Girl with a Pearl Earring

Cerita ini tentang Rafayel dan kamu, sang pemeran utama kisah ini.


Saat ini kamu menjadi Mutiara Hardjono, seorang gadis yang menjadi mutiara cantik di dalam samudra hati.





⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Rumah keluarga Hardjono selalu terasa terlalu besar untuk ditinggali hanya oleh dua orang.


Mansion itu berdiri di atas tanah luas yang dikelilingi taman terawat, dengan deretan pohon tua yang dipangkas rapi di sepanjang jalan masuk. 


Dari luar, bangunannya tampak seperti rumah keluarga kaya pada umumnya. Terlihat megah, tenang, dan sedikit berjarak. 


Namun, siapa pun yang pernah melangkahkan kaki ke dalamnya akan segera menyadari bahwa rumah itu lebih mirip museum pribadi daripada tempat tinggal.


Lukisan ada di mana-mana, tentu saja itu wajar kalau kita tahu siapa sang pemilik rumah.


Kresna Hardjono cukup dikenal di kalangan pecinta seni. Ia seorang pelukis yang sukses, pemilik galeri, dan sesekali menjadi kurator dalam berbagai pameran. 


Lukisan-lukisannya telah berpindah tangan dari satu kolektor ke kolektor lain dengan harga fantastis.


Beberapa digantung di dinding dengan pencahayaan khusus. Sebagian lain ditempatkan dalam bingkai besar yang tampaknya terlalu mahal untuk sekadar menjadi dekorasi. 


Bahkan di ruang makan, terdapat sebuah lukisan pemandangan laut berukuran hampir memenuhi satu sisi dinding.


Seolah-olah keluarga Hardjono membutuhkan pemandangan lain untuk menemani mereka saat makan malam.


Lukisan itu istimewa, karena itu adalah karya kolaborasi Kresna dengan mendiang istrinya.


Kresna juga memiliki sebuah studio pribadi di bagian belakang mansion.


Studio itu terpisah dari bangunan utama, dihubungkan oleh jalan setapak yang melewati taman. 


Bangunannya tidak sebesar mansion, tetapi memiliki jendela-jendela tinggi yang memungkinkan cahaya alami masuk dari berbagai arah.


Di dalamnya terdapat kanvas, cat, kuas, rak-rak kayu, serta beberapa lukisan yang belum selesai.

Tempat itu biasanya hanya dimasuki Kresna.


Setidaknya, sampai hari itu.


Mutiara sedang duduk di teras depan rumah ketika suara mobil terdengar dari halaman depan.


Gadis berusia dua belas tahun itu mengangkat kepala dari buku yang sedang dibacanya.


Ia tidak langsung berdiri. Kedatangan ayahnya bukan sesuatu yang istimewa.


Kresna sering pergi sepanjang hari untuk mengurus galeri, menghadiri pertemuan dengan kolektor, atau menghabiskan waktu di studio.


Namun, suara beberapa langkah kaki di lorong membuat Mutiara akhirnya menutup bukunya.


Ada suara ayahnya dan suara seseorang yang tidak dikenalnya.


Mutiara menoleh.


Seorang anak laki-laki berdiri beberapa langkah di belakang Kresna.


Anak itu tampak sedikit lebih tua darinya. Mungkin usianya tiga belas tahun, pikir Mutiara. 


Tubuhnya tinggi dan kurus untuk anak seusianya, dengan rambut ungu bergelombang yang terbelah di tengah. 


Penampilannya tidak seperti anak-anak yang biasa datang ke mansion Hardjono.


Tidak ada pakaian mahal, sepatu mengilap, atau orang tua yang berdiri di sampingnya.


Anak itu hanya membawa satu tas yang tampak sudah cukup lama digunakan.


Mutiara memperhatikan semuanya dalam waktu yang singkat.


Begitu pula Rafayel, nama dari pemuda itu.


Tatapan Rafayel  berpindah dari interior rumah yang luas kepada gadis yang berdiri di dekat kursi panjang.


Ia tidak perlu bertanya siapa gadis itu.


Pakaian Mutiara sederhana, tetapi jelas dibuat dari bahan berkualitas. Rambutnya tertata rapi dan wajahnya manis.


Tidak ada sesuatu yang mencolok dari penampilannya, selain anting mutiara di telinganya.


Cara para pelayan memperlakukannya sudah cukup menjadi jawaban siapa gadis itu.


Kresna menoleh dan tersenyum.


"Ah. Kau masih di sini sayang."


Mutiara mengerutkan hidung.


"Ayah menyuruhku menunggu."


"Aku tidak menyuruhmu menunggu."


"Tapi Ayah bilang akan pulang sebelum makan malam."


Kresna terdiam sebentar dan menatap jam tangannya.


Rafayel memperhatikan keduanya bergantian.


Kresna menghela napas kecil. "Baiklah, maaf."


Mutiara langsung tersenyum.


Kresna kemudian mengingat sesuatu.


"Ah, benar. Mutiara, perkenalkan ini Rafayel."


Gadis itu melihat anak laki-laki di samping ayahnya.


"Rafayel?"


"Dia akan tinggal bersama kita."


Wajah Mutiara langsung menunjukkan ketertarikan yang terlalu jelas untuk disembunyikan.


"Dia anak yatim piatu," lanjut Kresna. 


"Aku menemukan bakatnya ketika mengunjungi sebuah pameran kecil beberapa waktu lalu. Dia memiliki kemampuan yang sangat baik dalam melukis."


"Dia akan tinggal di sini?" tanya Mutiara sedikit bingung.


"Ya, untuk sementara dia tinggal di rumah kita."

Rafayel memandang gadis itu dengan tatapan yang sulit dibaca.


Mutiara adalah putri Kresna Hardjono. Anak dari satu-satunya orang yang kini memberinya tempat tinggal dan kesempatan untuk melanjutkan hidup.


Ia tahu persis di mana posisinya.


Kresna adalah orang yang membawanya keluar dari kehidupan yang tidak jelas.


Dia berjanji akan memberinya kamar, makanan, pakaian, pendidikan. Dan, yang paling penting, akses untuk melukis.


Rafayel tahu semua itu bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Karena itu, ia juga tahu bahwa rumah ini bukan benar-benar miliknya.


Mungkin tidak akan pernah. Ia hanyalah anak yang dibawa pulang oleh pemilik rumah.


Seorang anak berbakat yang kebetulan bisa melukis. Seseorang yang diberi kesempatan karena dianggap memiliki potensi.


Maka, ketika Mutiara berdiri di hadapannya dan menatapnya dengan rasa penasaran yang begitu polos, Rafayel langsung memasang jarak.


Ia tidak ingin gadis itu salah mengira. Mutiara adalah Nona, sedangkan dirinya bukan.


Rafayel membungkukkan badan dan memaksa dirinya untuk tersenyum.


"Tenang saja, Nona. Aku tidak akan mengganggu."


Mutiara langsung menatapnya.


"Nona?"


Rafayel mengangguk.


"Kau putri Tuan Hardjono, kan?"


"Ya."


"Kalau begitu, Nona."


Kresna mengelus kepala Rafayel.


"Kau tidak perlu memanggilku tuan, panggil saja bapak atau ayah."


"Baik Pak Kresna," jawab Rafayel.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Kamar Rafayel berada di bagian belakang mansion, tidak terlalu jauh dari tangga menuju taman dan studio.


Tidak semewah kamar Mutiara, tetapi jauh lebih baik daripada tempat-tempat yang pernah ia tinggali sebelumnya.


Ada tempat tidur, lemari, meja belajar, dan jendela besar yang menghadap taman.


Rafayel berdiri di depan jendela setelah seorang pelayan meninggalkan kamar, memandangi halaman yang perlahan berubah warna menjelang sore.


Ia seharusnya merasa beruntung. Tetapi perasaan beruntung dan merasa memiliki bukanlah hal yang sama.


Rafayel tidak pernah benar-benar merasa bahwa tempat itu adalah rumah. Rumah adalah sesuatu yang sudah terlalu lama tidak ia miliki.


Karena itu, ketika Kresna memberitahunya bahwa ia bisa menggunakan studio kecil di belakang mansion, Rafayel tidak banyak bertanya. Studio itu jauh lebih menarik daripada mansion.


Ada cahaya, udara, ruang kosong. Dan tidak ada pelayan yang berjalan mondar-mandir. Di sana, Rafayel bisa melakukan apa yang ia inginkan.


Ia mulai melukis pada sore yang sama setelah pulang sekolah. Kresna menyekolahkan Rafayel di tempat yang sama dengan Mutiara.


Kanvas diletakkan di depan jendela. Cat disusun tidak beraturan. Beberapa kuas bahkan dibiarkan begitu saja di atas meja.


Rafayel berdiri di depan kanvas dengan pakaian yang sedikit ternoda cat. Rambutnya jatuh ke dahi ketika ia membungkuk untuk mengambil warna lain.


Ia tidak sadar bahwa seseorang sedang berdiri di luar pintu.


Mutiara.


Gadis itu sudah berada di sana selama hampir lima menit. Awalnya, ia hanya ingin melihat studio.


Kemudian ia melihat Rafayel.


Mutiara melangkah masuk.


"Aku boleh masuk?"


Rafayel menatapnya cukup lama, kemudian kembali menghadap kanvas.


"Silakan."


Mutiara melangkah lebih jauh. Ia memperhatikan ruangan itu dengan rasa ingin tahu yang tidak berusaha disembunyikan.


Studio Rafayel jauh lebih berantakan daripada studio ayahnya. Namun, anehnya, ada sesuatu yang membuat tempat itu terasa hidup.


Bau cat memenuhi udara. Cahaya sore masuk dari jendela besar dan jatuh di lantai kayu. Beberapa kanvas bersandar di dinding. 


Ada pula benda-benda kecil yang menarik mata Mutiara seperti kerang, potongan batu, botol-botol berisi pigmen, dan berbagai benda yang tampaknya dikumpulkan dari tempat berbeda.


Mutiara berhenti di depan salah satu lukisan.


Rafayel langsung memperhatikannya dari sudut mata.


"Bagus," katanya akhirnya.


Rafayel mengangkat alis.


"Kenapa?"


Mutiara menunjuk lukisan tersebut.


"Aku suka warnanya."


"Itu saja?"


"Ya."


Rafayel menatapnya, kemudian tanpa sadar tersenyum kecil dan kembali melukis.


Ia bisa merasakan tatapan gadis itu sesekali berpindah dari lukisan ke tangannya, kemudian ke wajahnya. 


Mutiara memperhatikan cara ia memegang kuas. Warna yang dipilihnya. Cara ia berdiri.


Seolah-olah Rafayel sendiri adalah bagian dari sesuatu yang sedang dipelajarinya.


Akhirnya Rafayel berhenti.


"Kenapa kau terus melihat?"


Mutiara berkedip.


"Karena aku penasaran."


Kemudian dia berjalan mendekati salah satu meja.


Rafayel langsung berkata, "Jangan sentuh itu."


Mutiara berhenti. Tangannya masih beberapa sentimeter dari sebuah botol kecil berisi cairan berwarna biru.


"Aku tidak menyentuh."


"Tapi hampir."


"Aku cuma mau lihat."


"Lihat dari sana."


"Kalau aku pecahkan, Ayah akan marah?"


"Kalau kau pecahkan, aku yang akan marah."


Beberapa detik kemudian, Mutiara berkata, "Rafayel, aku boleh datang lagi besok?"


Rafayel tidak langsung menjawab. Seharusnya mudah untuk mengatakan tidak. Tetapi entah kenapa, Rafayel hanya mengangkat bahu.


"Terserah."


Mutiara tersenyum lebar.


"Baik."


Keesokan harinya, Mutiara datang lagi.


Hari setelahnya, ia datang lagi.


Kadang membawa buku. Kadang hanya duduk di kursi dekat jendela sambil membaca.


