Kukira Dia Cupu, Ternyata CEO, Valko Namanya.

Aku tidak pernah menyangka hidupku bakal seperti sinetron yang sering aku tertawakan.


Sejak pagi, aku sudah berada di luar menjalankan tugas sebagai hunter, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain tanpa sempat benar-benar menarik napas.

Tubuhku mulai terasa lelah. Saat sebagian besar orang mulai memikirkan makan malam atau perjalanan pulang, pekerjaanku justru belum selesai. Aku mengusap wajah dengan punggung tangan. Bahu sudah terasa pegal. Sepatu yang dipakai seharian mulai terasa berat setiap kali melangkah. TKP yang menjadi tanggung jawab tim kami masih harus dibereskan, memastikan tidak ada lagi jejak berbahaya yang tertinggal, atau hal berbahaya yang bisa membahayakan warga sipil. Ketika semuanya akhirnya selesai, langit di luar sudah berubah menjadi biru gelap. Jam di ponselku menunjukkan pukul tujuh malam. "Ah... akhirnya selesai juga,” gumamku. Beberapa anggota tim sudah lebih dulu beranjak meninggalkan lokasi sambil saling melambaikan tangan. Suasana yang tadi dipenuhi aktivitas perlahan berubah lengang. Aku menghampiri Jenna yang masih berdiri di dekat kendaraan operasional, memeriksa laporan terakhir di tabletnya. Cahaya layar memantul di wajahnya yang tetap terlihat tenang meski sama lelahnya dengan kami semua. "Boss, aku pulang dulu." Jenna mengangkat pandangan sekilas lalu mengangguk kecil. "Istirahat yang cukup. Besok jangan telat." Aku terkekeh pelan. "Siap." Tanpa banyak basa-basi lagi, aku mengangkat tangan sebagai salam perpisahan. Aku memilih berjalan menuju halte bus yang letaknya beberapa blok dari lokasi.

Udara malam terasa dingin. Angin bertiup membawa aroma aspal dan tanah yang mulai basah. Belum jauh berjalan, butiran hujan pertama jatuh mengenai pipiku. Dalam hitungan detik, gerimis itu berubah menjadi hujan deras yang mengguyur jalan tanpa ampun. "Cih... serius sekarang?" Hari ini aku lupa membawa payung. Aku menarik tudung jaket lebih rapat, meski itu tidak banyak membantu. Air hujan tetap membasahi ujung rambut, bahu, hingga celana. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di permukaan aspal yang mengkilap, sementara suara hujan menenggelamkan hampir semua suara kendaraan dari jalan utama. Untuk mempersingkat perjalanan, aku berbelok memasuki sebuah gang sempit yang biasa kulewati. Gang itu remang-remang. Beberapa lampu jalan mati, menyisakan cahaya redup dari tiang yang masih berfungsi di kejauhan. Dinding-dinding bangunan tampak kusam diterpa hujan, sementara genangan air memenuhi sebagian jalan setapak. Langkahku melambat karena merasa ada yang tidak beres. Sebagai hunter, kebiasaan waspada sudah seperti refleks. Tempat gelap dan sepi jarang membawa kabar baik. Baru beberapa meter melangkah, ujung sepatuku tiba-tiba menghantam sesuatu yang keras. "Eh, aduh!" seruku sambil tubuhku hampir kehilangan keseimbangan, tapi aku berhasil tidak jatuh. Aku menoleh ke bawah. Di pinggir gang, hampir menyatu dengan bayangan malam, terbaring sesosok tubuh berukuran besar. Seluruh tubuhnya diselimuti jaket hitam yang basah kuyup akibat hujan. Posisi tubuhnya miring ke samping, sama sekali tidak bergerak. Jantungku langsung berdegup lebih cepat.

JEDERRRR! Aku kaget karena petir menyambar langit dengan suara menggelegar. Cahaya putih yang sesaat menerangi gang membuat sosok itu terlihat jauh lebih jelas. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar, dan jaket hitamnya menutupi hampir seluruh bagian badan. Namun, bahkan setelah kilatan petir berlalu, ia tetap tidak bereaksi sedikit pun. Apakah sosok ini masih hidup, atau…?

Aku otomatis mengambil satu langkah mundur. Tangan kananku perlahan bergerak ke senjata yang tersimpan di pinggang. Dalam pekerjaanku, seseorang yang tergeletak begitu saja di tempat seperti ini bisa berarti apa saja. Antara korban, umpan, atau justru ancaman yang sedang menunggu mangsa lengah. Aku memperhatikan beberapa detik. Tidak ada gerakan. Tidak ada tanda-tanda hendak menyerang. "Halo..." Tak ada jawaban. Aku mendekat sedikit lagi, tetap menjaga jarak aman. "Mas…?"

Hujan terus mengguyur tanpa henti. Air mengalir melewati jaket hitamnya dan membentuk aliran kecil di pinggir jalan. Aku berjongkok, masih siap bereaksi kapan saja. "Mas, bangun, Mas. Jangan tidur di jalan." Kalau memang dia penjahat dan tiba-tiba meloncat menyerang, aku sudah siap menghadapinya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Tubuh besar itu bergerak pelan. Sebuah suara lirih keluar dari balik tudung jaketnya. "Hng..." Bukan geraman mengancam. Melainkan erangan seseorang yang sedang menahan rasa sakit.


