalau mereka calon pasukan keamanan negara, lalu kamu apa?”


Valko mengangkat alis.


“Nah, itu pertanyaan yang bagus.”


Keempat orang tadi langsung saling pandang, seolah mereka sudah tahu pertanyaan itu akan muncul.


Valko akhirnya menjelaskan bahwa Phainon, Satoru, Zhongli, dan Simone memang mahasiswa akademi yang sedang dipersiapkan untuk menjadi bagian dari pasukan keamanan negara.


Di Kerajaan Ondinesia, institusi militer dan kepolisian berada dalam satu departemen keamanan negara. 


Akademi tempat kami kuliah juga menjadi salah satu jalur pendidikan bagi calon anggota elite mereka. 


Karena itu, selain mahasiswa Hubungan Internasional, Informatika, dan berbagai jurusan sipil lainnya, terdapat pula mahasiswa yang mengambil pendidikan khusus di jurusan militer.


“Jadi kalian memang sedang dipersiapkan untuk masuk pasukan keamanan?” tanyaku.


Phainon mengangguk.


“Kurang lebih begitu. Kami masih dalam tahap pendidikan, tetapi latihan dan penugasannya sudah cukup serius.”


“Dan kalian akan menginap di sini?”


“Selama situasi belum aman,” jawab Simone.


“Kami juga ditugaskan membantu pengamanan.”


Aku mengangguk perlahan, tetapi pertanyaan tentang Valko masih belum terjawab.


“Kalau begitu, aku mengerti kenapa kalian ikut. Tapi Valko?”


Valko hanya tersenyum kecil.


“Aku punya tugas sendiri.”


“Jawabanmu tidak membantu sama sekali.”


“Kamu akan tahu nanti.”


Aku hendak mendesaknya, tetapi tubuhku sudah terlalu lelah untuk berdebat. Setelah perjalanan panjang, kepanikan di kampus, dan semua informasi yang baru saja kudengar, aku hanya ingin membersihkan diri dan beristirahat.


Kami akhirnya berpencar menuju kamar masing-masing untuk mandi sore.


Tidak lama setelah aku selesai dan berganti pakaian, terdengar ketukan di pintu.


“Non, makan malam sudah siap.”


Aku membuka pintu dan turun ke ruang makan.

Meja makan cukup panjang untuk kami berenam. Makanan sudah tersaji di tengah meja, sederhana tetapi lengkap. 


Untuk sesaat suasananya hampir terasa seperti makan malam biasa, kalau saja aku tidak berada di sebuah rumah persembunyian dengan penjagaan ketat dan baru beberapa jam lalu lolos dari serangan kampus.


Kami mulai makan sambil berbicara. Percakapan kemudian beralih pada situasi politik menjelang Pemilu.


“Partai Garuda sekarang semakin agresif,” kata Satoru. “Mereka tahu posisi mereka sedang terancam.”


“Karena elektabilitas mereka turun?” tanyaku.


Simone mengangguk.


“Rakyat sudah cukup lama kecewa dengan pemerintahan Wakil Raja saat ini, Subiatno. Banyak masalah selama masa pemerintahannya yang membuat dukungan terhadap Partai Garuda ikut merosot.”


Aku mengaduk nasi perlahan.


“Jadi mereka takut kehilangan kekuasaan?”


“Bukan cuma kekuasaan,” jawab Zhongli. “Kalau mereka kalah, banyak orang di kelompok mereka yang juga akan kehilangan posisi strategis di pemerintahan.”


Valko yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya ikut berbicara.


“Karena itu mereka mulai mengambil langkah yang lebih ekstrem.”


Aku menatapnya.


“Termasuk menyerang kampus?”


“Kalau benar target utamanya kamu, kemungkinan besar begitu.”


Suasana meja makan mendadak sedikit lebih berat.


Phainon melanjutkan, “Mereka sudah mencoba berbagai cara untuk mempertahankan pengaruh. Kampanye, propaganda, pendekatan kepada kelompok tertentu, sampai berbagai bentuk tekanan politik. Tapi dukungan masyarakat tetap tidak kembali seperti sebelumnya.”


“Apalagi Raja sekarang terlihat lebih dekat dengan Partai Serigala,” kata Simone. “Itu membuat posisi Garuda semakin sulit.”


Aku menghela napas.


“Jadi semuanya benar-benar hanya karena Pemilu?”


“Pemilu adalah salah satu pemicunya,” jawab Satoru. “Yang dipertaruhkan lebih besar daripada sekadar menang atau kalah.”


Aku terdiam sambil memandang meja.

Rakyat ternyata sudah jauh lebih sulit dipengaruhi. Mereka bisa melihat kegagalan pemerintahan, membandingkan informasi, dan menentukan pilihan sendiri. 


Uang, janji, atau propaganda tidak selalu bisa mengubah keputusan orang-orang yang sudah kehilangan kepercayaan.


Akhirnya pihak lawan mengambil langkah yang jauh lebih berbahaya dengan mengancam keselamatan keluargaku.


Untungnya, Ibu dan adikku sedang berada di luar negeri sehingga mereka tidak menjadi target utama. 


Dari sudut pandang mereka, keduanya dianggap tidak memiliki nilai strategis yang cukup untuk dijadikan alat tekanan, terlebih karena beberapa waktu terakhir memang beredar isu bahwa Ayah dan Ibu sedang berada di ambang perceraian.


Padahal kenyataannya jauh berbeda.

Hubungan keluargaku masih baik-baik saja. Ibu dan adikku memang sedang berada di luar negeri untuk urusan tertentu, tetapi mereka tetap berkomunikasi dengan Ayah seperti biasa. 


Bahkan tanpa diketahui pihak lawan, keduanya juga ditemani pengawal rahasia yang sudah ditugaskan untuk menjaga mereka sejak situasi politik mulai memanas.


“Jadi mereka benar-benar percaya orang tuaku akan bercerai?” tanyaku ketika mendengar penjelasan itu.


Valko mengangguk. “Mereka mengambil kesimpulan dari informasi yang mereka punya. Selama tidak ada bukti sebaliknya, mereka akan menganggap rumor itu benar.”


Aku mengernyit.


“Dan mereka hanya tahu tentang aku?”


“Bukan hanya tahu,” jawab Valko. “Mereka menganggap kamu adalah satu-satunya titik lemah ayahmu.”


Logikanya memang sederhana, sekaligus mengerikan. Mereka tidak perlu menyentuh Ayah secara langsung jika bisa membuatnya takut kehilangan aku.


Bagi mereka, keselamatanku adalah alat tawar yang paling efektif.


“Mereka pikir kalau aku berada dalam bahaya, Ayah akan menyerah?”


“Bukan sekadar menyerah,” kata Valko. “Mereka memperkirakan ayahmu akan mundur dengan sukarela daripada membiarkan keselamatanmu menjadi taruhan politik.”


Aku memandang meja makan yang mulai kosong. Jadi selama ini aku bukan sekadar anak seorang pejabat yang kebetulan berada di tempat yang salah. 


Aku telah ditempatkan sebagai bagian dari perhitungan politik mereka. Setiap gerakanku, keberadaanku, bahkan hubunganku dengan Ayah dapat dianggap sebagai sesuatu yang bisa dimanfaatkan.


Untungnya, rencana itu berhasil digagalkan sebelum mereka mendapatkan apa yang diinginkan.


Setelah makan malam selesai, kami bersama-sama membersihkan meja. Suasana perlahan kembali lebih ringan, tetapi ketegangan yang muncul sejak sore tidak benar-benar menghilang.


Setelah semuanya selesai, kami akhirnya memutuskan untuk beristirahat.


“Selamat malam,” ujar Simone sebelum berjalan menuju kamarnya.


Aku mengangguk dan ikut menuju kamar.

Baru saja tanganku menyentuh gagang pintu, seseorang menarik tanganku dari belakang.


Aku langsung tahu siapa orangnya. Valko berdiri beberapa langkah di belakangku.


“Aku mau bicara sebentar.”


Aku menatap tanganku yang masih dipegangnya, lalu perlahan menariknya kembali.


“Tidak sekarang.”


Valko terdiam.


“Aku cuma ingin menjelaskan.”


“Menjelaskan apa?” tanyaku, masih menahan kesal. “Kita sudah putus, ingat?”


Aku sengaja mengucapkannya dengan tegas meskipun hatiku sendiri terasa tidak nyaman.

Valko menundukkan kepala sebentar.


“Iya. Aku ingat.”


Tatapannya kemudian kembali kepadaku. Untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat jelas betapa sedihnya ekspresinya. 


Matanya bahkan tampak berkaca-kaca, seolah dia sedang menahan sesuatu yang sejak tadi berusaha tidak dia tunjukkan.


Dadaku langsung terasa sesak. Aku sebenarnya sudah tidak tega melihatnya seperti itu.


Namun rasa kasihan tidak serta-merta menghapus kekesalanku. Selama beberapa minggu terakhir, Valko terus melakukan banyak hal tanpa memberiku penjelasan. 


Dia semakin sibuk, semakin tertutup, dan hampir tidak pernah berkomunikasi denganku dengan baik.


Aku berkali-kali mencoba memahami, tetapi dari sudut pandangku, dia hanya menjauh tanpa memberi kesempatan kepadaku untuk mengerti.


“Aku capek, Valko,” kataku akhirnya, lebih pelan. “Aku ingin tidur.”


Dia mengangguk. “Baik.”


Aku membuka pintu kamar dan masuk tanpa menoleh lagi. Kalau aku tetap berdiri di sana, aku takut akan berubah pikiran hanya karena melihat ekspresinya.


Begitu pintu tertutup, aku menyandarkan punggung sebentar di sana.


“Kenapa dia harus pasang wajah begitu.” gumamku.


Aku tahu seharusnya aku tidak terlalu keras kepadanya. Tetapi aku juga tidak ingin terus mengabaikan perasaanku sendiri hanya karena tidak tega melihatnya sedih.


Aku mengganti pakaian, kemudian langsung merebahkan diri di kasur. Tubuhku ternyata jauh lebih lelah daripada yang kusadari.


Tidak lama kemudian, mataku terpejam.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


BAB 9



Biasanya kalau aku terlelap di dunia mimpi, aku akan kembali ke dunia nyata.


Ketika membuka mata, aku langsung merasa ada sesuatu yang aneh. Aku ternyata masih berada di dunia mimpi.


Aku duduk perlahan di atas tempat tidur dan memandangi ruangan di sekelilingku. Semuanya tampak sama seperti ketika aku tertidur di rumah persembunyian tadi malam. 


Cahaya pagi masuk melalui celah tirai, suara burung terdengar dari luar, dan udara di kamar terasa sejuk.


