Cinta Pertama yang Belum Sempat Mekar

Siapa yang menyangka bangku kosong di sebelahku menjadi titik awal tsunami dalam hidupku?


Cerita dimulai saat awal semester 2 kelas 1 SMA. Semua orang di kelas sudah punya kelompoknya masing-masing sejak awal masuk SMA. Apalagi banyak yang sudah mulai berteman dari SMP yang sama.




Aku belum punya teman yang sangat akrab, terbukti dari bangku kosong di sebelahku. Sayang sekali aku tidak sekelas dengan sahabatku. Hampir semua murid sudah hafal kebiasaan teman sebangku (yaa kecuali aku yang duduk sendirian), bahkan kami sudah tahu siapa yang selalu terlambat, siapa yang paling berisik saat jam kosong, dan siapa yang diam-diam tidur ketika guru sedang menulis di papan tulis. Rasanya hampir mustahil masih ada murid baru yang masuk di waktu seperti ini. Tapi pagi itu, tepat setelah bel berbunyi, wali kelas datang bersama seorang laki-laki yang belum pernah kulihat sebelumnya. Suasana kelas yang semula ramai perlahan mereda. Beberapa teman langsung menghentikan obrolannya, sementara yang lain terang-terangan menoleh ke arah pintu. Rasa penasaran menyebar begitu cepat, seolah semua orang sedang mencoba menebak-nebak alasan di balik kehadiran anak baru di tengah semester. "Perkenalkan, ini murid baru di kelas kita." Cowok itu melangkah masuk dengan tenang. Hal pertama yang menarik perhatianku adalah tinggi badannya. Bahkan dari depan kelas saja, dia sudah terlihat menjulang dibandingkan teman-teman laki-laki lain. Rambutnya berwarna merah gelap, dipotong rapi, dan sepasang kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya. Kesan pertamaku sederhana, dia tampak seperti anak kutu buku yang mungkin lebih akrab dengan perpustakaan daripada lapangan olahraga. Lalu pandanganku tanpa sadar turun ke tubuhnya. Seragam sekolahnya jatuh rapi, tetapi lengan kemeja yang sedikit menegang di bagian atas membuat bentuk otot lengannya cukup jelas terlihat. Bahunya lebar, posturnya tegap, dan cara berdirinya memberi kesan kalau dia terbiasa berolahraga. Sulit membayangkan seseorang bisa terlihat seperti kutu buku sekaligus atlet dalam waktu yang bersamaan, tapi entah bagaimana dia berhasil melakukannya. Namanya Valko. Setelah memperkenalkan diri secara singkat, wali kelas menyapu ruangan dengan pandangan sebelum akhirnya menunjuk ke arah bangkuku. "Valko, kamu duduk di sebelah sana. Masih ada kursi kosong."
Aku langsung menoleh ke kursi kosong di sampingku. Oh. Jadi dia bakal jadi teman sebangkuku. Saat Valko berjalan mendekat, entah kenapa aku jadi sedikit menegakkan badan. Langkahnya tenang, tidak tergesa-gesa, tetapi sosoknya yang tinggi dan badannya yang besar membuatku refleks merasa terintimidasi. Rasanya seperti ada lemari berjalan yang pelan-pelan mendekati mejaku. Dia berhenti di samping kursinya, lalu menoleh kepadaku. "Halo," sapanya sambil tersenyum tipis. "Aku Valko." Suaranya ternyata jauh lebih ramah daripada yang kubayangkan. "Oh... hai." Aku membalas sapaan itu sedikit kikuk sambil menggeser tas yang sempat kutaruh di kursi kosong. Dia mengucapkan terima kasih, lalu duduk dengan hati-hati agar meja kami tidak bergeser. Selama pelajaran berlangsung, Valko hampir tidak banyak bicara. Namun setiap guru menjelaskan materi, dia langsung mencatat dengan rapi tanpa terlihat kebingungan, seolah sudah mempelajari semuanya lebih dulu. Ketika guru melempar pertanyaan kepada kelas dan tidak ada yang mengangkat tangan, Valko menjawabnya dengan tenang. Jawabannya tepat, singkat, dan tidak terkesan ingin pamer. Beberapa teman mulai saling berbisik. Anak baru yang masuk di tengah semester ternyata bisa langsung mengikuti pelajaran tanpa kesulitan. Di sela pergantian jam, dia juga beberapa kali tersenyum dan membalas pertanyaan teman-teman yang penasaran tentang sekolah lamanya. Sikapnya santai, sopan, dan sama sekali tidak menjaga jarak. Aku sempat merasa canggung di awal karena penampilannya yang cukup mengintimidasi. Namun semakin lama mengamatinya dari bangku sebelah, kesan itu perlahan memudar. Ternyata Valko bukan hanya pintar, dia juga ramah.


⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


Jujur saja, aku sedikit iri. Rasanya tidak adil kalau seseorang bisa memiliki semuanya sekaligus. Nilai Valko bagus. Hampir setiap pelajaran dia bisa mengikuti penjelasan guru tanpa kesulitan. Kalau ada soal yang membuat seisi kelas mengerutkan dahi, dia biasanya sudah selesai lebih dulu. Anehnya, dia tidak pernah bersikap sok pintar. Justru kalau ada yang bertanya, dia akan menjelaskan dengan sabar tanpa membuat orang lain merasa bodoh. Kupikir kelebihannya berhenti sampai di situ. Ternyata tidak, masih ada hal lain yang hebat darinya. Tiga bulan setelah dia pindah, sekolah mengadakan pertandingan olahraga antar kelas. Lapangan basket yang biasanya lengang mendadak dipenuhi teriakan dan sorak-sorai. Anak-anak dari setiap kelas berkerumun di pinggir lapangan, membawa botol minum, kipas kecil, bahkan ada yang sengaja membuat spanduk sederhana untuk menyemangati teman sekelas mereka. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan pertandingan. Sampai akhirnya Valko masuk sebagai pemain. Baru saat itulah aku sadar kalau tubuh atletisnya bukan sekadar karena rajin ke gym. Dia memang jago. Gerakannya lincah untuk seseorang yang bertubuh besar. Langkahnya mantap, operannya akurat, dan dia beberapa kali berhasil merebut bola dari lawan tanpa melakukan pelanggaran. Ketika pertandingan memasuki menit-menit terakhir dan skor masih tipis, Valko mencetak poin yang membuat seluruh teman sekelas kami bersorak histeris. "Masuk!" "Valko! Valko!" Teman-teman yang biasanya terlihat malas ikut kegiatan sekolah sekarang melompat-lompat di pinggir lapangan. Bahkan wali kelas kami ikut bertepuk tangan sambil tersenyum bangga. Berkat pertandingan itu, kelas kami keluar sebagai juara. Sejak hari itu, nama Valko seperti tiba-tiba dikenal semua orang. Kalau kami berjalan menuju kantin, selalu ada saja yang menyapanya dari kelas lain. "Val, nanti latihan lagi, ya!" "Eh, Valko!" Dia membalas semua sapaan itu dengan senyum yang sama ramahnya. Tidak berlebihan, tapi juga tidak pernah mengabaikan orang yang memanggilnya. Teman-teman sekelasku juga semakin sering mengerubunginya saat jam istirahat. Ada yang meminta dia ikut belajar kelompok, ada yang mengajaknya bermain basket sepulang sekolah, bahkan anak-anak yang dulu nyaris tidak pernah melirik ke arah bangkunya sekarang bisa mengobrol panjang dengannya. Aku juga tidak buta. Beberapa siswi mulai terang-terangan memperhatikan Valko. Ada yang sengaja lewat depan kelas kami lebih sering dari biasanya. Ada yang pura-pura meminjam buku ke teman di barisan belakang, padahal matanya lebih sering melirik ke arah bangku kami. Bahkan pernah suatu kali ada siswi dari kelas sebelah yang datang hanya untuk mengembalikan penghapus yang katanya dipinjam Valko. Entah benar dipinjam atau hanya alasan untuk mengajaknya bicara. Melihat semua itu, aku cuma bisa menghela napas pelan. Kalau dipikir-pikir, aku sedikit menyesal. Bukan menyesal berteman dengannya. Lebih tepatnya, menyesal sudah ikut membantu membuatnya populer. Ada perasaan aneh yang merayap di dadaku, tapi aku tidak mengerti. Akhirnya kubiarkan saja. Saat Valko pertama kali masuk ke kelas kami, sebenarnya banyak yang terlihat sungkan mendekatinya. Tubuhnya yang tinggi besar membuat kesan pertamanya cukup mengintimidasi. Beberapa teman hanya mencuri pandang dari kejauhan, lalu kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Karena kami duduk sebangku, mau tidak mau akulah yang paling sering mengobrol dengannya. Awalnya hanya percakapan sederhana. "Pelajaran tadi susah, ya?" "Iya." "Lupa bawa penggaris." "Oh, pakai punyaku aja." Lalu berubah menjadi obrolan-obrolan kecil setiap hari. Kadang kami membahas tugas. Kadang mengomentari guru yang sedang bersemangat menjelaskan materi. Kadang hanya diam sambil mengerjakan latihan masing-masing. Sesekali Valko juga meminjam alat tulisku. "Aku boleh pinjam pensil? Punyaku ketinggalan." Atau... "Penghapusmu ada? Punyaku kayaknya hilang." Aneh sekali. Orang yang terlihat begitu rapi ternyata cukup sering lupa membawa barang atau entah bagaimana kehilangan alat tulisnya. Aku biasanya hanya menggeser kotak pensil ke arahnya tanpa banyak komentar. "Nih." "Terima kasih." Lama-kelamaan, teman-teman lain mulai ikut bergabung setiap kali kami mengobrol. Awalnya satu orang, lalu dua, kemudian semakin banyak. Mereka rupanya sadar kalau Valko sama sekali tidak seseram penampilannya. Dia mudah diajak bicara, suka membantu, dan tidak pernah membuat orang lain merasa canggung. Tanpa kusadari, obrolan kecil yang dulu hanya terjadi di antara kami berubah menjadi lingkaran pertemanan yang semakin besar. Dan sekarang, bangku di sekeliling Valko hampir tidak pernah benar-benar sepi. ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Kalau dipikir-pikir, kepopuleran Valko memang tidak datang begitu saja. Di minggu-minggu pertama, justru dia lebih sering sendirian. Setiap bel istirahat berbunyi, teman-teman langsung berhamburan keluar kelas menuju kantin. Suara kursi yang bergeser bercampur tawa dan obrolan memenuhi ruangan dalam hitungan detik. Sementara itu, Valko biasanya tetap duduk di bangkunya. Dia membuka kotak bekal berwarna hitam yang selalu dibawanya dari rumah, lalu makan dengan tenang sambil sesekali membaca buku atau melihat catatan pelajaran. Aku yang duduk di sebelahnya sering merasa tidak enak. "Kenapa nggak ke kantin?" Valko hanya mengangkat bahu kecil. "Aku udah bawa bekal." "Iya, tapi sesekali ikut, dong." "Boleh aja." Jawabannya selalu sesederhana itu. Akhirnya, beberapa kali aku sengaja mengajaknya ikut ke kantin bersama teman-teman sekelas. Awalnya dia hanya berjalan di sampingku, lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Teman-teman juga masih terlihat agak sungkan membuka percakapan. Namun kecanggungan itu perlahan menghilang. Ada yang mulai bertanya soal sekolah lamanya, ada yang mengajaknya bercanda saat mengantre makanan, ada pula yang tiba-tiba membahas pertandingan basket kemarin. Valko menanggapi semuanya dengan santai. Tawanya tidak keras, tetapi cukup hangat hingga membuat orang lain merasa nyaman berada di dekatnya. Tanpa kusadari, meja makan yang awalnya hanya ditempati kami berdua semakin sering dipenuhi teman-teman lain. Aku hanya tersenyum melihatnya. Setidaknya sekarang dia tidak lagi makan sendirian.

⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


Di sisi lain, aku juga mulai memanfaatkan keberadaan teman sebangkuku yang terlalu pintar itu. Matematika memang selalu menjadi musuh bebuyutanku. Setiap kali guru selesai menjelaskan, angka-angka di buku tulisku rasanya malah semakin sulit dipahami. Suatu siang, saat jam pelajaran terakhir sudah selesai dan sebagian besar teman mulai bersiap pulang, aku memberanikan diri menyenggol lengan Valko pelan. "Valko..." "Hm?" "Yang nomor lima ini gimana, sih? Aku udah lihat berkali-kali, tetap nggak ngerti." Valko menoleh ke bukuku. Bukannya langsung mengambil pensil dan mengerjakannya, dia justru memutar buku itu menghadapku. "Kamu bingungnya di bagian mana?" Aku menunjuk rumus di tengah halaman. "Di sini." "Oke." Dia mengambil pensil, lalu menuliskan beberapa langkah kecil di samping soal. "Nah, sebelum pakai rumus ini, kamu harus cari nilai yang ini dulu." Cara menjelaskannya berbeda dengan guru di kelas. Dia tidak terburu-buru dan tidak langsung memberikan jawaban. Setiap selesai satu langkah, dia berhenti sebentar untuk memastikan aku benar-benar mengerti sebelum melanjutkan. "Oh... jadi yang ini dipindah dulu?" "Iya." "Terus baru dihitung?" "Betul." Pelan-pelan, soal yang tadi terlihat seperti sandi rahasia mulai masuk akal. Sejak saat itu, hampir setiap ada PR matematika atau materi yang membuatku pusing, aku akan otomatis menoleh ke sebelah. "Valko..." Dia biasanya sudah tahu maksudku bahkan sebelum aku selesai bicara. "Lagi-lagi matematika?" Aku hanya nyengir bersalah. Anehnya, dia tidak pernah keberatan. Berkat bantuannya, nilai ulanganku yang biasanya pas-pasan mulai membaik. Memang belum sampai jadi murid berprestasi, tapi setidaknya aku tidak lagi deg-degan setiap guru membagikan hasil tes. Karena itulah, setelah menerima hasil ulangan yang cukup memuaskan, aku merasa harus membalas jasanya. "Ko." "Hm?" "Hari ini jangan langsung pulang." Dia mengangkat kepala dari buku yang sedang dimasukkannya ke dalam tas. "Kenapa?" "Aku traktir." Dia langsung menggeleng. "Nggak usah." "Harus." "Nggak perlu, serius." "Aku maksa." Valko menghela napas pelan, lalu terkekeh kecil, seolah sadar percuma berdebat denganku. "...Ya udah." ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•