Kadang bertanya tentang lukisan. Kadang tidak mengatakan apa pun selama hampir satu jam.


Rafayel awalnya menganggap kehadiran Mutiara sebagai gangguan. Kemudian, tanpa benar-benar disadarinya, ia mulai terbiasa.


Ia mulai mengenali suara langkah kaki gadis itu di sepanjang jalan setapak menuju studio.


Mutiara tidak pernah mengetuk pintu dengan benar. Ia akan mengetuk sekali, kemudian langsung masuk.


Kadang membawa camilan. Kadang membawa dua cangkir minuman hangat dari dapur. Kadang hanya datang dengan wajah penasaran yang sama seperti hari pertama.


Begitulah awalnya. Bukan dengan persahabatan yang langsung akrab atau sesuatu yang istimewa.


Hanya seorang gadis berusia dua belas tahun yang terlalu penasaran pada anak laki-laki baru di rumahnya.


Dan seorang anak laki-laki berusia tiga belas tahun yang terus berpura-pura bahwa ia tidak peduli.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•

 

Tahun-tahun berikutnya berlalu tanpa pernah benar-benar terasa.


Mungkin karena kehidupan di mansion Hardjono selalu berjalan dengan ritme yang sama.


Pagi dimulai dengan suara pintu-pintu yang dibuka para pelayan, langkah kaki yang bergema di sepanjang lorong marmer, dan aroma teh yang perlahan memenuhi ruang makan. 


Siang hari diisi dengan kesibukan Kresna di galeri atau studio, sementara Mutiara menghabiskan waktunya dengan sekolah dan berbagai kegiatan yang dianggap pantas untuk seorang putri keluarga Hardjono.


Rafayel tumbuh di rumah itu. Ia masuk sekolah dan mendapatkan pendidikan yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia bayangkan akan dimilikinya.


Kresna memastikan ia mendapatkan guru yang baik, buku-buku yang cukup, dan kesempatan untuk belajar seni secara serius. 


Ketika kemampuan Rafayel mulai berkembang, ia juga diperbolehkan menggunakan sebagian besar fasilitas yang tersedia di studio.


Kuas terbaik. Cat dengan kualitas tinggi. Kanvas dalam berbagai ukuran. Buku-buku seni yang memenuhi rak hingga hampir tidak menyisakan ruang kosong.


Semua tersedia untuknya.


Pada usia tiga belas tahun, Rafayel masih merasa sedikit canggung setiap kali menerima sesuatu yang baru.


Pada usia empat belas, ia mulai terbiasa.


Pada usia lima belas, ia tidak lagi bertanya apakah ia boleh menggunakan cat tertentu.


Dan pada usia enam belas, ia bahkan sudah memiliki pendapat sendiri tentang kualitas bahan-bahan yang dibeli Kresna.


"Pak Kresna, ternyata cat ini buruk."


Kresna menoleh dari meja kerjanya.


"Apa?"


Rafayel mengangkat sebuah tabung cat.


"Pigmentasinya."


"Kau baru menggunakannya sekali."


"Satu kali sudah cukup."


Kresna mengulurkan tangan dan Rafayel menyerahkannya.


Kresna memeriksa tabung itu, kemudian melihat Rafayel.


"Kau tahu berapa harganya?"


"Ya, justru karena aku tahu harganya."


Kresna menatapnya beberapa saat dan Rafayel balas menatap tanpa merasa bersalah.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Hampir setiap hari Rafayel dan Mutiara bercanda dengan akrab. Hubungan mereka jauh lebih baik daripada awal pertemuan.


Kresna menatap mereka bersenda gurau. Sesaat, ada sesuatu yang hampir menyerupai senyum di wajahnya.


Mungkin karena mansion ini menjadi ramai dan terasa sedikit lebih hidup. Mutiara juga lebih sering tertawa bebas.


Dulu dia sering murung setelah kepergian ibunya, walaupun selalu menunjukkan keadaan baik-baik saja.


Ia tidak pernah menyangka bahwa membawa seorang anak laki-laki yatim piatu ke dalam rumahnya akan membuat Mutiara memiliki seseorang yang bisa diajak bertengkar dan bercanda setiap hari.


Rafayel dan Mutiara tumbuh seperti itu. Berdebat mengenai hal-hal kecil. Saling mengganggu dan sesekali bertengkar.


Lalu kembali berbicara beberapa menit kemudian seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Sore ini Mutiara mengerjakan tugas dari sekolah di studio Rafayel. Sebenarnya dia bisa mengerjakan di kamar, tapi ia lebih suka di sini.


Mutiara mulai paham kebiasaan Rafayel, misalnya sering mengeluh ketika Mutiara datang terlalu sering, tetapi selalu menyediakan kursi untuknya.


Kadang dia meminta Mutiara diam ketika sedang melukis, tetapi akan menjadi orang pertama yang mencari gadis itu jika studio mendadak terlalu sunyi.


Mutiara sudah mengenalnya cukup lama untuk memahami perbedaan antara apa yang dikatakan Rafayel dan apa yang sebenarnya ia maksudkan.


Hal yang sama berlaku sebaliknya.


Rafayel juga mengenalnya dengan baik, mungkin lebih baik daripada Mutiara memahami mood-nya sendiri di hari itu.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Pada usia lima belas tahun, Rafayel sudah mulai menerima pekerjaan dari Kresna.


Awalnya sederhana. Setidaknya, begitulah kelihatannya.


Kresna akan meninggalkan sebuah kanvas di studio, lalu memberitahu Rafayel bagian mana yang perlu diselesaikan.


Kadang hanya latar belakang, atau detail kecil, atau memperbaiki warna.


Kadang mengulang bagian yang menurut Kresna kurang sempurna.


Rafayel mengerjakannya tanpa banyak bertanya. Ia sudah terbiasa membantu. Dan, sejujurnya, ia juga menikmati pekerjaan itu.


Melukis bukan sesuatu yang terasa seperti pekerjaan baginya. Itu adalah sesuatu yang akan tetap ia lakukan bahkan jika tidak dibayar.


Perbedaannya hanya satu. Kali ini, ia dibayar, dan bayarannya tidak sedikit.


Rafayel mulai menyadari bahwa bakatnya memiliki nilai. Bukan sekadar sesuatu yang bisa membuat orang dewasa mengangguk kagum.


Bakat itu bisa menghasilkan uang yang kemudian ia gunakan untuk membeli hal-hal yang sebelumnya hanya bisa ia lihat dari balik etalase.


Ia juga mulai memiliki tabungan sendiri.


Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rafayel merasa bahwa masa depannya mungkin benar-benar berada di tangannya.


Hubungan antara Rafayel dan Kresna juga berubah.


Kresna tidak lagi sekadar menjadi orang dewasa yang menyelamatkannya. Ia menjadi pemberi pekerjaan dan seseorang yang mengendalikan masa depan Rafayel.


Namun, Kresna tidak pernah memperlakukannya dengan kasar. Ia tetap membayar tepat waktu, bahkan semakin besar.


Kresna cukup royal dengan Rafayel, sama seperti perlakuannya ke putrinya. Dia bahkan memberi hadiah ke Rafayel jika meraih prestasi di sekolahnya.


Hubungan mereka menjadi sesuatu yang sulit didefinisikan. Kresna mungkin bukan ayahnya. Namun, Rafayel juga bukan sekadar pegawainya.


Setidaknya, begitulah yang ingin dipercayai Rafayel.


Mutiara melihat hubungan itu dari sisi yang berbeda.


Ia mulai menyadari bahwa setiap kali Kresna meminta Rafayel mengerjakan sesuatu, Rafayel selalu mendapatkan uang. Namun, ia tidak pernah tahu berapa jumlahnya.


Mutiara juga tidak pernah tahu persis apa yang dilakukan Rafayel ketika ia bekerja untuk ayahnya.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Suatu malam, Kresna datang ke studio dengan sebuah permintaan yang berbeda.


Rafayel sedang membersihkan kuas ketika Kresna meletakkan sebuah map di atas meja.


"Aku ingin kau membuat sesuatu."


Rafayel menatap map itu.


"Duplikasi?"


"Bukan."


Rafayel membuka map. Di dalamnya terdapat beberapa sketsa. Kresna menjelaskan konsepnya. Rafayel mendengarkan.


Kemudian mulai bekerja.


Ia tidak menyadari bahwa kali ini, Kresna tidak membawa contoh karya untuk disalin. Kresna hanya memberinya kebebasan.


"Ini karyamu," katanya.


Rafayel menatapnya.


"Karyaku?"


"Ya."


"Untuk siapa?"


"Untukku."


Rafayel mengangkat alis.


"Bapak mau menjualnya?"


"Mungkin."


"Atas namaku?"


Kresna diam, tetapi cukup lama untuk membuat Rafayel memahami jawabannya.


"Atas namaku," kata Kresna.


Rafayel bersandar di kursinya. Ia menatap kanvas kosong di depannya.


Lalu Kresna menyebutkan jumlah pembayaran.


Rafayel kaget, tapi berhasil menahan perasaannya. Jumlah itu cukup besar untuk membuatnya melupakan pertanyaan berikutnya.


Ia menatap Kresna kemudian tertawa kecil.


"Baiklah."


Tidak ada protes, kemarahan, atau drama, walaupun Rafayel ingin lukisan yang dia buat atas namanya, bukan Kresna.


Rafayel mengambil kuas dan mulai melukis.


Karya pertama sudah diterima pembayarannya.


Bahkan karya kedua dan ketiga dinilai Kresna dengan harga lebih tinggi.


Rafayel mulai memahami cara dunia seni bekerja. Nama memiliki harga, reputasi memiliki nilai.


Sebuah lukisan yang dibuat oleh seorang pelukis muda tanpa nama tidak akan pernah memiliki harga yang sama dengan lukisan yang ditandatangani oleh Kresna Hardjono.


Rafayel bisa saja menolak. Namun, untuk apa?


Jika karya itu dijual atas namanya sendiri, siapa yang akan membelinya? Siapa yang akan mengenalnya? Siapa yang akan datang mencarinya?


Kresna sudah memiliki nama. Rafayel belum.


Maka, untuk empat karya pertama, Rafayel menerima semuanya pembayaran. Dan semuanya dapat ia capat saat usia enam belas tahun.


Ia menerima uangnya dan membiarkan Kresna menggunakan namanya.


Ada saat-saat ketika Rafayel merasa sedikit bersalah, biasanya hanya berlangsung beberapa detik.


Kemudian ia melihat rekening tabungannya, rasa bersalah itu pun hilang.


Ia tidak merasa dirugikan dan terus melukis. Karya-karya itu mendapatkan harga yang jauh lebih tinggi karena memakai nama besar Kresna.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•

 

Sore itu, langit mulai berubah warna ketika Rafayel dan Mutiara keluar dari gerbang sekolah.


Jam pelajaran terakhir baru saja selesai beberapa menit yang lalu, tetapi suasana di sekitar mereka sudah jauh lebih santai. 


Para siswa berhamburan keluar, sebagian langsung menuju halte, sebagian lain dijemput mobil keluarga.


Sementara beberapa kelompok masih berdiri di depan gerbang sambil mengobrol terlalu lama tentang tugas yang seharusnya sudah dikumpulkan sejak minggu lalu.


Rafayel berjalan di samping Mutiara dengan tas yang hanya disampirkan pada satu bahu.


Seragamnya masih rapi, meskipun dasinya sudah sedikit longgar.


Ia berjalan dengan langkah panjang dan santai, sesekali menendang kerikil kecil di trotoar tanpa tujuan. 


Mutiara berada di sebelahnya, memegang tali tas dengan kedua tangan sambil memperhatikan jalanan yang mulai ramai.


Mereka tidak perlu membuat janji untuk pulang bersama, karena biasanya sopir pribadi menjemput mereka.


Kadang mereka tidak langsung pulang, seperti sore itu, Mutiara membiarkan Rafayel membawanya ke tempat mana pun yang tiba-tiba menarik perhatian laki-laki itu.


