Kisah ini tentang Pangeran Xavier, yang keberadaannya seperti bayangan di Kerajaan Philonesia.
Sementara kamu, kali ini menjadi Lucia. Cerita tentangmu akan kita bahas nanti, karena saat ini kita akan menyimak kisah sang pangeran (^_^)
Xavier adalah anak keempat dari raja yang berkuasa dengan seorang selir. Pastinya perlakuan yang Xavier terima di istana berbeda dengan pangeran dan putri yang merupakan anak langsung dari raja dan ratu.
Sebelum tinggal di istana, ibu dari Xavier atau selir raja, adalah perempuan itu dikenal sebagai Sang Oracle.
Ia berasal dari wilayah jauh di utara, tempat orang-orang masih percaya bahwa beberapa perempuan dilahirkan dengan kemampuan melihat sesuatu yang belum terjadi.
Kemampuannya bukan sekadar membaca pertanda dari bintang atau menafsirkan mimpi.
Ramalannya terkenal akurat, cukup untuk membuat bangsawan dari berbagai wilayah datang menempuh perjalanan berhari-hari hanya untuk meminta satu jawaban darinya.
Namun bukan hanya kemampuannya yang membuatnya terkenal. Ia juga sangat cantik.
Seorang perempuan berkemampuan meramal masa depan dengan wajah memikat tentu sangat menarik untuk dimiliki seorang raja.
Maka sang Oracle dibawa ke istana, kemudian akhirnya dijadikan sebagai selir raja.
Bagi sang raja, saat itu masih menjadi putra mahkota, hal itu sangat menguntungkan. Ia mendapatkan ramalan yang akurat sekaligus perempuan cantik untuk berada di sisinya.
Untuk beberapa waktu, kamar sang Oracle sering dipenuhi pelayan. Gaun dan perhiasan baru datang hampir setiap pekan.
Ia bahkan beberapa kali dipanggil menghadiri jamuan pribadi bersama raja. Namun perhatian seorang raja mudah berpindah.
Terlebih ketika di tempat lain telah menunggu seorang ratu, para putra dan putri sah, serta berbagai urusan kerajaan yang jauh lebih penting bagi kelangsungan takhta.
Sedikit demi sedikit, kunjungan raja berkurang. Pada akhirnya, sang Oracle hanya dipanggil ketika kerajaan membutuhkan sesuatu darinya.
Ia dipanggil ketika perang mengancam perbatasan, atau saat raja ingin mengetahui hasil suatu perjanjian.
Para bangsawan yang ingin tahu apakah perjalanan dagang mereka akan berhasil juga sering bertanya pada sang oracle.
Tetapi ketika pesta kerajaan digelar, kursinya sering kali tidak disiapkan.
Ketika keluarga kerajaan makan bersama atau pesta besar dengan tamu asing, namanya jarang disebut.
Sang Oracle beserta putranya kembali dalam bayangan, antara ada dan tiada di keluarga kerajaan.
Xavier tumbuh di tengah semua itu. Sejak kecil, ia sudah mengerti bahwa ada sesuatu yang berbeda tentang dirinya, apalagi kakak tirinya selalu terlihat tidak menyukainya.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Ketika Xavier masih kecil, ia sering berdiri di balik pintu ruang pertemuan dan menunggu ibunya selesai meramal.
Ia terlalu muda untuk memahami politik, tetapi cukup pintar untuk mengenali tatapan orang.
Para bangsawan selalu menatap ibunya dengan cara yang sama. Walaupun membutuhkan ramalan, mereka sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat.
Beberapa bahkan tidak repot menyembunyikan rasa tidak suka mereka.
"Oracle."
"Selir."
"Putranya juga ada?"
Bisikan-bisikan seperti itu tidak pernah benar-benar hilang dari koridor istana. Sungguh istri raja yang tidak mendapat perlakuan yang pantas.
Perempuan itu selalu duduk dengan tenang di kursinya, mengenakan gaun yang sederhana dibandingkan pakaian para wanita bangsawan lain.
Xavier yang masih kecil berdiri tegak di sisi koridor menunggu ibunya selesai meramal para bangsawan.
Hari sudah sore, dan ibunya akhirnya keluar.
"Apakah kau sudah selesai?" tanya Xavier.
Ibunya tersenyum kecil.
"Sudah."
"Ayah datang?"
Senyumnya berhenti sesaat.
"Belum."
Xavier mengangguk dan tidak bertanya lagi.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Semakin besar, semakin jelas posisi Xavier di istana sebagai pangeran, anak keempat dari raja.
Dari rahim ratu, lahir seorang pangeran sebagai putra pertama, sang putra mahkota kebanggaan raja.
Sementara anak kedua dan ketiga adalah perempuan, para putri yang disegani di istana.
Pelajaran terbaik diberikan kepada mereka, terutama putra mahkota. Para bangsawan ingin mendapatkan perhatiannya. Para pejabat ingin mengetahui pendapatnya.
Ketika kakak Xavier memasuki aula, percakapan berubah dan semua orang mendengarkan. Awalnya Xavier tidak pernah iri. Ia hanya ingin diakui.
Oleh karena itu, ia mulai belajar lebih keras. Guru-guru kerajaan segera menyadari bahwa Xavier bukan anak yang mudah menyerah.
Ia tidak banyak bicara selama pelajaran, tetapi selalu datang dengan tugas yang sudah selesai. Ketika tidak memahami sesuatu, ia akan membaca kembali buku yang sama sampai mengerti.
Sejarah kerajaan, strategi perang, hukum, ekonomi, diplomasi, semua Xavier pelajari.