Aku mengernyit. Jemariku yang semula siap mencabut senjata perlahan mengendur, meski kewaspadaanku sama sekali belum hilang. Sosok itu jelas masih hidup. Kalau kudengar dari suaranya, ia terdengar benar-benar terluka.


Kalau dipikir-pikir, ukuran tubuhnya benar-benar tidak main-main. Bahkan dalam posisi tergeletak, bahunya tetap terlihat lebar. Lengan yang sebagian terlihat dari balik jaketnya juga tampak berotot.


Kalau orang sebesar ini tiba-tiba berdiri dan menyerang, kemungkinan besar akulah yang akan menyesal karena terlalu penasaran.
Kepalaku mulai dipenuhi berbagai kemungkinan.


Jangan-jangan dia penjahat?
Atau lebih buruk lagi...
Korban serangan wanderer?


Dalam pekerjaanku, dua kemungkinan itu sama-sama masuk akal. Banyak hunter terluka saat menjalankan misi, tapi tidak sedikit pula kriminal yang sengaja berpura-pura menjadi korban untuk menjebak orang yang lewat.


"Kayaknya... mending aku pergi aja,” gumamku.


Namun baru melangkah dua langkah meninggalkannya tergeletak, bayangan kejadian beberapa detik yang lalu kembali terlintas.


Tadi aku sempat nginjek jarinya, ya?
Aku berhenti.
Rasa bersalah itu datang dengan sangat menyebalkan. Dari semua cara untuk menemukan orang tergeletak, kenapa harus diawali dengan menginjak jarinya?


Aku menoleh lagi ke arah sosok berjaket hitam itu. Dia masih meringkuk di tempat yang sama, diguyur hujan tanpa tenaga untuk sekadar memperbaiki posisi tubuhnya.
Dengan helaan napas pasrah, aku kembali menghampirinya.


"Mas," panggilku lebih pelan. "Mas, bisa dengar saya?"
Ia mengerang pelan sebelum berusaha mengangkat kepala. Gerakannya lambat, seolah bahkan mengangkat leher saja sudah menguras seluruh tenaganya.
"Kak..."
Suaranya serak memanggilku.
"Bisa... tolong saya?"
Nada bicaranya terdengar jauh dari ancaman. Lebih mirip seseorang yang sudah mencapai batas kemampuannya untuk bertahan.
Aku mengamatinya beberapa saat, memastikan tidak ada gerakan mencurigakan.


"Mau saya antar ke rumah sakit?" tanyaku. "Atau klinik terdekat?"
Ia langsung menggeleng pelan.
"Jangan... Kak."
Suara hujan membuat ucapannya nyaris tenggelam.
"Saya... lagi dikejar orang."


Aku terdiam.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup menjelaskan kenapa ia menolak rumah sakit. Kalau memang ada seseorang yang sedang memburunya, tempat umum seperti rumah sakit justru menjadi lokasi paling mudah untuk menemukannya.


Aku menatap wajahnya lebih saksama.
Tudung jaketnya sudah sedikit bergeser akibat hujan, memperlihatkan wajah yang sebelumnya tertutup bayangan. Usianya sepertinya tidak jauh denganku.


Wajahnya pucat karena kehilangan banyak tenaga, dengan beberapa goresan kecil di pipi dan pelipis yang sudah bercampur air hujan.


Sepasang kacamata masih bertengger miring di wajahnya.
Satu sisi lensanya retak, sementara gagangnya bengkok ke luar, membuat kacamatanya tampak nyaris lepas kapan saja. Entah bagaimana benda itu masih bisa bertahan di tempatnya.


Tubuhnya memang besar. Sangat besar, malah. Bahunya lebar dan posturnya memberi kesan mengintimidasi pada pandangan pertama. Tapi ekspresi wajahnya sama sekali tidak mendukung penampilan itu.


Tatapannya tampak cemas, bahkan sedikit panik, seperti seseorang yang lebih takut disakiti daripada menyakiti orang lain.


Aneh sekali.
Yang terlintas di kepalaku justru perumpamaan yang sama sekali tidak membantu.
Dia mirip anak anjing yang lagi ketakutan.
Anak anjing yang ukurannya kelewat besar.


Kalau melihat wajahnya saja, rasanya muncul dorongan aneh untuk menolong. Sangat bertolak belakang dengan badannya yang bisa membuat orang memilih menyeberang jalan.


"Dasar... kenapa sih aku gampang kasihan begini?" cicitku kesal.
Orang ini jelas misterius. Datang entah dari mana, memakai jaket hitam, mengaku sedang diburu, dan sekarang memintaku menolongnya.

Secara logika, semua itu adalah tanda bahaya. Namun di sisi lain, membiarkannya tetap tergeletak di gang seperti ini juga bukan pilihan yang bisa kulakukan begitu saja.


Aku menatapnya sekali lagi. Wajahnya yang tampan.
Aaaah sepertinya aku tahu alasanku menolongnya, walaupun aku malu mengakuinya.


"Baiklah," kataku akhirnya sambil mengembuskan napas panjang. "Kalau memang tidak mau ke rumah sakit..."