Sepulang sekolah, kami berjalan keluar gerbang bersama. Udara sore masih cukup hangat. Jalanan di depan sekolah dipenuhi siswa yang baru pulang, suara motor bersahutan, sementara beberapa pedagang kaki lima sibuk melayani pembeli yang mampir untuk membeli camilan. Kami memilih sebuah kafe kecil yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah. Bangunannya didominasi dinding kaca dengan lampu-lampu berwarna kuning hangat yang mulai menyala menjelang senja. Aroma kopi yang baru diseduh langsung menyambut begitu pintu dibuka, bercampur wangi mentega dari roti dan kue yang baru keluar dari oven. Musik akustik mengalun pelan, cukup terdengar tanpa mengganggu percakapan para pengunjung. Aku memesan dua gelas kopi, meski milikku lebih banyak susunya daripada kopinya, dan sepotong cake untuk kami bagi. Setelah itu kami duduk berhadapan. Dan mendadak canggung. Padahal di sekolah kami bisa mengobrol hampir setiap hari. Bahkan duduk berdempetan selama berjam-jam di kelas sudah terasa biasa. Tapi sekarang suasananya berbeda. Tidak ada suara guru. Tidak ada teman-teman yang lalu-lalang. Tidak ada buku pelajaran yang menjadi alasan untuk memulai percakapan. Hanya ada aku, Valko, dan meja kecil di dekat jendela. Aku melihat ponselku yang tidak ada noofikasi apa-apa.  Valko sesekali melirik ke luar jendela. Entah kenapa kami sama-sama mendadak kehilangan topik. Lalu sebuah pikiran terlambat muncul di kepalaku. Tunggu… Aku mengajak seorang cowok sepulang sekolah. Berdua. Ke kafe. Duduk saling berhadapan. Kalau dilihat dari luar, bukannya ini benar-benar terlihat seperti orang yang sedang kencan? Aku langsung mengalihkan pandangan, berharap wajahku yang mulai terasa panas tidak terlalu kentara. Untungnya pesanan kami akhirnya datang. Pelayan meletakkan dua cangkir kopi di atas meja, disusul sepiring cake dengan potongan stroberi di atas krim putihnya. Uap tipis masih mengepul dari permukaan kopi, sementara aroma manis mentega bercampur dengan harum biji kopi yang baru digiling memenuhi ruang kecil di antara kami. Aku menatap kue itu beberapa detik sebelum akhirnya berdeham pelan. "Maaf, ya..." Valko mengangkat pandangannya. "Kenapa?" "Ku... kuenya cuma satu." Aku terkekeh canggung, lalu menggaruk pelipis. "Hmm... atau... ini buatmu semua juga nggak apa-apa,” kataku malu. Kalimat terakhir keluar semakin pelan. Rasanya sedikit memalukan mengakui alasan yang sebenarnya. "Uang jajanku nggak cukup kalau harus beli dua." Valko terdiam sesaat, lalu langsung menggeleng kecil. Dia mendorong kursinya ke belakang dan mulai berdiri. "Aku bisa beli satu lagi, kok. Biar aku pesan,” kata Vako sambil tersenyum. Baru saja dia hendak memanggil pelayan, refleks aku mengulurkan tangan dan menarik pelan pergelangan tangannya. "Gak perlu." Gerakannya langsung terhenti. Dia menoleh ke arahku, sementara aku baru sadar kalau tanganku masih menggenggam lengannya. Cepat-cepat kulepaskan. "Aku cuma..." Aku berdeham pelan, berusaha terdengar biasa. "Apa kamu malu makan berbagi sama aku?" Begitu kalimat itu keluar, aku sendiri langsung menyesalinya. Kenapa aku malah bertanya begitu? Valko membeku beberapa saat. Lalu, sesuatu yang jarang kulihat terjadi. Ujung telinganya memerah. Wajahnya ikut memerah tipis di balik bingkai kacamatanya. "Enggak kok." Jawabannya cepat, hampir seperti refleks. Dia kembali duduk tanpa berkata apa-apa lagi. Dengan garpu kecil yang disediakan, dia memotong cake itu menjadi dua bagian yang ukurannya hampir sama persis. Setelah memastikan potongannya seimbang, dia menggeser salah satunya ke arahku. "Nih." "...Makasih." Aku tersenyum kecil. Entah kenapa, melihat Valko begitu serius membagi sepotong cake membuatku ingin tertawa. Bahkan untuk urusan sekecil ini pun dia tetap teliti. Kami mulai makan. Suara denting pelan garpu yang sesekali menyentuh piring menjadi satu-satunya suara di meja kami. Di sekitar kami, beberapa pengunjung lain sibuk mengobrol, mesin kopi sesekali berdengung dari balik meja barista, dan lagu akustik yang mengalun pelan justru membuat keheningan di antara kami terasa semakin jelas. Aku mencuri pandang ke arahnya. Valko sedang menikmati kopinya dengan tenang. Aku buru-buru mengalihkan mata saat dia hampir menoleh. Kenapa suasananya jadi begini, sih...
Padahal tadi aku yang mengajaknya ke sini. Sekarang malah aku sendiri yang tidak tahu harus mengatakan apa. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Berkali-kali aku membuka mulut, tetapi tidak ada satu pun kalimat yang berhasil keluar. Akhirnya aku memilih topik paling aman. "Eh... pelajaran matematika minggu depan katanya mulai bab baru, ya?" Valko mengangguk. "Iya. Lumayan susah kalau belum paham dasar yang sekarang." "Aku udah bisa nebak nasibku." Dia tersenyum kecil. "Kalau ada yang nggak ngerti, nanti kita belajar lagi." "Berarti aku bakal sering merepotkanmu." "Nggak juga." Jawabannya singkat, tetapi cukup membuatku sedikit lebih rileks. Obrolan kami perlahan mulai mengalir. Dari tugas sekolah, guru-guru yang cara mengajarnya berbeda-beda, sampai cerita bagaimana Valko masih sering tersesat mencari ruang kelas saat minggu pertamanya di sekolah. Sesekali kami tertawa kecil, dan kecanggungan yang tadi memenuhi meja perlahan mencair begitu saja. "Lagian," kataku sambil mengaduk kopi, "selain belajar sama basket, kamu emang ngapain di rumah?" Valko berpikir sejenak. "Nonton film." Aku langsung mengangkat kepala. "Serius?" "Iya." "Kupikir hobimu cuma belajar." Dia terkekeh pelan. "Nggak separah itu." "Film apa?" "Hampir semua genre." "Hah? Semua?" "Iya. Action, misteri, komedi, sci-fi, animasi... kalau ceritanya menarik, aku tonton." Aku benar-benar tidak menyangka. "Horor juga?" Dia mengangguk santai. "Kadang." "Romantis?" "Iya." Aku memandangnya beberapa detik, lalu tertawa kecil. "Wah... ternyata hobimu normal juga." Valko ikut tertawa pelan mendengar komentarku. "Tentu aja normal." "Tapi kapan nontonnya? Kamu kan kelihatannya sibuk terus." "Biasanya malam, setelah belajar selesai." Jawabannya sederhana, seolah itu sudah menjadi rutinitas yang biasa. Mendadak aku jadi paham bagaimana dia bisa tetap berprestasi tanpa kehilangan waktu untuk menikmati hobinya. Dia hanya pandai mengatur semuanya. Dan tanpa kusadari, percakapan kami terus berlanjut. Topik demi topik berganti begitu alami hingga cangkir kopi kami perlahan kosong, sementara potongan cake yang tadi terasa terlalu sedikit kini tinggal menyisakan remah-remah di atas piring.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• "Kalau kamu sendiri?" tanya Valko setelah menyeruput sisa kopinya. "Selain belajar, hobimu apa?" Aku menopang dagu dengan sebelah tangan sambil berpikir. "Hmm... aku suka baca buku." "Buku apa?" "Macam-macam. Novel paling sering. Kadang misteri, kadang fantasi, kadang yang bikin nangis." Valko mengangguk pelan, benar-benar mendengarkan. "Tapi aku juga suka nonton film, kok," lanjutku cepat. "Cuma nggak sebanyak kamu." "Berarti kita sama." "Hah?" "Sama-sama suka nonton." Aku tertawa kecil. "Iya juga." Valko terdiam sesaat, seolah sedang memikirkan sesuatu. Lalu, dengan nada yang terdengar sangat biasa, dia berkata, "Kalau kapan-kapan ada film yang bagus... kita nonton bareng, yuk." Aku berkedip. "...Hah?" "Di bioskop boleh." Dia berhenti sebentar sebelum menambahkan, "Atau di rumahku juga boleh." Aku benar-benar tidak siap mendengar kalimat itu. Di bioskop. Atau... di rumahnya? Jantungku kembali berdetak sedikit lebih cepat. Ini… Apa ini termasuk ajakan kencan? Aku diam beberapa detik sambil menatap wajah Valko, berusaha mencari tanda-tanda kalau dia sedang bercanda atau sengaja menggodaku. Tidak ada. Ekspresinya tetap tenang seperti biasanya. Ah, mungkin aku yang terlalu banyak berpikir. Valko memang ramah kepada semua orang. Bisa jadi dia hanya mengajakku sebagai teman. Aku berusaha mengusir pikiran aneh itu dan tersenyum kecil. "Boleh aja." "Ya?" "Asal filmnya bagus." Sudut bibir Valko langsung terangkat. "Tenang." Dia mengacungkan jempol dengan ekspresi yang entah kenapa terlihat sedikit lebih ceria dari biasanya. "Janji, ya?" Aku ikut mengangkat jempolku. "Janji." Entah kenapa, melihat senyum kecil di wajahnya membuatku ikut tersenyum tanpa sadar. Tak terasa kopi di cangkir kami sudah habis, begitu juga cake yang tadi kami bagi berdua. Di luar jendela, langit mulai berubah jingga, membuat cahaya hangat masuk melalui kaca kafe dan memantul lembut di atas meja kayu. Valko mendorong kursinya pelan. "Aku ke toilet sebentar." "Oh, iya." Setelah dia pergi, aku mengeluarkan ponsel dari saku rok. Beberapa notifikasi masuk dari grup kelas, sisanya pesan dari rumah. "Udah pulang belum?" Aku melihat jam di layar. Masih belum terlalu sore. Kalau langsung pulang setelah ini, seharusnya tidak akan dimarahi. Aku baru saja membalas singkat ketika Valko kembali menghampiri meja. "Udah?" Aku mengangguk. "Ayo pulang." Kami sama-sama berdiri. Aku mengambil tas, lalu berjalan lebih dulu menuju kasir. "Mbak, saya mau bayar." Kasir tersenyum ramah, "Sudah dibayar, kok." Aku mengernyit. "Yang tadi bareng Kakak. Beliau sudah bayar sebelum ke toilet." Aku membeku beberapa detik. Lalu refleks menoleh ke arah pintu kaca. Valko sudah berdiri di luar sambil menungguku. Dasar… Aku buru-buru keluar menghampirinya. Begitu sudah cukup dekat, aku memukul pelan lengan atasnya. "Kok jadi kamu yang bayarin, sih?" Valko menoleh dengan wajah yang terlihat sama sekali tidak merasa bersalah. "Kan aku yang mau traktir kamu sebagai ucapan terima kasih," lanjutku sambil masih memasang wajah protes. Dia hanya tersenyum kecil. Sebelum sempat bereaksi, tangan besarnya terangkat lalu mengucek pelan rambutku hingga sedikit berantakan. Aku refleks memejamkan mata. "Aku udah senang kamu ngajak makan bareng di kafe." Tangannya kembali turun, "Lain kali lagi, ya." Aku merapikan rambutku sambil mendengus pelan. "Kok jadi aku yang ditraktir.?" Valko hanya tertawa kecil. Aku akhirnya ikut tersenyum. "Oke, boleh." Aku mengangkat telunjuk ke arahnya. "Tapi lain kali aku yang bayarin." "Jangan, dong." "Lho, kok jangan?" "Nanti malah jadi rebutan lagi." Dia berpikir sebentar, lalu tersenyum. "Gini aja." "Apa?" "Kalau pergi lagi... kita bayar sendiri-sendiri." Aku memandangnya beberapa detik sebelum akhirnya terkekeh pelan. "Yaudah." Setidaknya itu terdengar lebih adil. Kami pun melanjutkan langkah menyusuri trotoar yang mulai diterangi lampu-lampu jalan. Di belakang kami, kafe itu perlahan semakin jauh, tetapi entah kenapa suasana sore itu terasa akan terus kuingat. ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Aku mau cerita lagi tentang pertandingan basket yang dimenangkan kelasku. Sorak-sorai memenuhi lapangan basket sesaat setelah peluit panjang berbunyi. "Menang!" Anak-anak sekelas langsung berhamburan masuk ke lapangan. Ada yang melompat memeluk teman satu tim, ada yang mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil berteriak kegirangan. Beberapa bahkan sudah sibuk mengabadikan momen dengan ponsel mereka sebelum guru sempat menyuruh semuanya kembali tertib. Aku ikut bertepuk tangan dari pinggir lapangan. Pertandingan tadi benar-benar menegangkan. Skor kedua kelas sempat saling mengejar sampai menit-menit terakhir. Untungnya, Valko berhasil membalikkan keadaan dengan beberapa permainan yang membuat seluruh tribun bersorak. Tidak berlebihan kalau semua orang menyebutnya sebagai salah satu pahlawan kemenangan hari ini. Begitu pertandingan selesai, Valko langsung dikerubungi teman-teman. "Ko, keren banget tadi!" "Gila, operan terakhir itu mantep!" "Besok latihan lagi, ya!" Dia hanya tertawa kecil sambil mengusap tengkuknya yang masih dipenuhi keringat. Wajahnya sedikit memerah karena kelelahan, rambut merahnya tampak berantakan setelah berlari hampir sepanjang pertandingan. Aku baru sempat mengucapkan, "Selamat," sebelum teman-teman lain kembali menarik perhatiannya. "...Makasih." Jawabannya nyaris tenggelam oleh suara orang-orang di sekelilingnya. ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•