Di ruang latihan, ia juga tidak pernah mengeluh. Pedang kayu yang pada awalnya terasa terlalu berat untuk tubuh kecilnya perlahan menjadi ringan di tangannya.
Ia berlatih setiap pagi, bahkan ketika udara masih dingin dan embun belum mengering dari halaman batu.
Guru pedangnya beberapa kali menyuruhnya beristirahat tapi Xavier hanya menggeleng, lalu ia mengangkat pedangnya lagi.
Ia belajar menjaga postur. Mengatur napas. Membaca gerakan lawan. Tidak terburu-buru menyerang.
Bertahun-tahun kemudian, ketika pedang sungguhan berada di tangannya, gerakannya menjadi begitu tenang hingga beberapa prajurit kerajaan mulai memperhatikannya.
Xavier tidak bertarung dengan gaya seorang anak bangsawan yang ingin terlihat hebat, tapi bertarung seperti seseorang yang benar-benar ingin menang.
Selain pelajaran berpedang, ia juga belajar etiket dan menghadiri jamuan, bahkan membungkuk kepada bangsawan yang bahkan tidak memandangnya.
Ia membantu rakyat ketika diberi kesempatan.
Ketika banjir merusak beberapa desa di wilayah selatan, Xavier ikut turun bersama rombongan kerajaan. Sepatunya penuh lumpur. Jubahnya basah sampai ke lutut.
Ia membantu mengangkat karung makanan dan membawa anak-anak keluar dari rumah yang terendam.
Kabar tentang tindakannya sampai ke telinga raja. Tetapi tidak ada pujian khusus.
Suatu ketika, dalam sebuah jamuan kerajaan, ia salah menyebut nama seorang bangsawan tua.
Hanya satu kesalahan dan Xavier segera meminta maaf. Tetapi kesalahan itu menjadi bahan pembicaraan sepanjang malam.
"Pangeran Xavier seharusnya lebih berhati-hati."
"Usianya sudah cukup untuk memahami etiket."
"Memalukan."
Xavier mendengarnya dan tetap diam.
Beberapa hari kemudian, ia memenangkan ujian strategi kerajaan dengan nilai tertinggi.
Tidak ada seorang pun yang membicarakannya lebih dari beberapa menit.
Xavier mulai menyadari sebuah pola.
Kesalahannya adalah sesuatu yang harus diperbaiki. Keberhasilannya adalah sesuatu yang memang sudah seharusnya ia lakukan.
Dan yang paling menyakitkan, ia mulai melihat bahwa hal itu bukan hanya terjadi kepadanya.
Ibunya mengalami hal yang sama.
Ketika kerajaan membutuhkan ramalan, semua orang mencarinya. Mereka menyebutnya sebagai keberuntungan ketika ramalan ibunya terbukti benar.
Namun saat mereka tidak membutuhkan kemampuannya, mereka kembali mengingat bahwa perempuan itu hanyalah seorang selir.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Bertahun-tahun kemudian, Xavier sudah tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah.
Tubuhnya tinggi dan tegap. Rambut keperakannya jatuh sedikit berantakan di sekitar wajah, sangat berbeda dari gaya rambut para pangeran lain yang selalu ditata sempurna.
Matanya yang biru tampak tenang, nyaris sulit dibaca.
Malam itu, istana mengadakan jamuan besar.
Lampu-lampu kristal memenuhi aula. Musik dimainkan oleh kelompok pemusik kerajaan di sisi ruangan.
Para bangsawan mengenakan pakaian terbaik mereka, sementara para pelayan bergerak tanpa suara membawa nampan berisi anggur dan makanan.
Xavier berdiri di salah satu sisi aula. Pakaian resminya sempurna. Kerutan pada mantelnya hampir tidak ada. Rambutnya sudah ditata. Pedangnya berada di pinggang.
Seperti biasa, hanya basa-basi belaka, lalu Xavier perlahan tersisih dari percakapan.
Perhatian semua orang kali ini berpindah kepada putra mahkota yang baru saja memasuki aula bersama ratu, Ia tidak terkejut, hanya saja malam itu terasa berbeda.
Mungkin karena ia sudah terlalu lelah untuk terus berpura-pura tidak memperhatikan. Ia akhirnya meninggalkan aula lebih awal.
Di salah satu balkon istana, udara malam terasa jauh lebih dingin. Musik dari dalam aula terdengar semakin samar setelah pintu ditutup.
Xavier duduk sendirian di kursi batu dekat pagar balkon. Ia melepaskan sarung tangannya dan meletakkannya di samping.
Di bawah sana, taman kerajaan diterangi cahaya bulan. Air mancur masih mengalir, dan beberapa lentera bergoyang perlahan tertiup angin.
Wajah Xavier tetap tenang dengan sepasang mata biru yang menatap kosong ke taman.
Selama bertahun-tahun, ia berpikir bahwa dirinya hanya perlu berusaha lebih keras. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, sebuah pikiran lain muncul.
Ia berhenti berpikir tentang bagaimana caranya membuat mereka mengakuinya.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Perubahan Xavier tidak terjadi dalam satu malam. Ia tidak lagi berusaha membuat siapa pun terkesan.
Para guru kerajaan adalah orang pertama yang menyadarinya.
"Pangeran Xavier, Anda seharusnya lebih serius."
Xavier yang duduk di dekat jendela hanya mengangkat wajah dari buku yang sedang dibacanya.
"Aku serius."
Guru itu menatapnya.
"Anda sedang tidur."