Aku melirik ke kanan dan kiri gang yang kosong, memastikan tidak ada orang lain yang mengawasi.

"...ikut aku saja dulu."


Kalau nanti ternyata dia memang berniat macam-macam, setidaknya itu akan terjadi di tempat yang lebih kukenal daripada di gang gelap yang bahkan lampu jalannya setengah mati.


Meski begitu, jemariku tetap tidak jauh dari senjata. Rasa iba boleh menang, tetapi naluri seorang hunter tidak boleh ikut lengah.


Pria itu sempat terdiam, seolah tidak langsung memercayai apa yang baru saja didengarnya.
Lalu perlahan, kedua matanya yang semula sayu melebar.


Ada kelegaan yang begitu jelas terpancar dari sorot matanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, senyum yang tampak tulus meski wajahnya masih dipenuhi rasa sakit.


"Terima... kasih, Kak..."
Bahkan setelah mengucapkannya, ia masih meringis pelan sambil menahan nyeri di sekujur tubuhnya.


"Iya, iya. Tapi sebelum itu..."
Aku menatapnya lebih serius.
"Siapa namamu?"
Pria itu menarik napas pendek sebelum menjawab.
"...Valko."
"Valko?"


Aku mengulang nama itu tanpa sadar.
Entah kenapa, nama itu terasa familiar. Seolah aku pernah mendengarnya.
Bukan dari obrolan santai ataupun media sosial. Rasanya lebih seperti... pernah lewat di suatu briefing, laporan misi, atau mungkin percakapan antar hunter.


Sayangnya, pikiranku terlalu lelah setelah seharian bekerja. Nama itu hanya menggantung di ujung ingatan tanpa berhasil kutangkap.
Di mana, ya...


Aku mencoba mengingat beberapa detik lagi, tetapi hasilnya nihil.
"Ah, sudahlah."
Kalau dipaksakan sekarang pun kepalaku mungkin malah tambah pening.


Aku mengulurkan tangan.
"Ayo. Bisa berdiri?"
Valko mengangguk pelan.
Ia mencoba bangkit sendiri, namun baru setengah berdiri tubuhnya langsung oleng.

Refleks aku menahan lengannya sebelum ia jatuh lagi ke genangan air.
"Pelan-pelan."
"Iya..."
Suaranya terdengar malu.


Dari jarak sedekat ini baru kusadari tubuhnya memang jauh lebih tinggi dariku. Untungnya kondisinya benar-benar lemah. Kalau tidak, menopang orang sebesar ini jelas bukan pekerjaan ringan.


Aku menyelipkan salah satu lengannya ke bahuku agar ia bisa bersandar.
"Kalau sakit bilang."
"...Maaf merepotkan."
Valko tersenyum kecil, lalu kembali meringis karena rasa sakit yang menjalar setiap kali melangkah.


Kami berjalan perlahan menyusuri gang yang semakin gelap. Hujan bukannya reda, malah turun semakin deras.


Sesekali Valko kehilangan keseimbangan dan tanpa sadar menggenggam ujung jaketku agar tidak terjatuh. Genggamannya lemah, lebih seperti orang yang berusaha bertahan daripada meminta bantuan.


Aku beberapa kali melirik ke belakang.
Gang tetap sepi.
Tidak ada langkah kaki.
Tidak ada bayangan mencurigakan.
Akhirnya kami tiba di halte bus.


Atap halte yang sederhana hanya mampu menahan sebagian air hujan. Angin tetap membawa percikan air hingga membasahi bangku dan lantai. Jalan raya di depan terlihat mulai lengang, hanya sesekali kendaraan melintas dengan cipratan air dari bannya.
Aku melirik papan jadwal.


"Busnya sepertinya masih lama, gimana ya?"
Belum lagi kalau harus berhenti di beberapa titik sebelum sampai rumah.


"Kita naik taksi saja."
Selain lebih cepat, aku juga tidak ingin mengambil risiko. Kalau benar ada orang yang sedang mencari Valko, menunggu bus di tempat terbuka seperti ini terasa bukan ide yang bagus.
Beberapa menit kemudian, sebuah taksi berhenti di depan halte.


Aku membantu Valko masuk lebih dulu. Ia bergerak pelan sambil terus menahan sakit, berhati-hati agar tidak membenturkan tubuhnya ke pintu mobil.



Mobil mulai melaju meninggalkan halte.
Suara hujan yang mengenai atap mobil berubah menjadi ritme yang lebih pelan dibanding saat kami masih berada di luar.


Lampu-lampu kota memantul di kaca yang dipenuhi butiran air, menciptakan bayangan warna kuning, merah, dan putih yang terus bergeser mengikuti laju kendaraan.


Untuk pertama kalinya malam itu, suasananya terasa sedikit tenang.
Di sampingku, Valko masih duduk tegak, meski napasnya terdengar berat.

"Kalau ngantuk, tidur aja," kataku tanpa menoleh. "Masih lumayan jauh perjalanan kita."
Ia tidak langsung menjawab.
Hanya terdengar gumaman lirih yang nyaris tak bisa kupahami.


"Terima kasih..."
Beberapa menit kemudian, tanpa kusadari, kepalanya perlahan mulai miring. Tubuhnya yang semula berusaha duduk tegak akhirnya menyerah pada rasa lelah.