Ini pertama kalinya aku mengalami sesuatu seperti ini. Aku bangun dari tidur, tetapi tidak ada pergantian dimensi.


Kalau memang aku belum bisa kembali, tidak ada gunanya terus panik. Untuk sementara, mungkin aku harus menjalani hari ini seperti biasa dan mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.


Aku turun dari tempat tidur dan bersiap menjalani pagi. Besok adalah hari Pemilu. Aku hanya bisa berharap semuanya berjalan lancar.


Ketika turun ke ruang tengah, televisi sudah menyala, Valko sudah duduk di sana. Berita pagi menampilkan berbagai laporan mengenai persiapan terakhir menjelang Pemilu. 


Aktivitas di berbagai wilayah diperketat, petugas keamanan mulai ditempatkan di sejumlah lokasi penting, dan masyarakat diimbau menjaga ketertiban selama proses pemungutan suara.


Aku duduk di sofa sambil memperhatikan layar.


“Semoga benar-benar aman,” kataku pelan.


Namun beberapa menit kemudian, berita yang muncul justru membuat suasana pagi berubah.


Presenter televisi melaporkan adanya pengeboman dan penyerangan menggunakan senjata tajam di akademi kemarin.


Laporan tersebut menyebutkan bahwa sejumlah mahasiswa mengalami luka-luka akibat serangan itu. Untungnya, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. 


Pihak keamanan sudah mengamankan lokasi dan melakukan penyelidikan untuk mengetahui bagaimana senjata bisa masuk ke lingkungan akademi yang seharusnya memiliki sistem pemeriksaan ketat.


Aku menatap layar tanpa berkedip.


Akademi tempat kami belajar adalah salah satu institusi paling ketat di Kerajaan Ondinesia.


Pemeriksaan keamanan bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele, apalagi menjelang Pemilu.


“Bagaimana bisa?” tanyaku. “Kalau pemeriksaannya seketat itu, bagaimana senjata bisa lolos?”


Valko masih memandangi televisi.


“Belum tentu senjatanya masuk dari luar.”


Aku langsung terdiam.


“Maksudmu?”


“Kalau memang benar ada senjata yang lolos dari pemeriksaan, ada kemungkinan seseorang dari dalam membantu.”


Bisa jadi ada seseorang di dalam akademi yang sengaja membuka jalan bagi mereka.


“Kenapa mereka tidak membahas pelakunya sama sekali?” tanyaku.


Phainon yang sedang duduk di sofa ikut mengalihkan pandangan ke televisi.


“Sepertinya banyak hal yang tidak diberitakan oleh media,” gumamnya.


Zhongli mengangguk pelan. “Kalau benar belum ada pengumuman resmi, kemungkinan penyelidikannya masih ditahan. Bisa juga ada pihak yang sengaja menutupinya.”


Hari itu kami berenam tidak diizinkan keluar rumah. Kampus ditutup sementara, pengamanan di berbagai titik diperketat, dan rumah persembunyian ini menjadi satu-satunya tempat yang dianggap aman sampai situasi mereda.


Akhirnya kami mencoba menjalani hari senormal mungkin.


Phainon dan Satoru menghabiskan waktu di halaman belakang untuk berolahraga. Suara mereka sesekali terdengar ketika saling menantang jumlah push-up. 


Zhongli memilih membaca buku strategi di ruang keluarga, sementara Simone menyalakan film di televisi dan beberapa kali tertawa kecil melihat tingkah tokohnya.


Aku mencoba membaca buku yang tersedia di rak, tetapi pikiranku terus melayang.


Tanpa sadar, pandanganku bertemu dengan Valko yang berdiri di sudut ruangan.


Begitu mata kami bertemu, dia segera mengalihkan pandangan.


Aku memperhatikannya beberapa saat. Biasanya dia selalu menjadi orang pertama yang membuka percakapan. Sekarang justru dia tampak ragu setiap kali aku berada di dekatnya.


Aku menutup bukuku, berdiri, lalu berjalan menghampirinya.


“Ayo kita ngobrol yang tadi malam tertunda.”


Ekspresinya berubah, seolah tidak menyangka aku yang akan mengajaknya bicara lebih dulu.


“Boleh.”


Kami berjalan menuju balkon di lantai atas. Begitu pintunya dibuka, angin sejuk langsung menyambut wajahku. 


Dari sana, hamparan pepohonan membentang hingga kaki gunung di kejauhan. Langit biru yang bersih membuat pemandangan itu terasa damai, kontras dengan kekacauan yang sedang terjadi di negeri ini.


Aku bersandar pada pagar balkon.


“Setidaknya masih ada hal yang indah di dunia ini,” gumamku.


Beberapa saat kami hanya menikmati keheningan itu.


Akhirnya Valko membuka suara lebih dulu. Nada suaranya terdengar tulus.


“Maaf karena beberapa minggu ini aku menghilang tanpa benar-benar menjelaskan apa pun.”


“Aku memang marah soal itu.”


Dia mengembuskan napas pelan sebelum melanjutkan.


“Ingat kejadian di pantai waktu itu?”


Aku mengangguk.


“Setelah hari itu, aku dihubungi orang dari Partai Serigala.”


Aku langsung menatapnya.


“Mereka menawarkan tugas untuk jadi salah satu pengawalmu.”


Aku terdiam beberapa detik.


“Jadi semuanya dimulai dari situ?”


“Iya.”


“Kenapa kamu tidak bilang?”


Valko menundukkan kepala sebentar.


“Karena aku tidak boleh.”


Aku mengernyit. “Maksudnya?”


“Mereka melarangku memberi tahu kamu.”


“Kenapa?”


“Karena mereka yakin kamu bakal melarang aku.”


Aku spontan menjawab, “Ya memang bakal kularang.”


Valko tertawa kecil. “Nah, itu alasannya.”


Aku memukul pelan lengannya.


“Ini bukan sesuatu yang lucu.”


“Aku tahu.”


Dia kemudian menjelaskan bahwa sejak menerima tugas itu, hampir seluruh waktunya berubah. 


Selain tetap kuliah di Informatika, dia mendapat latihan tambahan yang dirancang untuk mendukung tugas pengamanan.


“Makanya kamu sering menghilang?”


“Iya.”


Aku baru mengingat kembali semua perubahan yang kulihat selama beberapa minggu terakhir.


Valko memang terlihat lebih sering berolahraga, tubuhnya juga semakin kuat, tetapi saat itu kukira dia hanya sedang serius menjaga kebugaran.


“Aku memang sudah latihan bela diri sejak kecil,” katanya. “Jadi dasar fisiknya sudah ada. Aku juga masih rutin fitness. Mereka tinggal memperkuat kemampuan yang dibutuhkan.”


Aku menatapnya lama.


“Tapi tetap saja itu berbahaya. Kalau sesuatu terjadi sama kamu gimana?”


Dia tersenyum tipis.


“Kalau aku tidak ikut menjaga kamu, justru itu yang bakal terus kupikirkan.”


Aku menggigit bibir pelan.


“Valko.”


“Aku serius.”


Sorot matanya kali ini tidak main-main.


“Aku rela melakukan apa pun supaya kamu tetap selamat.”


Kalimat itu membuat dadaku terasa hangat sekaligus sesak. Aku menundukkan kepala sebentar karena mataku mulai terasa panas.


“Jangan bikin aku nangis,” gumamku.


Valko tertawa pelan.


“Maaf.”


Aku mengangkat kepala lagi. Dia sedang menatapku dengan senyum yang begitu lembut hingga rasa kesalku perlahan runtuh begitu saja.


“Aku benci kamu,” kataku lirih.


“Bohong.”


Kami sama-sama tertawa kecil.


Valko kemudian mengulurkan tangan.


“Boleh?”


Aku menatap tangannya beberapa detik sebelum akhirnya meletakkan tanganku di atas telapak tangannya.


“Sekarang kita sudah damai?”


Aku mengangguk pelan.


“Sudah.”


Dia mencium tanganku seperti pangeran, lalu menatapku dengan wajah yang jauh lebih tenang daripada beberapa hari terakhir.


Tanpa berpikir panjang, aku membuka kedua tanganku.


Valko langsung memahami maksudku.


Dia melangkah mendekat, lalu memelukku dengan hati-hati. Pelukan itu terasa hangat, bukan karena ingin menyembunyikan rasa takut, melainkan seperti seseorang yang akhirnya bisa bernapas lega setelah terlalu lama menahan beban sendirian.


“Aku kangen,” bisiknya.


“Aku juga.”


Beberapa saat kami tetap berdiri seperti itu, menikmati angin yang berembus dari arah gunung.

Kemudian Valko sedikit menjauh dan menatapku sambil tersenyum.


“Kalau begitu, mau jadi pacarku lagi?”


Aku tertawa malu.


“Baru juga baikan.”


“Jadi?”


Aku mencubit pelan pinggangnya sampai dia meringis.


“Tentu saja aku mau.”


Senyumnya langsung melebar. Dia meraih daguku, lalu kami saling menatap beberapa saat sebelum berbagi ciuman singkat. 


Untuk sesaat, semua kekacauan di luar rumah terasa menjauh, seolah balkon kecil yang menghadap gunung itu menjadi satu-satunya tempat di mana kami bisa melupakan ancaman yang mengintai.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


BAB 10



Keesokan harinya, ketika aku kembali tertidur di dunia mimpi, aku masih terbangun di tempat yang sama. 


Tidak ada perpindahan ke dunia nyata seperti biasanya. Rasanya semakin aneh karena aku mulai terbiasa dengan kemungkinan bahwa setiap kali memejamkan mata, aku akan kembali ke dunia ini dan melanjutkan kehidupan seolah-olah aku benar-benar tinggal di dalamnya.


Hari ini adalah hari Pemilu.


Sejak pagi, suasana di seluruh negeri terasa berbeda. Berita di televisi terus menampilkan laporan mengenai pelaksanaan pemungutan suara di berbagai daerah. 


Jalanan di sekitar tempat pemungutan suara dipenuhi warga yang datang bergantian, sementara petugas keamanan berjaga untuk memastikan semuanya berlangsung tertib.


Aku sendiri tidak diperbolehkan pergi sendirian.

Beberapa pengawal sudah menunggu sejak pagi, dan Valko juga ikut bersiap bersamaku.


Setelah memastikan semuanya aman, kami akhirnya berangkat menuju tempat pemungutan suara yang telah ditentukan.


Begitu tiba, aku langsung melihat banyak wartawan sudah menunggu di sekitar lokasi.


“Sepertinya mereka memang sudah tahu aku datang,” gumamku.


Valko berdiri di sampingku sambil memperhatikan kerumunan.


“Jangan terlalu dekat dengan mereka. Kita tetap ikuti jalurnya.”