Xavier berkedip pelan. Ia melihat buku yang masih terbuka di pangkuannya, lalu melihat kembali gurunya.
"Kalau begitu, aku hampir selesai membaca."
Guru itu menarik napas panjang.
Tidak ada yang berubah dalam ekspresi Xavier. Hanya saja, dulu ia akan merasa bersalah karena tertidur di tengah pelajaran. Sekarang, ia hanya merasa mengantuk.
Begitu pula di ruang latihan.
Xavier masih berlatih pedang setiap hari, tetapi ia tidak lagi memaksakan diri untuk memenangkan setiap pertandingan. Ia berlatih sampai merasa cukup, lalu berhenti.
Ketika seorang kesatria senior berhasil menyentuh bahunya dalam latihan, Xavier hanya mundur dua langkah dan mengangguk.
"Bagus."
"Anda tidak ingin mengulang?"
Xavier melihat pedang di tangannya.
"Besok saja."
Kesatria itu tertawa kecil.
"Anda berubah, Yang Mulia."
Xavier tidak menjawab. Mungkin memang begitu.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Di wilayah utara Philonesia, ada sebuah desa kecil yang hampir tidak pernah masuk dalam peta perjalanan para bangsawan.
Desanya terletak di antara perbukitan rendah dan ladang-ladang gandum yang membentang sampai ke kaki hutan.
Rumah-rumahnya dibangun sederhana dari kayu dan batu, dengan atap miring untuk menahan hujan musim dingin. Pagi hari selalu dimulai lebih cepat daripada di ibu kota.
Sebelum matahari benar-benar muncul, suara pintu kandang sudah terdengar, roda gerobak mulai berderit di jalan tanah, dan para petani berjalan menuju ladang dengan cangkul di bahu.
Di tempat seperti itu, semua orang saling mengenal.
Ketika seseorang membeli seekor kuda baru, maka tetangga akan tahu sebelum sore.
Keluarga yang bertengkar pun beritanya akan menyebar ke seluruh desa, bahkan sebelum mereka selesai makan malam.
Tentu saja kalau ada seorang gadis terlalu cantik untuk ukuran desa kecil itu lahir di sana, kabar itu akan menyebar luas.
Namanya gadis itu adalah Lucia, putri dari keluarga petani.
Ia membantu keluarganya di ladang, membawa hasil panen ke gudang, membantu ibunya mengurus rumah, dan sesekali pergi ke pasar desa untuk menjual hasil kebun.
Tidak ada yang istimewa dari kehidupannya, selain kecantikan yang membius siapapun yang melihatnya.
Rambutnya yang pirang panjang selalu tampak mencolok meskipun hanya diikat seadanya ketika bekerja.
Wajahnya lembut, dengan mata biru yang membuat orang cenderung lupa pada apa yang sedang mereka katakan ketika Lucia menatap mereka.
Bahkan ketika mengenakan gaun kerja yang sudah sedikit pudar karena sering dicuci, ia tetap menarik perhatian.
Banyak pemuda yang datang melamar.
Dari yang membawa sekeranjang apel atau membawa bunga. Ada yang datang bersama ayah dan ibunya dan membawa cincin.
Ada juga pemuda petani yang sudah dikenalnya sejak kecil, atau anak pemilik penggilingan dari desa sebelah.
Bahkan ada putra pedagang yang beberapa kali sengaja memperpanjang perjalanannya hanya agar bisa melewati rumah Lucia. Dia akhirnya berdiri di depan rumah hampir satu jam sebelum akhirnya terlalu gugup untuk mengatakan apa pun.
Lucia menolak semuanya dan selalu berusaha menjawab dengan sopan. Kata maaf, atau aku tidak bisa, atau terima kasih tapi aku tidak tertarik selalu dilontarkan.
Namun semakin sering ia mengucapkannya, semakin banyak orang yang merasa tersinggung.
"Dia terlalu pilih-pilih."
"Memangnya dia pikir dia siapa?"
"Anak petani saja bersikap seperti putri bangsawan."
"Jangan-jangan dia memang menunggu seseorang yang lebih kaya."
Rumor berkembang lebih cepat daripada tanaman liar setelah hujan.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Sayangnya, semakin lama Lucia menolak, semakin besar pula cerita tentang dirinya, katanya dia memanfaatkan kecantikannya.
Ada yang mengatakan Lucia sengaja membuat para pemuda menunggu, atau ia ingin menikah dengan bangsawan.
Padahal Lucia bahkan tidak tahu bagaimana harus menghadapi perhatian tersebut.
Ia mulai menghindari pasar pada jam-jam ramai. Kalaupun harus pergi, ia mengenakan kerudung untuk menutupi sebagian wajahnya.
Ia memilih jalan yang lebih panjang ketika pulang dari ladang jika melihat sekelompok pemuda berkumpul di jalan utama.
Bagi Lucia, perhatian yang terus-menerus tetap melelahkan. Kehidupan sederhana yang selama ini ia sukai perlahan terasa seperti sesuatu yang semakin sulit dimiliki.
Seperti semua gosip yang dianggap menarik, cerita tentang Lucia akhirnya dibawa oleh pedagang dari satu tempat ke tempat lain.
Dan akhirnya sampai ke ibu kota.
"Gadis desa yang kecantikannya membuat semua pemuda di wilayah utara berebut, katanya kecantikannya tidak tertandingi."
Semakin jauh cerita itu berjalan, semakin besar pula bentuknya.
Dan pada akhirnya, cerita itu sampai ke istana. Putra mahkota mendengarnya saat makan malam.
