Bunga Abadi

Cerita ini tentang Sylus di semesta yang belum kita jelajahi, mungkin berbeda dengan Sylus yang kita kenal. 

Dan kamu adalah pemeran utama kisah ini, kadang bernama Fleur, kadang dipanggil oleh nama lainnya.


Kamulah sang bunga abadi.





⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Gerimis tipis turun membasahi jalan utama kota yang dipenuhi bangunan batu bergaya Eropa.


Deretan toko dengan jendela-jendela besar mulai menyalakan lampu minyak satu per satu ketika langit sore berubah semakin kelabu.


Jalanan masih ramai oleh kereta kuda, pedagang yang buru-buru membereskan dagangan, dan para pejalan kaki yang berlindung di bawah payung hitam atau topi lebar.


Roda-roda kereta menggilas jalan berbatu yang basah, meninggalkan suara gemeretak bercampur derap kaki kuda yang saling bersahutan.


Di sudut jalan yang tidak begitu diperhatikan orang-orang, seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun berjalan pelan menyusuri deretan tempat sampah belakang toko roti.


Pakaiannya compang-camping, mantel tipisnya sudah terlalu kecil untuk tubuhnya, sementara celana lusuh yang dikenakan penuh noda lumpur.


Rambutnya berantakan karena hujan, menempel di dahi yang pucat. Di tangan kecilnya hanya ada sepotong roti keras yang entah ditemukan dari mana.


Anak itu bernama Sylus, dia sesekali mengintip ke dalam keranjang sampah lain, berharap masih ada sisa makanan yang belum membusuk.


Tidak banyak orang yang benar-benar melihatnya.

Kalaupun melihat, mereka hanya memilih berjalan lebih cepat.


Di saat yang sama, sebuah kereta kuda berwarna hitam melaju menyusuri jalan utama. Lambang keluarga bangsawan menghiasi pintunya, sementara dua ekor kuda putih menarik kereta dengan langkah teratur.


Kusir menjaga kecepatan karena jalan licin, tetapi keramaian sore membuat pandangan beberapa kali terhalang pejalan kaki.


Sylus yang terlalu fokus memperhatikan sesuatu di dekat roda gerobak tidak menyadari kereta itu sudah sangat dekat.


"Hei!" Teriakan kusir memecah keramaian.


Tali kekang ditarik sekuat tenaga. Kedua kuda meringkik keras sambil mengangkat kaki depan. Roda kereta berhenti hanya beberapa jengkal dari tubuh kecil Sylus.


Orang-orang spontan menoleh.

Beberapa menggeleng pelan.

"Anak jalanan lagi..."

"Untung belum terlindas."


Keramaian kembali bergerak seperti semula. Bagi sebagian besar orang, kejadian itu hanyalah gangguan kecil di penghujung hari.


Namun pintu kereta justru terbuka. Seorang wanita muda turun tanpa menunggu siapa pun membantunya.


Rok gaun panjang berwarna hitam dan maroon menyapu pelan permukaan jalan yang masih basah.


Payung segera dibuka oleh pelayan yang baru turun menyusul, tetapi wanita itu sudah lebih dulu menghampiri Sylus.


Ia berjongkok hingga tinggi pandang mereka sejajar.


"Apakah kau terluka?"

Suaranya lembut, tanpa nada memerintah.


Sylus hanya menatapnya waspada.

Tatapan mata anak itu tajam untuk ukuran usianya, seolah sudah terlalu sering bertemu orang yang datang membawa niat buruk.


Ia mundur setengah langkah. Wanita itu tidak memaksa. Barulah kini ia benar-benar memperhatikan keadaan Sylus.


Mantelnya sudah robek di beberapa bagian. Sepatunya berbeda sebelah, yang satu hampir tak memiliki sol. Pergelangan kakinya dipenuhi lumpur, dan di betis kirinya terlihat luka terbuka yang mulai mengering.


Tubuh anak itu juga jauh lebih kurus daripada seharusnya. Seolah makan layak adalah kemewahan yang sudah lama tidak dikenalnya.


Ekspresi wanita itu berubah tipis.

Bukan jijik, melainkan rasa bersalah.


"Maaf," ucapnya lirih. "Keretaku hampir mencelakaimu."


Sylus tetap diam, bahkan tampak bingung mengapa seorang bangsawan masih berdiri di depannya.


Biasanya, orang seperti itu hanya menyuruh pelayan mengusirnya agar tidak mengotori pemandangan.


Wanita itu tersenyum kecil.

"Namaku Fleur."


Tidak ada gelar yang ia sebutkan lebih dulu.

"Aku ingin memastikan kau baik-baik saja."


Sylus menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pelan, "Sylus."


Fleur mengalihkan pandangan sejenak ke luka di kakinya.

"Kau belum mengobatinya."


Sylus mengikuti arah pandangnya, lalu mengangkat bahu kecil.

"Sudah biasa."


Jawaban itu terdengar terlalu ringan untuk sesuatu yang seharusnya menyakitkan.

Fleur menarik napas pelan.


"Kalau begitu... mau ikut denganku?"


Sylus mengernyit.

"Untuk apa?"


"Membersihkan lukamu. Makan malam. Setelah itu kau bisa beristirahat."


Ia berhenti sesaat sebelum melanjutkan.

"Anggap saja sebagai permintaan maafku."


Sylus memandang kereta besar di belakang Fleur, lalu kembali menatap wajah wanita itu. Tidak ada nada mengejek ataupun rasa iba yang berlebihan. Hanya ketulusan yang terasa begitu asing.


Setelah beberapa detik yang sunyi, anak itu akhirnya mengangguk pelan.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Mansion keluarga Fleur berdiri megah di ujung kawasan bangsawan. Gerbang besi tinggi terbuka perlahan saat kereta memasuki halaman luas yang dipenuhi taman bunga dan pepohonan yang masih basah oleh hujan.


Sylus menatap bangunan itu tanpa berkedip.


Pilar-pilar tinggi menopang beranda depan, sementara cahaya hangat dari jendela-jendela besar membuat seluruh mansion tampak begitu hidup di tengah langit yang mulai gelap.


Ia belum pernah melihat rumah sebesar itu dari jarak sedekat ini. Bahkan menginjakkan kaki di halaman depannya saja terasa seperti kesalahan.


Beberapa pelayan sempat saling berpandangan ketika melihat Fleur turun bersama seorang anak jalanan. Meski begitu, tidak ada satu pun yang berani mempertanyakan keputusan nona muda mereka.


"Siapkan air hangat," kata Fleur tenang. "Dan panggil tabib keluarga untuk melihat luka di kakinya."

Perintah itu disampaikan seolah hal tersebut adalah sesuatu yang sepenuhnya wajar.


Sylus dibawa menuju kamar mandi tamu.


Air hangat menghapus lumpur yang selama ini menempel di tubuhnya. Rambutnya terlihat rapi setelah dicuci, sementara luka di kakinya dibersihkan hingga membuatnya beberapa kali meringis pelan.


Setelah selesai, seorang pelayan membantunya mengenakan kemeja putih sederhana, celana panjang yang pas, serta sepatu baru.


Sylus menatap dirinya sendiri cukup lama di depan cermin. Ia hampir tidak mengenali bayangan anak yang berdiri di sana.


Ketika turun menuju ruang makan, aroma makanan hangat langsung memenuhi hidungnya.


Meja panjang telah dipenuhi sup kental, roti yang baru keluar dari oven, daging panggang, sayuran rebus, serta pencuci mulut yang bahkan tidak diketahui namanya oleh Sylus.


Ia berdiri mematung.

Fleur yang sudah duduk lebih dulu memperhatikan reaksi itu sambil tersenyum tipis.

"Duduklah."


Sylus menurut perlahan.

Tangannya sempat ragu menyentuh sendok.


Ia mencuri pandang ke arah Fleur, memastikan apakah makanan sebanyak ini benar-benar boleh dimakan.


Fleur mengangguk kecil.

"Silakan."


Barulah Sylus mulai makan.

Awalnya perlahan.

Lalu semakin cepat.


Ia berusaha tetap sopan, tetapi rasa lapar yang sudah lama ditahan jauh lebih kuat daripada etika meja makan.


Fleur tidak menghentikannya. Justru sesekali ia menggeser keranjang roti agar lebih dekat ke arah Sylus ketika melihat anak itu diam-diam melirik isinya.


Malam itu mungkin menjadi pertama kalinya sejak waktu yang bahkan sudah tidak diingat Sylus, ia makan hingga benar-benar kenyang.


Setelah makan malam selesai, seorang pelayan mengantar Sylus menuju kamar tamu.


Ruangan itu sederhana dibanding bagian lain mansion, tetapi tetap terasa jauh lebih nyaman daripada tempat mana pun yang pernah ia tinggali.