Aku mengangguk.


Kamera mulai mengarah kepadaku begitu aku turun dari kendaraan. Beberapa wartawan memanggil namaku dan meminta komentar singkat mengenai pelaksanaan Pemilu. 


Aku hanya memberikan senyum dan menyampaikan bahwa aku berharap semuanya berjalan aman dan tertib.


Tidak lama kemudian, Ayah datang.


Melihat kami berada di lokasi yang sama, beberapa wartawan langsung semakin bersemangat. Mereka meminta kami berdiri bersama untuk mengambil foto.


“Ayah, kita harus foto sekarang?”


Ayah tertawa kecil.


“Sepertinya kalau tidak, mereka tidak akan berhenti memanggil.”


Aku berdiri di sampingnya. Ayah merangkul bahuku, sementara kilatan kamera bertubi-tubi muncul dari berbagai arah.


Untuk sesaat, semuanya terasa normal. Tidak ada ketegangan seperti beberapa hari terakhir. Hanya seorang ayah dan anak yang datang untuk menjalankan hak pilih mereka.


Setelah selesai memilih, Ayah menggenggam tanganku sebentar sebelum memelukku.


“Jangan pulang ke rumah dulu.”


Aku langsung memahami maksudnya.


“Masih harus tinggal di villa?”


“Untuk sementara, iya.”


“Ayah sendiri?”


“Ayah masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan. Kamu tetap bersama pengawal dan Valko.”


Aku mengangguk meskipun sebenarnya ingin sekali kembali ke rumah setelah semua kejadian yang melelahkan itu.


Setelah berpamitan, aku kembali ke kendaraan bersama para pengawal dan Valko. Kami meninggalkan lokasi pemungutan suara dan kembali ke villa tanpa kejadian apa pun.


Sesampainya di rumah persembunyian, suasananya justru terasa lebih santai. Tidak ada yang perlu pergi ke kampus, dan sebagian besar aktivitas hari itu berpusat pada satu hal, yaitu hasil penghitungan suara.


Televisi kembali menyala sejak siang. Kami berenam berkumpul di ruang keluarga, sementara layar menampilkan grafik perolehan suara dari berbagai wilayah yang terus diperbarui.


“Masih terlalu cepat untuk menyimpulkan,” kata Simone sambil memperhatikan angka di layar.


Phainon mengangguk.


“Penghitungan baru dimulai. Masih banyak suara yang belum masuk.”


Aku duduk di sofa sambil sesekali melihat ponsel, kemudian kembali memperhatikan televisi. Semakin sore, angka yang ditampilkan semakin jelas menunjukkan pola yang sama.


Partai Serigala unggul di banyak wilayah.

Memasuki sore hari, selisih perolehan suara semakin terlihat. Suara mayoritas sementara berada di pihak Partai Serigala, sesuai dengan perkiraan yang selama ini kami dengar.


Aku mengembuskan napas lega.


“Sepertinya hasilnya sesuai prediksi.”


Valko yang duduk di sebelahku mengangguk.


“Masih belum resmi. Kita tunggu sampai seluruh suara selesai dihitung.”


Aku tahu dia benar, tetapi melihat hasil sementara saja sudah cukup membuat ketegangan di dalam rumah sedikit berkurang.


“Kalau begitu besok?”


“Besok kemungkinan hasil resmi mulai diumumkan,” jawab Zhongli. “Hari ini proses penghitungan belum selesai.”


Kami kembali memandang televisi.


Ketika malam tiba, tidak ada kabar mengenai serangan baru atau kerusuhan. Aku akhirnya bisa bernapas lebih lega.


“Semoga setelah ini keadaan benar-benar membaik,” kataku.


Simone mengangkat gelasnya.


“Semoga tidak ada kejutan buruk lagi.”


Kami semua tertawa kecil, meskipun sebenarnya tidak ada yang benar-benar yakin apakah keadaan akan tetap damai.


Aku sendiri masih merasa sedikit gelisah.

Pemilu mungkin berjalan lancar hari ini, tetapi kemenangan satu pihak tidak otomatis menghapus semua masalah. 


Jika pihak yang kalah benar-benar merasa kehilangan kekuasaan, aku tidak tahu apa yang mungkin mereka lakukan selanjutnya.


Namun malam itu kami memilih untuk tidak memikirkannya. Tubuhku yang sejak beberapa hari terakhir terus berada dalam keadaan tegang akhirnya terasa benar-benar lelah dan terlelap.


Ketika membuka mata, aku sudah berada di kamar sendiri di dunia nyata.


Aku menatap langit-langit beberapa saat sebelum akhirnya duduk.


“Sudah kembali ke dunia nyata ya?”


Rasanya janggal.


Mimpi terakhir terasa jauh lebih panjang daripada biasanya. Bukan sekadar potongan kejadian yang muncul lalu menghilang setelah aku terbangun, melainkan seperti sebuah kehidupan yang benar-benar kujalani selama beberapa hari.


Hatiku sedang berada dalam kondisi yang jauh lebih baik. Hubunganku dengan Valko di dalam mimpi sudah kembali seperti semula, Pemilu berjalan lancar, dan untuk sementara tidak ada lagi kejadian buruk yang menimpaku.


Aku pun tidak bermain game sama sekali, karena toh dapat bertemu dengan Valko di dalam mimpi saat tertidur nanti malam.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Saat masuk ke dalam mimpi, suasana yang menyambutku terasa jauh lebih tenang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Tidak ada sirene, kepanikan, atau berita tentang serangan. 



Hari berjalan normal, seolah seluruh Kerajaan Ondinesia baru saja mengembuskan napas lega setelah melewati masa Pemilu yang panjang dan penuh ketegangan.


Hari ini adalah hari setelah Pemilu.


Hasil penghitungan suara akhirnya selesai. Sejak pagi, siaran televisi menayangkan pengumuman resmi dari istana. 


Raja sendiri yang berdiri di hadapan rakyat untuk menyampaikan hasil Pemilu, sementara lambang kerajaan terpampang di belakangnya dan jajaran pejabat berdiri dalam formasi rapi.


“Dengan demikian, berdasarkan hasil penghitungan suara yang telah disahkan, Partai Serigala memperoleh mayoritas kursi di parlemen,” ujar Raja dalam siaran tersebut.


“Dan untuk jabatan Wakil Raja, calon yang memperoleh mandat rakyat adalah Soeharno.”


Aku yang sedang duduk di ruang keluarga bersama beberapa pengawal langsung tersenyum ketika nama ayah disebut. 


Tidak ada sorak-sorai berlebihan di rumah, tetapi aku bisa melihat perubahan suasana di antara orang-orang yang sejak beberapa hari terakhir berjaga di sekeliling kami. 


Beberapa pengawal saling melirik dan mengangguk kecil, seolah hasil itu mengonfirmasi bahwa semua ketegangan yang mereka lewati tidak sia-sia.


Parlemen kini dikuasai Partai Serigala, dan ayah resmi terpilih menjadi Wakil Raja.


Serah terima jabatan pun dilakukan pada hari yang sama. Karena pelantikan resmi baru akan diselenggarakan sebulan lagi, acara hari ini dibuat sederhana dan lebih berfokus pada perpindahan tanggung jawab agar pemerintahan baru bisa segera mulai bekerja.


Ayah bahkan tidak sempat menikmati kemenangan itu terlalu lama. Begitu rangkaian acara selesai, pekerjaan langsung dimulai.


Program-program baru yang menjadi bagian dari agenda Partai Serigala mulai disiapkan untuk diterapkan secara bertahap. Salah satunya adalah perubahan program makanan nasional untuk siswa. 


Program tersebut dihentikan dan diganti dengan pemberian uang saku pendidikan yang akan dikirimkan setiap bulan kepada anak-anak sekolah.


Malam ini, aku makan malam dengan ayah di villa tempat persembunyian.


“Jadi anak-anak akan menerima langsung setiap bulan?” tanyaku ketika membaca berita mengenai kebijakan itu.


Ayah mengangguk sambil masih memeriksa beberapa dokumen di tangannya.


“Begitu rencananya. Mekanismenya masih harus disiapkan supaya penyalurannya tepat sasaran dan tidak mudah disalahgunakan.”


“Berarti masih banyak yang harus dikerjakan.”


Ayah tertawa kecil. “Baru hari pertama, sudah bisa menyimpulkan begitu?”


Aku menunjuk tumpukan dokumen di hadapannya.


“Kalau melihat itu, aku rasa kesimpulanku cukup masuk akal.”


Program lain yang mulai dibahas adalah pengalihan fungsi bangunan koperasi desa yang sudah telanjur selesai dibangun. 


Daripada dibiarkan kosong atau hanya menjadi bangunan yang tidak memiliki fungsi jelas, pemerintah berencana memanfaatkannya kembali sebagai sekolah, terutama untuk wilayah yang memiliki bangunan sekolah dalam kondisi rusak parah.


Ada juga alternatif lain, pemerintah daerah dapat mengalihfungsikannya menjadi balai serbaguna.


Dengan begitu, masyarakat dapat menggunakannya untuk berbagai kegiatan tanpa harus membangun fasilitas baru dari awal.


Selain itu, pemerintah baru mulai memperketat pengawasan terhadap kegiatan yang merusak lingkungan.


Pembakaran hutan dan pengerukan tambang ilegal menjadi salah satu hal yang langsung masuk dalam perhatian pemerintah.


“Kalau memang ada kegiatan ilegal, harus dihentikan,” kata ayah ketika kami membicarakan berita tersebut. “Sumber daya kerajaan tidak boleh terus diambil tanpa aturan.”


Masih ada banyak program lain yang tercantum dalam agenda pemerintahan baru, termasuk upaya penindakan terhadap korupsi. 


Namun, bagian itu tampaknya masih berada dalam tahap penyelidikan dan proses hukum. Belum banyak hasil yang bisa diumumkan kepada masyarakat.


Raja sendiri menyatakan dukungan penuh terhadap pemerintahan baru. Setelah melewati Pemilu yang cukup menegangkan, kerajaan akhirnya memasuki masa transisi dan mulai menjalankan kebijakan baru.


Bagi kami yang berada di luar ruang pemerintahan, perubahan itu terasa seperti awal dari babak baru.


Namun, bagi ayah, itu berarti hari-harinya akan menjadi jauh lebih sibuk.


Aku sudah bisa melihatnya dari cara ayah terus menerima telepon, membaca dokumen, lalu berdiskusi dengan orang-orang yang datang menemuinya. 


Setelah semua keadaan dinyatakan cukup aman, kami akhirnya bersiap kembali ke rumah masing-masing.