Salah seorang bangsawan sedang membicarakan wilayah utara ketika nama Lucia muncul dalam percakapan.
"Gadis itu terkenal di sana, Yang Mulia."
Putra mahkota mengangkat alis.
"Gadis?"
"Putri seorang petani."
"Kenapa dia terkenal?"
Bangsawan itu tersenyum.
"Karena kecantikannya."
Beberapa orang di meja tertawa kecil.
"Katanya hampir semua pemuda di wilayah itu ingin menikahinya."
Putra mahkota tampak tertarik.
"Benarkah?"
"Begitulah kabarnya."
"Dan dia menolak?"
"Semua."
Perhatian sang putra mahkota semakin besar.
Bukan semata karena kecantikan Lucia.
Pernikahan dan hubungan dengan keluarga bangsawan memang selalu memiliki nilai politik, tetapi seorang gadis desa yang tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan di berbagai wilayah juga bisa memiliki nilai lain.
Ia bisa menjadi simbol atau sekadar hiburan.
Putra mahkota kemudian mulai mempertimbangkan kemungkinan mengambil Lucia sebagai selir.
Tentu saja, itu tidak bisa dilakukan begitu saja. Lucia bukan bangsawan, bahkan bukan putri keluarga kaya.
Ia hanya anak petani.
Membawa seorang gadis desa langsung ke istana sebagai selir bukan sekadar persoalan keinginan seorang pria. Ada reputasi kerajaan yang harus dipertimbangkan.
Namun rumor tentang kecantikan Lucia telah cukup besar untuk membuat hampir semua orang di istana mulai membicarakannya.
Xavier mendengar cerita itu beberapa hari kemudian. Ia sedang duduk di perpustakaan ketika seorang pejabat kerajaan menyebutnya secara sepintas.
"Gadis tercantik di Philonesia."
Tapi Xavier tidak tertarik. Baginya, cerita seperti itu hanya gosip yang tumbuh semakin besar setiap kali berpindah dari satu mulut ke mulut lainnya.
Kecantikan adalah sesuatu yang sulit diukur.
Apalagi jika sumbernya adalah pedagang yang ingin membuat cerita dagangannya terdengar lebih menarik. Dan karena itu, tidak ada alasan baginya untuk peduli.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Malam itu, Xavier dipanggil ke kediaman ibunya. Sejak dia menginjak dewasa, ibunya pindah dari istana utama.
Kediamannya berada jauh dari sayap utama istana. Tidak buruk, tetapi juga tidak pernah terasa seperti bagian dari keluarga kerajaan.
Bangunannya lebih kecil. Halamannya lebih sunyi. Tidak banyak pelayan yang berjaga di depan pintu.
Seolah-olah kerajaan hanya mengingat bahwa tempat itu ada ketika mereka membutuhkan ramalan.
Xavier mengetuk dua kali.
"Masuk."
Ibunya sedang duduk di dekat jendela.
Tidak ada lilin yang terlalu banyak malam itu. Hanya dua lampu minyak di atas meja, membuat bayangan panjang jatuh ke lantai kayu.
Sang Oracle tidak sedang membaca.
Ia hanya menatap keluar jendela.
Xavier berhenti beberapa langkah dari meja.
"Ada apa bu?"
Ibunya menoleh.
Tatapannya membuat Xavier langsung tahu bahwa ini bukan percakapan biasa.
"Duduklah."
Xavier menurut dan mengambil kursi di seberangnya.
"Aku mendapat ramalan."
Ibunya sudah menjadi Oracle selama hidupnya. Mendengar kalimat itu seharusnya tidak mengejutkan.
"Untuk kerajaan?"
"Tidak, tapi untuk seorang gadis."
Xavier diam memperhatikan.
"Lucia."
Nama itu tidak asing lagi. Ia sudah mendengarnya beberapa kali dalam beberapa minggu terakhir.
Xavier tidak pernah menganggap cerita tersebut penting sampai malam itu.
"Ia bukan gadis biasa," lanjut ibunya.
Xavier bersandar sedikit pada kursinya.
"Kenapa?"
Sang Oracle menarik napas perlahan.
"Karena dia adalah Luce Stellare."
Xavier mengernyit tipis.
"Luce Stellare? Apa itu?"
"Cahaya Bintang."
Di luar, angin malam menggerakkan dedaunan di halaman.
"Artinya Lucia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki perempuan lain? Seperti kemampuan Oracle?"
"Bukan."
Ibunya menggeleng.
"Luce Stellare tidak meramal masa depan. Ia memengaruhi masa depan orang yang berada di sisinya."
Xavier menatapnya lebih serius.
Sang Oracle melanjutkan dengan suara rendah.
"Orang yang dipilih oleh Luce Stellare akan memperoleh kekuatan yang jauh lebih besar daripada yang seharusnya ia miliki. Bukan hanya kekuatan pribadi. Pengaruhnya akan meluas. Dukungan terhadapnya akan menguat. Orang-orang yang sebelumnya ragu akan lebih mudah berpihak."
Xavier mulai memahami arah pembicaraan itu.
"Seorang raja."
Ibunya mengangguk.
"Jika Luce Stellare berdiri di sisi seorang calon raja, kedudukannya akan menjadi sangat sulit digoyahkan."
Ibunya mengambil sebuah kertas yang sejak tadi berada di atas meja.
Kertas itu tampak tua. Ujungnya sedikit menguning, dan beberapa bagian ditulisi dengan simbol yang hanya dipahami oleh seorang Oracle.