Tempat tidur empuk, selimut tebal, perapian kecil yang menghangatkan ruangan, serta jendela yang memperlihatkan rintik hujan di taman belakang.


Sylus duduk di tepi ranjang dengan canggung.

Tangannya menekan kasur perlahan.


Empuk.

Terlalu empuk.


Ia bahkan sempat ragu apakah benar dirinya diizinkan tidur di sana. Tak lama kemudian, Fleur muncul di ambang pintu.


"Apa kamarnya nyaman?"


"Terima kasih," kata Sylus lirih.


Itu mungkin ucapan terima kasih pertama yang keluar dari mulutnya dalam waktu yang sangat lama.


Fleur hanya membalas dengan senyum kecil.

"Beristirahatlah. Besok pagi kita akan mencari rumahmu dan mengantarmu pulang."


Sylus memandang Fleur yang keluar dari kamarnya. Di luar, hujan masih turun pelan membasahi taman mansion.


Sementara di dalam kamar tamu yang hangat itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, seorang anak kecil bisa memejamkan mata tanpa harus mengkhawatirkan dinginnya malam atau rasa lapar yang membangunkannya sebelum fajar.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela-jendela tinggi mansion, menerangi koridor yang masih tenang.


Aroma teh yang baru diseduh dan roti hangat memenuhi udara, sementara para pelayan mulai menjalankan rutinitas mereka dengan langkah yang teratur.


Hujan semalam telah berhenti, menyisakan embun di taman dan langit pucat yang bersih.


Di ruang makan kecil yang biasa digunakan untuk sarapan, Sylus duduk dengan jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya. Pakaian bersih yang dikenakannya masih terasa asing di tubuhnya.


Tangannya sesekali merapikan lengan kemeja, seolah khawatir mengotorinya.


Fleur datang beberapa saat kemudian dengan gaun berwarna krem sederhana.


Rambut panjangnya yang berwarna putih keemasan dibiarkan tergerai sebagian, hanya dijepit di belakang telinga. Ia tersenyum saat melihat piring Sylus sudah hampir kosong.


"Selamat pagi."


Sylus mengangguk pelan, "Pagi."


Keheningan sesaat terasa nyaman. Fleur menuangkan teh ke cangkirnya sendiri sebelum akhirnya mengangkat pandangan.


"Setelah sarapan selesai, aku akan mengantarmu pulang."


Ucapan itu membuat tangan Sylus berhenti.

Ia menatap meja beberapa detik.


"Aku... tidak punya rumah."


Fleur mengernyit tipis.

"Kalau begitu, bagaimana dengan keluargamu?"


Sylus menggeleng tanpa ragu.

"Tidak ada."

Jawabannya singkat, datar, seolah sedang menceritakan cuaca hari ini.


Fleur kembali bertanya dengan hati-hati.

"Siapa yang merawatmu selama ini?"


"Tidak ada."


"Lalu kau tinggal di mana?"


Sylus menunduk.

"Di bawah jembatan dekat pasar."


Ia mengangkat bahu kecil, seolah tempat itu sudah cukup layak disebut rumah.

"Kalau lapar, aku mengemis. Kadang dapat sisa makanan."


Fleur terdiam. Ia tidak menemukan nada mengeluh dalam suara anak itu. Yang ada justru penerimaan.


Seolah kehidupan seperti itu memang sudah sewajarnya. Dan justru itulah yang paling membuat hatinya sesak.


Siang harinya, Fleur meminta kepala pelayan menemuinya di ruang kerja kecil yang menghadap taman belakang.


Kepala pelayan adalah seorang pria paruh baya berambut abu-abu yang telah mengabdi selama puluhan tahun, saat ini berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung.


Wajahnya tenang, tetapi tatapannya cukup tajam untuk menangkap alasan mengapa nona mudanya memanggilnya.


"Bagaimana pendapatmu tentang anak itu?" tanya Fleur.


Pria itu tidak langsung menjawab.

"Saya sudah memperhatikannya sejak kemarin."


"Dan?"


"Dia sangat berhati-hati."


Fleur sedikit memiringkan kepala.


"Kemarin malam dia tidak menyentuh apa pun di kamar tamu selain tempat tidur. Setelah bangun pagi, dia bahkan melipat selimutnya sendiri."


Ia berhenti sejenak.


"Ketika para pelayan bekerja, matanya terus mengikuti mereka. Bukan karena penasaran, melainkan karena mencoba memahami apa yang harus dilakukan."


Fleur tersenyum tipis. Ia juga menyadari hal yang sama.

Sylus selalu mengamati lebih dulu sebelum bergerak.


"Anak itu cepat belajar," lanjut kepala pelayan. "Dan disiplin."


"Tetapi?"


"Dia belum pernah mendapatkan pendidikan."


Fleur mengangguk pelan.

"Itu bisa dipelajari."


Kepala pelayan memandang nona mudanya beberapa saat sebelum akhirnya bertanya,

"Apakah Nona ingin mempertahankannya di mansion?"


Fleur tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab.

"Ya."


"Sebagai pelayan?"


"Sebagai calon butler pribadi."


Ruangan kembali sunyi beberapa detik.

Kepala pelayan akhirnya menganggukkan kepala.


"Kalau begitu, izinkan saya yang mendidiknya."


Senyum Fleur melebar, kali ini benar-benar lega.

"Terima kasih."



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Hari itu juga, Sylus dipanggil ke aula depan.

Ia berdiri dengan gugup di hadapan Fleur dan kepala pelayan.


Kedua tangannya mengepal kecil di sisi tubuh, bersiap mendengar keputusan apa pun.


Fleur melangkah mendekatinya.

"Sylus, kalau kau mau... kau boleh tinggal di sini."


Mata cemerlang Sylus sedikit membesar.


"Tapi ada syarat."


Anak itu kembali menegakkan badan.


"Kau harus belajar membaca. Menulis. Etika. Dan menjadi pelayan yang baik."


Sylus memandang Fleur seolah belum benar-benar memahami maksudnya.

"Aku boleh tinggal dan makan gratis?"


Fleur mengangguk sambil tersenyum kecil.

"Setiap hari."


Anak itu terdiam cukup lama.


Fleur menjelaskan panjang lebar.

”Aku tidak pernah berencana memiliki anak ataupun adik. Tapi aku membutuhkan pelayan yang cekatan.”


Sylus membungkukkan badan dalam-dalam.

"Aku akan bekerja keras."


Itu bukan janji yang diucapkan dengan suara lantang.

Namun seluruh orang di ruangan itu tahu, anak tersebut sungguh bersungguh-sungguh.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Hari-hari berganti menjadi minggu.

Minggu berubah menjadi bulan.


Lalu tahun demi tahun berlalu tanpa benar-benar terasa.


Di perpustakaan yang dipenuhi rak-rak kayu tinggi, Sylus kecil duduk dengan punggung tegak. Sebuah buku anak terbuka di depannya.


Malam demi malam ia mengeja kata demi kata hingga akhirnya mampu membaca halaman demi halaman tanpa bantuan siapa pun.


Di dapur, ia berlatih membawa nampan berisi teko teh. Awalnya selalu bergoyang tidak stabil dan tumpah.


Hingga suatu hari, ia mampu berjalan melewati lorong panjang tanpa setetes teh pun bergoyang.


Di halaman belakang mansion yang luas, seorang instruktur mengajarinya berkuda.


Beberapa kali Sylus hampir terjatuh tapi kembali mencoba hingga akhirnya mampu mengendalikan kuda dengan tenang menyusuri hutan di sekitar perkebunan.


Latihan demi latihan menguatkan tubuhnya yang dulu kurus. Bahunya menjadi lebih lebar, langkahnya semakin mantap, dan tatapannya yang sejak kecil sudah tajam kini dipadukan dengan ketenangan yang sulit ditemukan pada pemuda seusianya.


Ia belajar membaca situasi.


Mengamati orang asing.


Memastikan jalur perjalanan aman.


Berdiri setengah langkah di belakang Fleur, cukup dekat untuk melindungi, tetapi tidak pernah menghalangi.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Musim terus berganti.


Pepohonan di taman mansion berkali-kali merontokkan daun dan menumbuhkan tunas baru.


Anak kecil yang dulu nyaris tertabrak kereta kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda.


Tubuhnya tinggi dan tegap. Rambutnya selalu tersisir rapi. Seragam pelayan melekat sempurna di tubuhnya.


Setiap gerakan tampak tenang, efisien, dan nyaris tanpa suara.


Pagi itu, di aula utama mansion, seluruh pelayan berkumpul.


Kepala pelayan berdiri di depan mereka dengan wajah yang sedikit lebih hangat dari biasanya.