Dengan gerakan hati-hati, kepalanya jatuh bersandar di bahuku.

Aku refleks menoleh. Valko sudah tertidur.

Wajahnya yang sejak tadi terus menahan rasa sakit kini tampak jauh lebih tenang. Alisnya yang semula berkerut mulai mengendur, napasnya perlahan menjadi lebih teratur, meski sesekali masih terdengar sedikit berat. Kacamata yang retak itu kembali melorot hingga nyaris jatuh dari hidungnya.



Rumahku memang tidak besar. Banyak perabotan yang masih berantakan karena aku baru saja pindah dari apartemen.
"Aku tinggal sendiri, jadi... maaf kalau agak berantakan."


Beberapa buku yang belum sempat kukembalikan ke rak dan jaket yang tadi pagi kulempar begitu saja di sandaran kursi.

Valko justru menggeleng.
"Rumahnya... nyaman."
Aku mengangguk kecil lalu berjalan ke lemari penyimpanan.
"Tunggu sebentar."

Beberapa saat kemudian aku kembali sambil membawa sebuah kotak P3K berwarna putih dengan tanda silang merah di bagian atasnya.

"Nih."
Kotak itu kusodorkan kepadanya.
"Mau kubantu atau enggak?"
Valko menerima kotak itu dengan kedua tangan.
"Nggak usah, Kak."
Ia tersenyum kecil, masih terlihat canggung.
"Aku nggak terluka parah. Terima kasih banyak."


Aku memperhatikan wajahnya beberapa detik.
Dia masih bisa membuka kotak P3K sendiri dan mulai membersihkan luka-luka kecil di tangannya, aku memutuskan untuk tidak memaksa.

"Ya sudah."
Aku berdiri sambil menggulung sedikit lengan bajuku.
"Kalau begitu aku buatkan teh hangat, ya?"
Wajah Valko kembali sedikit berbinar.
"Terima kasih," katanya sambil tersenyum manis membingkai wajahnya yang ganteng. Tipeku banget.

Aku melangkah ke dapur dengan tersipu.
Aku menyalakan ketel listrik, lalu mengambil dua cangkir dari rak. Sambil menunggu air mendidih, kubuka lemari kecil di atas meja dan mengeluarkan sebuah toples berisi kue kering yang masih tersisa cukup banyak.

Lumayan untuk mengganjal perut.
Beberapa menit kemudian aku kembali ke ruang tamu membawa nampan kecil berisi dua cangkir teh hangat yang masih mengepulkan uap serta
"Silakan diminum, kuenya juga dimakan ya."
"Terima kasih..."

Valko tampak sedikit ragu pada awalnya. Namun setelah mengambil sepotong kue dan menggigitnya, ekspresinya langsung berubah.
Ia makan satu.
Lalu satu lagi.
Kemudian satu lagi.

Tangannya bergerak cepat, tetapi tetap sopan. Bukan seperti orang yang rakus, melainkan seseorang yang benar-benar sudah terlalu lama tidak makan.

Bahkan sesekali ia berhenti sebentar hanya untuk meneguk teh hangat sebelum kembali mengambil kue berikutnya.
Aku hanya bisa memperhatikannya beberapa detik.

Toples yang tadi terasa penuh perlahan mulai memperlihatkan dasarnya. Melihat orang makan dengan lahap ternyata menular. Perutku yang sejak tadi diam tiba-tiba ikut protes.

Kruuuk...
Aku menunduk menatap perut sendiri.
"Oh."
Baru kusadari sejak pagi aku juga belum sempat makan dengan benar. Tadi terlalu sibuk di lokasi tugas sampai rasa lapar tertutupi oleh pekerjaan.

Aku menoleh ke arah Valko yang buru-buru menundukkan kepala, mungkin pura-pura tidak mendengar suara perutku.
Sudut bibirku terangkat.

"Kita butuh sesuatu yang lebih mengenyangkan."
Aku kembali ke dapur dan membuka lemari bahan makanan.
Untung masih ada dua bungkus mie instan.


Tak lama kemudian suara air mendidih memenuhi dapur. Aroma bumbu mie yang gurih mulai menyebar ke seluruh ruangan, bercampur dengan harum teh yang masih hangat.

Beberapa menit kemudian, dua mangkuk mi instan tersaji di atas meja makan sederhana.
Aku melambai ke arah Valko.
"Makan malam sudah siap, ayo kita makan."

Kami pun duduk berhadapan di meja makan yang tidak terlalu besar. Di luar, hujan masih turun membasahi jalanan, tetapi suara rintiknya kini hanya menjadi latar yang menenangkan.

Sesekali terdengar denting sendok menyentuh mangkuk dan embusan napas puas setelah menyeruput kuah yang panas.

Baru beberapa suapan, aku menyadari Valko mulai terlihat tidak nyaman.
Awalnya hanya gerakan kecil. Ia beberapa kali menarik kerah jaketnya, lalu mengusap tengkuk dengan punggung tangan. Napasnya terdengar sedikit lebih berat dibanding sebelumnya.

"Kepanasan?" tanyaku.
Valko mengangguk pelan.
"Sedikit..."


Tanpa banyak bicara, ia membuka jaket hitam yang sejak tadi masih dikenakannya.