"Jika putra mahkota mendapatkan Lucia," katanya, "ia hampir tidak akan memiliki lawan yang cukup kuat untuk menjatuhkannya."
Jika ramalan itu benar, maka Lucia bukan lagi sekadar gadis cantik dari sebuah desa di utara. Ia adalah sesuatu yang bisa mengubah keseimbangan kerajaan.
Ibunya kemudian mengatakan sesuatu yang membuat Xavier mengangkat wajah.
"Tapi ramalan itu tidak hanya berlaku untuknya."
"Untuk siapa?"
"Untukmu."
Sang Oracle menatap putranya dengan tenang.
"Jika suatu hari kau menjadi raja, Lucia juga bisa menjadi sumber kekuatanmu."
"Ayah sudah tahu?"
Ibunya menggeleng.
"Belum."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak memberitahunya."
Selama bertahun-tahun, ibunya dipanggil ke istana setiap kali kerajaan membutuhkan ramalan. Setiap pertanda yang dianggap penting selalu berakhir di meja raja.
Tetapi malam ini, untuk pertama kalinya, ada sebuah ramalan yang tidak diberikan kepada raja. Sang Oracle menyimpannya untuk dirinya sendiri dan putranya.
"Kenapa?" tanya Xavier lagi.
Ibunya menatapnya.
"Kau tahu kenapa."
Xavier tidak langsung menjawab. Ia tahu bagaimana ibunya diperlakukan selama bertahun-tahun, habis manis sepah dibuang.
Ia tahu bagaimana darahnya sendiri dianggap kurang berharga hanya karena ibunya bukan ratu.
Betapa lelahnya Xavier berusaha membuktikan bahwa ia pantas mendapatkan tempat di keluarga yang tidak pernah benar-benar menginginkannya.
Ibunya tersenyum tipis.
"Aku sudah memberikan terlalu banyak pada kerajaan, dan kali ini aku hanya ingin memberikannya khusus untuk putraku."
Di luar, langit malam sangat cerah. Bintang-bintang tersebar di atas ibu kota. Xavier menatapnya cukup lama sambil memikirkan ramalan ibunya.
Lucia bisa mengubah masa depan siapa pun yang berada di sisinya. Kakaknya bisa menjadi raja yang jauh lebih kuat. Tetapi begitu pula dirinya.
Untuk pertama kalinya sejak ia memahami posisi politiknya di kerajaan, Xavier memiliki sesuatu yang tidak dimiliki putra mahkota.
Sebuah rahasia dan kemungkinan. Ia tidak berniat membaginya.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Tiga hari setelah mendengar ramalan ibunya, Xavier mengajukan permintaan kepada raja bahwa ia ingin pergi ke utara.
Xavier datang membawa laporan, beberapa lembar dokumen diletakkan di atas meja raja.
"Hasil panen wilayah utara menurun dalam dua musim terakhir," katanya.
Raja yang sedang membaca surat dari seorang menteri mengangkat wajah.
"Seberapa parah?"
"Belum menjadi krisis."
Xavier menunjuk salah satu laporan.
"Tapi kalau dibiarkan, beberapa desa akan kekurangan persediaan sebelum musim berikutnya."
Raja mengambil dokumen tersebut. Xavier berdiri di hadapannya dengan tenang, kedua tangan berada di belakang tubuh.
"Selain itu, serangan hewan liar meningkat di beberapa wilayah perbatasan hutan. Ada laporan tentang ternak yang hilang."
"Pasukan?"
"Jumlahnya cukup tapi mereka terlalu tersebar."
Raja mengangguk pelan.
Xavier kemudian menunjukkan laporan lain.
"Gudang hasil tani juga mengalami masalah distribusi."
Ia menjelaskan semuanya tanpa terburu-buru. Beberapa desa menerima terlalu banyak sementara desa lain kekurangan.
Jalur pengiriman dari wilayah pertanian menuju kota-kota utara tidak berjalan dengan baik.
Beberapa kandang kuda milik kerajaan juga membutuhkan pengawasan karena jumlah hewan yang dipelihara di sana meningkat, sementara pengelola setempat mengeluhkan kekurangan tenaga.
Tidak ada satu pun masalah yang terdengar cukup besar untuk mengirim seorang pangeran. Namun jika semuanya digabungkan, masalah tersebut cukup penting untuk mendapat perhatian kerajaan.
Raja bersandar di kursinya.
"Dan kau ingin pergi sendiri?"
"Untuk sementara."
"Kenapa?"
Xavier menjawab sederhana.
"Karena aku bisa membantu."
Raja menatap putranya beberapa saat. Hanya seorang pangeran yang menawarkan diri untuk menyelesaikan masalah di salah satu wilayah kerajaan.
Pada akhirnya, raja mengangguk.
"Baik."
Xavier menundukkan kepala.
"Terima kasih, Ayah."
Reaksi ratu jauh lebih menarik.
Ketika mendengar keputusan tersebut, sang ratu sama sekali tidak curiga kalau Xavier menyimpan agenda terselubung.
Sebaliknya, ia tersenyum.
"Bagus, wilayah utara memang membutuhkan seseorang. Pangeran Xavier pasti tahu apa yang bisa dia lakukan jauh dari ibu kota."
Kalimat terakhir itu diucapkan dengan begitu ringan hingga hampir terdengar seperti komentar biasa.
Namun orang-orang yang berada di ruangan itu memahami maksudnya.
Xavier akan jauh dari para bangsawan yang mungkin suatu hari menggunakannya sebagai alternatif jika terjadi sesuatu pada putra mahkota.