"Sylus."


Pemuda itu maju satu langkah.


"Hari ini usiamu genap delapan belas tahun."


Kepala pelayan menyerahkan sepasang sarung tangan putih baru, simbol yang selama bertahun-tahun hanya dikenakan oleh pelayan yang telah dipercaya memegang tanggung jawab penuh.


"Dengan ini, kau resmi diangkat sebagai butler pribadi Nona Fleur."


Ruangan dipenuhi tepuk tangan kecil dari para pelayan.


Tidak ada yang memprotes keputusan itu.


Mereka telah melihat sendiri perjalanan Sylus sejak hari pertama ia datang dengan pakaian compang-camping dan kaki yang terluka.


Kini, pemuda itu membungkuk hormat di hadapan Fleur.


"Mulai hari ini," ucapnya tenang, "izinkan saya melayani dan menjaga Anda dengan sebaik mungkin, Nona."


Fleur menatapnya beberapa saat, lalu tersenyum lembut.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Musim terus berganti tanpa benar-benar mengubah ritme kehidupan di mansion keluarga Fleur.


Tahun demi tahun berlalu dalam kesibukan yang hampir selalu sama.


Jadwal perjalanan, kunjungan sosial, urusan perkebunan, hingga pertemuan dengan keluarga bangsawan lain mengisi hari-hari mereka.


Dan selama bertahun-tahun itu pula, Sylus mulai menyadari ada banyak kebiasaan Fleur yang terasa tidak biasa.


Awalnya hanya hal-hal kecil.


Lalu semakin lama, semakin sulit diabaikan.


Setiap kali Fleur bepergian keluar mansion, persiapannya selalu sama.


Seorang pelayan membawa payung berukuran besar.


Pelayan lain menyiapkan topi lebar berhias pita yang cukup untuk menaungi hampir seluruh wajahnya.


Sarung tangan panjang berwarna senada selalu dikenakan sebelum ia melangkah keluar pintu. Bahkan ketika cuaca mendung sekalipun.


Awalnya Sylus mengira semua itu hanyalah bagian dari etika berpakaian seorang bangsawan. Namun seiring waktu, ia mulai menyadari polanya.


Suatu siang di awal musim panas, mereka sedang melakukan perjalanan menuju kota tetangga dengan kereta kuda.


Jalan pedesaan membelah hamparan ladang gandum yang menguning. Matahari bersinar terik tanpa sepotong awan pun yang menutupi langit.


Kereta berhenti sejenak di sebuah taman kota agar kuda-kuda dapat beristirahat.


Fleur turun ditemani Sylus.


Payung segera dibuka.


Topi lebarnya masih menutupi sebagian besar wajah.


Mereka berjalan menyusuri jalur batu di antara pepohonan. Angin musim panas bertiup pelan membawa aroma bunga dan rerumputan yang baru dipangkas.


Anak-anak berlarian mengejar kupu-kupu, sementara para bangsawan duduk santai menikmati sore.


Semuanya tampak biasa. Hingga matahari perlahan bergeser.


Cahaya yang semula terhalang pepohonan mulai mengenai jalan setapak tempat mereka berjalan.


Sylus yang berada setengah langkah di belakang langsung melihat perubahan itu.


Langkah Fleur melambat.


Wajahnya kehilangan warna.


Jari-jarinya yang memegang gagang payung sedikit menegang.


"Nona?"


Fleur berhenti sebentar.


Ia menarik napas pelan, seolah sekadar merasa lelah.


"Kita pulang."


Sylus segera memberi isyarat kepada kusir. Seluruh jadwal hari itu dibatalkan begitu saja. Tidak ada seorang pelayan pun yang terlihat terkejut, seolah kejadian seperti itu sudah pernah terjadi sebelumnya.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


Sesampainya di mansion, Fleur langsung masuk ke kamarnya dan baru keluar menjelang malam dengan wajah yang kembali seperti biasa.


Tidak ada tabib yang dipanggil. Tidak ada obat yang diminum di depan orang lain.


Seolah sakitnya menghilang bersama tenggelamnya matahari.


Perjalanan demi perjalanan memperlihatkan pola yang sama.


Di dalam kereta, tirai selalu ditutup rapat jika matahari terlalu terang.


Saat menghadiri acara di luar kota, penginapan yang dipilih selalu memiliki kamar dengan jendela tebal yang mudah ditutup.


Jika perjalanan memakan waktu terlalu lama pada siang hari, Fleur akan memilih beristirahat sampai sore sebelum melanjutkan aktivitas.


Tak seorang pun pernah mempertanyakannya.


Dan Sylus juga tidak.


Belum.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Hal lain yang mulai mengusik pikirannya adalah waktu makan.


Awalnya ia tidak menyadarinya.


Sebagai butler muda, fokusnya selalu memastikan makanan tersaji tepat waktu, minuman tetap hangat, dan semua kebutuhan Fleur terpenuhi.


Namun setelah bertahun-tahun melayani orang yang sama setiap hari, kebiasaan sekecil apa pun akan sulit luput dari perhatian.


Sarapan.


Fleur hanya duduk menemani dengan secangkir teh. Kadang sedikit buah lalu selesai.


Makan siang.


Piring utama hampir tidak pernah disentuh.


Makan malam.


Meja makan selalu dipenuhi hidangan terbaik hasil kerja para koki mansion. Daging panggang, sup hangat, roti segar, ikan, sayuran, hingga pencuci mulut berganti setiap hari.


Namun yang benar-benar berkurang justru isi gelas wine merah di samping Fleur.


Suatu malam, setelah para pelayan lain keluar dari ruang makan, Sylus memberanikan diri berbicara.


"Nona."


Fleur mengangkat pandangan dari gelasnya.


"Ya?"


"Anda hampir tidak makan."


Fleur tersenyum tipis.


"Aku belum lapar."


"Bukankah Anda juga mengatakan hal yang sama tadi siang?"


"Hm."


"Dan kemarin."


Fleur hanya terkekeh kecil.


"Aku memang belum lapar."


Pembicaraan berhenti sampai di sana.


Sylus tidak melanjutkan pertanyaan.


Namun sejak malam itu, ia mulai benar-benar memperhatikan bahwa Fleur tidak menikmati makanan sebagaimana orang lain.


Wine merah tetap menjadi satu-satunya yang benar-benar habis.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Fleur juga hampir tidak pernah menghadiri pesta para bangsawan.


Undangan datang hampir setiap bulan.


Sebagian ditolak dengan sopan atau hanya diwakili oleh kepala pelayan.


Kalaupun akhirnya hadir, biasanya karena tidak ada alasan yang cukup kuat untuk menolak.


Malam itu, sebuah pesta musim dingin digelar di mansion keluarga bangsawan terkemuka di kota lain.


Gedung dansa dipenuhi lampu kristal yang memantulkan cahaya ke seluruh ruangan.


Alunan musik orkestra mengiringi para tamu yang berdansa di lantai marmer.


Aroma parfum mahal bercampur dengan bunga segar memenuhi udara.


Sylus berdiri tidak jauh dari pintu utama, seperti biasa mengawasi keadaan.


Tatapannya sesekali mengikuti Fleur.


Gaun biru tua panjang yang dikenakannya tampak elegan tanpa berlebihan. Kalung mutiara sederhana menghiasi lehernya.


Rambutnya disanggul rapi, sementara sarung tangan putih tetap menutupi kedua tangannya.


Tak butuh waktu lama sebelum beberapa bangsawan menghampiri.


"Nona, saya belum pernah melihat Anda sebelumnya."


Fleur tersenyum ramah dan memperkenalkan diri, "Nama saya Rosa, keponakan Lady Dahlia."


Nama itu langsung memancing reaksi.


"Lady Dahlia?"


"Sungguh?"


"Kalau dipikir-pikir..."


Seorang wanita paruh baya menatap Fleur lebih lama.

"Anda benar-benar mirip mendiang Lady Dahlia saat masih muda."


Ucapan itu segera diamini beberapa orang lain.


"Senyumnya juga sama."


"Bahkan warna rambutnya."


"Seolah melihat Lady Dahlia hidup kembali."


Fleur hanya tersenyum sopan. Percakapan segera berganti ke topik lain. Namun Sylus tetap memperhatikan dari kejauhan.


Selama bertahun-tahun mengabdi, ia belum pernah sekali pun mendengar Fleur memperkenalkan dirinya dengan nama asli di hadapan bangsawan luar.


Dan anehnya tidak ada seorang pun yang pernah meragukannya.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Malam semakin larut ketika mereka akhirnya kembali ke mansion.


Sylus membantu Fleur melepas mantel luarnya sebelum memastikan semua pintu dan jendela telah dikunci.