Rafayel berhenti di depan etalase toko buku.

Mutiara yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya ikut berhenti.


"Kenapa?"


Rafayel tidak menjawab. Matanya tertuju pada sesuatu di balik kaca.


Di dalam etalase, di antara buku-buku seni dan beberapa pajangan kecil, terdapat sebuah replika lukisan.


Seorang gadis mengenakan pakaian sederhana. Wajahnya menghadap ke samping, tetapi matanya seolah menatap langsung kepada siapa pun yang melihatnya. 


Sebuah anting mutiara menggantung di telinganya.

Mutiara lalu menyentuh anting mutiara di telinganya sendiri dan teringat ibunya. 


Anting itu adalah hadiah ulang tahun dari ibunya sebelum meninggal. Terbuat dari mutiara indah dan berkualitas tinggi, sesuai dengan namanya.


Mutiara memandang Rafayel yang tidak bergerak dan super fokus. Ada sesuatu dalam tatapannya yang langsung berubah.


Ia tahu ekspresi Rafayel ketika menemukan sesuatu yang benar-benar menarik perhatiannya.


Biasanya, itu berarti mereka akan berada di tempat tersebut lebih lama dari yang direncanakan.


"Rafayel, kita jadinya masuk ke sini?"


Rafayel akhirnya menoleh, kemudian ia menunjuk ke arah etalase.


"Itu, aku mau lukisannya.”


Rafayel sudah membuka pintu toko sebelum Mutiara sempat menjawab.


Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari toko buku. Rafayel membawa sebuah kantong kertas. Di dalamnya terdapat replika lukisan yang tadi menarik perhatiannya.


Mutiara berjalan di sebelahnya sambil melirik kantong tersebut.


Ia sudah menahan rasa penasarannya selama beberapa menit. Akhirnya, ia menyerah.


"Itu lukisan apa?"


"Girl with a Pearl Earring."


"Siapa yang melukis?"


"Johannes Vermeer."


Mutiara mengangguk seolah sudah mendapatkan jawabannya.


Namun, Rafayel belum selesai.


"Vermeer itu pelukis Belanda. Dia hidup sekitar abad ketujuh belas. Sebenarnya, lukisan ini cukup menarik karena sampai sekarang identitas gadisnya tidak diketahui dengan pasti."


“Orang-orang punya banyak teori, tapi tidak ada yang benar-benar tahu siapa dia."


Mutiara kembali menoleh. Rafayel mulai berbicara lebih cepat.


“Anting mutiara tersebut sendiri bahkan pernah digambarkan sebagai sebuah ilusi, karena lukisan itu tidak memiliki garis kontur yang jelas dan juga tidak menunjukkan kaitan atau pengait yang dapat digunakan untuk menggantungkan anting tersebut pada telinga sang gadis.”


“Novel sejarah karya Tracy Chevalier yang terbit pada 1999, Girl with a Pearl Earring, kemudian menciptakan versi fiksi mengenai proses terciptanya lukisan tersebut.”


“Dalam novel itu, Vermeer menjadi dekat dengan seorang pelayan yang kemudian ia jadikan asisten dan model lukisan. Dalam salah satu adegan, sang pelayan mengenakan anting milik istri Vermeer.”


“Novel tersebut kemudian diadaptasi menjadi film berjudul sama pada 2003 dan sebuah drama panggung pada 2008.”


"Dan itu menurutku yang membuat lukisan bagus. Bukan cuma karena tekniknya. Tapi karena ada perasaan yang tertinggal setelah melihatnya. Misalnya kamu lihat lukisan ini sekarang, kamu mungkin cuma melihat seorang gadis.”


“Tapi setelah itu kamu mulai bertanya-tanya. Siapa dia? Siapa yang dia lihat sampai kepalanya menoleh? Kenapa dia memakai anting mutiara itu?"


Mutiara berjalan sambil mendengarkan.


Rafayel kembali berbicara tentang bagaimana sebuah lukisan bisa membuat seseorang merasa penasaran terhadap sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka ketahui.


Ia menjelaskan semuanya dengan ekspresi yang semakin hidup. Tangannya ikut bergerak ketika berbicara.


Kadang ia mengerutkan kening ketika mencoba menjelaskan pendapatnya. Kadang matanya berbinar begitu saja.


Sampai akhirnya Rafayel menyadari sesuatu bahwa sejak mereka keluar dari toko buku, ia belum berhenti bicara sama sekali.


"Kamu masih dengar?"


Mutiara mengangguk.


"Tapi yang paling utama, alasan aku beli ini karena lukisan ini mengingatkan aku pada Nona, seorang gadis manis dengan anting mutiara."


Rafayel terdiam, kemudian wajahnya perlahan berubah merah.


Mutiara langsung menyadarinya.


"Kamu malu?"


"Enggak."


"Wajahmu merah lho."


Mutiara menahan tawa, sementara Rafayel memalingkan wajah.


Mutiara tiba-tiba mendekat, jari-jarinya mencubit pipi Rafayel dengan ringan.


Rafayel langsung menoleh.


"Hei Nona."


Mutiara tertawa.


"Aku suka dengar kamu cerewet."


Warna merah di wajah Rafayel sudah menjalar sampai telinganya.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Perubahan terbesar mungkin terjadi dalam cara Rafayel memandang Mutiara.


Ia mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ia anggap penting.


Cara Mutiara mengikat rambut ketika sedang membaca. Melihatnya menggulung lengan bajunya ketika membantu membersihkan studio.


Sosoknya saat ia berdiri di dekat jendela ketika sedang memikirkan sesuatu. Ekspresi wajahnya yang menggemaskan berubah ketika melihat sebuah lukisan yang benar-benar ia sukai.


Dan suatu hari, Rafayel menyadari bahwa ia sedang menghafal semuanya.


Bukan karena ia ingin, melainkan karena ia tidak bisa berhenti. Ia mengambil kanvas kosong saat Mutiara tidak ada di studio saat itu.


Ia tidak tahu mengapa tangannya mulai bergerak.

Awalnya hanya sebuah garis. Kemudian campuran warna. Sosok seorang perempuan mulai muncul perlahan.


Tidak ada wajah, tidak ada detail yang cukup jelas untuk dikenali.


Hanya siluet.


Rambut panjang yang jatuh melewati bahu. Telinga yang dihiasi anting mutiara indah. Tubuh yang berdiri sedikit menyamping. 


Sebuah gaun sederhana yang bergerak tertiup angin. Cahaya matahari yang jatuh dari belakang. Sosok itu sedang berdiri di dekat jendela.


Tidak melakukan apa pun. Hanya melihat keluar.


Wajahnya masih belum tergambar jelas, namun Rafayel tahu persis siapa dia.


Mutiara.


Ia melukis selama berhari-hari dengan tempo lamban karena menikmati setiap detik yang berlalu.


Untuk pertama kalinya, Rafayel tidak terburu-buru walaupun waktu berjalan selama berbulan-bulan.


Hanya dirinya dan sebuah lukisan yang tidak ingin ia berikan kepada siapa pun.


Rafayel mengerjakannya sembunyi-sembunyi, sambil mengerjakan pekerjaan dari Kresna.


Ia bahkan tidak memberitahu Mutiara. Setiap kali gadis itu datang ke studio, Rafayel akan menutupi kanvas dengan kain.


Mutiara tentu saja menyadarinya.


"Kenapa ditutup?"


"Karena aku mau, dan gak perlu semuanya Nona harus tahu."


"Biasanya kau tidak pernah menutup lukisanmu."


"Pergilah."


"Kau mengusirku?"


"Untuk pertama kalinya dalam hidupku, ya."


Mutiara tampak terkejut, kemudian tertawa.


"Baiklah, kalau suatu hari kau mau menunjukkannya, aku akan melihat, dan aku menunggu hari itu!"


Mutiara pergi dan menutup pintu.


Rafayel berdiri sendirian, lalu menatap kain yang menutupi lukisannya dan perlahan menariknya.


Sosok perempuan itu kembali terlihat. Cahaya keemasan menyentuh rambutnya.


Siluetnya begitu familiar, walaupun lukisannya belum jadi sempurna.


Bahkan jika lukisan itu dipajang di galeri, orang-orang mungkin hanya akan melihat seorang perempuan tanpa wajah yang jelas.


Seorang muse tanpa nama.


Mereka mungkin akan menebak-nebak siapa perempuan yang menginspirasi karya tersebut.


Tidak satu pun dari mereka akan tahu.


Tetapi Mutiara akan tahu. Dan entah mengapa, itu sudah cukup.


Lukisan itu adalah satu-satunya karya yang tidak ingin Rafayel jual. 


Satu-satunya yang tidak ingin ia tukarkan dengan uang dan tidak ingin ia serahkan kepada Kresna.


Dan untuk pertama kalinya sejak ia mulai bekerja, Rafayel menyadari sesuatu yang seharusnya sederhana.


Kali ini, ia tidak ingin dibayar.

Ia memilih untuk menikmati lukisan itu sendiri.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Dua minggu lagi, ulang tahun Rafayel yang ketujuh belas akan tiba. Mutiara sudah memikirkan hadiah untuknya sejak sebulan sebelumnya.


Namun, ia tahu Rafayel bukan tipe orang yang mudah diberi hadiah.


Jika diberikan pakaian, mungkin akan dipakai sesekali.


Jika diberikan makanan, akan habis.


Jika diberikan sesuatu yang berhubungan dengan seni, kemungkinan besar Rafayel sudah memiliki benda serupa.


Tapi sebenarnya Mutiara sudah memiliki kado yang tepat, tentunya dibantu oleh ayahnya.


"Kamu mau kado ulang tahun apa?"


Rafayel yang sedang sibuk melihat sesuatu di ponselnya mengangkat wajah.


"Ucapan selamat ulang tahun."


"Itu bukan kado."


"Menurutku cukup."


Kediaman Hardjono sangat perhatian dengan Rafayel, setiap ulang tahun pasti dirayakan dengan kue ulang tahun.


Perayaan hangat itu biasanya dihadiri Mutiara dan pekerja di mansion. Walaupun Kresna tidak hadir karena sibuk, pasti tidak lupa membelikan kado.


"Rafayel."


"Baiklah."


Rafayel berpikir sambil bersandar di sofa. Matanya bergerak ke atas, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat sulit.


Padahal, Mutiara yakin dia hanya sedang mencari alasan untuk tidak memberikan jawaban. Kemudian, tiba-tiba, ekspresinya berubah.


"Aku mau ke pameran yang akan diadakan bulan depan."


Pameran yang dimaksud adalah sebuah pameran seni internasional yang diadakan di kota mereka.


Event tersebut tidak datang setiap tahun. Bahkan, tidak selalu diadakan di kota yang sama.


Bagi Rafayel, itu adalah salah satu acara yang selalu ia tunggu. 


Bukan hanya karena karya-karya dari berbagai negara dipamerkan di sana. Tetapi karena ia bisa melihat dunia seni dari jarak dekat.


Rafayel menatap Mutiara.


"Temani aku Nona."


Mutiara tidak langsung menjawab, dan Rafayel salah mengartikan diamnya.


"Kalau Nona sibuk, tidak apa-apa. Aku bisa pergi sendiri."


Mutiara memasukkan tangannya ke dalam dompet besar yang tadinya ada di balik punggungnya. Kemudian mengeluarkan dua lembar tiket.


"Dua tiket VIP. Selamat ulang tahun! Aah dua minggu lagi nanti aku ulang ucapannya, kalau sekarang masih belum."


Rafayel mengambil tiket itu dan melihatnya dengan kagum.


Tiket VIP untuk pameran yang sudah ia tunggu-tunggu. Mutiara bahkan tidak perlu bertanya apa yang ia inginkan.


"Kita benar-benar bisa masuk dari bagian VIP?"


"Iya, Rafayel." Mutiara tertawa.