Sebagai bentuk perayaan, anak-anak sekelas sepakat makan bersama sepulang sekolah. Restoran yang kami datangi cukup besar, dan karena jumlah kami hampir satu kelas penuh, kami menyewa satu ruangan khusus di bagian dalam. Ruangan itu dilengkapi meja-meja panjang yang disusun membentuk huruf U, lengkap dengan layar televisi besar, lampu warna-warni, dan seperangkat karaoke di sudut ruangan. Begitu makanan mulai datang, suasana langsung berubah ricuh. Piring-piring berisi ayam goreng, nasi, sup, aneka lauk, dan minuman memenuhi meja. Aroma makanan hangat bercampur tawa teman-teman yang saling berebut memilih lagu pertama. "Ayo! Siapa duluan?" "Kamu aja!" "Nggak mau! Suaraku fals!" Tak sampai lima menit, mikrofon sudah berpindah tangan berkali-kali. Ada yang bernyanyi serius seperti sedang mengikuti kompetisi. Ada yang sengaja menyanyikan lagu dengan nada berantakan hanya untuk membuat satu ruangan tertawa. Ada pula yang berdiri di belakang penyanyi sambil pura-pura menjadi penari latar. Ruangan itu begitu ramai hingga suara tawa lebih sering terdengar daripada musiknya sendiri. Aku ikut tertawa melihat tingkah mereka. Namun hari ini ada satu hal yang berbeda. Aku tidak duduk di dekat Valko. Karena datang agak terlambat, kursi di sampingnya sudah lebih dulu ditempati orang lain. Aku akhirnya duduk di sisi meja yang cukup jauh, masih bisa melihatnya, tetapi terlalu jauh untuk ikut mengobrol. Awalnya kupikir itu bukan masalah. Toh besok di kelas kami akan kembali duduk sebangku seperti biasa. Namun, entah sejak kapan, kursi di sekitar Valko mulai dipenuhi teman-teman. Terutama siswi-siswi di kelas. "Valko, tadi kamu keren banget!" "Eh, serius deh, kamu latihan di mana?" "Kamu capek nggak?" "Ajarin aku basket, dong." Aku memperhatikan dari kejauhan. Lucunya, beberapa dari mereka hampir tidak pernah berbicara dengan Valko saat dia pertama kali pindah ke kelas kami. Bahkan dulu mereka terlihat sungkan hanya untuk menyapanya. Sekarang? Mereka berebut mencari tempat duduk di dekatnya. Valko tetap bersikap seperti biasa. Dia menjawab setiap pertanyaan dengan sopan, sesekali tersenyum, lalu tertawa kecil ketika salah satu temanku melontarkan candaan. Tidak ada yang salah dengan itu. Memang begitulah Valko. Dia ramah kepada semua orang. Aku tahu itu. Aku benar-benar tahu. Lagipula, aku sendiri yang dulu terus mengajaknya bergabung saat teman-teman masih canggung mendekatinya. Harusnya aku senang. Harusnya. Aku menunduk memainkan sedotan di gelasku. Rasa aneh yang perlahan memenuhi dada muncul kembali. Bukan marah. Bukan kesal. Lebih seperti... sesak kecil yang sulit dijelaskan. Rasanya tidak nyaman melihat begitu banyak orang tertawa bersama Valko, padahal beberapa minggu lalu akulah yang paling sering mengobrol dengannya. Aku menggigit pelan bibir bawahku. Apa ini… Cemburu? Aku pernah membaca perasaan seperti ini di novel-novel romansa yang kusukai. Tokohnya selalu berkata dadanya terasa nyeri ketika melihat orang yang disukainya didekati orang lain. Dulu aku selalu berpikir kalimat itu terlalu dramatis. Sekarang, aku mulai mengerti maksudnya. ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Setelah hampir satu jam, teman-teman masih asyik bernyanyi. Mikrofon kembali berpindah tangan, sementara suara tepuk tangan dan sorakan tidak pernah benar-benar berhenti. Aku mulai merasa bosan. Bukan karena acaranya. Entah kenapa, aku hanya tidak lagi bersemangat berada di ruangan itu. Aku melirik jam di ponsel. Masih cukup sore. Tagihan juga belum keluar, tetapi itu bukan masalah. Uang kas kelas memang sudah disepakati akan dipakai lebih dulu, nanti baru dihitung bersama. Aku berdiri pelan agar tidak mengganggu yang sedang bernyanyi. "Guys, aku pulang dulu, ya." "Loh? Cepet amat?" "Iya, di rumah ada yang nunggu." "Oke, hati-hati!" seru mereka. Beberapa teman melambaikan tangan tanpa menghentikan acara karaoke mereka. Aku ikut tersenyum, mengambil tas, lalu keluar dari ruangan. Begitu pintu restoran tertutup di belakangku, suara musik langsung terdengar jauh lebih pelan. Udara sore menyambut wajahku. Langit mulai berubah keemasan, dan deretan kendaraan berlalu-lalang di jalan depan restoran seperti biasa. Aku menghela napas panjang. Perasaanku sedikit lebih ringan. Aku mulai melangkah menyusuri trotoar, sama sekali tidak menyadari ada suara pintu restoran yang kembali terbuka beberapa detik setelah aku pergi. Seseorang keluar dengan langkah tergesa. Dan tanpa suara, mengikuti langkahku dari belakang. ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Baru beberapa langkah meninggalkan restoran, tiba-tiba seseorang menepuk pelan pundakku. Aku langsung menoleh. "Eh!" Jantungku sempat melonjak sebelum akhirnya mengembuskan napas lega. "Valko?" Cowok itu berdiri di belakangku dengan napas yang sedikit lebih cepat, sepertinya habis berjalan tergesa mengejarku. Rambut merahnya masih sedikit berantakan sejak pertandingan basket tadi, sementara tas sekolahnya hanya disampirkan di satu bahu. "Kok kamu pulang duluan?" tanyanya. Aku mengalihkan pandangan ke jalan di depan. "Nggak kenapa-kenapa." Dia menunggu. Aku menghela napas kecil. "Bosan aja." Jawaban itu memang tidak sepenuhnya bohong. Aku memang bosan. Setidaknya, itulah alasan yang paling mudah diucapkan. Valko mengangguk pelan. Dia tidak bertanya lebih jauh, seolah menghormati kalau aku memang sedang tidak ingin membahasnya. Beberapa detik berlalu dalam diam. Lalu tiba-tiba dia berkata, "Kalau gitu..." Aku menoleh. "Mau mampir ke rumahku?" "Hah?" "Rumahku dekat dari sini." Aku berkedip beberapa kali. Otakku butuh waktu untuk memproses kalimat barusan. "Mampir?" "Iya." Aku langsung menggeleng. "Nggak usah, deh." "Kenapa?" "Nggak enak." "Lho?" "Masa aku tiba-tiba datang ke rumah teman cowok." Aku mengangkat kedua tangan, berusaha menjelaskan isi kepalaku. "Bayangin aja kalau orang tuamu buka pintu terus lihat ada cewek asing nongol di depan rumah. Mereka pasti mikir, 'Ini siapa?'" Semakin kupikirkan, semakin memalukan. "Perempuan macam apa yang tiba-tiba main ke rumah teman cowok, sih?" Valko malah terlihat tenang. "Nggak apa-apa." "Ya apa-apa, lah." "Di rumah lagi kosong." Aku mengernyit. "Kosong?" "Iya." Dia memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Orang tuaku tinggal di luar negeri." Aku diundang Valko ke rumahnya yang kosong, cuma ada kita berdua? Otakku yang tadi masih tenang mendadak berlari ke mana-mana. Bahaya banget. Aku buru-buru menepuk pelan kedua pipiku sendiri dalam hati. Jangan mikir yang aneh-aneh. Valko bukan orang seperti itu. Lagipula selama ini dia selalu bersikap sopan. Aku yang kebanyakan baca novel romansa, jadi otakku otomatis menghubungkan segala situasi dengan adegan-adegan yang tidak perlu dipikirkan. Aku berusaha mengembalikan ekspresi wajahku agar terlihat normal. "Makasih, tapi... lain kali aja." Valko tidak langsung menyerah. "Hmm..." Dia tampak berpikir sebentar. "Lagi pula..." "Apa?" "Aku baru beli novel." Aku refleks menoleh. "Novel?" "Iya." "Yang mana?" Dia menyebutkan judulnya. Aku langsung membelalakkan mata. Novel yang sudah beberapa minggu masuk daftar incaranku. Aku bahkan berkali-kali mampir ke toko buku hanya untuk melihat sampulnya, lalu mengembalikannya lagi ke rak karena tabunganku belum cukup untuk membelinya. Entah kenapa Valko bisa tahu judul itu. "Kamu boleh pinjam dan bebas kapan kamu mau mengembaikannya ke aku," katanya santai. Aku menatapnya. Lalu membayangkan novel itu. Lalu membayangkan dompetku. Lalu kembali membayangkan novel itu. Harga diriku bertahan sekitar lima detik. "Rumahmu... jauh nggak?" Sudut bibir Valko langsung terangkat. "Nggak." "Jalan kaki?" "Iya." Aku mengembuskan napas panjang, seolah sedang mengambil keputusan yang sangat berat, "Yaudah..." Aku mengangkat telunjuk ke arahnya. "Tapi aku cuma mau pinjam novel." Valko tersenyum, “Yuk kita langsugng ke sana.” Mudah sekali aku dibujuk. Semuanya gara-gara novel sialan itu. ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Kami berjalan berdampingan meninggalkan kawasan restoran. Semakin jauh melangkah, bangunan pertokoan mulai berganti dengan deretan gedung tinggi yang menjulang di kedua sisi jalan. Beberapa di antaranya merupakan perkantoran, sementara sisanya adalah apartemen dengan lobi yang tampak mewah dari luar. Aku sempat melirik Valko. "Rumahmu di sekitar sini?" "Iya." Tak lama kemudian, dia berhenti di depan sebuah gedung apartemen yang fasadnya didominasi kaca tinggi dengan lampu-lampu hangat menyala di area lobi. Seorang petugas keamanan membukakan pintu sambil menyapa Valko dengan ramah, seolah sudah sangat mengenalnya. Aku mendongak. Mulutku perlahan terbuka. "Serius?" Valko menoleh. "Kenapa?" Aku kembali melihat gedung di hadapanku. Lobby marmernya megah, langit-langitnya tinggi dengan lampu gantung besar yang memantulkan cahaya ke seluruh ruangan, dan di salah satu sudut terdapat ruang tunggu dengan sofa-sofa empuk yang terlihat lebih mewah daripada ruang tamu kebanyakan rumah. "...Kamu bilang rumah." "Iya." "Ini mah..." Aku menelan ludah, "Apartemen mewah." Valko hanya memiringkan kepala, seolah baru sadar tempat tinggalnya ternyata tidak terlihat biasa di mata orang lain. "Iya... apartemen." Jawabannya terdengar begitu datar hingga aku hampir ingin tertawa. Bagi Valko mungkin ini biasa saja. Sementara aku masih berdiri di depan pintu masuk, mencoba menerima kenyataan bahwa aku baru saja membiarkan diri dibujuk datang ke apartemen mewah seorang cowok hanya demi meminjam sebuah novel. ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Pintu lift terbuka dengan suara pelan. Kami keluar menyusuri lorong yang dilapisi karpet tebal berwarna abu-abu. Lampu-lampu di langit-langit memancarkan cahaya hangat, sementara setiap beberapa meter terdapat lukisan abstrak yang menghiasi dinding. Suasananya tenang sekali, hanya sesekali terdengar dengungan pendingin ruangan. Valko berhenti di depan salah satu pintu. Bunyi beep terdengar ketika ia menempelkan kartu aksesnya. "Masuk." Aku melangkah pelan ke dalam, lalu tanpa sadar memandangi seisi apartemen. Wow. Ruang tamunya jauh lebih luas daripada yang kubayangkan. Jendela kaca besar membentang dari lantai hingga langit-langit, memperlihatkan pemandangan kota yang mulai diselimuti cahaya senja.