Rutinitas sama yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun.


Setelah semua selesai, ia kembali ke kamarnya.


Di depan cermin tinggi, Sylus berhenti. Pantulan seorang pria dewasa menatap balik ke arahnya.


Bahu yang dulu sempit kini tegap. Rahangnya mulai tegas. Tubuhnya tinggi dan atletis hasil latihan bertahun-tahun.


Usianya kini dua puluh tahun.


Tanpa sadar, pikirannya melayang pada hari pertama ia datang ke mansion.


Anak kurus dengan pakaian lusuh itu terasa seperti orang lain.


Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki di koridor.


Pintu kamar sedikit terbuka ketika Fleur lewat di depannya, ditemani seorang pelayan yang membawa lampu minyak.


Sylus menoleh.


Lalu membandingkan pantulan dirinya di cermin dengan sosok Fleur yang tercermin samar dari balik pintu.


Sepuluh tahun telah berlalu. Ia telah tumbuh dari seorang anak menjadi pria dewasa. Namun Fleur masih sama.


Wajahnya tetap semuda hari ketika pertama kali turun dari kereta untuk menghampirinya di tengah gerimis.


Masih tampak seperti seorang gadis berusia sekitar dua puluh satu tahun.


Tidak ada garis halus. Tidak ada perubahan yang berarti.


Seolah sepuluh tahun terakhir sama sekali tidak meninggalkan jejak pada dirinya.


Sylus memandang bayangan itu beberapa saat lebih lama dari biasanya.


Lalu, untuk pertama kalinya, sebuah pertanyaan yang selama ini hanya berdiam di sudut pikirannya mulai terdengar semakin jelas.


Siapa sebenarnya Nona Fleur?



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Sore itu mansion terasa jauh lebih lengang dari biasanya.


Fleur sedang melakukan kunjungan ke perkebunan keluarga di kota sebelah.


Perjalanan itu diperkirakan baru selesai menjelang malam, sehingga sebagian besar pelayan memanfaatkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan yang jarang sempat disentuh saat sang nona berada di rumah.


Di lorong utama terdengar langkah para pelayan yang hilir mudik membawa kain lap, kotak perlengkapan, dan tumpukan buku.


Jendela-jendela besar dibiarkan terbuka agar udara musim gugur yang sejuk masuk ke dalam mansion.


Cahaya matahari sore menerobos sela tirai, memantulkan debu-debu halus yang melayang tenang di udara.


"Kepala pelayan meminta gudang penyimpanan perpustakaan dibersihkan hari ini."


Seorang pelayan muda menyerahkan seikat kunci kepada Sylus.


"Katanya sudah bertahun-tahun belum dibuka."


Sylus mengangguk singkat. "Aku akan mengurusnya."



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Gudang penyimpanan berada di belakang perpustakaan utama, tersembunyi di balik pintu kayu tua yang hampir menyatu dengan rak-rak buku tinggi.


Ruangan itu dipenuhi aroma kayu lapuk, kulit buku, dan debu yang mengendap selama bertahun-tahun.


Begitu pintu dibuka, sinar matahari sore masuk melalui jendela kecil di dekat langit-langit, menerangi tumpukan peti, rak arsip, serta furnitur lama yang sudah tidak digunakan.


Sylus mulai bekerja seperti biasa. Memeriksa isi rak. Memilah barang yang masih layak dipakai. Menutup kembali dokumen keluarga yang tidak boleh disentuh.


Hingga pandangannya berhenti pada sebuah peti kayu besar di sudut ruangan.


Peti itu berbeda dari yang lain. Kayunya jauh lebih tua.


Lapisan debu yang tebal menandakan sudah sangat lama tidak dibuka.


Sylus berlutut di depannya.


Kuncinya masih tergantung, sedikit berkarat. Ia memutarnya perlahan hingga terdengar bunyi klik pelan.


Saat tutup peti diangkat, aroma kanvas tua dan cat minyak langsung memenuhi udara.


Di dalamnya tersusun rapi puluhan lukisan. Masing-masing dibungkus kain pelindung. Sylus mengangkat lukisan paling atas dengan hati-hati.


Seorang wanita muda berdiri di taman bunga mengenakan gaun berwarna merah tua. Rambut panjangnya disanggul sederhana mengikuti mode zamannya.


Di sudut bingkai tertulis sebuah keterangan kecil.


Lady Rosa.


10 tahun lalu.


Sylus hanya mengangguk pelan.


Ia pernah mendengar nama itu, nama yang selalu digunakan Fleur setiap menghadiri pesta bangsawan.


Tanpa berpikir panjang, ia mengambil lukisan berikutnya.


Seorang wanita lain mengenakan gaun hijau zamrud dengan potongan yang jauh lebih kuno. Rambutnya ditata lebih tinggi, dipenuhi hiasan bunga kecil.


Di bawahnya tertulis,


Lady Dahlia, dengan keterangan dibuat 53 tahun lalu.


Sylus hendak menyimpan kembali lukisan itu. Namun tangannya perlahan berhenti. Tatapannya kembali naik ke wajah wanita dalam lukisan.


Matanya.


Bentuk bibirnya.


Lengkungan alisnya.


Wajah itu persis Fleur.


Bukan sekadar mirip tapi benar-benar sama.


Hanya model rambut dan pakaiannya yang berbeda mengikuti zaman. Tidak ada satu garis usia pun.


Ia mengernyit pelan. Mungkin hanya kebetulan. Atau memang anggota keluarga mereka sangat mirip.


Sylus mengambil lukisan berikutnya.


Kali ini gaunnya jauh lebih sederhana dengan potongan yang sudah sangat jarang ditemukan. Di pojok lukisan tertulis 97 tahun lalu.


Wajah yang sama.


Ia membuka satu lagi.


132 tahun lalu.


Masih wajah yang sama.


Lukisan berikutnya.


Gaunnya berubah menjadi model yang bahkan hanya pernah ia lihat di buku sejarah keluarga. Warna catnya mulai memudar dimakan usia.


Tulisan kecil di bagian bawah membuat napasnya tertahan.


185 tahun lalu.


Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi.


Sylus meletakkan seluruh lukisan itu berjajar di lantai.


Puluhan wajah memandang ke arahnya dari masa yang berbeda.


Ada yang memakai gaun hitam.


Gaun putih gading.


Model rambut pendek.


Disanggul tinggi.


Dikepang.


Namun wajahnya selalu wajah Fleur.


Tidak ada keriput. Tidak ada perubahan bentuk wajah. Tidak ada tanda-tanda bertambah usia.


Seolah pelukis yang berbeda-beda selama hampir dua abad tanpa sengaja terus melukis orang yang sama.


Sylus berdiri cukup lama tanpa bergerak.


Debu masih beterbangan diterpa cahaya sore.


Namun pikirannya sudah berada jauh di tempat lain.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Menjelang petang, setelah seluruh lukisan dikembalikan ke dalam peti, Sylus menutup gudang dan berjalan menuju halaman belakang.


Di sana, seorang pelayan tua sedang memangkas semak mawar dengan gunting kebun.


Rambut pria itu sudah memutih seluruhnya.


Punggungnya sedikit membungkuk dimakan usia.


Ia termasuk salah satu pelayan paling senior di mansion, bahkan sudah bekerja sejak sebelum kepala pelayan sekarang menjabat.


Sylus menghampirinya sambil membantu mengangkat keranjang ranting yang sudah dipotong.


"Ada yang bisa kubantu?"


Pelayan tua itu tersenyum.


"Kau sudah membantu."


Beberapa saat mereka bekerja dalam diam.


Hanya terdengar bunyi gunting yang memotong ranting dan suara burung dari pepohonan.


Sylus membuka percakapan dengan nada yang sengaja dibuat ringan.


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tentu."


"Apa benar Lady Fleur... tidak pernah berubah?"


Tangan pelayan tua itu berhenti sesaat. Bukan karena terkejut. Melainkan seperti seseorang yang baru mendengar pertanyaan lama yang kembali diulang.


Ia mengangkat wajahnya perlahan. Lalu tersenyum kecil.


"Saat seusiamu..." Ia terkekeh pelan. "...aku juga pernah bertanya begitu."


Sylus menunggu kelanjutannya. Pelayan tua itu kembali memangkas ranting dengan santai.


"Ayahku bekerja di mansion ini sebelum aku. Waktu itu aku bertanya kepadanya."

Pria tua itu menatap bunga mawar yang baru dipotong.


'Kenapa wajah nona tidak berubah?'


Ia tersenyum lagi, kali ini lebih tipis.


"Dan tahu jawaban ayahku?"


Sylus menggeleng.


Pelayan tua itu hanya mengangkat bahu.


"Dia juga hanya tersenyum."