Rafayel berdiri begitu cepat sampai Mutiara sedikit terkejut.


Dan sebelum sempat berpikir, Rafayel sudah melangkah maju. Tangannya meraih Mutiara dan memeluknya.


Memang hanya sebentar, tapi begitu sadar apa yang baru saja ia lakukan, Rafayel langsung melepaskan tangannya.


Rafayel mundur setengah langkah.


"Maafkan aku Nona atas kelancangan ini."


Kemudian, sebelum Rafayel sempat menyelesaikan kalimatnya, justru Mutiara yang maju. Kali ini, ia memeluk Rafayel lebih dulu.


Erat.


Rafayel membeku dan menatap kosong ke depan. Tubuhnya langsung kaku. Ia tidak bisa bernapas dengan benar.


Mutiara malah memeluknya lebih erat.


"Nona aku kehabisan napas."


Mutiara tertawa di dekat bahunya. Kali ini Rafayel tidak berusaha melepaskan diri. Tangannya yang semula menggantung di sisi tubuh akhirnya bergerak.


Rafayel mengusap rambut Mutiara, dan balas memeluk lebih erat.


Dan untuk beberapa alasan yang tidak ingin ia pikirkan terlalu dalam, pelukan itu terasa seperti hadiah yang jauh lebih besar daripada dua tiket VIP yang ia terima.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Hari yang ditunggu Rafayel akhirnya tiba.

Pameran lukisan internasional itu diselenggarakan di sebuah gedung pameran besar di pusat kota.


Bangunan modern dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya pagi itu sudah mulai dipenuhi orang.


Dari kejauhan saja, Mutiara sudah bisa melihat spanduk-spanduk besar yang memajang nama para seniman dari berbagai negara.


Bagi Rafayel, itu adalah salah satu acara penting yang masuk ke wishlistnya, seperti mimpi jadi kenyataan.


Bagi Mutiara, tentunya juga spesial tapi dari sudut pandang lain.


Sebab untuk pertama kalinya, mereka pergi berdua ke sebuah acara yang benar-benar terasa seperti sebuah kencan.


Bukan pergi ke sekolah, atau mampir ke toko buku, atau jalan-jalan ke pusat perbelanjaan sambil membeli makanan ringan.


Hari itu, mereka berdandan khusus untuk pergi bersama.


Mutiara turun dari lantai atas mansion dengan gaun sederhana berwarna lembut yang jatuh melewati lutut. 


Rambutnya ditata lebih rapi dari biasanya. Ia tidak memakai perhiasan berlebihan, hanya aksesori kecil yang membuat penampilannya terlihat lebih dewasa.


Rafayel yang sudah menunggu di ruang keluarga langsung menoleh ketika mendengar langkah kaki.


Rafayel mengenakan pakaian yang jauh lebih rapi dari biasanya. Kemeja putih yang disetrika sempurna, celana panjang gelap, dan rambut ungunya ditata dengan sedikit lebih hati-hati.


Dari ujung ruangan, Kresna memperhatikan keduanya. Ia sedang membaca koran. Atau setidaknya berpura-pura membaca.


Tatapannya sama sekali tidak bergerak dari halaman yang sama selama beberapa menit.


Mutiara menghampiri ayahnya.


"Ayah, kami pergi dulu."


Kresna mengangkat wajah.


"Kalian mau ke mana berdua?"


"Mau ke pameran. Terima kasih ya ayah sudah mempersiapkan dua tiket VIP untuk kami.”


Kresna mengangkat korannya lagi.


"Jangan pulang terlalu malam."


Mutiara tersenyum.


"Baik."


Mereka berjalan menuju pintu.


Kresna sudah melihat bagaimana Mutiara berdandan sejak satu jam lalu.


Ia juga melihat bagaimana Rafayel memeriksa rambutnya di cermin sebanyak tiga kali.


Kresna bukan orang bodoh.


Namun, selama kedua anak itu tidak mengatakan apa-apa, Kresna juga tidak akan mengorek lebih lanjut. Biarkan saja kedua anak muda itu berbahagia.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Gedung pameran ternyata jauh lebih ramai daripada perkiraan Mutiara. Orang-orang memenuhi aula utama.


Kolektor seni, pelukis, mahasiswa, keluarga, wisatawan, dan para pengunjung yang datang hanya karena penasaran bercampur menjadi satu.


Di sepanjang dinding putih, lukisan-lukisan dari berbagai negara dipajang dengan pencahayaan khusus.


Beberapa terlihat sederhana. Beberapa begitu besar hingga memenuhi hampir seluruh dinding.


Rafayel tidak pernah melewati apa pun begitu saja.

Mereka berdiri berdampingan. Rafayel membaca keterangan karya tersebut. Kemudian mulai menjelaskan.


Jika Rafayel sudah mulai membicarakan sesuatu yang benar-benar ia sukai, tidak ada seorang pun yang bisa menghentikannya.


Rafayel kembali berjalan melihat lukisan lainnya. Namun, beberapa detik kemudian, tangannya bergerak pelan.


Mutiara terkejut ketika jari-jari mereka bersentuhan. Rafayel langsung ingin menarik tangannya. Namun, Mutiara lebih dulu menggenggamnya.


Mutiara berpura-pura tidak melihat. Akhirnya, Rafayel menggenggam tangannya lebih erat. Mereka berjalan berdampingan dengan tangan mereka saling bertaut.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Setelah berjam-jam mengelilingi aula, Mutiara akhirnya menyerah.


"Aku lapar."


Rafayel menoleh.


"Baru sekarang? Mau makan apa Nona?"


"Kamu yang membuat kita berhenti di setiap lukisan. Aku belum tahu, kita cari makanan dan minuman bareng yuk!"


Rafayel tertawa. Mereka akhirnya menuju area bazaar makanan yang berada di sisi luar gedung.


Aroma makanan langsung menyambut mereka. Pada akhirnya mereka memilih seafood pizza, seloyang dibagi 2.


Mereka juga memilih dua gelas soda dengan rasa berbeda, cola dan strawberry.


Mereka makan sambil mengobrol. Karena soda mereka berbeda rasa, akhirnya mereka saling mencicipi minuman masing-masing.


Mutiara juga menyuapi pizza ke mulut Rafayel. Awalnya kaget, tapi langsung pura-pura cuek.


Setelah makan, mereka kembali masuk ke aula.

Kali ini mereka tidak terburu-buru. Tangan mereka masih saling menggenggam.


Mutiara tidak tahu kapan kebiasaan itu berubah menjadi sesuatu yang terasa normal. Rafayel juga tidak tahu. Yang pasti, mereka berdua menikmatinya.


Hari mulai sore ketika mereka akhirnya keluar dari gedung pameran. Mereka berdua sudah lelah.


Namun, tidak ada yang ingin langsung pulang.

Di belakang gedung terdapat sebuah taman kecil yang dipenuhi pepohonan dan bangku-bangku.


Rafayel melihat sebuah booth es krim dan membelinya, kemudian berjalan menuju sisi taman yang sepi dari pengunjung.


Matahari mulai turun. Cahaya keemasan menyelip di antara daun-daun. Udara lebih sejuk. Keramaian kota terdengar samar dari kejauhan.


Mereka berjalan tanpa tujuan. Membicarakan apa saja, tentang hal-hal kecil yang biasanya tidak pernah mereka bicarakan secara serius.


Bagi Rafayel, hari ini berbeda dan istimewa. Mungkin karena mereka datang dengan pakaian terbaik. Mungkin karena mereka pergi ke tempat yang selama ini begitu ia tunggu.


Mungkin karena sejak tadi tangan mereka tidak pernah benar-benar terpisah. Atau mungkin karena Mutiara terlihat sangat cantik hari itu.


Ada sesuatu yang sudah terlalu lama berada di dalam dirinya. Sesuatu yang selama ini ia pura-pura tidak mengerti.


"Nona Mutiara, ada yang ingin kusampaikan."


Kemudian, untuk pertama kalinya hari itu, ia terlihat benar-benar gugup.


Rafayel mengambil tangan Mutiara dan menggenggamnya.


"Aku suka kamu."


Mutiara kaget, lalu tertawa perlahan.


Rafayel langsung panik.


"Jangan tertawa, aku serius."


Mutiara menggigit bibirnya.


"Aku sudah menyadarinya lumayan lama."


Rafayel menatapnya tidak percaya.


"Terus kenapa Nona tidak bilang?"


"Karena aku mau kamu yang bilang dulu."


Rafayel menggenggam tangannya sedikit lebih erat, wajahnya memerah.


"Apakah Nona menyukaiku juga? Atau aku bertepuk sebelah tangan?"


“Aku menyukaimu juga Rafayel, dan jangan panggil aku Nona lagi!”


Rafayel menahan tangis karena luapan emosi.


“Baiklah Mutiara, tapi maaf kalau di rumah dan ada orang lain, aku tetap memanggilmu Nona.”


Karena adegan dramatis tadi, es krim mulai meleleh. Mereka berdua lalu dengan tergesa menghabiskannya.


Mutiara lalu menunjuk wajah Rafayel.


"Kenapa?"


"Es krimmu belepotan di bibir."


Rafayel langsung menyentuh bibirnya.


"Di mana?"


"Sebelah sini."


Rafayel lalu menjilat es krim yang belepotan di bibir.


Lalu dia mengusap bibir Mutiara yang ternyata belepotan es krim juga dengan jarinya yang lentik.


“Kamu juga berantakan makannya.”


Mutiara langsung diam ketika Rafayel menyentuh bibirnya dan mengusapnya dengan lembut.


Mereka saling menatap dalam diam beberapa detik.


Napas Rafayel memburu, dada naik-turun cepat. Tangannya yang masih menggenggam tangan Mutiara sedikit gemetar.


Mutiara juga sama, jantungnya berdegup kencang sampai ia merasa bisa mendengarnya sendiri.


Rafayel menunduk pelan. Bibirnya menyentuh bibir Mutiara dengan hati-hati, hampir ragu.


Ciuman pertama mereka terasa kaku dan canggung. Bibir mereka hanya saling menempel, tidak bergerak sama sekali. 


Mutiara menutup mata, pipinya panas sekali. Ia bisa merasakan napas Rafayel yang hangat di wajahnya, dan aroma es krim vanila yang masih tertinggal.


Beberapa detik berlalu. Rafayel sedikit menarik diri, tapi hanya sejengkal. Matanya terbuka sebentar, melihat wajah Mutiara yang merah padam. 


Lalu ia menciumnya lagi, kali ini lebih berani. Bibirnya bergerak pelan, mencoba menyesuaikan. Mutiara membalas dengan ragu, bibirnya sedikit terbuka.


Gigi mereka sempat bertabrakan pelan, membuat keduanya tersenyum kecil di tengah ciuman.


Rafayel mengangkat tangannya yang bebas, menyentuh pipi Mutiara dengan ujung jari.


Ciuman mereka mulai lebih dalam, meski masih terasa amatir. Lidah Rafayel menyentuh bibir bawah Mutiara, meminta izin. 


Lidah mereka saling bertemu dengan ragu, basah dan hangat. Rasanya aneh, tapi enak. Jantung Mutiara berdegup kencang sekali, seolah mau keluar dari dada.


Ia merasakan degupan yang sama dari dada Rafayel yang hampir menempel ke tubuhnya.


Rafayel menciumnya lagi, kali ini lebih dalam dan sedikit lebih berani. Tangan yang tadi di pipi Mutiara turun ke pinggangnya, menariknya lebih dekat lagi. 


Setelah itu, mereka berdua saling berpandangan dengan malu-malu. Untung mereka duduk di sudut taman yang jarang dilewati pengunjung.


Rafayel kembali membuka pembicaraan.


“Kamu tahu, suatu saat aku akan menunjukkanmu sebuah lukisan yang paling aku suka proses membuatnya. Tapi sekarang belum saatnya.”