Dan yang paling penting, jauh dari perebutan kekuasaan di ibu kota. Tentu saja ratu senang karena dengan ini putra dan putrinya kehilangan pesaing perebutan tahta.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Seminggu kemudian, rombongan Xavier bergerak menuju utara.
Di belakang mereka, gerbang istana perlahan tertutup.
Para penjaga mengira mereka baru saja mengantar seorang pangeran menuju tugas kerajaan.
Ratu mengira ia baru saja menjauhkan satu potensi masalah dari ibu kota.
Para bangsawan mengira Xavier sedang menghabiskan waktu di wilayah yang jauh dari pusat politik.
Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa semua itu sebenarnya sesuai dengan keinginan Xavier.
Jalan kerajaan yang pada awalnya cukup lebar perlahan menyempit ketika rombongan meninggalkan kota-kota besar.
Bangunan batu digantikan rumah-rumah kayu. Jalan berlapis batu berubah menjadi tanah padat yang diapit ladang-ladang luas.
Akhirnya rombongan Xavier melihat kastil tua kerajaan di atas bukit. Bangunannya tidak semegah istana di ibu kota.
Dinding batu berwarna kelabu mengelilingi halaman utama, beberapa bagian telah ditumbuhi lumut.
Menara pengawas berdiri di empat sudut, sementara bendera kerajaan berkibar di atas bangunan utama.
Kastil itu dibangun untuk bertahan, bukan untuk terlihat indah.
Di bawah bukit, desa-desa tersebar di antara ladang gandum. Jalan utama menuju kastil dipenuhi orang.
Begitu kabar bahwa pangeran datang terdengar, penduduk keluar dari rumah mereka.
Anak-anak berdiri di pinggir jalan. Para petani menghentikan pekerjaan. Beberapa wanita membawa anak kecil dalam gendongan.
Orang-orang ingin melihat seperti apa pangeran yang selama ini hanya mereka kenal dari lambang kerajaan dan cerita para pedagang.
Xavier turun dari kereta kemudian memandang ke arah warga. Seorang lelaki tua akhirnya membungkuk dalam-dalam.
"Selamat datang di utara, Yang Mulia."
Xavier mengangguk. "Terima kasih."
Ia tidak langsung menuju kastil. Itulah hal yang membuat penduduk utara mulai membicarakannya. Mereka sangat kagum kepada Xavier.
Seorang pangeran biasanya akan tiba, beristirahat, makan, menerima laporan, kemudian baru memeriksa keadaan wilayah ketika suasana sudah siap.
Xavier justru berjalan menuju ladang. Sepatunya segera terkena tanah. Ia berhenti di salah satu bagian ladang gandum yang rusak.
Gudang hasil tani menjadi tempat berikutnya, lalu kandang kuda, dan wawancara singkat dengan penduduk tentang kondisi desa.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan pola yang sama, kemudian kembali ke kastil ketika hari mulai gelap.
Kadang-kadang ia membawa pedang dan ikut bersama penjaga menuju pinggir hutan. Serangan hewan liar menjadi salah satu masalah terbesar.
Ia mengamati pola serangan, jalur mana yang digunakan, kapan hewan biasanya turun dari hutan, dan pagar mana yang paling mudah ditembus.
Setelah beberapa hari, sistem penjagaan diubah. Dalam waktu kurang dari dua minggu, jumlah serangan menurun.
Penduduk semakin menyukainya.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Suatu sore, setelah menyelesaikan pemeriksaan gudang, Xavier berjalan sendirian menuju tepi sungai untuk memancing.
Setelah membereskan masalah di daerah utara, ini adalah saat yang tepat melakukan misi utamanya.
Mendekati Lucia.
Langit mulai berubah warna. Cahaya matahari terakhir jatuh di atas permukaan air, sementara angin membawa aroma rumput dan tanah basah dari ladang.
Xavier menyandarkan kepala ke batang pohon. Matanya perlahan terpejam karena mengantuk, sementara pancingnya dibiarkan. Lima menit kemudian, ia tertidur.
Tak jauh dari situ, seorang gadis cantik memperhatikan Xavier dari sudut matanya. Lucia sering mendengar banyak cerita tentang pangeran itu sejak kedatangannya di utara.
Dari mulai membantu memperbaiki gudang, memeriksa ladang sendiri, sampai menegur pengurus kandang karena memaksa seekor kuda yang sakit bekerja.
Orang-orang desa sangat berterima kasih dengan pangeran ini.
Tak lama kemudian Xavier terbangun dari tidurnya dan terkejut karena di dekatnya ada sosok gadis cantik yang memperhatikannya dengan serius.
Batin Xavier bersorak karena akhirnya target yang dia tunggu muncul. Sejak beberapa hari sebelumnya, dia mengamati Lucia diam-diam.
Lucia langsung menunduk dalam dan memberikan salam hormat. Dia tersipu malu karena ketahuan mengamati pangeran yang terlelap.
“Selamat sore Yang Mulia. Maafkan saya yang lancang melihat anda tertidur.”
“Siapa namamu?”
“Lucia. Tolong jangan hukum saya,” cicit Lucia ketakutan.
“Tentu saja aku tidak akan menghukummu. Hmmm nama yang bagus."
Lucia menatapnya.
"Terima kasih."
Xavier kemudian melihat sungai yang mengalir sambil menerawang, entah apa yang dipikirkan.
Tidak ada pujian tentang kecantikan Lucia atau usaha memperpanjang percakapan.
Aneh.