Percakapan itu berakhir begitu saja. Seolah pertanyaan tersebut memang selalu dibiarkan tetap menjadi pertanyaan.


Malam harinya, Sylus kembali ke kamarnya.


Lukisan-lukisan itu terus memenuhi pikirannya. Bagaimana mungkin lukisan yang terpaut lebih dari seratus tahun memiliki wajah identik?


Dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di mansion itu, ia mulai bertanya-tanya apakah rahasia yang disembunyikan Fleur jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Satu bulan berlalu tanpa kejadian berarti. Tapi malam ini Sylus terbangun tanpa alasan yang jelas.


Bertahun-tahun sebagai butler membuat tidurnya tidak pernah benar-benar lelap. Sedikit suara saja sudah cukup membuat matanya terbuka.


Ia mengerjapkan mata, membiasakan diri dengan gelapnya kamar.


Sylus segera bangkit dari tempat tidur. Ia mengenakan mantel tipis di atas pakaian tidurnya, lalu membuka pintu kamar dengan hati-hati agar engselnya tidak berbunyi.


Koridor kosong.


Tidak ada pelayan yang berjaga.


Keadaan itu sendiri sudah terasa aneh.


Ia melangkah tanpa suara menuju balkon lantai dua yang menghadap halaman depan.


Dari sana, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya.

Fleur.


Wanita itu berjalan sendirian menuruni anak tangga depan mansion.


Gaun tidurnya tertutup jubah hitam panjang dengan tudung yang menutupi sebagian wajah.


Tidak ada koper perjalanan. Tidak ada kusir yang menyiapkan kereta. Tidak ada pengawal yang biasanya selalu menemaninya.


Ia benar-benar pergi seorang diri.


Sylus mengernyit. Sejak menjadi butler pribadi Fleur, ia tidak pernah sekalipun melihat nona mudanya meninggalkan mansion tanpa pemberitahuan.

Apalagi di tengah malam.


Begitu Fleur melewati gerbang utama, Sylus mengambil keputusan. Ia akan mengikutinya.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Udara malam terasa dingin ketika Sylus melompati pagar samping taman agar tidak perlu membuka gerbang yang bisa menimbulkan suara.


Bulan purnama menggantung tinggi di langit tanpa tertutup awan sedikit pun. Cahayanya cukup terang untuk menerangi jalan setapak menuju hutan di belakang mansion.


Fleur berjalan dengan langkah tenang. Tidak sekali pun ia menoleh ke belakang. Jubah hitamnya bergoyang pelan tertiup angin malam.


Sylus menjaga jarak beberapa puluh meter. Ia bergerak dari balik pohon ke balik semak, memanfaatkan bayangan pepohonan agar tidak terlihat.


Semakin jauh mereka memasuki hutan, suasana semakin sunyi. Suara jangkrik perlahan menghilang.


Yang tersisa hanya desir dedaunan dan embusan angin yang melewati ranting-ranting tua. Aroma tanah lembap memenuhi udara.


Fleur akhirnya berhenti di sebuah tanah lapang kecil yang dikelilingi pohon-pohon besar.


Sinar bulan jatuh tepat di tengah area itu.


Sylus berlindung di balik batang pohon yang cukup besar, lalu mengamati dari kejauhan.


Beberapa detik berlalu. Tidak terjadi apa-apa.


Lalu terdengar suara langkah ringan dari balik semak.


Seekor rusa keluar perlahan.


Hewan itu tampak sama sekali tidak merasa terancam. Ia hanya mengangkat kepala, mengendus udara malam, kemudian melangkah beberapa meter mendekati Fleur.


Fleur tidak bergerak.

Ia hanya memandang rusa itu dengan tenang.


Saat itulah sesuatu berubah.

Sylus melihatnya dengan jelas.


Warna mata Fleur yang biasanya berwarna abu-abu lembut perlahan berubah menjadi merah dan semakin terang. Seolah dua bara kecil menyala di tengah gelapnya malam.


Napas Sylus tertahan. Belum sempat ia memahami apa yang sedang dilihatnya, ujung bibir Fleur sedikit terbuka.


Dua taring putih memanjang perlahan. Tidak terlalu besar. Namun cukup jelas untuk membuat seluruh tubuh Sylus menegang.


Dalam satu kedipan mata...


Fleur menghilang.


Tidak, ternyata bukan menghilang.


Gerakannya begitu cepat hingga mata manusia hampir tidak mampu mengikutinya.


Sesaat kemudian, ia sudah berdiri di sisi rusa.


Hewan itu bahkan tidak sempat berlari. Tubuhnya roboh pelan ke rerumputan.


Hutan kembali sunyi.


Fleur berlutut di samping rusa tersebut. Kepalanya sedikit menunduk. Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah.


Sylus tidak dapat melihat semuanya dengan jelas dari kejauhan, tetapi ia melihat cukup banyak untuk memahami apa yang sedang terjadi.


Fleur meminum darah rusa itu. Tangannya menopang tubuh hewan tersebut dengan hati-hati, seolah berusaha membuatnya tidak menderita lebih lama dari yang diperlukan.


Tidak ada keganasan. Tidak ada amarah.

Yang terlihat justru ketenangan yang ganjil.


Seolah tindakan itu adalah sesuatu yang telah ia lakukan berkali-kali selama waktu yang sangat panjang.


Pikiran Sylus seketika dipenuhi potongan-potongan ingatan.


Tidak pernah tahan berada di bawah matahari.


Hampir tidak pernah makan kecuali wine merah yang selalu dihabiskan.


Wajah yang tidak berubah selama hampir dua abad.


Seluruh kepingan yang selama ini berdiri sendiri mulai membentuk satu jawaban.


Jantung Sylus berdetak semakin cepat. Tanpa sadar, ia mundur setengah langkah. Kakinya menginjak sepotong ranting kering yang memecah kesunyian hutan.


Sylus membeku.


Di tengah tanah lapang, Fleur perlahan mengangkat kepalanya. Gerakannya tidak tergesa. Namun justru itulah yang membuat bulu kuduk Sylus berdiri.


Tatapan merah itu langsung mengarah tepat ke tempat persembunyiannya. Tidak meleset sedikit pun. Seolah sejak awal ia sudah tahu ada seseorang yang mengikutinya.


Beberapa detik berlalu. Tidak ada yang bergerak. Angin malam kembali berembus pelan, menggoyangkan dedaunan di atas mereka.


Akhirnya, Sylus melangkah keluar dari balik pohon.

Tak ada lagi gunanya bersembunyi. Ia berdiri di bawah cahaya bulan, menatap Fleur dari kejauhan.


Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun terakhir.

Ia melihat mata merah itu menatap langsung ke arahnya.


Tatapan yang asing.


Ia mengusap pelan sudut bibirnya dengan sapu tangan putih yang dibawanya dari balik jubah, lalu berdiri tegak menghadap Sylus.


Sorot merah di matanya perlahan mulai meredup, meski belum sepenuhnya kembali seperti semula.


Keheningan kembali menyelimuti hutan.

Tak satu pun dari mereka segera berbicara.


Hingga akhirnya Fleur memecah kesunyian dengan suara yang tetap setenang biasanya.

"Sudah waktunya kau tahu."



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Kabut tipis masih menggantung di atas taman mansion ketika mereka kembali dari hutan.


Langit di ufuk timur mulai berubah menjadi biru pucat, pertanda fajar tidak lama lagi akan tiba. Burung-burung belum sepenuhnya terbangun.


Hanya suara dedaunan yang bergesekan pelan diterpa angin dini hari yang mengisi keheningan.


Fleur tidak kembali masuk ke dalam mansion.


Ia justru berjalan menuju sebuah gazebo tua di tengah taman. Bangunan kayu itu dikelilingi mawar putih dan tanaman merambat yang menutupi sebagian atapnya.


Pepohonan besar di sekitarnya masih menciptakan bayangan yang cukup lebat, membuat sinar matahari pertama belum mampu menjangkaunya.


Fleur duduk di bangku kayu menghadap kolam kecil.

Sylus berdiri beberapa langkah di belakangnya.


Ia masih belum mampu menghilangkan bayangan mata merah yang dilihatnya beberapa menit lalu.


"Silakan duduk."


Suara Fleur terdengar tenang, sama seperti biasanya.

Sylus akhirnya duduk di bangku yang berseberangan.

Untuk beberapa saat, tak ada seorang pun yang berbicara.


Fleur memandangi permukaan kolam yang tenang sebelum akhirnya menarik napas pelan.


"Aku rasa kau sudah menebak sebagian jawabannya."


Sylus mengangguk perlahan.

"Tapi aku ingin mendengarnya langsung."


Fleur menoleh kepadanya.