“Aku tahu, kanvas yang di pojok ruanganmu dan tertutup kain kan?”


“Hei jangan mengintip dulu ya, nanti tidak spesial. Karya itu tidak akan aku jual, itu untukmu.”


Matahari semakin meluncur turun, sudah waktunya pulang. Hari ini tidak akan terlupakan bagi mereka berdua.


Ketika mereka kembali ke mansion, keduanya sepakat untuk tidak mengatakan apa-apa. 


Mereka memutuskan untuk menyimpan rahasia ini berdua.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


Kresna tidak pernah menyukai sesuatu yang tidak bisa ia miliki. 


Ketika ia pertama kali melihat lukisan Rafayel yang tersembunyi di sudut ruangan dan tertutup kain, dia tahu ini istimewa.


Reaksinya tidak jauh berbeda dengan ketika ia melihat sebuah karya yang berpotensi menjadi pusat perhatian dalam sebuah lelang.


Ia berdiri cukup lama di depan kanvas itu.

Studio sedang sepi. Cahaya sore masuk melalui jendela tinggi di sisi ruangan, jatuh tepat pada permukaan lukisan. 


Sosok seorang perempuan berdiri dalam siluet, membelakangi cahaya. Wajahnya tidak terlihat jelas. 


Rambut panjangnya jatuh melewati bahu, diterpa angin yang seolah-olah datang dari jendela terbuka.


Ada sesuatu yang sederhana dalam komposisinya. Namun, justru itu yang membuatnya menarik.


Karya tersebut tidak berusaha menjelaskan siapa perempuan itu. Tidak ada wajah yang bisa dikenali, nama, atau petunjuk yang jelas.


Hanya cahaya, warna, dan sosok yang berdiri sendirian di tengah suasana yang terasa terlalu akrab untuk disebut kebetulan.


Tapi sebagai ayah, tentu Kresna tahu sosok ini adalah Mutiara dalam pandangan Rafayel. Apalagi ada anting mutiara yang tersemat di telinga gadis dalam lukisan.


Lukisan itu memiliki nilai yang besar. Ia bisa membayangkan bagaimana para kolektor akan bereaksi. Sebuah karya baru dan gaya yang berbeda.


Dan yang paling penting, nama Kresna Hardjono di bawahnya.


Jari Kresna hampir menyentuh permukaan kanvas ketika suara Rafayel terdengar dari belakang.


"Jangan."


Rafayel berdiri di dekat pintu. Ia baru saja kembali dari sekolah.


Rambutnya sedikit berantakan karena angin, tas disampirkan begitu saja di satu bahu. Seragamnya masih dikenakan meskipun sudah tidak rapi.


Tatapannya langsung jatuh pada tangan Kresna. Kemudian kepada lukisan. Kresna menarik tangannya.


"Kau sudah pulang."


"Ya."


"Kapan kau menyelesaikannya?"


Rafayel berjalan mendekat.


"Beberapa hari lalu."


"Kenapa aku tidak tahu?"


"Karena memang ini lukisan untuk pribadi, Pak. Semua order lukisan dari bapak sudah saya selesaikan. Beberapa juga sedang proses pembuatan."


Jawaban itu membuat Kresna menoleh.


Rafayel berhenti di depan lukisan.


Ia berdiri sedikit di sampingnya, seolah-olah secara tidak sadar memastikan bahwa tubuhnya berada di antara Kresna dan kanvas.


"Kau menyembunyikannya. Semua yang ada di studio ini adalah urusanku. Aku mau lukisan ini."


"Tidak."


"Aku belum selesai bicara. Semua lukisan yang selama ini kau gambar adalah untukku!"


"Yang ini bukan, ini tidak akan aku jual,” teriak Rafayel.


Kresna melirik lukisan itu.


"Berapa?"


Rafayel mengerutkan kening.


"Apa?"


"Berapa yang kau mau?"


"Jangan Pak, saya akan membuatkan lukisan lain, tapi jangan yang ini."


"Aku membayar semua pekerjaanmu dan aku akan membayar yang ini."


"Sudah kubilang tidak Pak."


"Aku juga tidak pernah mengizinkanmu dengan lancang melukis putriku sendiri. Sekarang aku tanya lagi, berapa?"


Kresna menyebutkan sebuah angka. Jumlah itu jauh lebih besar daripada bayaran untuk empat karya sebelumnya.


Namun, hanya beberapa detik kemudian, Rafayel menggeleng.


"Tetap tidak. Dan aku minta maaf jika lancang melukis Mutiara, toh nantinya lukisan ini akan kuberikan padanya."


Kresna menaikkan jumlahnya.


"Kau pikir ini soal uang?" kata Rafayel emosional.


Kresna menatapnya.


"Memangnya bukan? Lagipula apa bedanya menyerahkan lukisan ini kepada Mutiara atau ayahnya sendiri?"


Pertanyaan itu membuat Rafayel terdiam.


"Lukisan sebelumnya," katanya akhirnya, "aku serahkan karena aku mau."


"Aku tahu kau menjualnya dengan namamu dan harga jualnya jadi jauh lebih tinggi”


"Kau tidak dirugikan."


"Masalahnya adalah aku menolaknya untuk lukisan ini.


Ia mengingat bagaimana ia menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk memilih warna.


Mengingat bagaimana ia berdiri sendirian di depan kanvas ketika Mutiara tidak ada.


Mengingat bagaimana ia menghapus satu bagian berkali-kali karena tidak terasa benar.


Ia melukisnya karena ia ingin menyimpan sesuatu tentang cinta pertama.


"Kau tinggal di rumahku. Aku membiayai hidupmu dan semua yang kau butuhkan untuk menjadi seorang pelukis."


"Aku tahu."


"Dan sekarang kau bersikap seolah-olah aku mengambil sesuatu darimu."


Kresna tidak terbiasa ditolak oleh Rafayel. Selama bertahun-tahun, mereka sudah memiliki kesepakatan yang tidak tertulis.


Namun, kali ini Rafayel berdiri di hadapannya tanpa sedikit pun keinginan untuk berkompromi.


Rafayel tidak lagi terlihat seperti anak laki-laki berusia tiga belas tahun yang dulu dibawanya pulang.


Ia sudah berusia delapan belas tahun. Sudah dewasa dan memiliki pikirannya sendiri. Namun, bagi Kresna, itu tidak mengubah satu hal.


Rafayel tetap hidup dari kesempatan yang ia berikan.


"Berapa harga yang kau mau?"


Rafayel tidak menjawab.


Kresna menyebutkan jumlah yang jauh lebih besar. Sangat besar untuk membuat seorang pelukis muda hidup tanpa perlu memikirkan uang selama bertahun-tahun.


Karena Rafayel tetap tidak bereaksi, Kresna akhirnya memanggil asistennya untuk mengambil paksa lukisan itu sambil berlalu. 


Sejumlah uang yang nominalnya besar masuk ke rekening Rafayel, dan ia hanya menatap angka tersebut.


Dulu, melihat angka seperti itu akan membuatnya tersenyum. Sekarang, ia tidak merasakan apa-apa.


Rafayel duduk sendirian di studio malam itu.

Lukisan itu sudah tidak ada, seperti sudut hatinya yang tiba-tiba kosong.


Padahal lukisan itu adalah bukti cintanya untuk Mutiara.


Rafayel bisa saja melukisnya lagi, bahkan bisa minta tolong Mutiara untuk bisa menjadi modelnya.


Tetapi entah kenapa rasa hampa itu tidak bisa dihilangkan.


Tidak jauh dari situ, Mutiara mendengar mereka yang baru saja berdebat. Dia tidak terlalu paham apa pembahasannya, tapi sepertinya Rafayel sedang bersikeras tidak mau menjual lukisannya ke Kresna.


Entahlah mungkin Mutiara akan bertanya dengan Rafayel besok. Tapi sejak kejadian itu Rafayel terlihat murung, Mutiara jadi enggan membahas hal sensitif.


Yang penting hubungan mereka baik-baik saja. Sungguh indah jatuh cinta. Tapi mengapa Rafayel terlihat berubah ya?



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Kabar tentang pelelangan itu muncul beberapa minggu kemudian. Galeri Kresna Hardjono mengumumkan sebuah karya baru.


Poster lelang terpampang di depan galeri. Foto lukisan itu tercetak besar.


Mutiara berhenti ketika melihatnya ketika baru saja turun dari mobil. Seorang staf galeri sedang memasang poster di kaca depan.


Mutiara awalnya hanya ingin masuk. Namun, kemudian ia melihat lukisan di poster tersebut.


Itu adalah lukisan yang Rafayel sembunyikan di balik kain. Mutiara pernah diam-diam mengintipnya. 


Dia juga pernah melihat Rafayel melukisnya dengan tatapan penuh cinta, tapi Mutiara memilih tidak mengganggunya. Ia pura-pura tidak tahu kalau Rafayel sedang melukis dirinya.


Namun, sekarang lukisan itu ada di depan matanya. Di galeri ayahnya dengan nama Kresna Hardjono.


Apa yang sebenarnya terjadi?


Seorang staf galeri melewatinya.


"Nona Mutiara?"


Mutiara melihat kembali poster lelang.


"Siapa yang melukis ini?"


Staf tersebut tampak sedikit bingung.


"Tentu saja Tuan Kresna."


Mutiara tahu itu bukan jawaban yang benar.


Karena orang lain yang tangannya pernah ia lihat memegang kuas untuk karya tersebut.


Karya yang begitu personal hingga Rafayel pernah menolak memperlihatkannya.


Dan sekarang lukisan itu akan dilelang dengan nama ayahnya.


Untuk pertama kalinya, Mutiara bertanya-tanya, berapa banyak dari lukisan-lukisan yang selama ini ia lihat sebenarnya bukan milik ayahnya?


Mengapa Mutiara tidak pernah menyadarinya selama ini? Ini bukan lagi tentang seorang pelukis terkenal yang membantu seorang anak berbakat. 


Atau tentang seorang anak yatim piatu yang bekerja untuk orang yang memberinya kesempatan.


Ada sesuatu yang lebih rumit di antara mereka. Ternyata ayahnya tidak sepenuhnya jujur kepadanya.


Apakah ini yang menyebabkan Rafayel berubah?



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Mutiara tidak pernah membentak ayahnya.


Bahkan ketika ia masih kecil dan Kresna terlalu sibuk dengan pekerjaannya, Mutiara hanya akan menunggu. 


Ketika ayahnya melewatkan makan malam, ia akan menyisakan makanan di meja.


Ketika Kresna lupa menghadiri acara sekolahnya, Mutiara tidak pernah membuat keributan.


Kresna adalah ayahnya. Satu-satunya orang yang ia miliki setelah ibunya meninggal.


Dan meskipun Kresna bukan ayah yang sempurna, Mutiara tahu bahwa pria itu menyayanginya.


Ia tahu dari cara Kresna selalu memastikan semua kebutuhannya terpenuhi.


Dari kamar yang terlalu besar untuk seorang anak tunggal.


Buku-buku yang selalu muncul di rak sebelum ia sempat memintanya.


Gaun dan tas cantik yang dibelikan untuknya tanpa perlu merajuk.


Kresna mungkin tidak selalu punya waktu. Namun, ia selalu berusaha memberikan yang terbaik.


Itulah yang selama ini Mutiara percaya.


Sampai hari itu.


Mutiara masuk ke ruang kerja ayahnya tanpa mengetuk.


Kresna sedang berdiri di dekat meja, membaca beberapa dokumen.


Ia mengangkat kepala. Kresna belum pernah melihat tatapan seperti itu dari putrinya.


"Kenapa lukisan Rafayel dilelang atas namamu?"


Kresna meletakkan dokumen di tangannya.


"Ya."


"Jadi benar? Jawab aku ayah!"


Nada suaranya membuat Kresna terdiam. Mutiara sendiri seolah baru menyadari bahwa ia baru saja meninggikan suara.