Beberapa orang yang selama ini bersama kami juga mulai kembali ke tempat mereka, sementara pengamanan tetap disiapkan untuk memastikan perjalanan berlangsung tanpa masalah.


Sebelum aku berangkat, ayah kembali mengingatkanku bahwa rumah sekarang akan dijaga lebih ketat.


“Status Ayah sudah berubah,” katanya serius.


“Mulai sekarang, keamanan rumah juga akan ditingkatkan. Jangan kaget kalau jumlah petugas bertambah.”


“Seperti tinggal di benteng saja.”


“Lebih baik begitu daripada kita menyesal karena menganggap keadaan sudah aman sepenuhnya.”


Aku mengangguk. Setelah semua kejadian yang berlangsung selama beberapa hari terakhir, aku tidak punya alasan untuk membantah.


Meskipun ayah sudah mulai menjalankan tugas sebagai Wakil Raja sejak hari ini, pelantikan resminya baru akan dilaksanakan satu bulan lagi di istana kerajaan. 


Acara tersebut tentu akan jauh lebih besar karena bukan hanya melibatkan ayah, tetapi juga pelantikan anggota parlemen dan para menteri yang akan mengisi pemerintahan baru.


“Jadi satu bulan lagi ada acara besar lagi?” tanyaku.


Ayah mengangguk. “Dan kemungkinan besar kamu juga akan hadir.”


Aku langsung tertawa kecil. “Berarti belum benar-benar selesai.”


“Belum,” jawab ayah. “Tapi setidaknya bagian paling sulit sudah lewat.”


Aku tidak tahu apakah kalimat itu benar-benar bisa menjadi jaminan, tetapi untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, aku ingin mempercayainya.


Perjalanan pulang berlangsung lancar. Tidak ada kendaraan mencurigakan yang mengikuti kami, tidak ada kabar darurat yang masuk melalui radio pengawal, dan tidak ada gangguan sepanjang perjalanan. 


Ketika akhirnya kendaraan berhenti di depan rumah, aku sempat memandangi bangunan itu beberapa detik sebelum turun.


Akhirnya aku bisa pulang. Setelah semua kekacauan yang terjadi menjelang Pemilu, rasanya aneh melihat hari berjalan begitu normal. 


Untuk sementara, Kerajaan Ondinesia sepertinya benar-benar memasuki masa tenang.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


BAB 11



Mimpi berikutnya tidak membawa kejadian istimewa. Tidak ada serangan mendadak, tidak ada pertengkaran besar, bahkan tidak ada kejadian aneh yang membuatku bertanya-tanya ketika terbangun. 


Justru karena itulah mimpi-mimpi itu terasa menyenangkan. Hampir setiap malam, aku kembali ke Kerajaan Ondinesia dan menjalani kehidupan yang perlahan terasa seperti rutinitas mahasiswa sungguhan. 


Aku mengikuti jadwal kuliah, mengerjakan tugas, makan di kantin bersama teman-teman, lalu menghabiskan waktu setelah kelas bersama Valko sebelum akhirnya kembali tidur dan terbangun di dunia nyata.


Pemerintahan baru yang dipimpin oleh wakil raja, yang tidak lain adalah ayahku sendiri, berjalan jauh lebih lancar daripada yang kubayangkan. 


Setelah pergantian pemerintahan, beberapa pejabat yang selama ini kebal hukum mulai diperiksa. Kasus korupsi yang sebelumnya hanya menjadi bisik-bisik di kalangan masyarakat mulai dibawa ke pengadilan. 


Berbagai program yang menghabiskan kas negara tanpa manfaat jelas dipangkas satu per satu, sementara anggaran mulai dialihkan ke sektor yang memang dibutuhkan rakyat.


“Ini benar-benar terjadi?” gumamku suatu pagi ketika membaca laporan mengenai penangkapan beberapa pejabat.


Valko yang duduk di seberangku sedang sibuk mengaduk minumannya. Ia melirik layar ponselku, kemudian mengangkat sebelah alis.


“Kenapa?”


“Pemerintah akhirnya menghapus proyek yang katanya akan membangun patung raksasa di pusat kota.”


“Yang anggarannya setara pembangunan beberapa rumah sakit?”


Aku mengangguk dengan wajah serius. “Aku mulai memahami kenapa rakyat begitu bahagia.”


Aku turut berbahagia dengan kondisi Kerajaan Ondinesia berjalan ke arah yang lebih baik. Tentu aku sedikit iri dan berharap hal ini juga terjadi di dunia nyata.


Aahh mimpi basah warga Konoha.


Selain sebagai pacarku, Valko kini resmi ditugaskan sebagai pengawalku.


Posisinya cukup krusial karena ia adalah orang yang paling sering berada di sisiku. Jika sesuatu terjadi, kami tidak perlu menunggu instruksi panjang untuk bergerak. Kami sudah tahu bahwa prioritas pertama adalah menjauh dari lokasi berbahaya dan menyelamatkan diri.


Suatu malam, ketika kami duduk berdua di taman kecil akademi, Valko tiba-tiba menjadi lebih serius. 


Lampu-lampu taman memantulkan warna kekuningan di atas jalan batu, sementara suara mahasiswa lain terdengar samar dari kejauhan.


Ia memastikan tidak ada orang yang terlalu dekat sebelum akhirnya mencondongkan tubuh dan berbicara dengan suara rendah.


“Setelah pelantikan, kemungkinan situasinya akan lebih buruk sebelum membaik.”


Aku menatapnya. “Kenapa?”


Valko terdiam sejenak, seolah memilih kata-kata yang tepat.


“Ada kemungkinan Partai Garuda melakukan kudeta.”


Aku langsung mengernyit. “Kudeta?”


“Kelompok ekstremisnya.”


Nada suaranya tidak lagi bercanda seperti biasanya.


“Mereka tidak menerima hasil pemilu. Dan bukan cuma pemerintahan baru yang menjadi target. Keluarga kerajaan juga masuk dalam daftar.”


Aku menelan ludah. “Jadi selama ini semua pengamanan itu karena ini?”


“Sebagian besar.”


“Kenapa kamu baru memberitahuku sekarang?”


“Karena aku tidak ingin membuatmu paranoid.”


“Valko.”


“Aku tahu.” Ia menghela napas. “Tapi kamu harus tahu supaya bisa mengikuti instruksiku kalau sesuatu terjadi.”


Aku memandang wajahnya beberapa saat. “Militer tahu?”


“Mereka tahu.”


“Lalu kenapa mereka tidak langsung menangkap orang-orangnya?”


Valko menatap ke arah gedung utama akademi sebelum kembali menatapku.


“Karena militer kerajaan sedang membiarkan jaringan itu bergerak.”


Aku semakin bingung. “Membiarkan?”


“Mereka ingin menangkap dalangnya ketika semuanya terbuka. Kalau hanya menangkap beberapa orang di lapangan, orang-orang di belakang mereka bisa kabur dan membangun jaringan baru.”


Aku mengerti maksudnya, meskipun tetap merasa tidak nyaman.


“Jadi mereka sengaja menunggu?”


“Lebih tepatnya, mereka sedang mengawasi dan menyiapkan penangkapan.”


Ada alasan mengapa kelompok itu begitu berani mengambil risiko sebesar ini. Mereka tidak bergerak sendirian.


Di belakangnya terdapat aliran dana dari jaringan mafia dan sumbangan dari sejumlah pejabat yang selama ini menikmati keuntungan dari sistem pemerintahan lama. 


Bagi mereka, kemenangan Partai Serigala berarti hilangnya perlindungan politik yang selama ini mereka miliki.


Jika pemerintahan baru benar-benar membersihkan korupsi, kasus-kasus lama akan dibuka kembali.


Kekayaan yang diperoleh secara ilegal dapat disita, sementara orang-orang yang selama ini merasa tidak tersentuh hukum bisa saja berakhir di pengadilan.


Karena itu, bagi mereka, mempertahankan kekuasaan bukan lagi sekadar persoalan politik. Mereka sedang berusaha menyelamatkan diri sendiri.


“Mereka sampai menyewa preman untuk meneror warga?” tanyaku pelan.


Valko mengangguk.


“Beberapa kelompok sipil dibayar untuk membuat kerusuhan. Ada juga anggota militer yang membelot dan memberikan dukungan.”


Semakin dekat hari pelantikan di istana, semakin terasa bahwa kehidupan damai yang selama ini kami jalani mungkin hanya jeda sebelum sesuatu yang jauh lebih besar dimulai.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Akhirnya, hari pelantikan tiba. Sejak pagi, seluruh kawasan istana sudah dipenuhi penjagaan.


Jalan-jalan utama ditutup sementara, bendera kerajaan terpasang berdampingan di sepanjang rute menuju istana, sementara masyarakat memenuhi area yang telah disediakan untuk menyaksikan pergantian pemerintahan secara langsung. 


Dari balik jendela kendaraan, aku bisa melihat wajah-wajah yang tampak antusias. Beberapa membawa bendera kecil, sebagian lainnya mengangkat poster dukungan, dan sesekali terdengar sorakan dari kerumunan yang semakin ramai.


Hari itu seharusnya menjadi awal baru bagi Kerajaan Ondinesia.


Ayahku, Bung Harno, secara resmi dilantik sebagai wakil raja yang baru. Ketika namanya diumumkan dan ia berdiri di hadapan Raja Yudhonegoro VI untuk mengucapkan sumpah jabatan, seluruh ruangan mendadak terasa begitu hening. 


Aku duduk di tempat yang telah disiapkan untuk keluarga, memperhatikan ayah dengan perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan.


Begitu sumpah selesai, tepuk tangan memenuhi aula. Dari luar istana, suara masyarakat yang menyaksikan acara melalui layar besar juga terdengar samar. Nama ayahku beberapa kali diteriakkan oleh kerumunan, disusul sorakan yang semakin keras.


Sayangnya ada dua orang yang sengaja tidak berada di tempat itu. Ibuku memilih tetap di luar negeri bersama adikku.


Keputusan tersebut memang terasa berat, tetapi kami semua tahu bahwa keselamatan mereka jauh lebih penting daripada kehadiran mereka dalam upacara. 


Jika prediksi mengenai kudeta benar, membawa seluruh keluarga berkumpul di satu tempat justru akan membuat kami menjadi sasaran yang lebih mudah.


Aku bahkan mulai berharap bahwa seluruh informasi mengenai kudeta ternyata salah.

Mungkin Partai Garuda hanya menggertak dan tidak akan berani melakukan apa pun di hari sebesar ini.


Semoga semua orang bisa pulang dengan selamat.

Upacara di istana selesai tanpa satu pun insiden. Bahkan ketika kami keluar dari aula, suasana masih dipenuhi tepuk tangan dan sorakan masyarakat.