Sorot matanya kini telah kembali seperti semula.

"Aku vampir."


Kalimat itu diucapkan tanpa ragu tanpa berusaha membuatnya terdengar lebih ringan.


"Aku bisa makan seperti manusia biasa, tetapi rasa laparku baru bisa dihilangkan dengan cara lain. Matahari tidak membuatku mati, tapi bisa membuatku lemah.”


Sylus sudah menduga, tetapi mendengar pengakuan itu secara langsung tetap terasa berbeda.


"Aku menjadi vampir sekitar dua ratus lima puluh tahun yang lalu. Karena itulah wajahku tidak banyak berubah."


Fleur tersenyum kecil, senyum yang justru tampak lelah. "Aku terus berganti identitas setiap beberapa puluh tahun."


"Supaya orang tidak curiga?"


Fleur mengangguk.


"Ketika seseorang mulai menyadari aku tidak bertambah tua, aku menghilang. Lalu muncul kembali dengan nama lain."


Ia mengalihkan pandangan ke arah langit yang mulai memerah.


"Itulah cara paling aman. Yang kau lihat tadi malam, aku memang meminum darah."


Sylus mengepalkan kedua tangannya di atas lutut.


"Kadang darah hewan, kadang manusia. Tapi aku tidak pernah membunuh manusia, nanti kamu juga akan tahu lebih jelas.”


Fleur kembali berbicara.


"Selama ratusan tahun, aku sangat berhati-hati memilih siapa yang mengetahui rahasiaku. Para pelayan di mansion ini menjaganya secara turun-temurun."


"Mereka mewariskannya kepada anak-anak mereka yang kemudian mengabdi di sini. Tidak semua orang dipercaya."


Ia menatap Sylus dengan tenang.


"Kau sudah menjadi bagian dari lingkaran orang-orang yang kupercaya."


Fleur membuka sebuah kotak kayu kecil yang sedari tadi berada di sampingnya. Di dalamnya terdapat sebuah botol kaca bening berisi cairan kebiruan.


"Aku tidak ingin memaksamu."


Ia mendorong kotak itu perlahan ke arah Sylus.


"Kalau setelah mengetahui semua ini kau ingin pergi, aku tidak akan menahanmu."


Sylus memandang botol tersebut.


"Ramuan ini akan menghapus ingatanmu tentang rahasiaku. Kau bisa menjalani hidupmu seperti biasa, tidak perlu membawa beban ini."


Sylus tidak menyentuh botol itu. Sebaliknya, ia perlahan mendorong kembali kotak kayu tersebut ke arah Fleur.


"Tidak."


Jawabannya singkat tanpa keraguan sedikit pun.


"Aku tidak akan meminumnya."


Fleur memandangnya beberapa saat.

"Yakin?"


Sylus mengangguk.


"Aku berutang hidup kepadamu. Rahasia ini tidak mengubah semua kebaikan yang telah kulihat. Aku tetap menghormatimu Nona Fleur,” kata Sylus lantang.


Ada rahasia lain yang disimpan Sylus, dia mencintai Fleur lebih dari itu, tapi disimpan rapat di dalam hati.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



“Malam ini Nona keluar lagi?” tanya Sylus pelan, suaranya datar, tapi tatapannya tidak.


Sylus sudah berusia dua puluh satu tahun. Postur tubuhnya lebih tegak sekarang.


Ia memperhatikan setiap gerakan Fleur, cara bibirnya menyentuh gelas anggur, cara matanya yang menatap kosong ke arah jendela.


Fleur meletakkan pisau dan garpu dengan pelan. Seperti biasa ia tidak menghabiskan makanannya.


Ia menatap Sylus cukup lama, cukup untuk melihat rahang pemuda itu menegang.


“Ya. Ada janji temu di kota.”


Malam-malam seperti ini sudah sering terjadi. Fleur pergi dengan gaun yang berbeda, pulang sebelum fajar dengan aroma parfum pria asing yang menempel samar di kulitnya.


Terkadang ada bercak merah di leher Fleur. Atau sisa cairan cinta di noda baju dalamnya.


Sylus selalu tahu. Ia yang membersihkan gaun itu. Harum sisa parfum Fleur di pakaian bercampur dengan aroma maskulin.


Sebenarnya Sylus sudah mengetahui hal ini sejak diangkat jadi butler pribadi. Tapi dia berusaha menahan perasaannya dan mengabaikan informasi ini.


Fleur pernah memberitahu Sylus kalau dia bisa minum darah manusia dengan cara kencan. Nanti korbannya akan dibuat lupa ingatan singkat, hanya ingat memori sebelum bertemu Fleur.


Keesokan malamnya, Sylus tidak bisa diam lagi. Entah kenapa rasa cemburu tidak bisa ditahan. Ia harus bertindak.


Sylus menemukan Fleur di ruang perpustakaan, duduk di kursi tinggi dekat perapian.


Api menyala kecil, menerangi sisi wajah vampir itu dengan cahaya oranye hangat. Fleur mengenakan robe sutra merah muda yang longgar, kakinya disilangkan santai.


Sylus berdiri di depannya, tangan kanannya memegang pisau dapur kecil yang tajam.


“Nona,” katanya tegas, “izinkan saya menjadi donor Nona. Secukupnya. Tidak perlu mencari orang lain dan berkencan dengan mereka.”


Fleur mengangkat alis. Ekspresinya tenang, tapi ada sedikit kejutan di mata abu-abunya. “Kamu tahu itu bukan ide yang baik, Sylus.”


“Saya tahu Nona hanya mengambil sedikit. Saya bisa memberi itu.”


Fleur menggeleng pelan. “Jangan lakukan itu. Kamu sudah membantuku selama ini dengan menjadi butler yang baik.”


Sylus tidak mundur. Dengan gerakan cepat dan nekat, ia menyayat pergelangan tangan kirinya. Darah merah segar langsung mengalir.


Ia mengambil gelas kristal kosong dari meja kecil dan menampung darah itu dengan tangan yang sedikit gemetar.


Tetesan pertama terdengar jelas di dalam ruangan yang sunyi. Fleur langsung berdiri.


Wajahnya yang biasanya tenang berubah dalam sekejap, mata melebar, tubuhnya maju dengan cepat. “Sylus!”


Ia merebut tangan Sylus sebelum darah memenuhi gelas. Tanpa pikir panjang, Fleur membawa pergelangan tangan itu ke bibirnya dan menghisap langsung dari luka.


Gerakannya cepat, hampir putus asa. Sylus merasakan tarikan kuat, tapi tidak sakit. Hanya sensasi hangat yang aneh menyebar di lengannya.


Fleur menghisap hanya beberapa detik. Saat ia melepaskan, luka di pergelangan Sylus sudah tertutup sempurna, hanya menyisakan garis tipis merah muda yang memudar dengan cepat.


Ruangan menjadi sangat sunyi. Hanya suara kayu berderak di perapian yang terdengar.


Fleur masih memegang tangan Sylus, ibu jarinya mengusap bekas luka dengan lembut.


Matanya menatap pemuda itu dengan tatapan yang sulit dibaca, campuran marah, khawatir, dan sesuatu yang lebih dalam.


“Kamu bodoh sekali,” katanya pelan, suaranya hampir bisik.


Sylus hanya menunduk sedikit, tapi sudut bibirnya terangkat tipis. “Sekarang Nona tidak perlu keluar malam-malam lagi dan berkencan dengan pria asing.”


Fleur tidak menjawab langsung. Ia melepaskan tangan Sylus perlahan, tapi tatapannya masih tertinggal di wajah pemuda itu beberapa saat lebih lama dari biasanya.


Sejak malam itu, Fleur memang jarang keluar untuk “kencan”. Ia lebih sering berada di kastil, memanggil Sylus ke ruangannya saat malam mulai larut.


Setiap kali Fleur memanggilnya, ada sedikit kepuasan di dada pemuda itu, meski ia tahu, ini baru permulaan.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Waktu berlalu tanpa permisi. Semakin lama, Sylus tidak lagi bisa menyembunyikan apa yang ia rasakan.


Setiap malam, tatapannya pada Fleur semakin intens, semakin berat. Setiap kali Fleur memanggil namanya, dada Sylus terasa sesak.


Malam itu, di kamar Fleur yang diterangi hanya cahaya lilin, Sylus tidak lagi berlutut di depan majikannya. Ia berdiri di depan Fleur, tangannya gemetar saat menyentuh pipi vampir itu.


“Aku tidak sanggup lagi hanya memberi darah,” bisiknya parau.


Fleur menatapnya lama. Ada keraguan di mata keemasannya, tapi juga api yang sama besarnya.