Kain yang basah itu dilepas perlahan dan disampirkan di sandaran kursi agar tidak membuat lantai semakin basah.

Di baliknya, ia hanya mengenakan singlet hitam yang pas mengikuti bentuk tubuhnya.
Aku yang sedang menyeruput kuah mi hampir tersedak.

Wah!!
Tubuhnya memang besar, tetapi sekarang baru benar-benar terlihat jelas. Bahunya lebar, dadanya bidang, dan kedua lengannya dipenuhi otot yang terbentuk alami, bukan sekadar besar.
Garis otot di lengan atasnya tampak jelas setiap kali ia mengangkat sumpit.
Otot lengannya bagus juga.
Mataku tanpa sadar berhenti beberapa detik.


Yummy.


Lalu buru-buru aku mengalihkan pandangan ke mangkuk mi sendiri.
Astaga, fokus!
Aku berdehem pelan seolah tidak terjadi apa-apa.

Kutatap lagi wajahnya, cocok sekali dengan rambutnya yang merah.
Rahangnya tegas, hidungnya proporsional, dan meski kacamatanya masih retak serta sedikit bengkok, justru ada kesan kutu buku yang anehnya cocok dengannya.

Sebenarnya... dia tipeku.
Pikiran itu muncul begitu saja.
Aku langsung menggeleng kecil.
Jangan aneh-aneh. Baru kenal beberapa jam.
Untungnya Valko sama sekali tidak menyadari isi pikiranku. Perhatiannya lebih banyak tertuju pada mangkuk di depannya.

Untuk mengalihkan suasana, aku membuka percakapan.
"Jadi... sebenarnya kerja apa?"
Valko menelan makanannya lebih dulu sebelum menjawab.
"Aku... kerja di bidang teknologi."
"Teknologi?"
"Iya. Lebih banyak... pengembangan sistem."
"Oh..."

Aku mengangguk pelan.
Pantas.
Sekarang semuanya terasa masuk akal.
Cara bicaranya tenang, sedikit canggung, dan selalu memilih kata sebelum berbicara. Ditambah kacamatanya yang retak itu, kesan pertamaku langsung berubah.

"Anak teknik," gumamku pelan sambil tersenyum sendiri.
Valko memiringkan kepala.
"Hm?"
Aku menahan tawa kecil.
"Kamu kelihatan kayak cowok pintar yang kalau di sekolah duduk paling depan."
Valko tampak salah tingkah.
"Benarkah?"
"Iya."
"Cuma bedanya, biasanya anak kutu buku nggak punya lengan segede itu."

Ia spontan menunduk melihat lengannya sendiri, lalu tertawa kecil dengan malu-malu.
"Aku... sering olahraga."
"Kelihatan."

Semakin lama mengobrol, kesan menyeramkan yang tadi sempat muncul benar-benar menghilang.
Valko memang bertubuh besar. Kalau berdiri diam di gang gelap malam-malam, mungkin orang akan langsung putar balik.
Tapi setelah mengenalnya beberapa puluh menit, kesan itu perlahan berganti.

Dia lebih mirip tipe murid teladan yang sering diminta guru membantu membawa buku ke ruang kelas daripada preman yang mencari gara-gara.

Bahkan ketika berbicara, ia selalu menatap lawan bicara dengan sopan. Sesekali membetulkan posisi kacamatanya yang bengkok, lalu meminta maaf hanya karena merasa terlalu lama menjawab pertanyaan.

Aneh sekali.
Penampilannya dan kepribadiannya seperti berasal dari dua orang yang berbeda. Setelah makan malam selesai, suasana kembali hening.
Aku mulai membereskan mangkuk ke dapur, sementara Valko duduk di ruang tamu.
Namun ketika kembali membawa dua gelas air, aku langsung menyadari ada yang berubah.

Valko kembali gelisah.
Ia duduk membungkuk dengan kedua siku bertumpu di lutut. Jemarinya saling menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Napasnya sedikit lebih cepat dari sebelumnya, dan beberapa kali ia menarik kerah singletnya seolah udara di dalam rumah terasa terlalu panas.

"Valko?"
Ia mengangkat kepala.
Matanya tampak sedikit berkabut. Tatapannya sesaat kehilangan fokus sebelum kembali menatapku.

"Kamu nggak apa-apa?"
Ia menelan ludah pelan.
"Aku… nggak tahu."
Suara yang keluar terdengar lebih berat.
Ia kembali mengusap tengkuknya. Kulit di sekitar leher tampak sedikit memerah, sementara napasnya semakin tidak teratur.


Dadanya naik turun lebih cepat, seolah sedang berusaha mengendalikan sesuatu di dalam tubuhnya.

Aku mengernyit.
Demam?
Atau efek dari luka-lukanya?

Belum sempat aku memikirkan kemungkinan lain, Valko memejamkan mata beberapa detik sambil menarik napas panjang, seperti sedang berusaha menahan dorongan yang membuatnya semakin tidak nyaman.

Aku berdiri di depannya dengan wajah serius.
"Valko..."
Aku menatapnya lekat-lekat.
"Kamu sebenarnya... Alpha?"