Namun, kali ini ia tidak menarik kembali perkataannya.


"Kenapa lukisan itu dijual sebagai karya Ayah?"


Kresna berjalan menuju kursinya.


"Rafayel bekerja untukku. Dia yang melukisnya. Dan dia sudah dibayar."


"Jadi itu jawaban Ayah?"


"Rafayel bekerja untukku sejak dia datang ke rumah ini. Aku membiayai hidupnya. Kalau dia membuat sebuah karya sebagai bagian dari pekerjaannya, aku berhak..."


"Dia bilang dia tidak mau menjualnya."


Kresna berhenti. Mutiara menatapnya.


"Aku tahu karena dia pernah bilang kepadaku. Lukisan itu semestinya untukku!"


“Aku bisa membelikan kamu lukisan yang lain.”


"Kenapa Ayah selalu berpikir uang bisa menyelesaikan semuanya? Rafayel sudah bilang tidak."


"Dia masih muda. Dia tidak mengerti bagaimana dunia bekerja."


Mutiara tiba-tiba teringat sesuatu.


Ia teringat bagaimana Rafayel pernah menolak menjelaskan ketika Mutiara bertanya mengapa beberapa lukisan yang dikerjakan Rafayel memiliki nama Kresna di bawahnya.


Tadinya Mutiara berpikir Rafayel asisten ayahnya yang membantu merapikan lukisan.


"Berapa banyak lukisan Rafayel yang Ayah jual sebagai karya Ayah?"


"Mutiara."


Kresna memalingkan wajah. Dan jawaban itu sudah cukup.


"Jadi memang bukan cuma satu."


Kresna tidak mengatakan apa-apa. Itu semua adalah karya yang lahir dari tangan Rafayel. Dan semuanya berada di bawah nama Kresna Hardjono.


Ayahnya.


"Sejak kapan Ayah melakukan ini? Jangan bilang Ayah melakukannya untuk kebaikan Rafayel."


Kresna terdiam. Suara Mutiara mulai bergetar.


"Karena kalau Ayah memang peduli padanya, Ayah tidak akan mengambil sesuatu yang sudah dia bilang tidak ingin diberikan."


Mutiara terisak. "Dia percaya pada Ayah."


Kalimat itu keluar lebih pelan. Dan entah mengapa, justru itu yang paling menyakitkan. Selama ini, Rafayel percaya bahwa semua itu datang tanpa harga tersembunyi.


"Ayah mengambil karya-karyanya. Dan Ayah pikir dengan uang maka membuat semuanya baik-baik saja."


Kresna akhirnya kehilangan kesabarannya.


"Cukup."


Mutiara terdiam.


Kresna menatapnya dengan wajah dingin.


"Aku melakukan apa yang harus kulakukan."


Mutiara menatap ayahnya.


"Untuk siapa? Untuk keluarga? Untuk galeri?"


Ayahnya tidak lagi melihat seni seperti Rafayel. Tidak lagi melihat lukisan sebagai sesuatu yang memiliki jiwa. Bagi Kresna, semuanya telah menjadi angka dan keuntungan.


"Aku tidak mengerti Ayah."


Mutiara membuka pintu.


"Dan aku tidak tahu harus bagaimana dengan semua ini."


"Mutiara, jangan ikut campur. Ayah juga tidak melarangmu untuk pacaran sama dia, tapi ini balasanmu?"


Mutiara kaget, ternyata ayahnya tahu hubungannya dengan Rafayel.


"Baguslah kalau ayah sudah tahu. Terima kasih sudah merestui kami."


Mutiara menjawab dengan sinis, lalu ia pergi.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


Mutiara menemukan Rafayel di studio.


Cahaya matahari yang masuk melalui jendela mulai berubah warna, menyentuh lantai kayu dan meja kerja yang dipenuhi kuas.


Rafayel duduk di kursi. Tidak melukis.


Untuk sesaat, Mutiara tidak tahu harus berkata apa, akhirnya masuk perlahan.


"Rafayel, ayah ternyata sudah tahu hubungan kita."


Tidak ada jawaban. Mutiara berdiri beberapa langkah darinya.


"Aku juga sudah tahu tentang lukisanmu. Akhirnya aku bisa melihat diriku di sana. Tapi sayangnya aku harus melihatnya di poster pelelangan."


Tidak ada reaksi.


"Aku sudah bicara dengan Ayah."


Rafayel masih diam. Mutiara menggenggam tangannya sendiri.


"Dia mengaku."


Kali ini, jari Rafayel bergerak sedikit. Ia tahu Rafayel mendengar.


"Rafayel, aku bersumpah aku tidak tahu kalau ini alasan perubahan sikapmu selama ini."


Mutiara menatap wajahnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat Rafayel seperti ini.


Tidak marah, tidak berteriak. Justru itu yang membuatnya semakin takut.


"Maaf."


Suara Mutiara semakin kecil. Ia berusaha menahan air matanya. Namun, gagal.


"Aku seharusnya tahu." Mutiara menutup matanya sambil meneteskan air mata.


Namun, ketika membuka mata kembali, Rafayel hanya memalingkan wajah.


"Aku tidak tahu kalau selama ini Ayah mengambil karya-karyamu."


Rafayel menatap meja. Tangannya mengepal perlahan. Ia mendengar semuanya.


Puncak kemarahan Rafayel adalah hari ini ketika poster pameran ditempel di mana-mana.


Lukisannya menjadi topik utama, dan bukan atas namanya lagi. Melepas lukisan itu dengan paksa adalah awal mula kehancuran hatinya.


Selama beberapa hari dia terus bersikap buruk kepada Mutiara, karena tidak bisa mengendalikan diri dan perasaannya.


Dia telah membuat orang yang disayanginya khawatir.


Sekarang dia harus melihat orang yang dicintainya menangis, hanya marena kesalahan ayahnya.


Ia mendengar suara Mutiara yang bergetar.


Mendengar isaknya. Mendengar bagaimana gadis itu berulang kali mengatakan bahwa ia tidak tahu.


Mutiara bukan Kresna, dia tidak layak menjadi sasaran kemarahannya. Tetapi mengetahui itu tidak membuat perasaannya menjadi lebih mudah.


Namun, rasa kecewa tidak selalu mengikuti logika. Karena setiap kali ia melihat Mutiara, ia juga melihat nama keluarga itu.


Nama yang sekarang tercetak di bawah lukisan yang seharusnya menjadi miliknya.


Hardjono.


Mutiara Hardjono.


Rafayel membenci kenyataan bahwa untuk sesaat, ia tidak mampu melihat keduanya sebagai sesuatu yang terpisah.


"Aku tidak tahu bagaimana memperbaikinya Rafayel."


Rafayel menutup matanya. Mutiara berdiri perlahan.


"Kalau kau membenciku, baiklah. Aku akan pergi dari hadapanmu."


Rafayel tidak menahannya.


Mutiara akhirnya keluar. Pintu studio tertutup perlahan. Rafayel tetap duduk di tempatnya.


Kemudian ia menunduk. Tangannya mengepal.


"Brengsek."



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Tidak ada yang benar-benar berubah di mansion Hardjono. Dan mungkin justru itu masalahnya.


Kresna tetap bekerja. Galeri tetap buka. Pelelangan tetap berlangsung. Dunia seolah-olah tidak peduli bahwa sesuatu di dalam rumah itu telah berubah.


Hanya Mutiara dan Rafayel yang tidak lagi sama.


Sekarang, Mutiara berdiri di depan pintu untuk masuk. Tapi Rafayel tidak mengatakan apa-apa. Selama seminggu Mutiara mencoba, tetapi tidak bisa mengetuk hati Rafayel.


Akhirnya Mutiara berlalu pergi, dan tidak pernah kembali lagi.


Waktu terus berjalan. Minggu lalu, Rafayel lulus SMA. Mutiara menemaninya, tapi mereka tidak banyak bicara.


Hari ini, Mutiara mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dari studio Rafayel.


Bukan suasananya, melainkan isinya. Beberapa rak mulai kosong. Buku-buku seni yang selama ini memenuhi meja telah dikemas.


Beberapa kotak cat dipindahkan. Kanvas-kanvas yang biasanya bersandar di sudut ruangan mulai menghilang satu per satu.


Mutiara berdiri di depan pintu studio, hanya mengamati dari luar.


Rafayel sedang berdiri di tengah ruangan. Ia mengenakan kemeja dengan lengan yang digulung sampai siku.


Rambut ungunya sedikit berantakan, seperti biasa.


Di lantai ada beberapa koper.


Mutiara menatap benda itu. Koper? Dadanya langsung terasa sesak.


"Rafayel."


Rafayel menoleh.


"Mm?"


Syukurlah kali ini Rafayel membalas panggilannya. Mutiara lalu menunjuk ke arah koper.


"Kau mau pergi?"


Rafayel diam sebentar. Kemudian kembali memasukkan beberapa barang ke dalam kotak.


"Ya."


"Ke mana?"


"Ke luar negeri."


"Untuk berapa lama?"


Rafayel berhenti kemudian tersenyum kecil. Sudah lama Mutiara tidak melihat senyumnya.


"Pertanyaanmu banyak sekali."


"Jawab saja."


Rafayel menghela napas.


"Aku belum tahu."


Mutiara masuk ke dalam studio. Kali ini, ia tidak menunggu izin. Ia berjalan perlahan melewati ruangan yang sudah dikenalnya selama bertahun-tahun.


Namun, hari itu semuanya terasa asing.


"Kenapa?"


Rafayel mengangkat alis.


"Kenapa aku pergi? Karena aku mau. Aku juga sudah lulus sekolah."


Jawaban itu sederhana. Kemudian ia melanjutkan, lebih serius.


"Aku sudah cukup lama di sini."


Mutiara menunduk. Rafayel kembali memasukkan barang ke dalam koper.


"Aku punya tabungan dan beberapa koneksi. Aku juga sudah mendapatkan tawaran untuk bekerja dengan beberapa galeri."


Mutiara menatapnya.


"Sebagai Rafayel?"


Rafayel berhenti. Pertanyaan itu membuat sudut bibirnya terangkat sedikit.


"Sebagai siapa lagi?"


Rafayel menutup sebuah kotak. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada sesuatu yang terlihat berbeda di wajahnya.


Ia terlihat seperti seseorang yang akhirnya melihat jalan di depan.


"Aku ingin mencoba."


"Melukis dengan namamu sendiri?"


"Ya."


Jawaban Rafayel terdengar begitu ringan. Namun, Mutiara tahu betapa besar artinya.


Selama bertahun-tahun, namanya tidak pernah berada di bawah lukisan-lukisan yang ia buat.


Sekarang, untuk pertama kalinya, Rafayel memiliki kesempatan untuk berdiri sendiri.


Tanpa nama Kresna.


Tanpa galeri Hardjono.


Tanpa rumah ini.


Mutiara seharusnya bahagia untuknya, tetapi entah kenapa dia malah ingin menangis.


"Kau sudah merencanakannya sejak kapan?"


"Sebenarnya sudah lama. Tapi keputusanku bulat sejak masalah lukisan waktu itu. Maaf karena aku tidak bisa memberikan lukisan kesayanganku untukmu."


"Jadi kau memang sudah berniat pergi?"


"Ya."


Rafayel memandang wajah Mutiada dan mengelus pipinya lembut.


"Jangan memasang wajah seperti itu."


"Wajah apa?"


"Seperti aku akan pergi ke planet lain."


"Bagaimana kalau memang begitu?"


Rafayel tertawa kecil.


"Kalau aku pergi ke planet lain, aku akan mengirim kartu pos."


Mereka berdua tertawa singkat, cukup untuk membuat suasana di antara mereka terasa seperti dulu.


Kemudian tawa itu menghilang.


Mutiara menatap koper-koper di lantai.


"Kapan?"


"Besok."


Mutiara langsung menatapnya.


"Kau pergi besok?"


"Sepertinya begitu. Aku sudah membeli tiket."