Ia tidak menolak saat Sylus menciumnya. Malam itu, untuk pertama kalinya, tubuh mereka menyatu dengan penuh kerinduan yang sudah lama tertahan.


Fleur masih dominan di banyak hal, tapi Sylus belajar dengan cepat. Setelah itu, hubungan mereka berubah.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


Cerita LOVE UNCUT akan dilanjutkan di:

Une Fleur dans la Nuit


⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Saat usia dua puluh lima tahun, Sylus mengalami kecelakaan di tengah badai. Kereta kuda yang ditumpanginya terguling.


Sylus terbaring koma selama tiga hari, tubuhnya dingin dan lemah. Fleur duduk di samping ranjangnya tanpa bergerak, tangannya menggenggam tangan Sylus erat sekali.


“Aku tidak mau kehilanganmu,” bisik Fleur saat Sylus akhirnya sadar, suaranya pecah untuk pertama kalinya yang Sylus dengar.


Sylus juga tidak ingin kehilangan Fleur. Minggu depannya ia membulatkan tekad untuk menjadi Vampir.


Awalnya Fleur menolak, tapi Sylus bersikeras. Akhirnya terjadilah ritual transformasi, dan Sylus terbangun sebagai vampir. Mereka hidup bersama selama seratus tahun.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Sylus dan Fleur hidup bahagia bersama sebagai pasangan selama 1 abad.


Mereka hanya minum darah hewan dari hutan milik keluarga dan darah manusia dari kantong donor yang dibeli secara diam-diam. 


Tidak ada lagi perburuan manusia hidup. Tidak ada lagi “kencan” seperti dulu. Mereka cukup satu sama lain.

Tapi ketenangan itu perlahan retak.


Fleur mulai gelisah. Ia sering berdiri di balkon kastil saat malam dingin, tatapannya kosong ke arah hutan.


Sylus memperhatikannya dari kejauhan , cara bahu Fleur yang biasanya tegak kini sedikit membungkuk, cara jarinya mengetuk-ngetuk pagar besi dengan gelisah.


“Aku bosan,” kata Fleur suatu malam, suaranya pelan.


“Aku ingin merasakan darah yang hidup lagi. Darah yang hangat, yang mengalir langsung dari nadi.”


Sylus diam lama. Ia tahu ini akan datang, tapi tetap terasa seperti pisau. Dengan berat hati, ia mengangguk.


“Kalau itu yang Nona inginkan.”


Maka dimulailah kesepakatan itu. Mereka saling memberi izin untuk “berkencan” dengan manusia lain hanya untuk minum darah segar. Tidak lebih. Hanya darah.


Tapi aturan itu mudah dilanggar.


Fleur mulai pulang dengan aroma parfum pria yang berbeda, serta gaun yang bernoda cairan cinta.


Sylus pulang dengan bekas lipstik samar di kerah kemejanya, dan noda gigitan pada bahunya.


Mereka tidak pernah bertanya, tapi keduanya tahu.


Cemburu muncul seperti racun yang lambat. Fleur semakin sering diam, tatapannya pada Sylus penuh kegelapan yang baru. 


Sylus melihatnya, cara Fleur mencengkeram gelas anggur terlalu kuat hingga retak, cara ia meninggalkan ruangan saat Sylus menceritakan “malamnya” dengan nada datar.


Depresi Fleur semakin dalam. Hidup abadi yang dulu terasa indah kini terasa seperti penjara.


Ia mulai berbicara tentang kebosanan abadi, tentang betapa lelahnya melihat dunia berubah sementara mereka tetap sama.


Suatu pagi, sebelum matahari terbit, Fleur melakukan ritualnya sendiri.


Ia minum ramuan hitam pekat yang dibuatnya selama berminggu-minggu, lalu menghunuskan pasak kayu khusus ke dada sendiri tepat saat fajar menyingsing.


Sylus yang baru kembali dari “kencan” malamnya menemukannya terlambat. Ia hanya sempat memeluk tubuh Fleur yang sudah mulai berubah menjadi abu.


“Jangan… jangan pergi,” suara Sylus pecah. Air mata vampir yang jarang sekali keluar mengalir di pipinya.


Ia berlutut di antara tumpukan abu yang masih hangat, tangannya mencoba mengumpulkan debu itu seolah bisa disatukan kembali.


Selama berhari-hari Sylus tidak bergerak dari ruangan itu. Ia duduk di lantai, tubuhnya membungkuk, hampir memutuskan untuk menyusul Fleur. 


Tapi di antara kesedihan yang membakar, ia menemukan catatan lama Fleur, di sana tertulis ritual untuk membunuh dan membangkitkan vampir.


Di catatan itu tidak tertulis cara ritualnya. Hanya ada info sebuah ritual kuno untuk memanggil kembali jiwa yang sudah menjadi debu.


Sylus menatap catatan itu dengan mata merah yang bengkak. Tangannya gemetar, tapi ada api baru di dalam dada.


“Aku akan menemukanmu lagi,” bisiknya pada abu yang tersisa. “Apapun harganya.”



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Selama bertahun-tahun setelah kepergian Fleur, Sylus hidup seperti bayangan.


Ia menghabiskan malam-malam panjang di ruang bawah tanah kastil, membaca catatan-catatan kuno, ritual terlarang, dan mantra yang hampir dilupakan.

 

Hingga suatu malam, di antara tumpukan perkamen yang rapuh, ia menemukan sebuah ritual kuno.


Itu adalah cara untuk memanggil kembali jiwa yang telah menjadi debu, memberinya kesempatan bereinkarnasi.


Kemungkinannya sangat kecil. Hanya satu dari seribu, kata catatan itu. Tapi Sylus tidak peduli.


“Layak dicoba,” gumamnya pada kegelapan, suaranya serak karena jarang digunakan.


Ia mulai bergerak. Selama seratus tahun berikutnya, Sylus menjelajahi dunia. Ia membangun kekayaan melalui perdagangan gelap dan bisnis yang sah.


Dari mulai kapal-kapal yang mengangkut sutra dari Cina, toko rembah di jazirah Arab, tambang emas di Afrika Selatan, perkebunan karet di Amerika Selatan. 


Ia memiliki mansion di Paris, kediaman di Kyoto, villa tersembunyi di pegunungan Swiss, dan tempat tinggal mewah tersebar di seluruh dunia. Tapi tak satu pun terasa seperti rumah.


Di setiap kota, ia mencari. Wanita-wanita yang mirip Fleur. Seperti gadis dengan rambut putih keemasan dan senyum yang manis.


Mata abu-abu dingin sebelum berubah jadi merah ketika mode vampir aktif. Lalu gerakannya yang anggun.


Beberapa kali ia mendekat, berharap. Tapi setelah beberapa malam, ia selalu pergi dengan rasa hampa.


Mereka bukan Fleur. Hanya bayangan.

Hingga seratus tahun kemudian, di tanah yang jauh berbeda.


1905, masa Hindia Belanda, di sebuah desa kecil di lereng Gunung Merapi.


Udara tropis yang lembap dan panas menyambut Sylus. Bisnisnya di sini yang sukses memberinya pengaruh cukup untuk bergerak leluasa.


Suatu sore di sebuah pasar tradisional, Sylus melihatnya.


Gadis itu sedang berjalan di antara kerumunan, membawa keranjang anyaman berisi rangkaian bunga tropis.


Rambut hitamnya panjang lurus hingga pinggang, berayun lembut saat ia berjalan. 


Posturnya anggun, meski mengenakan kebaya sederhana berwarna putih gading. Saat ia menoleh sebentar untuk menghindari seorang pedagang, Sylus melihat wajahnya.


Sekar.


Ia tahu namanya dari panggilan penjual yang sudah akrab dengan gadis itu.


Aahh lagi-lagi nama bunga. Terlintas memori lampau aroma tubuh Fleur yang dirindukan, yang hampir tidak bisa Sylus ingat karena terkikisnya memori.


Gadis itu mirip Fleur, hampir bisa dibilang sama persis. Hanya warna rambut yang berbeda, gadis ini memiliki rambut hitam.


Kulitnya yang kuning langsat bukan putih pucat, serta warna matanya yang hitam kecoklatan bukan abu-abu atau merah.


Sylus berdiri membeku di tengah keramaian seakan melihat Fleur hidup kembali.


Ia tidak mendekat saat itu, hanya memperhatikan dari kejauhan. Seperti predator yang sudah terlalu lama menunggu.


Beberapa hari kemudian, ia mulai bergerak. Melalui hubungan bisnisnya dengan beberapa petinggi daerah dan tokoh adat setempat, Sylus menyebarkan cerita tentang “bencana besar” yang akan datang.


Banjir, gempa, atau kutukan leluhur, tergantung siapa yang ia bicarakan. 