Pertanyaan itu keluar hampir tanpa sadar.
Valko tidak langsung menjawab pertanyaanku.
Ia hanya menatapku.

Tatapannya sulit dijelaskan. Di balik wajah yang sejak tadi terlihat tenang, kini ada pergulatan yang jelas sedang ia tahan. Seolah ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi berkali-kali mengurungkannya. Aku tanpa sadar melangkah mendekat.
"Valko?"
Jarak kami kini terlalu dekat.

Tatapannya tidak bisa dijelaskan, bukan sekadar lapar atau memohon, tapi ada sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, seperti sedang menahan badai di dalam dirinya sendiri.

Pupilnya melebar, rahangnya tegang, otot di lehernya menonjol saat ia menelan ludah. Singlet hitamnya yang basah semakin menempel lebih ketat di dada bidangnya.

Cahaya lampu memantulkan kulitnya yang berkilau oleh keringat. Dan aku menyadari kalau suhu tubuhku juga ikut meningkat.

Napasnya panas dan berat, embusannya menyapu pipiku, membawa aroma maskulin yang kini lebih kuat, lebih pekat.

Wajah kami hanya berjarak beberapa senti. Aku bisa melihat pori-pori di kulitnya, bulu mata tebal yang basah oleh keringat, dan bagaimana bibirnya sedikit terbuka seolah kesulitan mengatur napas.

Ia menelan ludah sebelum akhirnya berbicara pelan.
"Kamu mau nggak bantu aku?"


Kalimat itu diucapkan dengan suara yang nyaris berbisik.

Bukan nada memaksa. Bukan pula ancaman.
Lebih terdengar seperti seseorang yang sudah kehabisan pilihan.

Aku membeku. Otakku gagal memproses informasi.

Di luar rumah, hujan menghantam atap semakin keras. Kilatan petir sesekali menerangi ruang tamu melalui celah tirai, disusul suara gemuruh yang mengguncang malam.

Pikiranku seharusnya bekerja.
Seharusnya aku mempertanyakan siapa sebenarnya Valko, mengapa ia dikejar, mengapa ia muncul di hidupku secara tiba-tiba, dan apakah mempercayainya adalah keputusan yang benar.

Namun malam itu, semua pertanyaan terasa kalah oleh kenyataan yang jauh lebih sederhana.
Pria asing yang baru beberapa jam lalu kutemukan tergeletak di sebuah gang kini duduk di rumahku.

Rumah yang bahkan jarang sekali kumasuki orang lain.
Rekan-rekan kerjaku saja hampir tidak pernah aku undang untuk bertamu. Rumah ini selalu menjadi batas yang kujaga antara kehidupan pribadi dan pekerjaanku.

Itulah alasanku pindah dari apartemen, agar lebih jarang berinteraksi dengan teman sekantorku yang banyak tinggal di situ.

Tetapi entah bagaimana, malam ini batas itu sudah kulewati sendiri.

Aku memandang wajah Valko.
Wajah yang tadi kukira mengintimidasi kini justru tampak rapuh. Ia masih berusaha menahan diri, seolah menunggu jawabanku tanpa ingin memaksakan apa pun.

Mungkin karena kelelahan.
Mungkin karena rasa iba.
Atau mungkin karena ada dorongan impulsif yang bahkan tidak sempat kupahami sendiri.

Aku menarik napas pelan. Suaraku terdengar lebih pelan daripada yang kuduga.

Dada Valko naik-turun dengan cepat, bahunya tegang, tangan kanannya mengepal di sisi tubuh seolah sedang berusaha tidak menyentuhku terlalu cepat.

Ia menunggu. Dan menunggu dengan seluruh tubuhnya.

"Ya, aku bersedia."

Valko memejamkan mata sesaat. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan mengendur, seolah beban yang dipikulnya sedikit berkurang.


Aku bahkan belum sempat menyalakan lampu kamar ketika Valko tiba-tiba mengangkat tubuhku dengan mudah. Kedua tangan besarnya merangkul pinggang dan paha belakangku, menggendongku seolah aku tidak memiliki bobot sama sekali.

Aku menggigit bibir, tanganku otomatis melingkar di lehernya yang tegang. Aroma tubuhnya sudah sangat kuat sekarang.

Bayangkan campuran antara keringat, feromon Alpha yang pekat, dan sesuatu yang membuat kepalaku pusing.

Dia mendorong pintu kamar dengan bahu, lalu langsung membawaku ke tempat tidur. Begitu punggungku menyentuh kasur, bibirnya sudah menempel di bibirku. Ciuman itu panas, rakus, hampir brutal.


(^_^) Bagian ini sengaja aku kosongkan, silakan gunakan imajinasi kalian hehe. Perlukah aku tulis detailnya? Kalau mau boleh comment ya. Ia menarik selimut menutupi tubuh kami, lalu mencium keningku dengan lembut. Lengan kekarnya melingkar di pinggangku, dada bidangnya menempel hangat di punggungku.

Mata kami tertutup bersamaan, tubuh saling menempel erat, napas kami perlahan menyamai irama hingga kami tertidur pulas dalam pelukan.

Cahaya matahari pagi menembus sela-sela gorden. Aku membuka mata perlahan, masih diselimuti rasa kantuk yang berat.