Untuk beberapa saat, aku benar-benar percaya bahwa hari itu akan berakhir damai.


Setelah prosesi pelantikan, rombongan kerajaan kemudian bergerak menuju gedung parlemen. Perjalanan tersebut sengaja dibuat seperti karnaval untuk menyambut pemerintahan baru. 


Jalanan dipenuhi warga, musik terdengar dari beberapa panggung kecil yang didirikan di sepanjang rute, dan kendaraan-kendaraan kerajaan bergerak perlahan agar masyarakat dapat melihat para pejabat serta anggota keluarga kerajaan.


Raja Yudhonegoro VI dan ayahku berdiri berdampingan di atas mobil karnaval utama.


Keduanya melambaikan tangan kepada rakyat yang berdesakan di sisi jalan.


Mobil kedua membawa keluarga kerajaan.


Sedangkan aku berada di mobil ketiga bersama Valko dan beberapa pengawal lainnya.


Aku tidak pernah membayangkan akan melakukan hal seperti ini seumur hidupku.


Berdiri di atas kendaraan yang bergerak perlahan sambil melambaikan tangan kepada ribuan orang ternyata jauh lebih canggung daripada yang terlihat di televisi.


Di tengah kerumunan, aku melihat anak-anak mengangkat bendera kecil, beberapa orang meneriakkan nama ayahku, sementara yang lain sibuk merekam menggunakan ponsel.


Ada pula warga yang meneriakkan namaku ketika menyadari siapa yang berdiri di mobil ketiga. Aku sempat membungkuk kecil sebagai salam. 


Akhirnya rombongan tiba di gedung parlemen. Begitu turun dari kendaraan, suasana langsung berubah lebih formal.


Para petugas keamanan bergerak cepat mengatur jalur masuk, sementara anggota parlemen yang baru telah menunggu di dalam gedung. 


Agenda berikutnya adalah pelantikan anggota parlemen baru, yang kali ini memiliki komposisi berbeda karena Partai Serigala memperoleh lebih banyak kursi.


Aku sempat melihat beberapa wajah yang belum pernah kukenal sebelumnya. Mereka datang dari berbagai daerah dan latar belakang, tetapi sebagian besar membawa ekspresi yang sama.


Mereka terlihat serius, tegang, sekaligus bangga karena akhirnya berada di dalam gedung yang selama ini hanya mereka lihat dari pemberitaan.

Aku duduk di tempat yang sudah ditentukan. Valko berada tidak jauh dariku.


Pengawal negara lainnya mengambil posisi di beberapa titik strategis ruangan.

Semuanya tampak terkendali.


Ketika Raja Yudhonegoro VI mulai menyampaikan pidatonya, ruangan perlahan menjadi sunyi. 


Suaranya terdengar jelas melalui pengeras suara, membahas pemerintahan baru, tanggung jawab para pejabat, serta harapan agar perubahan politik tidak berhenti hanya pada pergantian orang-orang di dalam pemerintahan.


Aku mendengarkan dengan tenang.


Sampai tiba-tiba seluruh lampu padam. Ruangan langsung kehilangan cahaya, mataku berusaha beradaptasi dalam kegelapan.


Aku bahkan belum sempat memahami apa yang terjadi ketika terdengar ledakan keras dari salah satu sisi gedung.


Suara itu mengguncang seluruh ruangan. Jeritan pecah hampir bersamaan.


Beberapa orang berdiri secara refleks, kursi bergeser dan jatuh, sementara petugas keamanan langsung bergerak. 


Karena acara sedang disiarkan secara langsung, kejadian itu juga terekam oleh kamera televisi.


Dalam hitungan detik, jutaan warga Ondinesia yang sedang menonton dari rumah menyaksikan perubahan suasana tersebut.


Aku membeku selama beberapa detik. Kemudian suara Valko terdengar sangat dekat.


“Jangan berdiri. Pegang tangan aku.”


Tangannya menggenggam tanganku dengan erat, memastikan aku tidak terpisah darinya dalam kegelapan.


Aku tahu apa artinya semua ini.


Kudeta.


Aku mendekatkan wajah dan berbisik, “Sepertinya mereka benar-benar mulai.”


“Ayo, kita harus mempersiapkan diri.”


Nada suaranya tenang, tetapi aku bisa merasakan kewaspadaan di seluruh tubuhnya.


Kami segera meraih tas yang sudah dipersiapkan sejak sebelum berangkat. Peralatan keselamatan telah disiapkan sebagai bagian dari protokol khusus untuk hari itu. 


Kami sudah mengenakan rompi antipeluru di balik pakaian formal yang kami kenakan, persiapan dengan matang telah dilakukan sebelum menghadiri upacara.


Valko membuka tas dan mengambil helm pelindung.


“Pakai ini.”


Aku mengikuti instruksinya, begitu pula anggota tim lainnya.


Beberapa detik kemudian, kami berenam sudah menggunakan perlengkapan keselamatan masing-masing. 


Tim kami terdiri dari aku, Valko, Simone, Phainon, Zhongli, dan Satoru, sama seperti sebelumnya. 

Dalam keadaan normal, kami mungkin terlihat seperti kelompok yang terlalu paranoid untuk menghadiri acara kenegaraan.


Namun malam sebelumnya, kami sudah diberi tahu bahwa hari ini bisa berubah menjadi situasi darurat kapan saja.


Mata kami perlahan mulai menyesuaikan diri dengan kegelapan.


Ledakan kembali terdengar. Kali ini lebih dekat. Kemudian dari kejauhan terdengar suara tembakan.


Meskipun sebelumnya sudah mengetahui bahwa militer kerajaan bersiap menghadapi kelompok ekstremis, tidak ada seorang pun yang benar-benar bisa menjamin bahwa rencana tersebut akan berjalan sempurna. 


Kami tidak tahu apakah seluruh jalur telah diamankan, apakah semua kelompok penyerang sudah terdeteksi, atau apakah ada orang lain yang berhasil menyusup ke dalam gedung.


Valko mendekatkan wajahnya kepadaku.


“Jangan lepaskan tanganku.


Aku mengangguk.


“Kalau aku bilang bergerak, ikut aku. Jangan berhenti untuk melihat ke belakang.”


Aku kembali mengangguk, kali ini lebih tegas.


Di sekitar kami, kepanikan tampak seperti kekacauan sempurna. Beberapa orang berusaha berlindung, petugas keamanan mengarahkan para pejabat menuju jalur evakuasi, dan suara instruksi terdengar bersahutan dari berbagai arah.


Namun aku tahu bahwa sebagian dari kekacauan itu memang sudah diperhitungkan. Kami tidak boleh terlihat seperti kelompok yang mengetahui terlalu banyak.


Musuh harus percaya bahwa semua orang benar-benar panik.


Phainon, kapten team, memberi isyarat kepada tim. Kami bergerak bersama menuju pintu keluar.


Langkah kami cepat tetapi tetap terkendali.


Pengawal di depan membuka jalan, sementara anggota lain memastikan tidak ada yang tertinggal. 


Aku berjalan di tengah, dengan Valko tetap berada di sisiku dan menggenggam tanganku agar kami tidak terpisah.


Begitu mencapai lorong keluar, aku melihat beberapa personel militer sudah berjaga di sana.


Mereka berada dalam posisi siap, memastikan jalur menuju area aman tetap terbuka.


“Lewat sini!” salah satu dari mereka memberi instruksi.


Kami segera mengikuti.


Namun suara ledakan masih terdengar dari bagian lain gedung. Setiap dentumannya membuat dinding lorong terasa bergetar samar.


Aku berusaha mempertahankan langkah, tetapi pikiranku terus tertuju pada orang-orang yang masih berada di dalam gedung.


Hari yang seharusnya menjadi perayaan pemerintahan baru akhirnya berubah menjadi awal dari kekacauan yang selama ini kami khawatirkan.


Dan sekarang, satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah mempercayai Valko dan tim yang berdiri di sekelilingku.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


BAB 12



Lima belas menit berikutnya terasa jauh lebih panjang daripada seharusnya.


Kami terus bergerak mengikuti jalur evakuasi yang sudah ditentukan, terkadang berlari kecil dan terkadang harus memperlambat langkah ketika lorong dipenuhi orang-orang yang juga berusaha menyelamatkan diri. 


Suara ledakan dari dalam gedung masih terdengar sesekali, disusul instruksi para petugas yang bersahutan di antara suara langkah kaki dan kepanikan para pejabat.


Aku berusaha mengatur napas, tetapi rasanya sulit sekali.


Dada terasa sesak, telapak tanganku dingin, sementara jantungku berdetak terlalu cepat. Setiap kali terdengar suara keras dari kejauhan, tubuhku refleks menegang sebelum akhirnya kembali mengikuti Valko.


“Sedikit lagi,” katanya tanpa melepaskan tanganku.


“Aku sudah tidak kuat.”


“Kita hampir sampai.”


“Aku benar-benar capek.”


Valko menoleh sekilas kepadaku. Meskipun wajahnya tetap tenang, napasnya sendiri mulai berat. Ia juga terus bergerak tanpa berhenti sejak kekacauan dimulai.


Aku tidak tahu berapa kali kami harus berbelok, melewati beberapa pintu pengamanan, dan menuruni tangga sebelum akhirnya cahaya matahari terlihat di ujung lorong.


Begitu keluar dari gedung, udara luar langsung terasa berbeda.


Kami tiba di area parkir yang sudah dijadikan titik evakuasi. Beberapa kendaraan telah berjajar menunggu, sementara para pejabat yang berhasil keluar lebih dulu berdiri dalam kelompok-kelompok kecil sambil menunggu pengawalan masing-masing. 


Sebagian masih mengenakan perlengkapan pelindung, sementara yang lain tampak kebingungan karena baru saja keluar dari situasi yang sama sekali tidak mereka duga.


Aku berhenti sejenak untuk menarik napas.

Udara terasa lebih segar dibandingkan di dalam gedung, tetapi tubuhku masih dipenuhi adrenalin.


Napasku terengah-engah akibat terus berlari dan berjalan cepat selama lima belas menit terakhir. Kakiku terasa lemas, tetapi aku memaksa diri untuk tetap bergerak.


Di sekitar kami, suasana perlahan menjadi lebih tenang.


Ledakan dan suara kekacauan dari gedung parlemen terdengar semakin jauh. Yang tersisa hanyalah suara kendaraan, instruksi para pengawal, serta hembusan angin yang menggerakkan dedaunan pohon di sekitar lapangan parkir.


Untuk pertama kalinya sejak listrik padam, aku merasa mungkin semuanya akan baik-baik saja.

Mobil kami hanya tinggal beberapa puluh meter lagi.


Valko berjalan di sampingku.