Sofa berwarna krem tersusun rapi menghadap televisi berukuran besar, rak buku memenuhi salah satu sisi dinding, sementara dapur bergaya modern terlihat menyatu dengan ruang makan. Yang paling mengejutkanku justru rapinya. Tidak ada pakaian berserakan, tidak ada gelas bekas di atas meja, bahkan bantal sofa tersusun nyaris simetris.

"Kamu bersih banget, ya." Valko meletakkan tasnya di dekat pintu. "Bukan aku." "Hah?" "Ada bibi yang datang bersih-bersih." Pantas saja. Kupikir cowok SMA mana mungkin bisa menjaga apartemen sebesar ini tetap serapi hotel. Aku duduk perlahan di sofa. Empuk. Saking empuknya, tubuhku langsung sedikit tenggelam. "Enak banget," gumamku tanpa sadar. Valko terkekeh pelan sebelum berjalan menuju rak buku. Sambil menunggunya, mataku kembali berkeliling ruangan. "Berarti..." Aku menoleh ke arahnya, "Selama ini kamu tinggal sendirian?" "Iya." Jawabannya terdengar begitu biasa. "Orang tuaku kerja di luar negeri." "Lama?" "Udah beberapa tahun." Aku terdiam. "Terus... kamu memang dari dulu sekolah di Indonesia?" "Nggak." Dia menggeleng sambil mencari sesuatu di rak. "Sebelumnya aku sekolah di luar negeri." Aku sedikit terkejut. "Terus kenapa balik?" "Aku pengen SMA di Indonesia." Sesederhana itu jawabannya. "Jadi aku pulang duluan. Makanya baru masuk sekolah waktu semester dua." Aku mengangguk pelan. Pantas saja dia sempat terlihat asing ketika pertama kali masuk kelas. Bukan hanya karena baru pindah sekolah, tetapi juga karena benar-benar memulai hidup baru di sini. Tak lama kemudian, Valko kembali membawa sesuatu yang langsung membuat mataku berbinar. "Nih." Dia menyerahkannya sebuah tote bag bergambar bunga lily of the valley yang cantik kepadaku, di dalamnya berisi novel yang aku incar. Aku menerima tote bag itu dan mengeluarkan novel dengan hati-hati, seolah sedang memegang barang berharga. "Astaga..." Aku membaliknya sebentar, memastikan judul dan sampulnya. "Ini beneran boleh kupinjam?" "Iya." "Serius?" "Iya." Aku langsung memeluk novel itu ke dada. "Makasih banget." Melihat reaksiku, Valko hanya tersenyum kecil. Entah kenapa ekspresinya terlihat puas, seolah memang sudah menduga aku akan sesenang ini. ”Tasnya perlu aku bawa juga? Cantik banget gambar bunganya?” ”Bawa aja, itu bunga favorit aku, jadi jangan sampai dihilangkan ya tote bag dan novelnya.” ”Siap boss!” kataku dengan semangat Aku melirik jam di ponsel dan buru-buru berdiri sambil merapikan tas. "Aku pulang dulu, sudah hampir malam” Baru saja melangkah satu langkah, tiba-tiba pergelangan tanganku terasa ditahan pelan. Aku menoleh. Valko masih berdiri di belakangku. "Mau nggak..." Dia tampak ragu sepersekian detik. "...ngobrol bentar lagi?" Aku menatap wajahnya. Tatapannya tidak memaksa. Justru terdengar seperti permintaan yang diucapkan dengan sangat hati-hati. Aku menggeleng pelan. "Nggak bisa." "Sebentar aja." "Nanti kemaleman." "Masih sore." "Kalau pulangnya nanti, tetap aja sampai rumah udah malam." Aku tersenyum meminta maaf. "Orang tuaku pasti khawatir." Valko menghela napas kecil. "Yaudah." Kupikir pembicaraan selesai sampai di situ. Namun beberapa detik kemudian dia kembali membuka suara. "Kalau akhir pekan ini bisa gak kita nonton film bareng?" Aku langsung teringat janji kami di kafe. Aku berpikir sebentar. Kalau benar-benar datang ke apartemen Valko lagi. Berarti aku harus mencari alasan di rumah. Sepertinya. Aku harus sedikit berbohong. Mungkin aku akan bilang sedang main ke rumah teman perempuanku.


Rasanya agak bersalah, tapi kalau bilang yang sebenarnya, kecil kemungkinan aku akan diizinkan. Aku menghela napas pelan. Seperti sulit dalam waktu dekat karena sebentar lagi banyak tugas sampai akhirnya ujian kenaikan kelas. Mungkin masih beberapa bulan lagi aku bisa ke sini. "Boleh." Mata Valko langsung berbinar. "Serius?" "Asal filmnya bagus." Dia terkekeh, "Pasti." "Ada syarat tambahan lagi, aku baru bisa ke sini setelah selesai ujian kenaikan kelas." Valko sedikit cemberut tapi akhirnya menerimanya. Kesepakatan itu akhirnya tercapai. ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• "Aku pulang ya," kataku menuju pintu rumahnya. Namun baru satu langkah… Aku merasakan sesuatu menyentuh bahuku. Aku berhenti dan perlahan menoleh. Valko berdiri sangat dekat di belakangku. Kepalanya bersandar pelan di bahuku. Aku membeku, "V-Valko?" Suaranya terdengar pelan, hampir seperti gumaman,"...Aku kesepian." Kalimat sederhana itu membuat dadaku terasa sesak tanpa alasan yang jelas. "Makasih," dia menarik napas pelan, "udah mampir ke rumahku hari ini." Aku tidak langsung menjawab. Baru saat itu aku benar-benar menyadari bahwa apartemen sebesar ini, yang tadi sempat membuatku terpukau, ternyata selama ini hanya dihuni oleh satu orang. Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Valko, aku melihat sisi dirinya yang tidak pernah ia tunjukkan di sekolah. Bukan murid baru yang pintar. Bukan pemain basket yang diidolakan banyak orang. Melainkan seorang anak laki-laki yang pulang ke rumah yang selalu sunyi. Dengan hati-hati agar tidak terdengar terlalu canggung, aku berkata pelan, "Kalau kamu mau, aku bisa meluangkan waktu sepulang sekolah. Kita bisa belajar bersama di perpustakaan, atau makan di cafe kalau uang jajanku cukup." Entah kenapa, aku merasa itu adalah jawaban yang paling ingin didengarnya.

⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Sejak hari itu, aku dan Valko semakin sering meluangkan waktu sepulang sekolah. Biasanya mengerjakan PR di perpustakaan, ngobrol di kantin, menemaninya main basket sebentar, atau makan di cafe. Sebenarnya aku tidak mau sering ke cafe, karena pasti selalu Valko yang bayar. Sesungguhnya walaupun aku senang, aku masih malu dianggap benalu. ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Akhir pekan yang kutunggu-tunggu akhirnya datang. Masa ujian kenaikan kelas bisa kami lewati dengan sukses. Sejak pagi, entah kenapa aku sudah merasa sedikit gelisah. Berkali-kali aku membuka lemari, menatap isinya, lalu menutupnya lagi tanpa mengambil apa pun. "Yang ini?" Aku mengangkat sebuah sweater berwarna krem ke depan cermin. "Hmm..." Lalu kulirik rok lipit berwarna senada yang tergantung di sampingnya. Biasanya aku hampir selalu memakai celana jeans kalau pergi bersama teman. Lebih praktis, lebih nyaman, dan tidak perlu repot memikirkan apakah penampilanku sudah rapi atau belum. Tapi... Hari ini rasanya berbeda. Aku ingin terlihat sedikit lebih... cantik. Pikiran itu membuatku sendiri langsung memonyongkan bibir ke arah bayanganku di cermin. "Kenapa sih aku jadi ribet begini..." Meski begitu, aku tetap mengenakan sweater krem itu, merapikan rok lipit yang jatuh hingga sedikit di atas lutut, lalu menyisir rambutku sekali lagi. Setelah puas, aku memutar badan ke kanan dan kiri di depan cermin. Lumayan. Setidaknya aku terlihat lebih rapi daripada biasanya. Saat keluar dari kamar, kedua orang tuaku langsung menoleh bersamaan. Ibuku mengangkat alis, "Tumben." Aku langsung pura-pura tidak mengerti, "Apanya?" "Kamu pakai rok?" selidik ibuku. Ayahku yang sedang membaca koran ikut melirik sekilas, "Biasanya jeans terus." Aku terkekeh kecil sambil merapikan ujung sweaterku., "Lagi pengen aja." Ibuku mengamatiku beberapa detik, "Mau main sama siapa?" "Teman." "Cewek?" Jantungku berdegup sedikit lebih cepat. Untung saja wajahku tetap terlihat tenang. "Iya." Jawabanku terdengar cukup meyakinkan hingga mereka hanya mengangguk tanpa bertanya lebih jauh. Aku diam-diam mengembuskan napas lega. Syukurlah.  Tidak curiga.

⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•

Sesuai janji, Valko menjemputku di halte yang tidak jauh dari rumah. Begitu sampai, aku langsung melihat sebuah mobil hitam berhenti di pinggir jalan. Sopir berseragam rapi berdiri di samping pintu belakang yang sudah terbuka. Hari itu Valko mengenakan sweater merah dan celana panjang kasual. Kacamatanya masih sama seperti biasanya, tetapi tanpa seragam sekolah, kesannya terasa jauh lebih santai. Saat melihatku berjalan mendekat, dia sempat terdiam beberapa detik. Aku tersenyum kecil. "Udah nunggu lama?" "Enggak." Jawabannya singkat. Namun entah kenapa dia masih menatapku beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangan. "Ayo." Aku tidak terlalu memikirkannya dan langsung masuk ke dalam mobil. Perjalanan menuju apartemen berlangsung cukup tenang. Sesekali kami membahas film yang akan ditonton nanti, tetapi lebih sering menikmati pemandangan kota yang berlalu di balik jendela. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan apartemen yang sudah mulai terasa familier bagiku. "Kita sampai." ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Begitu pintu apartemen terbuka, aroma masakan langsung menyambut kami. "Wah..." Perutku spontan berbunyi pelan. Dari arah dapur muncul seorang bibi yang mengenakan celemek. "Oh, Dek Valko udah pulang." "Iya, Bi." Bibi itu tersenyum ramah kepadaku. "Temannya, ya? Makan siangnya sudah siap." Di atas meja makan sudah tersaji beberapa hidangan rumahan yang masih mengepulkan uap hangat. Ada, ayam panggang, tumis sayuran, dan semangkuk buah yang sudah dipotong-potong. "Silakan dimakan, ya." "Makasih, Bi." Kami pun duduk berhadapan. Suasana makan siang terasa jauh lebih santai dibandingkan pertemuan pertama kami di kafe. Mungkin karena sekarang kami sudah lebih terbiasa mengobrol satu sama lain. Tentang kelas kami yang belakangan ini terasa semakin ramai. Tentang kelas 2 nanti apakah kita bisa sekelas lagi atau tidak. Tentang novelnya yang sudah selesai kubaca tapi lupa aku bawa. "Maaf ya novelmu lupa aku bawa, hmm apa jadi hak milik aku aja ya?" kataku sambil tertawa. "Aku belikan itu buat kamu,” kata Valko setengah serius. "Haha apaan sih kamu, tenang aja, Senin aku bawakan ya, semoga aku gak lupa." Kami terus mengobrol hingga tanpa sadar semua makanan di meja hampir habis. ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Setelah selesai makan, bibi yang tadi memasak melepas celemeknya. "Kalau begitu Bibi pulang dulu, ya." "Iya, Bi. Hati-hati." "Iya." Tak lama kemudian pintu apartemen kembali tertutup. Apartemen yang luas itu kembali sunyi. Hanya ada aku dan Valko. Aku duduk di sofa yang empuk dan Valko duduk di sebelahku, memberi jarak sekitar satu bantal di antara kami. "Hmm..." Aku memandang televisi besar di depan. "Jadi nonton sekarang?" "Iya." "Kamu mau genre apa?" Aku langsung menjawab tanpa berpikir. "Horor." Ekspresi Valko berubah. "...Horor?" "Iya." Dia terlihat ragu. "Yang lain aja, gimana?" Aku menyipitkan mata. "Lho?" "Komedi juga bagus." "Hmm..." Aku menatapnya penuh curiga. "Jangan-jangan..." Valko berdeham pelan. "...Apa?" "Kamu penakut?" "Hah?" "Nggak mungkin, kan?" Aku sengaja menahan senyum. "Pemain basket keren masa takut film horor." "Aku bukan takut." "Terus?" "Cuma..." Dia mengusap tengkuknya. "...nggak terlalu suka." Aku menahan tawa. "Oh..." "Berarti memang takut." Valko langsung menggeleng. "Bukan." "Kalau bukan, yaudah nonton horor." Dia menatapku beberapa detik. Aku balas menatapnya sambil tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya Valko menyerah. "...Yaudah." Sudut bibirku langsung terangkat. "Siap." Dia mengambil remote televisi sambil menggeleng kecil. "Kalau nanti kamu yang kaget duluan, jangan nyalahin aku." Aku langsung mendengus pelan. "Lihat aja nanti." Padahal dalam hati, aku juga tidak sepenuhnya yakin siapa yang akan lebih sering menjerit selama film berlangsung. ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Lampu ruang tamu sengaja kami redupkan agar suasana menonton terasa lebih seperti di bioskop. Tirai jendela sudah tertutup rapat, membuat cahaya matahari siang hanya menyisakan sedikit garis tipis di sela-selanya.


Layar televisi yang besar menjadi satu-satunya sumber cahaya yang benar-benar menerangi ruangan. Sesekali kilatan cahaya dari adegan film memantul di meja kaca dan dinding apartemen yang tenang.

Aku mengambil posisi di salah satu ujung sofa, sementara Valko duduk di sebelahku dengan jarak yang masih menyisakan satu bantal kecil di antara kami. Film pun dimulai. Awalnya masih biasa saja. Ceritanya memperkenalkan tokoh utama, sebuah rumah tua yang sudah lama kosong, dan berbagai kejadian aneh yang mulai muncul sedikit demi sedikit. Aku menonton dengan santai. Sesekali mengambil camilan berupa popcorn dan minum soda yang sudah disiapkan Valko di meja. Di sisi lain, aku mulai menyadari sesuatu. Valko benar-benar tegang. Tangannya yang semula terlipat kini berubah mencengkeram bantal kecil di pangkuannya. Bahunya sedikit menegang setiap musik latar berubah pelan menjadi mencekam. Aku meliriknya dari sudut mata. Tahan… Jangan ketawa. Beberapa menit kemudian, muncul adegan ketika tokoh utama membuka pintu kamar yang gelap. Musiknya mendadak menghilang. Ruangan di layar menjadi sunyi. Aku sudah bisa menebak akan ada jump scare. Namun sebelum sempat terjadi, aku justru lebih dulu mendengar suara kecil dari sampingku. Valko menahan napas. "DUAR!" Hantu di layar tiba-tiba muncul. "Astaga!" Bukannya berteriak keras, Valko malah refleks merosot dari sofa hingga duduk di lantai. Aku spontan menoleh. "Eh?" Belum sempat berkata apa-apa, tiba-tiba kedua tangannya meraih sesuatu untuk berpegangan. Dan yang diraihnya adalah betisku. Aku langsung membeku. Karena hari ini aku mengenakan rok lipit selutut, bagian bawah kakiku tidak tertutup seperti biasanya saat memakai jeans. Telapak tangan Valko menyentuh kulit kakiku secara langsung. Jantungku langsung berdetak jauh lebih cepat. Aku bahkan bisa merasakan hangat telapak tangannya. Ruangan yang sejak tadi dipenuhi suara film mendadak terasa jauh sekali. Yang kudengar sekarang justru debar jantungku sendiri. Valko sendiri tampaknya baru menyadari apa yang terjadi beberapa detik kemudian. Dia perlahan mendongak. Tatapan kami bertemu. Lalu matanya melebar, "...Eh." Dia buru-buru melepaskan tangannya seperti baru tersengat. "Maaf." Wajahnya langsung memerah sampai ke telinga. "A-aku nggak sengaja." "N-nggak apa-apa..." Suaraku sendiri terdengar aneh di telingaku. Aku ikut memalingkan wajah, berharap dia tidak menyadari pipiku yang mulai terasa hangat. Valko segera kembali duduk di sofa. Kini jarak di antara kami justru terasa jauh lebih renggang daripada sebelumnya. Film masih terus berjalan. Ada tokoh yang sedang berlari. Ada suara pintu dibanting. Ada musik yang semakin menegangkan. Aku sudah tidak terlalu fokus. Pikiranku masih teringat pada sentuhan beberapa detik yang lalu. Aku diam-diam menggenggam ujung rokku sendiri agar tanganku tidak terlihat gelisah. Di sampingku, Valko juga tampak berusaha mengalihkan perhatian ke layar televisi. Namun dari caranya berkedip dan sesekali membetulkan posisi kacamatanya, aku tahu dia juga sama gugupnya. Beberapa saat kemudian, aku mengambil popcorn yang berada di tengah sofa. Di saat yang hampir bersamaan, Valko juga mengulurkan tangan. Ujung jari kami bersentuhan. Sangat singkat. Namun cukup membuat kami berdua sama-sama menghentikan gerakan. Aku perlahan mengangkat kepala. Begitu pula Valko. Tatapan kami kembali bertemu. Kilatan cahaya dari layar televisi bergantian menerangi wajahnya.Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang menarik tangan lebih dulu. Hanya beberapa detik yang terasa jauh lebih panjang dari seharusnya. Matanya menatapku dalam, seolah mencari sesuatu. Aku bisa melihat pupilnya melebar, napasnya sedikit lebih berat. Wajahnya yang tampan, dagu tegas, dan bibirnya yang tersenyum padaku. Entah dari mana keberanian itu datang, Valko tiba-tiba melepas kacamata dan perlahan memajukan tubuhnya. Kepalanya mendekat, sangat pelan, memberiku waktu untuk menjauh jika aku mau. Tapi aku tidak bergerak. Aku hanya menatapnya, bibirku sedikit terbuka karena gugup. Lalu bibir kami bertemu. Awalnya hanya sentuhan ringan. Mataku terpejam dan terasa bibirnya yang hangat menyentuh bibirku dengan lembut, kaku, dan penuh ketidakpastian. Kami berdua tidak tahu harus berbuat apa. Hanya diam, menikmati kelembutan itu selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya. Aroma sabun mandi dan keringat Valko tercium samar di dekatku. Valko yang lebih dulu bergerak. Dia melumat bibir bawahku pelan, seolah mencicipi.


Aku mendesah kecil di dalam hati dan menyambutnya, membuka bibirku sedikit. Ciuman kami mulai menghangat. Lidahnya menyelinap masuk dengan ragu, menyentuh lidahku.

Rasa manis popcorn masih tersisa di mulutnya. French kiss itu muncul begitu saja, dalam, basah, dan penuh gairah yang tertahan. Tangannya naik ke pipiku, ibu jarinya mengusap lembut tulang pipiku sementara lidah kami saling menari, semakin berani.

Aku meraih kaosnya, mencengkeram kainnya erat karena lututku terasa lemas. Napas kami bercampur, berat dan cepat.