Beberapa detik pertama, aku hanya menatap langit-langit kamar sambil mencoba mengumpulkan kesadaran.

Suasana rumah terasa sangat sunyi.
Aku memiringkan kepala ke sisi tempat tidur.
Kosong.
Seprai di sebelahku masih sedikit kusut, pertanda semalam memang ada orang lain yang sempat berada di sana.

"Valko?"
Tak ada jawaban.
Aku segera bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.

"Valko?"
Ruang tamu kosong.
Sofa kosong.

Kamar mandi juga tidak ada siapa-siapa.
Aku memeriksa dapur.
Tetap tidak ada.

Seolah pria bertubuh besar itu menghilang begitu saja sebelum aku sempat terbangun.
Tanpa pesan.
Tanpa meninggalkan secarik catatan.
Bahkan tanpa mengucapkan selamat tinggal.


Aku berdiri beberapa saat di tengah ruang tamu dengan tangan terlipat, mencoba mencerna keadaan.

"Seriusan pergi begitu aja?" teriakku sendirian di rumah kosong. Frustasi tapi tetap tertawa.

Untuk sesaat muncul pikiran yang terasa konyol.

Jangan-jangan semua kejadian semalam cuma mimpi?
Aku mengusap wajah sendiri sambil tertawa kecil.

Kalau dipikir-pikir, semuanya memang terasa terlalu kebetulan. Bertemu orang asing di gang, membawanya pulang, mengobrol sampai larut malam...

Namun ketika pandanganku beralih ke meja makan, pikiran itu langsung buyar.

Dua mangkuk mi instan masih tergeletak di sana. Kuahnya sudah mengering di dasar mangkuk.
Jaket hitam milik Valko tergeletak begitu saja di lantai.

Bukti-bukti kecil itu membuatku menghela napas panjang.
"Jadi... itu bukan mimpi."
Rumah kembali sunyi. Untungnya hari ini libur.
Satu kata yang terdengar sangat mewah bagi seorang hunter.

Aku membuka kulkas, mengambil sekotak susu dingin, lalu menuangkannya ke dalam gelas. Embun langsung mengembun di permukaan kaca, terasa dingin di telapak tanganku.

Dengan langkah santai, aku menjatuhkan diri ke sofa dan meraih remote televisi.
"Lihat berita dulu, deh."
Layar televisi menyala.


Beberapa berita politik dan cuaca berlalu begitu saja tanpa benar-benar kuperhatikan. Aku hanya menyeruput susu sambil sesekali mengganti posisi duduk.


Sampai akhirnya muncul sebuah liputan khusus.
Logo sebuah perusahaan teknologi memenuhi layar.


EonCore Tech.


Pembawa acara menjelaskan dengan antusias tentang peluncuran perangkat baru yang disebut-sebut akan mengubah standar industri.

Kamera kemudian berpindah ke panggung konferensi pers yang dipenuhi lampu sorot, wartawan, dan kilatan kamera.

Di tengah kerumunan itu berdiri seorang pria mengenakan setelan jas hitam yang dijahit pas di tubuhnya. Dasi berwarna gelap terpasang rapi dan rambut merahnya ditata dengan profesional.

Pria itu menjawab pertanyaan wartawan dengan tenang.
Senyumnya sopan.
Posturnya tegap.
Auranya begitu percaya diri hingga ruangan seolah mengikuti setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Aku yang sedang minum langsung membeku.
"..."
Keningku berkerut.
"Eh..."
Aku memajukan badan mendekati televisi.
"Sebentar..."
Wajah itu. Rahang yang sama. Mata yang sama. Senyum yang sama.


"...Valko?"
Aku berkedip beberapa kali.
Televisi tentu saja tidak ikut berubah.
Pembawa acara menyebutkan namanya dengan jelas, lengkap dengan jabatannya sebagai pemimpin perusahaan.
Gelas susu di tanganku hampir lepas.


"HAH?!"
Aku menatap layar televisi bergantian dengan ruang tamuku yang kini kosong.
"Yang... kemarin itu?"
Pria yang kutemukan di gang sempit.
Pria yang tersenyum gembira saat makan mie.
Pria yang memelukku sampai pagi.


Itu...
CEO?
Aku menepuk jidat sendiri.
"Astaga..."
Tawaku langsung pecah.
"Jadi kemarin aku nolong CEO?"

Aku menyandarkan tubuh ke sofa sambil terus tertawa kecil.


"Tunggu, tunggu..."
Aku mencoba menyusun ulang semua kesan pertamaku tentang dirinya.
"Anak teknik."
"Cowok kutu buku."
"Mirip anak anjing."


Aku menutup wajah dengan sebelah tangan.
"Ya ampun..."
Cowok cupu yang kukira cuma pegawai kantoran biasa ternyata memimpin salah satu perusahaan teknologi terbesar.


Lebih lucunya lagi, pria yang semalam tampak begitu jinak, sopan, dan nyaris pemalu itu sekarang berdiri di depan puluhan wartawan dengan wibawa yang sama sekali berbeda.


"Cowok manis seperti anak anjing..."
Aku menggeleng pelan sambil terkekeh.
"...ternyata serigala Alpha."