Aku bahkan sempat menghela napas lega.


“Sebentar lagi sampai,” kataku.


Valko menoleh kepadaku dan mengangguk. “Iya.”


Kami melanjutkan langkah.


Kemudian ekspresi Valko berubah. Matanya bergerak cepat ke arah sesuatu di kejauhan.


“AWAS!”


Sebelum aku sempat bertanya, Valko langsung menarik tubuhku ke arahnya.


Lengannya melingkari tubuhku dan ia memelukku erat, memutar posisi sehingga tubuhnya berada di antara aku dan arah datangnya ancaman.


Suara tembakan terdengar.


Tubuh Valko tersentak, peluru mengenai punggung dan lengannya.


Aku bahkan tidak langsung memahami apa yang terjadi sampai ia kehilangan keseimbangan selama sepersekian detik.


“Valko!”


Aku menjerit ketika melihat darah mulai membasahi bagian lengannya.


Beberapa pengawal langsung bergerak.


“Lindungi mereka!”


Barikade manusia terbentuk dalam hitungan detik. Simone, Phainon, Zhongli, dan Satoru mengambil posisi untuk menutup kami dari arah terbuka, sementara pengawal lainnya mengarahkan perhatian ke sumber tembakan.


“Bawa mereka ke belakang kendaraan!”


Aku masih memegangi Valko ketika ia berusaha berdiri tegak.


“Kamu kena tembak!”


“Aku tahu.”


“Kamu berdarah!”


“Sayang, lihat aku.”


Aku menatapnya dengan mata yang mulai panas.


“Jangan panik.”


“Bagaimana aku tidak panik?!”


“Kita masih aman."


“Kamu tertembak!”


“Aku masih bisa berdiri.”


Ia bahkan masih mencoba tersenyum, seolah luka di lengannya bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.


“Valko, jangan bercanda!”


Kami segera dibawa ke area yang lebih terlindung. Beberapa pengawal menutup jalur di belakang kami sementara yang lain memastikan kendaraan dapat mendekat tanpa membuat kami terlalu lama berada di ruang terbuka.


Begitu mencapai tempat aman, salah satu pengawal segera memeriksa luka Valko.


Aku berdiri di sampingnya dengan tangan gemetar.


“Apakah parah?”


“Untuk sementara tidak terlihat mengancam nyawa.”


Valko mengulurkan tangan yang tidak terluka dan menggenggam jariku, sambil menunggu tangannya selesai diperban.


“Aku bilang aku baik-baik saja.”


Aku hampir menangis melihat kondisinya.

Kami akhirnya berhasil mencapai mobil. Begitu semua orang masuk dan pintu tertutup, kendaraan langsung bergerak meninggalkan area parlemen.


Pengawal lain mengikuti dari belakang dengan kendaraan pengamanan tambahan.

Aku baru menyadari betapa tegang tubuhku setelah mobil mulai melaju.


Helm pelindung segera kulepas dan kutaruh di samping kursi. Valko melakukan hal yang sama.


Satu per satu anggota tim juga melepas perlengkapan mereka, kemudian mengatur napas setelah sekian lama berada dalam kondisi siaga.


Aku langsung berbalik kepada Valko.

Tanpa berpikir panjang, aku memeluknya erat.


“Kamu berhenti jadi pengawalku.”


“Sayang…”


“Aku tidak peduli kalau nanti ada pengawal lain.


Aku tidak mau kamu berada paling dekat denganku kalau akhirnya kamu yang kena.”


Valko menatapku beberapa detik.

Kemudian ia mengangkat tangan yang tidak terluka dan menyentuh pipiku.


“Kamu benar-benar takut, ya?”


Aku tidak menjawab.


Ia kemudian mengecup pipiku dengan lembut.


“Aku tetap akan jadi pengawalmu.”


Aku langsung menatapnya tidak percaya.


“Walaupun kamu memaksa atau mengancam putus hubungan.”


Aku semakin kesal. “Aku serius."


Ia tersenyum kecil.


“Aku akan tetap berada di dekatmu. Itu bukan karena tugasku saja. Aku memang ingin memastikan kamu aman.”


Aku menggenggam bajunya erat.


“Kamu keras kepala.”


“Mungkin.”


“Kalau kamu terluka lagi?”


“Aku akan lebih berhati-hati.”


“Itu bukan jawaban.”


“Kalau begitu, aku akan menjawab dengan cara lain.” Ia menatapku lurus. “Aku tidak akan meninggalkanmu.”


Aku akhirnya hanya bisa menyandarkan kepala ke bahunya.


Perjalanan menuju rumah berlangsung tanpa percakapan panjang. Kami semua masih berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. 


Sesekali radio komunikasi pengawal mengeluarkan laporan singkat mengenai situasi di beberapa lokasi, tetapi tidak ada seorang pun yang benar-benar membicarakannya lebih jauh.


Begitu sampai di rumah, kami langsung disambut tim medis yang memang sudah disiagakan.


Dokter memeriksa kami satu per satu untuk memastikan tidak ada luka lain yang terlewat. 


Setiap orang diperiksa secara menyeluruh. Hasilnya cukup melegakan. Tidak ada luka serius pada anggota tim lainnya.


Valko menjadi satu-satunya yang mengalami luka tembak. Peluru mengenai bagian lengannya, sementara peluru yang mengenai punggungnya meninggalkan memar karena rompi antipeluru yang kami gunakan berhasil menahan dampak lebih parah.


Dokter memeriksa punggungnya sekali lagi sebelum menghela napas lega.


“Untung rompinya terpasang dengan benar. Memarnya cukup jelas, tetapi tidak ada luka tembus di bagian punggung.”


Aku yang sejak tadi berdiri di sampingnya baru bisa bernapas lega.


“Jadi dia aman?"


“Untuk saat ini, iya. Lukanya di lengan harus dirawat, tetapi tidak terlihat ada kondisi yang mengkhawatirkan.”


Aku menatap Valko dengan kesal sekaligus lega.

Valko dan empat pengawal lainnya akhirnya memutuskan tetap tinggal di rumahku sampai situasi di luar benar-benar membaik. 


Rumah yang biasanya terasa luas mendadak menjadi penuh oleh orang-orang yang berjaga di berbagai sudut.


Ada yang memeriksa komunikasi, ada yang berjaga di dekat pintu, dan ada pula yang terus menerima laporan mengenai perkembangan situasi.


Ayahku masih belum pulang.


Namun aku sudah menerima kabar bahwa kondisinya aman. Fokus pengamanan memang diarahkan terutama kepada Raja Yudhonegoro VI dan ayahku sebagai wakil raja, sehingga keduanya mendapat pengawalan paling ketat selama kekacauan berlangsung.


Aku duduk di sofa sambil memandangi ponsel. Pesan terakhir dari ayah masih terbuka di layar.

Ia mengatakan bahwa dirinya selamat dan memintaku tetap berada di rumah bersama pengawal.


Aku membaca pesan itu beberapa kali sebelum akhirnya meletakkan ponsel.

Kami mencoba tidur malam itu, tetapi rasanya sulit sekali memejamkan mata.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


BAB 13



Sepertinya tidak ada tanda-tanda dari developer game bahwa Valko akan kembali dirilis.


Dua bulan setelah video promosi karakter Valko diunggah, video tersebut justru dihapus tanpa penjelasan apa pun. 


Tidak ada pengumuman resmi, tidak ada pernyataan dari developer, bahkan tidak ada sedikit pun petunjuk mengenai apakah karakter itu masih memiliki kesempatan untuk kembali. 


Akun resmi game terus berjalan seperti biasa, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.


Awalnya para pemain masih mencoba bersabar.


“Beri mereka waktu.”


“Mungkin sedang ada masalah internal.”


“Bisa jadi Valko akan muncul di event berikutnya.”


Komentar-komentar seperti itu memenuhi forum dan media sosial selama berminggu-minggu.


Namun semakin lama tidak ada kabar, semakin tipis pula kesabaran para penggemarnya.


Berbagai protes mulai bermunculan. Pemain meminta penjelasan, membuat tagar, mengunggah kembali potongan video promosi Valko, bahkan mengumpulkan bukti bahwa karakter tersebut sebelumnya memang sudah dipersiapkan untuk diperkenalkan.


Tetapi semua suara itu seperti berbicara kepada tembok. Tidak ada jawaban dan klarifikasi.


Akhirnya, rasa kecewa berubah menjadi kemarahan.


Gelombang boikot mulai menyebar. Banyak pemain yang sebelumnya rutin memainkan game tersebut memutuskan untuk menghapusnya dari ponsel. 


Sebagian lainnya masih bertahan karena menyukai karakter lain, tetapi mereka berhenti atau setidaknya mengurangi top up.


“Kalau mereka tidak menghargai pemain, kenapa kita harus terus memberikan uang?” tulis salah satu komentar yang viral.


Komentar itu mendapatkan ribuan tanda suka.


Dari sisi lain, developer justru terus mengeluarkan banner baru, event baru, kostum baru, dan berbagai gimmick yang sepertinya dimaksudkan untuk menjaga pemain tetap aktif.


Akan tetapi, laporan penjualan game justru menunjukkan penurunan yang semakin terasa.


Aku mengamati semuanya dari layar ponsel dengan perasaan campur aduk.


Memang masih ada pemain yang terang-terangan membenci Valko. Mereka bahkan tetap aktif melakukan top up dan menganggap kontroversi tersebut tidak penting.


Namun jumlah mereka ternyata tidak cukup untuk menahan penurunan pemasukan.


Setiap kali membuka media sosial, aku semakin malas membaca komentar. Awalnya aku masih berharap. Lalu aku menunggu. Setelah itu aku mulai kesal. Sekarang aku hanya merasa lelah.


Aku meletakkan ponsel di atas meja dan menatap layar yang perlahan mati.


“Mungkin memang sudah waktunya move on,” gumamku.


Rasanya agak konyol menyadari bahwa aku begitu kecewa hanya karena karakter game yang bahkan belum pernah benar-benar hadir di dalam game tersebut.


Aku akhirnya berusaha move on, dan memainkan game yang lain sampai malam, dan akhirnya tertidur dengan ponsel di tangan.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Hari sudah pagi di Ondinesia.


Cahaya matahari masuk melalui celah tirai dan membuat kamar perlahan menjadi terang. Aku membuka mata dengan perasaan sedikit bingung, lalu membutuhkan beberapa detik untuk menyadari bahwa aku sudah kembali ke dunia mimpi.


Aku berjalan pelan menuju kamar tamu. Valko sedang tidur dengan posisi menyamping. Perban masih terlihat melingkari lengannya. Wajahnya tampak jauh lebih tenang dibandingkan kemarin, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.