Lucia sudah terbiasa dengan pria yang melihatnya terlalu lama dan mencari alasan untuk dekat dengannya.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, seseorang membuat Lucia penasaran karena tidak tertarik padanya.
Xavier lalu menunjuk keranjang di sampingnya.
"Itu berat?"
"Sedikit, aku bisa membawanya."
Xavier mengangkat keranjang itu sebelum Lucia sempat mengambilnya. Ia membawa keranjang itu menuju jalan setapak. Lucia berjalan di sampingnya.
Beberapa kali ia melirik Xavier. Pangeran itu berjalan dengan santai, membawa keranjang pakaian seorang gadis desa seolah itu adalah pekerjaan yang sangat biasa.
"Rumahmu di mana?"
"Di ujung desa."
Ketika sampai di percabangan jalan, Lucia menunjuk ke arah kanan.
"Ke sana."
Xavier menyerahkan keranjang kepadanya.
"Baik."
Lucia menerima keranjang itu.
"Terima kasih."
Xavier mengangguk dan berlalu. Sangat berbeda dengan pria lain yang memaksa mengantar sampai ke rumah.
Lucia menunduk melihat keranjang di tangannya. Kemudian, tanpa sadar, ia tersenyum kecil.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Xavier akhirnya berhasil mengobrol dengan Lucia untuk pertama kalinya.
Apakah benar gadis itu memiliki peran penting seperti ramalan ibunya?
Memang benar Lucia memiliki wajah yang menawan, tubuh yang molek, dan kepribadian menyenangkan. Wajar saja jika para pria tergila-gila.
Bahkan Lucia dengan pakaiannya yang lusuh mampu bersaing dengan gadis bangsawan di ibu kota yang memakai pakaian mewah dan riasan wajah yang tebal.
Tepi sungai adalah tempat di mana mereka sering bertemu dan mengobrol. Mereka berdua menjadi lebih akrab karena bertemu setiap hari.
Xavier memancing, sementara Lucia mencuci pakaian. Kadang mereka saling bercanda dan melupakan perbedaan status di antara mereka.
Pada hari ketujuh, Lucia duduk di tepi sungai dengan wajah murung. Tangannya memainkan ujung kain yang sudah bersih.
Xavier memperhatikannya.
"Kau sedang memikirkan sesuatu."
Lucia menghela napas.
"Sebenarnya alasan aku sering datang ke sini karena tidak banyak orang."
Ia menundukkan kepala.
"Di desa, rasanya semua orang selalu memperhatikanku. Aku tidak suka."
"Kau tidak suka diperhatikan?"
"Kalau hanya sesekali, tidak masalah."
Ia tersenyum kecil, tetapi senyumnya tidak bertahan lama.
"Tapi terlalu banyak."
Lucia akhirnya mulai bercerita tentang pemuda-pemuda yang datang ke rumahnya untuk bertemu dengannya dan mendekatinya.
Lalu orang-orang yang terus menawarkan hadiah meskipun sudah ditolak.
Bahkan beberapa orang mulai mengatakan bahwa ia sombong karena menolak terlalu banyak lamaran.
"Kadang aku ingin pergi ke ladang saja seharian. Setidaknya gandum tidak mengajak menikah. Aku tidak mengerti kenapa mereka begitu."
Lucia berkata lebih pelan.
"Kadang aku merasa hidupku sulit hanya karena wajahku."
"Kau ingin mereka berhenti?"
Lucia mengangkat wajah.
"Iya."
"Aku bisa membantu. Besok aku akan memberitahumu."
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Keesokan harinya, Xavier mengajak Lucia datang ke kastil. Lucia dengan pakaian sederhana awalnya enggan, tapi sang pangeran langsung yang mengantar jadi dia hanya bisa mengikutinya.
Para pengawal dan maid banyak yang memperhatikan Lucia dan mulai berbisik.
Mereka akhirnya sampai ke taman kecil di belakang bangunan utama.
Taman itu jauh lebih sederhana dibanding taman istana di ibu kota. Hanya ada beberapa pohon tua, bangku batu, dan jalan setapak yang mengarah ke kandang kuda.
"Duduklah di sini," ajak Xavier.
Lucia menurut, mereka duduk bersebelahan.
"Aku punya tawaran untukmu, yaitu menjadi maid pribadi."
Xavier mengambil selembar kertas dari sampingnya.
"Tapi saya tidak pernah bekerja di kastil."
"Aku tahu."
"Saya juga tidak tahu cara melayani seorang pangeran."
Xavier mengangguk.
Lucia melihat dokumen tersebut.
"Kenapa saya?"
Xavier bisa saja mengatakan banyak hal, seperti Lucia adalah Luce Stellare yang menurut ramalan ibunya dapat mengubah keseimbangan kerajaan.
Atau karena Xavier merasa nyaman dengan Lucia dan mulai merasakan ketertarikan. Sang pangeran sepertinya tidak kebal dengan pesona kepribadian dan wajah Lucia yang menarik.
Namun tidak satu pun alasan itu keluar dari mulutnya.
"Karena kau sedang mencari jalan keluar dari para pria yang melamarmu. Kalau kau bekerja di sini, kau tinggal di kediaman kerajaan."
Lucia membaca bagian pertama.
"Di kastil ini?"
"Ya."
Xavier berbicara seolah sedang menjelaskan pekerjaan biasa.
"Kau akan mendapatkan kamar sendiri."
Lucia mulai membaca dengan lebih serius.
"Gaji tetap, jauh lebih tinggi daripada pekerjaan di desa."
Xavier bersandar di bangku.