"Rafayel!"


Mutiara menatapnya tidak percaya. Rafayel hanya mengangkat kedua tangan.


"Aku tidak tahu kalau kau akan marah."


"Aku tidak marah."


"Matamu bilang sebaliknya."


Mutiara takut jika Rafayel pergi, semuanya akan benar-benar berakhir.


"Jangan pergi hanya karena apa yang dilakukan Ayah."


"Mutiara."


"Kalau kau membutuhkannya, aku akan bicara dengan Ayah."


"Tidak."


Nada suara Rafayel kali ini lebih lembut.


"Aku pergi karena aku ingin pergi."


Rafayel melanjutkan.


"Aku ingin tahu seperti apa hidupku kalau aku tidak harus berada di bawah nama orang lain."


"Dan aku ingin tahu," katanya, "seberapa jauh aku bisa pergi dengan namaku sendiri."


"Kau akan berhasil."


Rafayel mengangkat alis.


"Begitu yakin?"


"Ya."


"Bagaimana kalau aku gagal?"


"Kalau begitu, kau bisa pulang. Aku yang mencintaimu selalu menunggumu di sini."


Namun, Rafayel tidak tahu apakah mansion ini pernah benar-benar menjadi rumahnya.


Dan setelah semua yang terjadi, ia semakin tidak yakin apakah ia masih memiliki tempat untuk kembali.


"Kau masih akan menerimaku?"


Mutiara menatapnya.


"Tentu."


Rafayel memiringkan kepala.


"Meski aku terkenal nanti dan kamu harus antri untuk minta tanda tanganku?"


Mutiara tertawa kecil.


"Jangan sombong."


"Mutiara, kau tahu aku selalu mencintaimu. Tapi aku tak ingin membuatmu menunggu. Kurasa aku harus melepasmu. Aku tidak lagi mengikatmu dalam hubungan ini.”


Rafayel menatap wajah Mutiara dengan tatapan serius dan menahan tangis.


Mereka berpelukan dengan penuh air mata.  



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Pagi berikutnya datang terlalu cepat. Mobil sudah menunggu di depan mansion. Koper-koper Rafayel dimasukkan ke bagasi.


Beberapa pelayan berdiri tidak jauh dari sana. Sebagian mengenalnya sejak pertama kali ia datang sebagai anak laki-laki berusia tiga belas tahun.


Sekarang, mereka berdiri melihatnya pergi sebagai seorang pemuda berusia delapan belas tahun.


Mutiara berdiri di tangga depan. Rafayel mendongak. Tatapan mereka bertemu.


"Nona."


"Jangan panggil aku begitu."


Mata Mutiara sudah berkaca-kaca.


"Jangan menangis."


"Diam."


Mutiara memukul lengannya pelan, mereka berdua tersenyum.


"Kau akan kembali, kan?"


Rafayel menatapnya. Pertanyaan itu membuat senyumnya perlahan menghilang.


"Aku tidak tahu."


Sebuah realita menampar mereka berdua. Untungnya air mata perpisahan mereka sudah ditumpahkan kemarin.


"Hati-hati. Jangan lupa makan."


"Aku bukan anak kecil."


"Jangan terlalu sering bekerja sampai lupa tidur."


Rafayel memasukkan tangannya ke dalam tas.


"Ini untukmu."


Ia mengeluarkan sebuah map karton sederhana.


Mutiara mengerutkan kening.


"Apa ini?"


"Buka."


Tangannya perlahan membuka kertas pembungkus.


Sebuah lukisan cat air di atas kertas.


Lukisan itu sederhana, tidak seperti karya-karya Rafayel yang biasa ia lihat di studio.


Hanya dua sosok yang berdiri berdampingan. Seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.


Mereka berdiri di taman. Anak perempuan itu sedikit lebih pendek. Rambutnya tertiup angin.


Sementara anak laki-laki di sebelahnya berdiri dengan ekspresi yang tampak malas, seperti seseorang yang sebenarnya tidak ingin berfoto tetapi dipaksa ikut.


Mutiara mengenali mereka. Rafayel dan dirinya, versi mereka yang lebih muda.


"Kapan kau membuatnya?"


"Sudah lama."


"Kenapa aku tidak pernah melihatnya?"


"Karena aku tidak menunjukkannya."


Mutiara menatap lukisan itu lagi.


Hanya sebuah karya kecil yang dibuat di atas kertas. Sesuatu yang tidak memiliki nilai komersial.


Namun, justru karena itu, Mutiara merasa lukisan tersebut jauh lebih berharga daripada apa pun yang pernah ia lihat di galeri ayahnya.


"Hei, kau menangis lagi."


Mutiara menggenggam lukisan itu erat-erat, dan menyimpannya kembali ke dalam map karton.


Rafayel melihat jam tangannya.


"Aku harus pergi."


Mutiara ingin mengatakan jangan pergi. Namun, kali ini ia menahannya. Ia tahu Rafayel harus pergi.


Dan mungkin, mencintai seseorang berarti mengetahui kapan harus membiarkannya berjalan menuju sesuatu yang ia inginkan.


Mutiara tersenyum.


"Kejar mimpimu."


"Baik, Nona."


Mereka berpelukan untuk terakhir kali.


Kresna melihat mereka dari kejauhan, tapi tidak menghentikan mereka.


Rafayel akhirnya meninggalkan mansion itu untuk selamanya.

 


⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


Tiga tahun berlalu sejak Rafayel meninggalkan mansion Hardjono. 


Pada awalnya, Mutiara masih menunggu. Tapi sekarang dia sudah disibukkan dengan dunia kuliah.


Bertemu teman baru, kehidupan baru, tapi tidak dengan cinta yang baru.


Tidak lagi seperti minggu-minggu pertama ketika ia masih berharap suatu pagi akan menemukan Rafayel berdiri di depan pintu studio dengan koper di tangannya.


Mengeluh tentang penerbangan panjang dan makanan pesawat yang tidak enak.


Setiap kali ada surat dari luar negeri, jantungnya akan berdetak sedikit lebih cepat.


Kemudian ia akan kecewa.


Bukan Rafayel, dan tidak pernah.


Lama-kelamaan, Mutiara berhenti berharap. Atau setidaknya, ia belajar untuk tidak menunjukkannya.


Hidup terus berjalan.


Mutiara berusia tujuh belas tahun ketika Rafayel pergi. Kini usianya dua puluh tahun.


Dan dalam tiga tahun itu, banyak hal berubah. Ia mulai membantu beberapa kegiatan sosial yang selama ini didukung keluarganya. 


Sesekali ia mengunjungi rumah sakit, panti asuhan, atau yayasan yang bekerja sama dengan keluarga Hardjono.


Mungkin karena sejak kecil ia tumbuh dalam kemewahan, Mutiara selalu merasa ada sesuatu yang harus ia lakukan dengan apa yang ia miliki.


Ia tidak pernah benar-benar nyaman hanya menerima.


Namun, di rumah, ia tetap menjadi putri Kresna Hardjono. Setidaknya sebelum semuanya runtuh.


Sementara itu, jauh di negara lain, Rafayel mulai membangun hidupnya sendiri. Awalnya, tidak banyak orang mengenalnya.


Ia menerima pekerjaan kecil. Mengikuti pameran. Mengirimkan karya ke galeri-galeri. Ia memiliki sesuatu yang jauh lebih sulit didapatkan.


Kemampuan dan kesabaran.


Karya-karyanya perlahan mulai menarik perhatian. Seseorang menulis ulasan tentang gaya melukisnya.


Kemudian seseorang yang lain membeli salah satu karyanya. Nama Rafayel mulai muncul di katalog pameran.


Tidak langsung terkenal, Namun cukup untuk membuat namanya berjalan sendiri.


Dan setiap kali Mutiara secara tidak sengaja melihat sebuah berita tentang seni dan budaya, ia akan berhenti sedikit lebih lama ketika menemukan nama itu.


Rafayel, harapan baru dunia seni.


Kadang tentang pameran baru atau lukisan yang terjual.


Atau tentang seorang pelukis muda dengan gaya yang dianggap berani dan tidak biasa.


Mutiara selalu tersenyum kecil. Kemudian menutup halaman tersebut. Ia tidak pernah menghubungi Rafayel karena tidak tahu harus berkata apa.


Selamat?


Ternyata kau benar-benar berhasil?


Aku merindukanmu?


Tidak ada satu pun yang terasa tepat. Maka Mutiara memilih diam. Ia pikir, mungkin itu cara terbaik untuk menghormati kehidupan baru Rafayel.


Sampai suatu pagi, nama keluarga Hardjono muncul di semua berita.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Berita itu pertama kali muncul di layar televisi ruang keluarga.


Mutiara sedang sarapan.


Kresna tidak ada di rumah.


Seorang pelayan baru saja meletakkan secangkir teh di atas meja ketika pembawa berita mulai membacakan laporan.


"...investigasi terhadap jaringan perdagangan karya seni palsu kembali menemukan bukti baru..."


Mutiara yang sedang memegang cangkir berhenti dan mulai mengalihkan perhatiannya ke layar televisi.


"...sejumlah galeri seni diduga terlibat dalam distribusi lukisan yang dipasarkan sebagai karya asli..."


Nama galeri yang disebutkan membuat alisnya perlahan berkerut.


Ia mengenal nama itu. Galeri yang berada di bawah kepemilikan ayahnya.


"Galeri Hardjono..."


Mutiara meletakkan cangkir. Pelayan yang berada di dekat meja langsung menoleh.


"Nona?"


Mutiara tidak menjawab. Berita terus berjalan. Nama Kresna Hardjono disebut.


"...pemilik galeri, Kresna Hardjono, diduga memiliki hubungan dengan jaringan pemalsuan karya seni yang telah beroperasi selama bertahun-tahun..."


Mutiara merasa tubuhnya membeku.


Di layar, wajah ayahnya muncul.


Namun, nama yang berada di bawah foto itu kini diikuti kata-kata yang membuat dada Mutiara terasa kosong.


Tersangka.


Mutiara menelan ludah.


"Ini pasti salah."


Kresna selalu memiliki nama besar di dunia seni. Dan sekarang, semuanya dipertanyakan.


Mutiara mengambil ponselnya. Tangannya gemetar ketika membuka berita lain. Sepuluh artikel dia temukan, dan masih terus bertambah.


Semakin banyak yang ia baca, semakin sulit baginya untuk bernapas. Pandangannya kosong.

Kemudian sebuah kalimat menarik perhatiannya.


"Investigasi juga menemukan sejumlah karya yang selama ini dikaitkan dengan nama Kresna Hardjono diduga dibuat oleh seorang pelukis lain."


Mutiara berhenti bernapas.


"Rafayel."


Nama itu keluar dari bibirnya tanpa sadar.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Beberapa hari berikutnya menjadi kekacauan. Mutiara baru mengetahui betapa cepat sebuah nama bisa berubah.


Mobil media memenuhi jalan. Para pengacara datang dan pergi. Telepon rumah tidak berhenti berdering. Para pelayan mulai panik.


Kresna tidak banyak bicara. Ia sibuk menghadapi penyelidikan. Mutiara berusaha mendapatkan jawaban. Namun, tidak ada yang memberikannya.


Sampai suatu sore, ia menemukan sebuah artikel yang akhirnya menyebut nama tersebut.


Rafayel.


Selain pemalsuan, Kresna juga menjual lukisan yang bukan dibuatnya sendiri, tetapi dibuat orang lain. Dia melelang dengan harga tinggi karena nama besar yang tertulis di lima lukisan itu.


Semestinya lukisan itu tidak berharga karena tidak dibuat oleh Kresna sendiri. Hal itu menimbulkan karya tidak otentik, dan bisa disebut penipuan terhadap kolektor.


Menurut hasil investigasi, beberapa karya yang selama ini dikaitkan dengan Kresna Hardjono sebenarnya merupakan karya original Rafayel.