Aku duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangannya. Ada rasa lega yang sulit dijelaskan ketika menyadari ia benar-benar berada di hadapanku.


Aku memperhatikan wajahnya beberapa saat. Dalam keadaan tidur seperti itu, ekspresinya jauh lebih lembut.


Tidak ada senyum jahil, tidak ada tatapan menggoda, dan tidak ada komentar menyebalkan yang biasanya membuatku ingin memukul lengannya.


Aku tanpa sadar tersenyum.


“Aku sayang kamu,” bisikku sambil mengusap punggung tangannya.


Beberapa saat kemudian, jarinya bergerak.

Valko perlahan membuka mata. Pandangannya masih sedikit buram karena baru bangun, tetapi begitu melihatku duduk di sampingnya, sudut bibirnya langsung terangkat.


“Selamat pagi, sayang.”


Suaranya masih terdengar serak karena baru bangun tidur.


Aku tersenyum kecil. “Pagi.”


“Kamu sudah bangun dari tadi? Kenapa tidak membangunkanku?”


“Kamu kelihatan nyenyak.”


“Berarti kamu dari tadi memperhatikanku tidur?”


“Rahasia,” ujarku geli.


Kami kemudian meninggalkan kamar dan menuju ruang makan. Ternyata yang lain sudah berada di sana.


Phainon, Zhongli, Satoru, dan Simone duduk mengelilingi meja makan. Sarapan sudah disiapkan, lengkap dengan roti, telur, buah, dan minuman hangat. 


Suasana pagi terasa hampir normal, meskipun keberadaan beberapa pengawal yang berjaga di luar rumah menjadi pengingat bahwa situasi kerajaan sebenarnya belum sepenuhnya kembali seperti biasa.


Aku duduk di samping Valko dan mulai mengambil makanan. Televisi di ruang tengah menyala sejak tadi pagi. Siaran berita masih membahas kejadian kemarin.


Aku dan yang lain otomatis menoleh ketika suara pembawa berita terdengar lebih jelas.


“Pasukan militer kerajaan telah berhasil mengamankan sejumlah titik strategis setelah rangkaian kerusuhan yang terjadi kemarin. Situasi saat ini telah dinyatakan terkendali, sementara operasi pengejaran terhadap kelompok yang terlibat masih berlangsung.”


Aku mengembuskan napas lega. Setidaknya satu masalah sudah selesai. Namun berita berikutnya membuatku kembali memperhatikan layar.


“Sejumlah pejabat yang diduga terlibat dalam jaringan korupsi serta pihak-pihak yang diduga menjadi dalang kerusuhan kemarin telah diamankan. Pemerintah menyatakan bahwa proses hukum akan dilakukan secara terbuka sesuai ketentuan yang berlaku.”


Beberapa nama kemudian muncul di layar.

Sebagian besar diketahui memiliki hubungan dengan Partai Garuda.


Aku menatap televisi sambil menggigit roti.


“Cepat sekali.”


Valko mengangguk. “Mereka sudah mengumpulkan bukti sebelum semuanya dimulai.”


“Jadi memang benar semuanya sudah direncanakan."


“Kurang lebihnya begitu.”


Aku kembali memandang layar.


Untuk pertama kalinya sejak kudeta terjadi, aku merasa keadaan benar-benar bergerak menuju sesuatu yang lebih tenang.


Para pelaku mulai ditangkap, militer berhasil mengamankan situasi, dan pemerintahan baru kini memiliki ruang untuk bekerja tanpa terus-menerus diganggu oleh ancaman dari kelompok lama.


Aku membayangkan ayahku akhirnya bisa menjalankan tugasnya dengan lebih leluasa.


Mungkin setelah ini ia bisa benar-benar fokus memperbaiki pemerintahan dan menggunakan anggaran negara untuk hal-hal yang memang dibutuhkan rakyat. 


Tidak ada lagi proyek-proyek aneh yang menghamburkan uang, tidak ada pejabat yang merasa kebal hukum, dan tidak ada kelompok yang bisa membeli pengaruh hanya karena memiliki cukup uang.


Aku menyandarkan punggung ke kursi sambil berpikir kalau keadaan seperti ini benar-benar terjadi di dunia nyata, rakyat pasti bahagia.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


BAB 14



Di dunia nyata, aku masih merasa lelah dan kecewa. Semakin hari, harapanku semakin kecil untuk berharap Valko kembali ke game.


Namun setiap kali malam datang dan aku memejamkan mata, perasaan itu seperti menghilang begitu saja. 


Aku kembali ke Ondinesia, kembali menjadi diriku di sana, dan kembali bertemu Valko, walaupun hanya mengerjakan rutinitas seperti biasa. 


Hanya duduk bersamanya di kantin, berjalan di sekitar akademi, atau mendengarkan celotehnya tentang program komputer sudah cukup membuatku merasa lebih ringan.


Aku mulai terbiasa dengan dunia itu. Sampai suatu malam, sesuatu berubah.


Ketika aku membuka mata, aku langsung tahu ada yang tidak beres.


Biasanya aku akan muncul di kamar, rumah, akademi, atau tempat lain yang masih memiliki bentuk dan suasana yang kukenal. Akan selalu ada dinding, lantai, jendela, pepohonan, atau setidaknya langit yang bisa kulihat.


Kali ini tidak ada apa-apa.


Aku berdiri sendirian di sebuah ruangan yang seluruh permukaannya berwarna putihndan kosong.


Bahkan bayanganku sendiri hampir tidak terlihat karena seluruh ruangan dipenuhi cahaya lembut yang datang entah dari mana.


Aku berputar perlahan.


“Ini di mana?”


Suara sendiri terdengar aneh di ruangan itu. Tidak ada gema yang jelas, tetapi juga tidak ada suara lain yang menjawab.


Aku berjalan beberapa langkah.


Tidak ada perubahan.


Aku berbalik lagi dan mencoba mencari jalan keluar. Tidak ada.


Rasa bingung perlahan berubah menjadi takut.


“Valko?”


Aku memanggil namanya dengan suara lebih keras.


Tidak ada jawaban.


Aku mulai berjalan lebih cepat, lalu hampir berlari mengelilingi ruangan. Tanganku meraba permukaan putih di sekelilingku, tetapi semuanya terasa sama. 


Tidak ada celah yang bisa dibuka, tidak ada pegangan, dan tidak ada tanda bahwa ruangan ini memiliki jalan keluar.


“Valko!”


Tiba-tiba, sepasang tangan melingkar dari belakang.


Aku tersentak.


Namun sebelum sempat berbalik, aku sudah mengenali suara yang terdengar di dekat telingaku.


“Aku di sini.”


Aku langsung tersenyum lega. Aku berbalik dan tanpa berpikir panjang memeluknya erat.


Ia membalas pelukanku.


Untuk beberapa detik, rasa takut yang tadi memenuhi tubuhku menghilang begitu saja.


“Kita ada di mana?” tanyaku sambil masih memegang lengannya. “Kenapa tempat ini aneh sekali?"


Valko tidak langsung menjawab.


Aku mendongak untuk melihat wajahnya.


Senyumnya masih ada, tetapi kali ini berbeda. Tidak ada ekspresi jahil seperti biasanya.


Tatapannya justru terlihat tenang, seolah-olah ia sudah mengetahui sesuatu yang belum kuketahui.

Ia menarik napas pelan.


“Ini adalah akhir cerita.”


Aku mengerutkan kening dan melepaskan pelukanku sedikit.


“Aku tidak mengerti.”


Valko menatapku cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Waktumu hampir habis.”


Aku merasa dada tiba-tiba terasa berat.


“Maksudmu?”


“Kamu tidak akan bisa terus kembali ke sini.”


Aku menggelengkan kepala.


“Tidak, aku tidak mau berpisah denganmu.”


Aku kembali memeluknya, kali ini jauh lebih erat.

Valko tidak mencoba melepaskan diri.


Aku menempelkan wajah ke dadanya dan mulai menangis. Air mataku keluar begitu saja, tanpa bisa kutahan. Rasanya seperti anak kecil yang tiba-tiba diberi tahu bahwa sesuatu yang sangat disayanginya harus pergi.


Aku menggenggam pakaiannya.


“Aku tidak mau pulang."


Tangannya perlahan mengusap rambutku.


“Kamu harus kembali, kamu punya hidupmu sendiri.”


“Tapi aku punya kamu di sini."


Suaraku semakin bergetar.


“Aku baru saja menemukanmu.”


Aku terus menangis dalam pelukannya sampai akhirnya ia mengangkat tangannya dan mengusap air mata yang membasahi pipiku.


“Kalau begitu,” katanya lembut, “bagaimana kalau kita berkencan untuk terakhir kalinya?”


Aku mengangkat wajah.


“Terakhir?”


Ia tersenyum.


“Anggap saja hadiah perpisahan.”


Aku masih ingin mengatakan tidak, tetapi sebelum sempat menjawab, cahaya putih di sekitar kami mulai berubah.


Ruangan kosong itu perlahan menghilang.


Dinding yang memenuhi pandangan kami seakan terkelupas seperti kabut yang tertiup angin. 


Lantai di bawah kaki kami berubah menjadi tanah lembut yang ditutupi rerumputan. 


Sebagai gantinya, pepohonan tinggi berdiri mengelilingi kami, dengan cahaya matahari yang menembus sela-sela dedaunan.


Di hadapanku terbentang sebuah hutan yang indah.


Udara terasa sejuk dan segar. Burung-burung terdengar dari kejauhan, sementara aroma tanah dan dedaunan memenuhi udara.


Tidak jauh dari tempat kami berdiri terdapat sebuah pondok kayu kecil dengan atap miring dan teras sederhana.



Kami kemudian berjalan menuju pondok.

Hari itu kami tidak melakukan sesuatu yang luar biasa. Justru kesederhanaannya yang membuat semuanya terasa berharga. 


Kami memasak makanan bersama, meskipun sebagian besar pekerjaan akhirnya dilakukan Valko karena aku terlalu sibuk mengganggunya.


Setelah makan, kami duduk di teras sambil menikmati suara hutan.


Sore perlahan berubah menjadi malam.


Langit di balik pepohonan berubah menjadi jingga, kemudian ungu tua. Setelah matahari benar-benar menghilang, hutan menjadi jauh lebih tenang.


Lampu kecil di dalam pondok menjadi satu-satunya sumber cahaya di sekitar kami.


Malam semakin larut.


Rembulan naik semakin tinggi hingga cahayanya menerangi pepohonan.


Valko tiba-tiba berdiri.


“Ayo kita keluar melihat bintang.”


Aku mengikuti langkahnya keluar dari pondok.

Begitu sampai di sebuah tanah lapang di antara pepohonan, aku mendongak.