Suara kecupan basah kecil terdengar di antara jeda film yang masih berlanjut di latar belakang, tapi kami sudah tidak peduli lagi. Valko menarik diri sebentar, napasnya tersengal. Dahinya bersandar di dahiku, matanya setengah terpejam. Tanganku naik ke tengkuknya, jari-jariku menyusup ke rambutnya yang agak acak-acakan. Tangan satunya turun ke pinggangku, menarik tubuhku lebih dekat hingga aku hampir duduk di pangkuannya. Ciuman kami semakin panas, lidah saling menjelajah, gigi sesekali menggigit pelan bibir satu sama lain. Desahan kecil lolos dari mulutku saat dia melumat leherku sebentar, meninggalkan jejak hangat yang membuatku menggigil. Kami terus berciuman lama, lupa pada film yang kini hanya menjadi suara latar belakang. Sampai kami akhirnya berpisah untuk menghirup udara. Film masih terus berlanjut. Namun, pikiranku sudah tidak lagi berada di sana. Aku menatap layar tanpa benar-benar melihat apa yang sedang terjadi. Yang terus terlintas justru beberapa menit yang lalu. Aku menggigit pelan bibir bawahku. Ada begitu banyak pertanyaan yang tiba-tiba memenuhi kepalaku. Apa Valko menyukaiku? Atau ini dorongan impuls masa remaja yang penuh rasa penasaran. Kalau memang begitu, hubungan kami sebenarnya sedang menuju ke mana? Kami memang sering bersama hampir setiap hari. Duduk sebangku setiap hari, belajar bersama, pergi ke kafe, saling meminjam buku, bahkan sekarang aku sedang berada di apartemennya pada akhir pekan. Kalau semua ini bukan sekadar pertemanan, lalu apa? Tapi begitu pertanyaan itu muncul, aku langsung menggeleng pelan. Kami baru saling mengenal beberapa bulan. Mungkin aku saja yang terlalu banyak membaca novel romantis sampai mulai menghubungkan semua hal dengan cinta. Saat itulah Valko mematikan suara televisi. Ruangan mendadak menjadi sunyi. Aku menoleh. Dia juga sedang menatapku. "Aku..." Suaranya terdengar pelan. "Ada yang mau aku bilang." Jantungku seolah berhenti sesaat. Apa yang mau dia katakan? Semakin lama dia menatapku, semakin panas wajahku terasa. Pipiku seperti terbakar. Bibirku ikut terasa hangat. Detak jantungku berdentum begitu keras hingga rasanya aku bisa mendengarnya sendiri. Tidak. Aku tidak sanggup. Belum. Sebelum Valko sempat melanjutkan kalimatnya, aku buru-buru berdiri. "A-aku..." Aku bahkan tidak tahu sedang mengatakan apa. "Ke toilet bentar!" Tanpa menunggu jawaban, aku langsung berlari menuju kamar mandi. Pintu kututup, lalu aku menyandarkan punggung ke sana sambil menutup wajah dengan kedua tangan. "...Astaga." Aku menarik napas panjang. Lalu mengembuskannya perlahan. Tanganku menepuk pelan kedua pipiku. "Tenang." Tep. "Kamu kenapa, sih..." Aku menatap bayanganku di cermin. Pipiku merah. Sangat merah. Aku bahkan malu melihat diriku sendiri. "Kalau dia cuma mau ngomong soal film gimana?" Aku mengerang pelan, "Jangan ge-er..." Beberapa menit kemudian, setelah merasa napasku mulai kembali normal, aku akhirnya memberanikan diri membuka pintu kamar mandi. Begitu melangkah keluar, aku melihat Valko berdiri di area pantry. Dia sedang membasuh wajahnya dengan air dari wastafel kecil, lalu mengambil handuk untuk mengeringkannya. Rambut merahnya sedikit basah di bagian depan. Sepertinya bukan cuma aku yang berusaha menenangkan diri. Dia menoleh. Tatapan kami kembali bertemu. Untuk sesaat, kami hanya saling diam. Lalu kami sama-sama tersenyum kecil. Senyum yang terasa begitu canggung hingga justru membuatku ingin tertawa. "Udah?" tanyanya pelan. "Iya." Aku mengangguk cepat. Lalu, sebelum keberanianku menghilang lagi, aku langsung mengambil tas. "Aku... pulang dulu, ya." "Sekarang?" "Iya." "Soalnya..." Aku menggaruk pelipis. "...udah sore." Padahal alasan sebenarnya jauh lebih memalukan. Aku hanya sedang salah tingkah. Kalau lebih lama lagi berada di apartemen ini, aku benar-benar tidak tahu harus memasang wajah seperti apa. Valko tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengangguk pelan. "Oke." ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Kami turun bersama hingga ke lobby. Begitu pintu lift terbuka, Valko langsung mengeluarkan ponselnya. "Aku panggil sopir." Aku langsung menggeleng. "Nggak usah." "Udah mulai sore." "Aku bisa pulang sendiri." "Setidaknya sampai halte." "Nggak apa-apa." Aku tersenyum meyakinkan. "Serius." Tanpa menunggu dia membujuk lagi, aku melangkah lebih dulu keluar dari gedung apartemen. "STOP, BERHENTI!!" Suara Valko terdengar memanggil dari belakang. Namun aku sudah lebih dulu mempercepat langkah. Entah karena masih malu. Entah karena ingin segera pulang sebelum wajahku kembali memerah. Aku berjalan cepat menuju seberang jalan. Yang kupikirkan hanya satu. Cepat pulang. Aku bahkan tidak sempat memperhatikan keadaan lalu lintas. Baru ketika kakiku menginjak badan jalan, terdengar suara klakson panjang yang memekakkan telinga. "TIIIIIN—!" Aku refleks menoleh. Sebuah truk besar melaju dari arah kanan. Terlalu dekat. Terlalu cepat. Tubuhku membeku. Aku tidak sempat bergerak. "AWAAASS!!" Suara Valko terdengar begitu dekat. Detik berikutnya... Sebuah dorongan keras menghantam tubuhku dari samping. Aku terlempar keluar dari jalur kendaraan dan jatuh terduduk di tepi jalan. Pandangan mataku berputar. Aku mengangkat kepala dengan napas yang masih tercekat. Lalu... Mataku membelalak. "V... Valko...?" Tubuh tinggi itu kini berada tepat di tempatku berdiri beberapa detik yang lalu. Dan sebelum siapa pun sempat melakukan apa pun... Brak! Suara benturan keras memecah jalanan. Dunia seolah berhenti berputar. Aku hanya mampu menatap kosong ke arah Valko, sementara seluruh suara di sekitarku perlahan menghilang, menyisakan satu kenyataan yang sulit kuterima. Orang yang seharusnya tertabrak adalah aku. Dan Valko... Memilih menggantikanku. ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Aku tidak langsung memahami apa yang baru saja terjadi. Duniaku seakan berhenti. Suara klakson yang tadi memekakkan telinga menghilang begitu saja, digantikan dengungan panjang yang memenuhi kepalaku. Orang-orang di sekitar mulai berteriak. Langkah kaki terdengar berlarian dari berbagai arah. Namun aku hanya bisa menatap ke depan. "Valko?" Suaraku nyaris tak terdengar. Tubuhku terasa ringan sekaligus berat. Aku mencoba berdiri, tetapi lututku seperti kehilangan tenaga. Pandanganku mulai kabur oleh air mata yang datang tanpa bisa kutahan. "Valko...!" Baru kali ini aku benar-benar berteriak sekeras itu. Aku berlari menghampirinya dengan langkah yang goyah. Tanganku gemetar hebat hingga aku bahkan kesulitan mengeluarkan ponsel dari dalam tas. "Tolong...!" Aku menoleh ke sekeliling dengan panik. "Tolong, ada yang tolong!" Beberapa orang sudah berkumpul. Ada yang menghubungi layanan darurat, ada yang berusaha mengatur lalu lintas yang mulai macet, dan ada yang mencoba menenangkan kerumunan agar tidak semakin mendekat. Tanganku terus gemetar saat mencoba membuka layar ponsel. Nomor ambulans mana? Kenapa aku tidak bisa berpikir? Air mataku jatuh tanpa henti hingga layar ponsel mulai buram. "Ayo... ayo..." Aku hampir tidak bisa menekan angka dengan benar. Saat itulah sebuah tangan menyentuh bahuku dengan lembut. "Nona." Aku menoleh. Seorang pria berseragam rapi berdiri di belakangku. Butuh beberapa detik sampai aku mengenalinya. Sopir yang tadi seharusnya mengantarkanku pulang. Entah sejak kapan dia sudah berada di sana. "Tenang, Nona." Suaranya rendah namun tegas. "Saya akan mengurus semuanya." "Tapi..." Suaraku pecah. "Valko..." "Saya sudah menghubungi bantuan." Beliau mengambil ponselku yang hampir terjatuh dari tanganku, lalu menggenggam kedua bahuku agar aku tetap berdiri. "Nona tarik napas dulu." Aku menggeleng berkali-kali. "Nggak..." "Aku mau ikut..." "Aku harus ikut..." Kalimatku bahkan tidak selesai karena tangisku kembali pecah. Sopir itu mengangguk pelan. "Baik, kita ikut ke rumah sakit." ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Perjalanan menuju rumah sakit terasa seperti mimpi buruk yang tidak kunjung selesai. Aku duduk dengan kedua tangan saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jariku memutih. Sepanjang jalan aku terus menatap keluar jendela, tetapi tidak benar-benar melihat apa pun. Yang terus terbayang hanya satu. Kalau saja tadi aku lebih hati-hati. Kalau saja aku tidak terburu-buru menyeberang. Kalau saja... Pikiran itu terus berulang tanpa henti. Koridor rumah sakit dipenuhi aroma antiseptik dan suara langkah kaki yang terburu-buru. Aku duduk di kursi ruang tunggu sambil menatap pintu yang sejak tadi tertutup. Setiap kali ada tenaga medis keluar, aku langsung berdiri dengan harapan mendapat kabar. Namun mereka hanya berlalu begitu saja. Waktu berjalan sangat lambat. Aku bahkan tidak tahu sudah berapa lama menunggu. Akhirnya seseorang dari pihak rumah sakit menghampiri kami untuk memberikan kabar awal. Valko sedang mendapatkan penanganan intensif. Kondisinya serius. Saat ini ia belum sadar. Kalimat-kalimat itu membuat kakiku kembali kehilangan tenaga. Aku terduduk pelan. Air mata yang sempat berhenti kembali mengalir. "Maaf..." Aku menunduk sambil menutupi wajah. "Maaf..." Entah kepada siapa aku meminta maaf. Kepada Valko. Kepada diriku sendiri. Atau kepada semua orang. Yang jelas, dadaku terasa begitu sesak.