Mutiara melanjutkan membaca.


Rafayel telah memberikan kesaksian. Dokumen pembayaran ditemukan. Catatan transaksi. Bukti komunikasi.


Bukti bahwa Rafayel telah bekerja untuk Kresna sejak usia lima belas tahun.


Mutiara menutup mulut.


Dulu berpikir ayahnya menyelamatkan seorang anak berbakat. Sekarang ia menyadari sesuatu yang jauh lebih rumit.


Ayahnya memang menyelamatkan Rafayel. Namun, ia juga memanfaatkan bakat anak itu.


Ia membaca lebih lanjut.


Selain karya milik Rafayel yang diaku Kresna dan dilelang dengan harga fantastis, Rafayel juga terlibat ikut andil pemalsuan lukisan.


Galeri Kresna menjual banyak lukisan dari seluruh dunia, tapi sayangnya tidak semuanya asli. Rafayel ikut membantu melukis lukisan tiruan tersebut.


Tetapi Rafayel tidak dituntut secara pidana atas keterlibatannya dalam produksi karya palsu. Karena pada saat melakukan pekerjaan tersebut, ia masih berada di bawah umur.


Selain itu, Rafayel mengajukan laporan terhadap Kresna terkait penggunaan dan pengakuan ilegal atas satu lukisan original miliknya.


Hanya satu lukisan dari entah berapa lukisan. Dan Mutiara tahu pasti itu lukisan yang mana. Mungkin Rafayel tidak ingin terlalu memberatkan hukuman ayah.


Ternyata Rafayel melawan. Bukan dengan kemarahan atau berteriak. Ia hanya mengambil kembali namanya sendiri.


Tiba-tiba semuanya terasa begitu jelas. Rafayel kehilangan sesuatu yang sangat personal.


Dan setelah itu, ia pergi.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


Kresna akhirnya dijatuhi hukuman berat. Prosesnya berlangsung lama, hampir setahun. Berita demi berita muncul.


Nama Kresna semakin lama semakin sering disebut. Bukan sebagai pelukis terkenal atau pemilik galeri sukses.


Melainkan sebagai seseorang yang terlibat dalam jaringan pemalsuan karya seni.


Aset-asetnya disita sesuai proses hukum. Galeri ditutup. Koleksi diperiksa.


Mansion yang selama bertahun-tahun menjadi simbol keberhasilan keluarga Hardjono akhirnya ikut masuk dalam daftar aset yang harus diselesaikan.


Mutiara menyaksikan semuanya dari dalam rumah. Lukisan diturunkan. Ruangan dikosongkan. Barang-barang dikemas.


Orang-orang yang dulu bekerja untuk keluarga mereka pergi. Mansion yang dulu selalu penuh dengan kehidupan, kini menjadi sunyi.


Mutiara berdiri di tengah ruang keluarga. Dinding-dindingnya mulai kosong. Bekas tempat lukisan terlihat jelas.


Mutiara memejamkan mata. Ia tidak tahu bahwa beberapa lukisan yang membuat nama Kresna tambah terkenal adalah hasil tangan Rafayel.


Tapi Rafayel telah membangun hidup baru. Namanya telah dikenal. Karyanya telah diakui. Ia telah berjalan begitu jauh dari mansion ini.


Sementara Mutiara masih berdiri di tempat yang sama. Di rumah yang perlahan bukan lagi miliknya. Di tengah keluarga yang kehilangan nama baik.


Mutiara melihat lagi sebuah artikel tentang seni yang meliput Rafayel. Ada foto dirinya yang sudah dewasa. Berbeda dari anak laki-laki yang pernah ia kenal.


Rambut ungunya masih sama. Tatapan matanya juga masih sama. Namun, ada sesuatu yang berubah.


Ia terlihat seperti seseorang yang sudah menemukan tempatnya.


Mutiara merasa campuran perasaan senang, sedih, dan bangga.


Ia membaca tentang pameran terbarunya. Tentang bagaimana dunia seni mulai mengakui namanya. Karyanya yang terkenal dan diakui di dunia.


Rafayel, sang pelukis muda jenius.

Bukan Kresna Hardjono.


Mutiara menatap layar. Jarinya berhenti di atas kolom pencarian. Ia bisa mencarinya.


Mungkin ada alamat galeri atau kontak profesional. Mungkin ia bisa mengirim pesan.


Namun, tangannya tidak bergerak. Apa yang akan ia katakan?


Saat itulah Mutiara menyadari bahwa sebagian orang memang ditakdirkan pergi, bukan untuk ditemukan kembali."


Rafayel sudah terlalu jauh. Sama seperti hidup yang selama ini ia kenal.


Hari ini Mutiara meninggalkan kediaman Hardjono dan pindah ke rumah kecil. Untungnya masih ada aset orang tuanya yang tidak disita.


Rumah itu adalah milik ibu Mutiara, dibeli saat belum menikah. Sebenarnya Mutiara masih cukup punya uang, terutama warisan dari ibunya.


Rekening milik ayahnya juga statusnya masih dibekukan karena dalam masa penyelidikan.


Apalagi sebelum kasus penipuan, Kresna juga sudah kaya dengan hasilnya menjadi pelukis ternama.


Tapi proses itu masih panjang, bahkan mungkin harta itu tidak akan kembali. Apalagi ayahnya juga mendapat hukuman yang lumayan lama.


Proses peradilan masih berlanjut, entahlah nantinya akan divonis berapa lama.


Gaya hidup Mutiara sekarang berubah lebih sederhana. Dia juga harus bekerja sambilan di sela-sela kuliah.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


Empat tahun setelah kepergiannya, Rafayel kembali ke Indonesia. Saat ini dia sudah berusia dua puluh dua tahun.


Kini, namanya tercetak di katalog pameran. Terpampang di dinding galeri. Disebut oleh para kolektor. Ditulis oleh kritikus seni.


Ia telah membangun kariernya tanpa nama besar Kresna Hardjono. Karya-karyanya berbicara sendiri.


Ia pulang sebagai seorang pelukis yang telah berhasil menemukan tempatnya sendiri.


Saat ini Rafayel memiliki studio sendiri di tepi pantai. Jendelanya lebar sehingga bisa melihat laut lebih dekat.


Cahaya matahari masuk dengan bebas pada pagi hari dan berubah keemasan menjelang sore. Aroma laut bercampur dengan cat minyak menyeruak di udara.


Sementara itu, kehidupan Mutiara berubah dengan cara yang jauh lebih sunyi. Awalnya dia kesulitan beradaptasi.


Sekarang ia harus memikirkan biaya kuliah, biaya makan, tagihan, transportasi, dan kebutuhan lain yang dulu selalu tersedia tanpa perlu ia pikirkan.


Ia mulai bekerja sambil kuliah. Pekerjaan paruh waktu, menjadi asisten dosen, dan sesekali menerima pekerjaan serabutan yang bisa memberinya tambahan uang.


Namun, Mutiara tidak pernah mengeluh terlalu lama. Ia hanya mengerjakannya. Kemudian pulang, tidur, dan mengulang semuanya lagi.


Mutiara tetap ramah. Tetap menjadi orang yang akan membantu seseorang yang kesulitan jika ia mampu. Namun, sekarang ia lebih tegas dan mandiri.


Mungkin hidup tidak lagi memberinya kemewahan. Namun, hidup juga tidak berhasil menjatuhkannya.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


Pekerjaan sebagai model lukisan datang tanpa diduga. Seorang teman kuliah memberi tahu bahwa ada seorang pelukis yang sedang mencari model untuk karya terbarunya. 


Bayarannya cukup besar, cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup bulan itu. Tanpa banyak bertanya, Mutiara langsung menerima tawaran tersebut.


Sore itu ia berdiri di depan sebuah bercat putih di tepi pantai Ia memeriksa alamat di ponselnya sekali lagi sebelum mengangguk pelan. Benar, tempatnya di sini.


Mutiara mengetuk pintu.


Dari balik pintu terdengar langkah kaki yang semakin mendekat, disusul bunyi kunci diputar. Pintu perlahan terbuka.


Mutiara mengangkat wajah.


Waktu seolah berhenti.


Laki-laki yang berdiri di hadapannya jauh lebih dewasa daripada sosok yang tersimpan dalam ingatannya. 


Rambut ungunya masih sama tetapi garis wajahnya lebih tegas. Tubuhnya lebih sedikit lebih tinggi dan tegap.


Rafayel.


Dalam sekejap, potongan-potongan masa lalu memenuhi benak Mutiara. Studio kecil yang selalu dipenuhi aroma cat. Tawa mereka, air mata, lalu pelukan perpisahan di depan gerbang.


Semua kenangan berputar di benak, hingga menyisakan realita dua orang dewasa yang saling menatap di ambang pintu.


Perasaan Mutiara bercampur menjadi satu. Terkejut, gugup, bahagia, sekaligus sedih.


"Pak Rafayel?"


Namanya terucap nyaris seperti bisikan. Mutiara tak lupa menambahkan kata Pak, sekarang Rafayel adalah bossnya.


Rafayel tidak langsung menjawab. Tatapannya turun, memperhatikan pakaian, tas, dan sepatu sederhana yang dikenakan Mutiara sebelum kembali menatap wajahnya. 


Ia membuka pintu lebih lebar.


"Masuk."


Hanya itu. Tidak ada senyum. Tidak ada sapaan hangat. Mutiara mengangguk kecil lalu melangkah masuk.


Studio itu jauh lebih luas daripada yang ia bayangkan. Tempat itu terasa begitu akrab, tetapi sekaligus asing. 


Dulu ia keluar masuk studio Rafayel tanpa izin. Kini ia berdiri seperti tamu yang bahkan tak tahu harus memulai percakapan dari mana.


Rafayel menutup pintu, lalu berjalan menuju meja kerjanya. Ia mengambil sebuah buku catatan tanpa sedikit pun menyinggung masa lalu.


"Nama?"


Mutiara sempat terpaku. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa terasa begitu menghujam jantungnya.


Apakah Rafayel sudah melupakannya? Atau tidak mengenalnya lagi?


"Mutiara Hardjono."


Ia hanya menuliskan nama itu di buku catatannya tanpa perubahan ekspresi.


Sejujurnya Mutiara berharap saat ini jadi adegan reuni mengharukan, tapi sepertinya tidak.


Apa karena sekarang dia sudah sukses dan tidak mau berurusan lagi dengan keluarga Hardjono?


"Pekerjaan?" tanya Rafayel lagi.


"Mahasiswa. Kali ini menjadi model paruh waktu."


Kali ini Rafayel mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu sesaat. 


Cukup lama untuk membuat dada Mutiara berdebar, tetapi terlalu singkat untuk menemukan kehangatan yang dulu selalu ada.


Tatapan itu murni milik seorang pelukis yang sedang menilai modelnya.


Profesional dan dingin.


"Baik." Rafayel menutup buku catatannya. "Berdiri di sana."


Ia menunjuk ruang kosong di depan sebuah kanvas besar. Mutiara menuruti arah tangannya, lalu berhenti sesuai instruksi. 


Ia disuruh mempertahankan pose selama 25 menit, setelah itu istirahat 5 menit, lalu lanjut lagi dengan siklus berulang sampai 3 jam.


Dari sudut matanya ia melihat Rafayel mengambil kuas dan mulai mencampur warna di atas palet. 


Gerakannya masih sama seperti yang ia ingat.


Tenang, mantap, tanpa gerakan yang sia-sia.


Tapi kini ia menjelma menjadi pria yang nyaris tak menunjukkan emosi.


"Jangan bergerak."


Kalimat sederhana itu hampir membuat Mutiara tersenyum. Nada suaranya masih sama.


Kuas pertama akhirnya menyentuh kanvas. Tak ada lagi percakapan.


Hari itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Rafayel kembali melukis Mutiara. Bedanya, kali ini ia melakukannya dengan namanya sendiri.




To be continued…



No comments