Langit malam terbentang luas di atas kami.

Bintang-bintang memenuhi seluruh pandangan, jauh lebih banyak daripada yang biasanya bisa kulihat dari dunia nyata. 


Cahaya bulan jatuh lembut di atas rerumputan, sementara angin malam bergerak perlahan melewati rambut kami.


Aku menggenggam tangan Valko erat.


Ia membalas genggamanku tanpa berkata apa-apa. Aku tahu waktu kami hampir habis.


Itulah yang membuat pemandangan indah di hadapanku terasa sekaligus menyenangkan dan menyakitkan.


Aku ingin menyimpan semuanya. Suara angin. Cahaya bulan. Hangat tangannya.


Bahkan cara Valko berdiri di sampingku sambil menatap langit. Semuanya aku ukir dengan susah payah di otakku.


Aku berharap malam itu tidak pernah berakhir.


“Valko, kalau aku tidak mau pulang bagaimana?”


Ia terdiam cukup lama.


“Kalau begitu, aku akan tetap menemanimu sampai waktunya tiba.”


Aku tersenyum meskipun air mata kembali menggenang.


“Terima kasih sudah datang ke mimpiku.”


Ia tersenyum kecil.


“Aku juga beruntung pernah bertemu denganmu.”


Kami kembali menatap langit.


Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Semua perasaan yang selama ini tumbuh di antara kami sudah tersampaikan melalui percakapan, tatapan, pelukan, dan cara kami terus mencari satu sama lain setiap kali aku kembali ke dunia ini.


Sayangnya, seindah apa pun dunia ini, kami tetap berasal dari dua dunia yang berbeda.


Aku berasal dari dunia nyata.


Valko berasal dari sebuah cerita.


Aku tidak tahu apakah pertemuan kami bisa disebut nyata, atau hanya sesuatu yang diciptakan oleh pikiranku sendiri. 


Namun selama aku berada di sana, semua perasaan itu terasa sungguh-sungguh.


Dan mungkin aku memang cukup beruntung.


Sebelumnya Valko hanyalah karakter yang hanya bisa kulihat melalui layar, tapi kini aku mendapat kesempatan untuk bertemu dengannya dalam mimpi.


Kesempatan untuk mengenalnya dan mencintainya.


Dan sekarang, mungkin juga kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal.


Namun bila

Itu semua dapat terwujud

Dalam satu ikatan cinta

Tak semudah seperti yang pernah terbayang

Menyatukan perasaan


“Valko, menurutmu apa kita akan pernah bertemu di dunia nyata?”


Valko terdiam dan menatap langit malam yang dipenuhi bintang. Cahaya bulan membuat wajahnya terlihat begitu tenang, tetapi kali ini ada kesedihan yang tidak bisa ia sembunyikan.


“Aku juga tidak tahu.”


Jawaban itu terasa lebih menyakitkan daripada yang kubayangkan.


“Mungkin setelah ini aku akan menghilang selamanya,” lanjutnya pelan. “Mungkin aku tidak akan pernah kembali.”


Aku menunduk, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang.


Namun Valko justru tersenyum kepadaku.


“Tapi sebelum itu terjadi, ada sesuatu yang ingin kusampaikan.”


“Apa?”


“Terima kasih.”


Aku mengangkat wajah.


“Untuk apa?”


“Untuk semua player yang pernah menyukaiku. Untuk mereka yang menunggu, yang berharap aku kembali, yang membicarakanku meskipun aku tidak pernah benar-benar hadir di dalam game.”


Suaranya terdengar semakin lembut.


“Terima kasih karena sudah membuatku merasa berarti.”


Tiba-tiba aku teringat semua orang yang selama ini memenuhi media sosial dengan fanart, tulisan, teori, editan, dan berbagai bentuk dukungan. 


Mereka mungkin tidak pernah benar-benar bertemu Valko, tetapi mereka tetap memberikan tempat untuknya di dalam imajinasi mereka.


Aku menggenggam tangannya lebih erat.


“Kalau begitu, bagaimana aku dan player lainnya bisa menemukanmu kalau kamu benar-benar hilang?”


Valko tersenyum.


“Selalu ada jalan untuk melepas rindu. Kalau kalian merindukanku, kalian bisa menemukanku di karya yang dibuat oleh para seniman.”


Aku mendengarkan tanpa menyela.


“Di cerita yang ditulis oleh para penulis. Di gambar yang dibuat dengan penuh perasaan. Di video, ilustrasi, komik, atau apa pun yang membuat seseorang kembali membayangkan keberadaanku.”


Ia berhenti sejenak.


“Bahkan di boneka yang dijahit dengan penuh kasih sayang.”


Aku tertawa kecil di sela air mata. Valko kemudian kembali menatapku.


“Jangan lupa satu hal.”


“Apa?”


“Jaga kebahagiaan kalian. Jangan biarkan orang yang tidak menyukaiku membuat kalian kehilangan kebahagiaan. Jangan terlalu memikirkan orang-orang yang sengaja mengganggu atau mengejek. Kalau mereka tidak suka, biarkan saja.”


Ia tersenyum lembut.


“Kalian tidak perlu membuktikan apa pun kepada mereka.”


Air mataku akhirnya jatuh.


Aku sudah berusaha menahannya sejak tadi, tetapi mendengar Valko berbicara seperti itu membuat pertahananku runtuh begitu saja.


“Kamu jangan pergi.”


Ia tidak menjawab.


Aku baru menyadari bahwa matanya juga basah.


“Kamu menangis?” tanyaku sambil mencoba tertawa di antara isak tangis.


Valko mengusap sudut matanya dan tersenyum kecil.


“Kelihatannya begitu.”


Aku kembali memeluknya.


Kali ini kami tidak mengatakan apa-apa. Aku hanya memeluknya erat, seolah-olah dengan begitu aku bisa menahan waktu agar tidak bergerak maju. 


Valko membalas pelukanku dengan kekuatan yang sama, dan untuk sesaat aku bisa berpura-pura bahwa kami masih memiliki banyak waktu.


Namun cahaya mulai muncul di sekitar tubuhnya.

Awalnya hanya berupa kilauan kecil di udara.

Kemudian semakin banyak.


Aku perlahan melepaskan pelukan dan menatapnya dengan panik.


“Valko…”


Tubuhnya mulai terlihat transparan.


“Aku rasa waktunya sudah tiba.”


“Tidak.”


Aku menggenggam tangannya, tetapi jemariku mulai bisa menembus tubuhnya seperti menyentuh cahaya.


“Jangan.”


Valko tersenyum kepadaku.


Senyum yang sama seperti ketika pertama kali aku bertemu dengannya di dalam mimpi.


“Terima kasih sudah datang mencariku.”


Air mataku semakin deras.


“Valko, tetaplah di sini.”


Ia mendekat dan memelukku untuk terakhir kalinya. Setelah itu, kami saling berciuman dengan lembut sebelum kembali saling memandang. 


Tidak ada kata-kata besar yang terasa cukup untuk menggambarkan perasaan saat itu.


Hanya tatapan yang seolah mengatakan semua hal yang belum sempat kami ucapkan.


Valko tersenyum.


“Sampai bertemu lagi.”


Aku menggeleng sambil menangis.


“Aku merindukanmu.”


Ia mulai berubah menjadi cahaya.


“Cepatlah pulang, Valko.”


Tubuhnya semakin transparan.


“Aku akan menunggumu.”


Cahaya di sekelilingnya pecah menjadi ribuan percikan kecil yang berkilauan seperti bintang.


Satu demi satu, serpihan cahaya itu terangkat dari tanah dan melayang ke langit.


Tetaplah menjadi bintang dilangit

Agar cinta kita akan abadi

Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini

Agar menjadi saksi cinta kita

Berdua

Berdua


Aku hanya bisa berdiri memandanginya.

Bintang-bintang kecil itu semakin tinggi, lalu melesat menembus pepohonan sebelum akhirnya menyatu dengan cahaya bintang di langit malam.


Aku mencari wajah Valko di antara cahaya tersebut.


Namun ia sudah tidak ada, hanya langit yang tersisa. Dan malam yang perlahan menjadi gelap.


Aku akhirnya terbangun di kamarku dari mimpi yang sangat panjang.


Napas pertama yang kutarik terasa berat. Tubuhku berkeringat dan dadaku terasa sesak, seolah-olah aku benar-benar baru saja kehilangan seseorang.


Aku mengusap wajah dan baru menyadari bahwa pipiku basah.


Aku menangis bahkan ketika tidur.


Untuk beberapa saat, aku hanya berbaring sambil menatap langit-langit kamar.


Yang tersisa hanyalah kamar tidurku sendiri dan cahaya pagi dari balik tirai.


Itulah mimpi terakhir dari rangkaian mimpi panjang tentang Kerajaan Ondinesia.


Keesokan harinya dan malam seterusnya, aku tidak pernah bermimpi kembali tentang tempat itu. Dan tentu saja, tidak ada Valko yang menungguku di dalam mimpi.


Aku tidak pernah tahu apa sebenarnya yang terjadi.


Mungkin semua itu hanya khayalanku sendiri.


Mungkin otakku menciptakan sebuah dunia dari karakter yang begitu kuinginkan untuk kembali. 


Atau mungkin, entah bagaimana, aku benar-benar pernah mengunjungi sebuah dimensi lain yang hanya bisa kuakses ketika tertidur.


Di dunia nyata pun Valko masih belum muncul.


Game itu tetap berjalan tanpa dirinya. Video promosinya masih tidak kembali, dan tidak ada pengumuman yang memastikan bahwa ia akan dirilis.


Tetapi sekarang aku tidak lagi merasa harus terus menunggu sambil kecewa.


Karena aku mengingat pesan terakhirnya.


Kalau kangen seseorang, selalu ada cara untuk melepas rindu.


Maka ketika seseorang menggambar Valko, ia kembali hidup di atas kanvas.


Ketika seseorang menulis cerita tentangnya, ia kembali memiliki suara.


Ketika seorang seniman membuat ilustrasi, komik, animasi, atau bahkan boneka yang dibuat dengan penuh kasih sayang, Valko kembali mendapatkan tempat untuk hadir.


Mungkin memang bukan di dalam game yang melahirkannya atau di dunia nyata.


Namun selama masih ada orang yang mengingatnya, Valko tidak benar-benar hilang.


Aku membuka folder lama di komputer dan melihat kembali gambar Valko yang pernah kusimpan.


Tanpa sadar, aku tersenyum.


“Cepatlah pulang,” gumamku pelan. “Aku masih menunggumu.”


Kemudian aku membuka halaman kosong dan mulai menulis. Valko akan selalu memiliki tempat untuk hidup, setidaknya di dalam cerita kami.



The End?


No comments