Tidak lama kemudian, Bibi yang biasa mengurus apartemen Valko datang dengan wajah pucat. Begitu melihatku, beliau langsung menghampiri. "Ya ampun..." Beliau memegang kedua pundakku. "Kamu dari tadi di sini?" Aku hanya mengangguk pelan. Beliau menghela napas panjang. "Ayo minum dulu." Aku menggeleng. "Nggak mau..." "Kamu belum makan malam kan?" Aku tetap diam. Bibi membeli air mineral dan makanan hangat dari kantin rumah sakit, lalu meletakkannya di hadapanku. "Kalau kamu sakit, nanti gimana kalau Valko sudah sadar?" Kalimat itu akhirnya membuatku perlahan mengambil gelas yang beliau sodorkan. Tanganku masih gemetar. Aku hanya mampu menyesap sedikit air. Makanan itu hampir tidak tersentuh. Rasanya aku tidak sanggup menelan apa pun. ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Malam mulai turun. Lampu-lampu koridor rumah sakit terasa semakin terang di tengah langit yang menggelap. Ponselku tiba-tiba berdering. "Ibu." Aku mengusap cepat air mata sebelum mengangkat panggilan itu. "Halo?" "Kamu di mana, Nak?" Suaraku masih serak. "...Di rumah sakit." "Rumah sakit?" "Iya." "Aku nganter temen." Aku berhenti sejenak agar suaraku tidak kembali pecah. "Nanti... sebentar lagi aku diantar pulang sama sopirnya." Di ujung sana terdengar keheningan singkat. Mungkin Ibu mendengar suaraku yang masih bergetar. "Ya sudah." Beliau hanya berkata pelan. "Hati-hati di jalan." "Iya, Bu." Telepon pun berakhir tanpa pertanyaan lain. Aku tahu mereka pasti menyadari kalau aku sedang menangis. Mungkin mereka memilih menunggu sampai aku siap bercerita. ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Beberapa waktu kemudian, sopir Valko kembali menghampiriku. "Nona." Aku mengangkat kepala. "Ibu Tuan Valko sudah dalam perjalanan dari luar negeri." Aku terdiam. "Beliau akan langsung ke rumah sakit begitu tiba." Aku masih ragu meninggalkan tempat itu. Namun sopir dan Bibi terus meyakinkanku bahwa mereka akan tetap menemani Valko sepanjang malam. "Nona juga harus pulang dan istirahat." "Besok Nona bisa datang lagi." Aku memandang pintu ruang perawatan itu untuk terakhir kalinya malam itu. "Valko..." Namanya hanya mampu kuucapkan lirih. Dengan langkah yang terasa sangat berat, aku akhirnya mengikuti sopir keluar dari rumah sakit. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak mengenal Valko, perjalanan pulang terasa begitu sunyi. Dan aku terus berharap, berkali-kali, semoga saat membuka mata nanti, dia masih memiliki kesempatan untuk menepati janji kami menonton film bersama lagi. ⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°• Hari-hari setelah kecelakaan itu tetap berjalan.
Bel sekolah masih berbunyi setiap pagi.

Guru-guru tetap masuk kelas membawa setumpuk materi baru.
Teman-temanku masih bercanda saat jam istirahat, masih mengeluh ketika mendapat PR, masih ribut menjelang ulangan.

Semuanya tampak sama.

Kecuali...

Bangku di sebelahku.
Bangku itu kosong.

Awalnya semua orang mengira Valko hanya akan absen beberapa hari. Lalu seminggu. Kemudian dua minggu.


Setelah itu, tidak ada lagi yang berani menebak kapan ia akan kembali.
Aku masih duduk di tempat yang sama setiap hari.


Sesekali, tanpa sadar, aku menoleh ke kursi kosong itu saat guru menjelaskan pelajaran.
Masih berharap melihat rambut merah dan kacamata yang sudah begitu akrab di mataku.

Namun yang menyambutku hanya kursi yang tetap kosong. Menjelang kenaikan kelas, aku memberanikan diri menjenguk Valko.


Koridor rumah sakit masih terasa sama seperti terakhir kali aku datang. Aroma antiseptik memenuhi udara, sementara suara roda tempat tidur pasien dan langkah tenaga medis terdengar silih berganti.


Aku berdiri cukup lama di depan pintu ruang perawatannya sebelum akhirnya berani masuk.
Valko masih berbaring di sana. Matanya terpejam.


Mesin-mesin di samping tempat tidurnya terus bekerja dengan bunyi pelan yang terasa begitu asing sekaligus menyesakkan.


Aku menggenggam tali tas erat-erat. Begitu banyak kalimat yang sudah kusiapkan selama berhari-hari.


"Maaf."
"Cepat sembuh."
"Aku masih nunggu kamu balik sekolah."


Namun saat benar-benar melihatnya...
Tak satu pun berhasil keluar. Air mataku lebih dulu jatuh.


Aku menutup mulut dengan kedua tangan, berusaha menahan isak yang semakin sulit dikendalikan.


Saat itulah seorang wanita menghampiriku. Beliau wajah yang sangat mengingatkanku pada Valko.


"Tante ibunya Valko ya?"


Aku langsung menundukkan kepala,"Maaf..."

Kalimat itu akhirnya berhasil keluar.
"Maaf... semuanya karena aku..."


Beliau memegang kedua tanganku dengan lembut.


"Bukan."
Suaranya begitu tenang.


"Ini bukan salahmu."


"Tapi kalau waktu itu aku..." jawabku lemah.


Beliau menggeleng pelan.


"Valko membuat pilihannya sendiri."


Air mataku semakin deras. Aku bahkan tidak sanggup menatap wajah beliau. Yang kulakukan sepanjang berada di ruangan itu hanyalah menangis.


Sampai-sampai aku merasa justru ibunya Valko yang harus menenangkanku.


Beliau beberapa kali mengusap pelan punggungku dan menyuruhku duduk, sementara aku sama sekali tidak bisa menghentikan tangis.


Hari itu menjadi kunjungan pertamaku sekaligus yang terakhir.


Bukan karena aku tidak peduli. Justru karena aku terlalu peduli. Aku tidak sanggup melihat Valko terbaring diam seperti itu lagi.
⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•

Waktu terus berjalan. Aku naik ke kelas dua. Bangku di sebelahku kini ditempati murid lain.


Rutinitas baru perlahan terbentuk, tetapi ada bagian kecil dalam hidupku yang terasa tidak pernah benar-benar kembali seperti semula.


Suatu hari aku mendengar kabar dari teman-teman.


"Kamu tahu nggak? Aku dengar gosip dari guru. Valko udah nggak sekolah di sini. Katanya, perawatannya dipindahkan ke luar negeri.”


Aku hanya terdiam mendengarnya.
Untunglah, setidaknya keluarganya mampu melakukan itu.


Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana rumitnya memindahkan pasien yang masih membutuhkan perawatan intensif ke negara lain.


Pasti membutuhkan biaya yang sangat besar, belum lagi segala prosedur medis yang harus dipenuhi.


Di sisi lain, aku merasa sedikit lega.
Kalau keluarganya memilih membawa Valko ke luar negeri, berarti mereka masih memiliki harapan.

Harapan bahwa di sana ada pengobatan yang lebih baik.


Beberapa minggu kemudian, kabar lain kembali sampai ke telingaku.
"Katanya..."
"Valko sebenarnya udah sadar."


Aku spontan mengangkat kepala.
"Hah?"
"Iya. Tapi langsung ikut keluarganya pindah ke luar negeri."
"..."

Tanpa pamit. Tanpa kembali ke sekolah. Tanpa menemui siapa pun.
Aku tidak tahu apakah kabar itu benar atau hanya gosip yang beredar di antara murid-murid.
Namun entah kenapa. Dadaku tetap terasa nyeri. Malam itu aku membuka ponsel.
Jari-jariku berhenti di sebuah ruang obrolan yang sudah lama tidak bertambah isinya.


Nama Valko masih berada di sana. Pesan terakhir yang kukirim berbulan-bulan lalu masih menggantung tanpa balasan.


"Cepat sembuh, ya."


"Aku tunggu kamu balik."


Di bawahnya hanya ada penanda bahwa pesan telah terkirim.


Tidak pernah terbaca.


Aku menatap layar itu cukup lama. Kalau benar dia sudah sadar. Kenapa tidak pernah menghubungiku?


Apa dia memang tidak ingin berhubungan denganku lagi? Atau dia menyalahkanku?
Mungkin dia hanya ingin memulai hidup yang baru, jauh dari semua kenangan tentang kecelakaan itu?


Aku mungkin tidak akan pernah tahu.


Yang paling membuatku sesak adalah satu hal. Aku bahkan belum sempat meminta maaf secara langsung kepadanya.


Aku menutup layar ponsel perlahan. Di luar jendela, angin malam menggerakkan tirai tipis di kamarku. Aku teringat sebuah bunga yang pernah kulihat gambarnya di tote bag tempatku membawa novel yang kupinjam dari Valko.


Lily of the Valley.


Bunga kecil berwarna putih yang menggantung seperti lonceng-lonceng mungil.


Konon, bunga itu dibawa menuju gerbang surga untuk mengukur kemurnian hati dan jiwa.


Lily of the valley blooms were taken to the gates of heaven to measure the purity of the heart and soul.


Aku tersenyum tipis, meski air mata kembali mengaburkan pandangan.


Cinta pertamaku...


Tak pernah benar-benar memiliki kesempatan untuk tumbuh.


Ia layu sebelum berkembang.


Seperti setangkai lily of the valley yang gugur sebelum sempat mekar.


⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


The End?


No comments