"Kau bisa mengirim sebagian uangnya kepada keluargamu."
Jari Lucia berhenti pada satu bagian.
Ia langsung memikirkan keluarganya. Selama ini Lucia memang membantu keluarganya sebisanya, apalagi kebutuhan keluarganya cukup banyak.
Tawaran itu terdengar terlalu bagus untuk diabaikan.
"Apa pekerjaannya?"
"Menyiapkan pakaian. Membantu beberapa urusan pribadi. Membawakan dokumen. Mengingatkan jadwalku."
Xavier berpikir sebentar.
"Memastikan aku makan, dan kalau perlu menemaniku mengobrol."
Lucia tertawa kecil. Pekerjaan itu memang jauh lebih ringan dibanding bekerja di ladang sepanjang hari. Namun ada satu hal lain yang membuat tawaran tersebut begitu menarik.
Xavier seolah membaca pikirannya.
"Kalau kau tinggal di sini, tidak ada orang desa yang bisa datang sesuka hati. Siapa pun yang ingin bertemu denganmu harus melewati penjaga kastil."
Ia menatap Lucia.
"Kau tidak perlu menerima lamaran siapa pun."
Itulah bagian yang paling menarik perhatiannya.
Untuk pertama kalinya, Lucia membayangkan bagaimana rasanya bangun pagi tanpa bertanya-tanya siapa yang menunggu di depan rumah.
"Kalau saya menerima pekerjaan ini, apakah keluarga saya boleh datang mengunjungi saya?"
"Tentu."
"Apakah saya boleh pulang sesekali?"
"Kalau kau mau."
"Dan kalau saya tidak suka pekerjaannya?"
"Kau boleh berhenti."
Lucia menggenggam kertas di tangannya.
"Kenapa Anda begitu baik kepada saya?"
Xavier hanya tersenyum, matanya menyimpan misteri.
"Aku hanya menawarkan pekerjaan. Pikirkan dulu. Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa."
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•
Lucia membawa dokumen itu pulang sore itu.
Ayahnya sedang membersihkan alat-alat pertanian di depan rumah ketika Lucia datang. Ibunya berada di dapur, menyiapkan makan malam.
Rumah mereka sederhana, seperti rumah-rumah lain di desa itu, dinding kayu, atap yang sudah beberapa kali diperbaiki, dan halaman kecil yang dipenuhi beberapa tanaman kebutuhan sehari-hari.
"Lucia, kau membawa sesuatu?"
Ayahnya penasaran melihat dokumen di tangannya.
"Ini dari Yang Mulia."
Ayahnya langsung berhenti bekerja. Ibunya keluar dari dapur dan langsung bertanya.
"Ada apa? Mengapa kau tiba-tiba dekat dengan sang pangeran?"
"Pangeran Xavier menawarkan pekerjaan kepadaku."
Ayahnya mengambil surat tersebut lebih dulu dan membaca perlahan.
"Pelayan pribadi di kastil kerajaan?"
Ibunya mendekat.
"Dan kau akan tinggal di sana?"
"Iya."
Reaksi pertama mereka bukan kegembiraan, melainkan kekhawatiran.
Bagi keluarga petani sederhana, tawaran dari seorang pangeran bukan sesuatu yang bisa dianggap biasa.
Ayah Lucia akhirnya bertanya.
"Kenapa dia memilihmu?"
"Karena dia ingin membantu aku yang sedang mencari jalan keluar dari kejaran para pria yang ingin melamarku. Kebetulan selama seminggu ini aku dan pangeran sering mengobrol di tepi sungai.”
Ayah dan ibunya saling berpandangan. Mereka memang tahu bagaimana keadaan putrinya selama beberapa tahun terakhir.
Beberapa keluarga bahkan menganggap penolakan Lucia sebagai penghinaan.
Ayah Lucia kembali melihat surat itu.
"Berapa gajinya?"
Lucia menyebutkan jumlahnya. Jumlah tersebut jauh lebih besar daripada yang biasanya diperoleh Lucia dari membantu pekerjaan keluarga.
"Cukup banyak, bahkan mungkin aku tak bisa memperoleh uang sebesar itu dengan pekerjaan sekarang," gumam ayahnya.
Lucia mengangguk.
"Yang Mulia bilang aku bisa mengirim sebagian uangnya pulang."
Ibunya menatap putrinya.
"Dan kau akan tinggal di kastil? Di sana ada penjaga?"
"Setiap waktu."
Lucia akan berada di bawah perlindungan kerajaan.
Dan jika seseorang tetap mengganggunya, mereka tidak lagi berhadapan dengan keluarga petani sederhana.
Mereka berhadapan dengan kediaman seorang pangeran.
Ayah Lucia akhirnya meletakkan surat itu di atas meja.
"Kalau kau mau, ayah dan ibu tidak akan melarang."
Malam itu, Lucia mulai mengemasi barang-barangnya.
Dan pagi berikutnya, kereta kerajaan menunggu di depan rumah.
Lambang kerajaan di pintunya cukup membuat beberapa tetangga keluar dari rumah untuk melihat.
Lucia memeluk ayah dan ibunya. Rumah kecil itu terlihat semakin jauh ketika kereta mulai bergerak. Perjalanan menuju kastil tidak terlalu lama. Tempat itu terlihat jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah ia tinggali.
Kereta akhirnya melewati gerbang dan Lucia pun turun. Ia melihat seseorang berdiri di tangga kastil.
Pangeran Xavier.
Hari pertama Lucia menjadi maid pribadi sang pangeran akan dimulai.
To be continued…

No comments