Ia menawarkan solusi yaitu pengorbanan suci. Seorang gadis perawan yang dipilih sebagai “pengantin suci” untuk entitas pelindung wilayah.


Tentu saja gadis itu harus Sekar.


Semua diatur dengan rapi. Dokumen-dokumen, ritual adat yang dimodifikasi, dan tekanan halus dari orang-orang berpengaruh.


Tak seorang pun tahu bahwa “entitas pelindung” itu adalah Sylus sendiri.


Pada malam purnama berikutnya, di sebuah pura kecil yang tersembunyi di lereng gunung, Sekar dibawa ke hadapannya sambil diantar warga.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Malam itu angin gunung bertiup dingin, membawa aroma kemenyan dan bunga kenanga yang menyengat.


Di pura kecil yang tersembunyi di balik pepohonan bambu, obor-obor bambu menyala berkeliling altar batu.


Warga desa berkumpul dalam lingkaran, wajah mereka tegang di bawah cahaya api yang berkedip.


Mereka percaya bahwa “Dewata Penjaga Gunung” marah, letusan kecil baru-baru ini dan wabah yang menyerang ternak adalah bukti.


Sekar berdiri di tengah lingkaran, tubuhnya gemetar. Kebaya putih polos dan kain batiknya basah oleh keringat dingin.


Rambut hitamnya yang panjang tergelung rapi, dihiasi bunga melati yang sudah layu. Air mata mengalir deras di pipinya, tapi ia tidak berani bersuara keras.


“Aku tidak mau… Tolong… Aku masih punya ibu di rumah,” isaknya pelan, suaranya hampir hilang ditelan angin.


Seorang sesepuh desa berjanggut putih maju, tangannya memegang keris.


“Ini untuk desa, Nak. Kalau tidak ada pengantin suci, bencana akan datang. Kau sudah dipilih.”


Tangan-tangan kasar warga mendorong Sekar maju. Beberapa perempuan menangis ikut, tapi tak ada yang berani melawan.


Mereka mengikat tangan Sekar dengan tali kuning suci, lalu membawanya ke kereta kayu yang sudah menunggu.


Sekar menangis tersedu sepanjang jalan menuju kediaman “Tuan Penjaga” di atas bukit, sebuah rumah besar bergaya Eropa yang dikelilingi tembok tinggi dan kebun gelap.


Sylus menunggu di serambi depan, mengenakan jas panjang ala Eropa.


Cahaya lampu minyak tembaga menerangi wajahnya yang pucat dan tampan, tapi matanya yang berwarna merah menyala lapar.


Ketika Sekar didorong masuk ke ruangan utama, ia langsung mundur ketakutan.


Ruangan itu mewah tapi dingin, lantai marmer, lukisan-lukisan gelap di dinding, dan aroma darah samar yang membuat bulu kuduknya berdiri.


Sylus berdiri di depannya, tinggi dan diam. Sekar mundur hingga punggungnya menyentuh dinding.


“Tuan… ampuni saya… saya tidak tahu apa-apa,” bisiknya sambil menangis, tubuhnya gemetar hebat.


Sylus mendekat perlahan. Ia sudah menahan diri selama seratus tahun.


Bau darah segar Sekar, kulitnya yang hangat, wajah yang mirip Fleur, semuanya terlalu banyak.


Nafsunya meledak seperti banjir yang sudah lama tertahan.


Ia meraih Sekar dengan cepat. Gadis itu menjerit saat Sylus mengangkat tubuhnya dan membawanya ke ranjang besar di kamar pribadi.


Sekar meronta, tangannya yang terikat mendorong dada Sylus, kakinya menendang liar.


“Jangan! Tolong… jangan!” jeritnya.


Tapi Sylus sudah kepalang nafsu. Bibirnya mencium leher gadis itu dengan rakus, taringnya menyentuh kulit. Kesuciannya direnggut.


Sekar menangis tersedu sepanjang waktu itu, tubuhnya menegang, tangannya mencakar punggung Sylus. 


Setelah itu, ruangan menjadi sunyi. Hanya terdengar isakan Sekar yang lemah.


Sylus tersadar. Ia mundur perlahan, melihat air mata yang masih mengalir di wajah gadis itu.



⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•


Cerita LOVE UNCUT akan dilanjutkan di:

Sekar dalam Pelukan Malam


⋆。‧˚ ୨ৎ ˏˋ°•



Setelah kejadian itu, Sylus tersadar akan kesalahannya. Ia mencoba mengontrol nafsunya dengan menjauhi Sekar selama beberapa hari.


Ia menyuruh pelayan membawakan makanan, pakaian terbaik, dan segala barang mewah yang bisa dibeli, tapi ia sendiri hanya mengamati dari kejauhan.


Sekar menghabiskan hari-harinya meringkuk di kamar besar yang dingin, matanya sering kosong menatap taman di luar jendela.


Tapi Sekar bukan gadis yang mudah hancur. Hatinya lembut, tapi ada kekuatan di dalamnya yang bahkan Sylus tidak duga.


Suatu malam, saat hujan deras membasahi atap rumah besar itu, Sekar keluar dari kamarnya untuk pertama kalinya. 


Ia menemukan Sylus duduk sendirian di ruang perpustakaan, hanya diterangi satu lampu minyak.


Buku-buku kuno berserakan di meja. Sylus tampak lelah, bahunya membungkuk, rambut hitamnya acak-acakan, tatapannya kosong ke arah api perapian.


Sekar berdiri di ambang pintu cukup lama sebelum berani bicara.


“Kenapa Tuan memilih saya?” tanyanya pelan, suaranya masih gemetar tapi tegas.


Sylus mengangkat wajah. Ia melihat Sekar mengenakan kebaya sederhana berwarna coklat, rambutnya terurai basah karena mandi.


Untuk sesaat, Sylus merasa melihat Fleur berdiri di depannya. Tapi kali ini, ia tidak lagi terbakar nafsu buta.


“Karena kamu mirip sekali dengan seseorang yang pernah kucintai,” jawab Sylus jujur, suaranya rendah. 


“Namanya Fleur. Ia segalanya bagiku. Dan kamu seperti bayangannya yang hidup kembali.”


Sekar diam lama. Ia mendekat perlahan dan duduk di kursi di depan Sylus.


“Kalau begitu, ceritakan tentang dia,” kata Sekar lembut. “Agar saya mengerti kenapa Tuan begitu putus asa.”


Malam itu menjadi awal segalanya. Sylus bercerita, tentang Fleur yang menemukannya saat kecil, tentang cinta yang tumbuh pelan, tentang seratus tahun kesepian setelah Fleur pergi. 


Sekar mendengarkan tanpa menghakimi. Kadang ia menyentuh tangan Sylus dengan lembut saat suara vampir itu bergetar.


Hati Sekar yang lembut perlahan membuka pintu.


Waktu berlalu seperti air sungai yang tenang.

Bulan-bulan kemudian, hubungan mereka berubah.


Sylus tidak lagi memperlakukan Sekar sebagai pengganti Fleur. 


Ia memperlakukannya sebagai individu yang utuh, memiliki identitasnya sendiri sebagai Sekar.


Mereka berjalan bersama di taman saat senja. Sylus mengajari Sekar membaca buku.


Sementara Sekar mengajari Sylus memasak, walaupun akhirnya ia menyadari kalau Sylus lebih cekatan darinya.


Mereka semakin akrab, dan jatuh cinta secara alami dari kebersamaan yang terjalin. 


Satu malam, di balkon yang menghadap lereng gunung, Sekar bersandar di bahu Sylus.


“Saya ingin menemani Tuan selamanya,” bisiknya. “Saya siap menjadi seperti Tuan. Menjadi vampir.”

Sylus membeku.


Ia memeluk Sekar lebih erat, mencium puncak kepalanya dengan lembut.


“Tidak,” jawabnya pelan tapi tegas.


“Aku tidak mau kamu menanggung keabadian yang menyiksa ini. Aku akan mencari cara untuk menjadi manusia lagi."


"Meski aku belum tahu caranya, aku akan mencarinya. Aku ingin hidup dan mati bersamamu, seperti manusia biasa.”


Sekar menatap Sylus dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, ia yang mencium Sylus lebih dulu, ciuman yang lembut, penuh rasa syukur dan cinta yang tumbuh pelan.


Sylus memejamkan mata, merasakan kehangatan Sekar yang nyata. Rindu seratus tahun pada Fleur tidak hilang, tapi kini ia menemukan tempat baru untuk menaruh cintanya. 


Di lereng gunung yang tenang itu, Sylus dan Sekar mulai menulis cerita mereka sendiri. Angin perubahan pasti selalu berhembus, tapi mereka akan menjalani kehidupan dengan hati yang lapang.



The End??


No comments