Perumpamaan itu terdengar pas sekaligus lucu.
Semalam aku hanya melihat sisi Valko yang terluka dan kelelahan. Sementara pria di televisi ini jelas adalah seseorang yang terbiasa mengambil keputusan besar dan memimpin banyak orang.


Dua sosok itu terasa bertolak belakang.
Namun anehnya...
Aku yakin mereka adalah orang yang sama.
Aku kembali menatap layar televisi.
"Hidupku ini beneran kayak sinetron, pasti gak ada yang percaya sih."


Baru kemarin aku mengira hari itu akan berakhir seperti hari kerja biasa. Siapa sangka malamnya aku membawa pulang orang asing yang ternyata keesokan paginya muncul di televisi sebagai CEO terkenal.


Liputan di televisi berlanjut. Valko menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan tenang, sesekali tersenyum kepada wartawan.

Lalu tanpa sadar senyumku perlahan memudar.
"Yah..."
Aku menyandarkan kepala ke sandaran sofa.
"Siapa sih aku."


Bagi Valko, mungkin aku hanya seseorang yang kebetulan lewat pada malam yang buruk dalam hidupnya.
Orang sepertinya pasti bertemu banyak perempuan lebih baik dari aku.


“Dan mungkin jauh lebih cantik,” desisku cemburu.
Setelah kondisinya membaik, mungkin kejadian semalam hanya akan menjadi salah satu insiden kecil yang lama-lama terlupakan.
Sementara bagiku...


Aku menunduk melihat gelas susu di tangan.
Mungkin pertemuan itu memang hanya berlangsung satu malam.
Mungkin kami tidak akan pernah bertemu lagi.
Tetapi entah kenapa, aku merasa kenangan itu akan tinggal cukup lama di kepalaku.
Aku tersenyum tipis, kali ini dengan sedikit rasa getir yang sulit dijelaskan.


"Setidaknya..."
Aku mengangkat gelas susu dingin itu, lalu meneguk isinya perlahan.
"...itu satu hari yang manis."
Di layar televisi, wawancara Valko berakhir dengan tepuk tangan para hadirin.

Matahari mulai naik tinggi, sinarnya menembus sela-sela gorden dan membuat ruang tamu yang tadi terasa redup berubah jauh lebih terang.


Aku masih duduk di sofa, tetapi pikiranku sudah tidak lagi tertuju pada televisi. Berita tentang Valko sudah lama berganti ke segmen lain, sementara gelas susuku tinggal menyisakan beberapa tetes di dasar.


Perutku akhirnya mengingatkan bahwa sejak pagi aku belum makan apa pun.
Kruuuk...
Aku menepuk perut sendiri.
"Iya, iya. Dengar kok."
Aku berdiri, berniat membuka kulkas untuk mencari sesuatu. Namun baru beberapa langkah, aku memutuskan untuk mandi dulu.


Setelah selesai, aku mengeringkan rambut seadanya lalu membungkus tubuh dengan jubah handuk putih yang panjangnya hampir mencapai lutut.


Rambutku masih setengah basah ketika aku keluar dari kamar mandi.
Baru saja hendak menuju kamar untuk berganti pakaian, suara ketukan terdengar dari pintu depan.


Aku berhenti.
"Siang-siang begini?"
Siapa pula yang datang tanpa memberi kabar?
Aku mengintip melalui jendela di samping pintu. Di luar pagar rumah, sebuah mobil mewah terparkir rapi.


Lalu pandanganku beralih ke sosok lain yang berdiri tepat di depan pintu. Rambut hitam yang tertata rapi. Kacamata baru.
Setelan jas berwarna gelap yang dijahit sempurna mengikuti posturnya.
Dan wajah yang baru beberapa jam lalu kulihat memenuhi layar televisi.


"Valko?"
Aku berkedip sekali. Dua kali.
"Eh?"
Tanpa sempat berpikir panjang, aku segera membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Valko langsung menoleh.
Senyumnya muncul seketika.


"Halo."
Untuk sesaat aku hanya bisa memandangnya.
"Masuk dulu," kataku sambil sedikit menyingkir dari ambang pintu.
"Oh... iya. Terima kasih."


Ia melangkah masuk dengan sopan, bahkan sempat melepas sepatunya sebelum benar-benar memasuki rumah.
Barulah aku menyadari kedua tangannya penuh membawa barang.
Di tangan kirinya ada sebuah buket mawar merah berukuran besar. Bunganya masih segar, dibungkus kertas premium berwarna hitam dengan pita satin merah yang diikat rapi.


Di tangan kanannya ada sekotak pizza hangat yang aromanya langsung memenuhi ruang tamu begitu pintu ditutup.
Belum lagi dua kantong belanja berlogo butik mewah yang membuat mataku melotot.


"Sebentar kamu bawa apa aja ini?"
Valko terlihat sedikit canggung.
Ia menggeser posisi berdirinya sebelum menyerahkan buket bunga itu kepadaku dengan kedua tangan.


"Aku… mau menyampaikan terima kasih."
Tatapannya bertemu denganku.
"Karena kamu sudah bersedia menolongku semalam."
Aku menerima buket itu secara refleks. Berat. Dan... cantik sekali.
Harum mawar memenuhi udara di antara kami.


Aku masih belum sempat berkata apa-apa ketika Valko meletakkan kotak pizza di meja ruang tamu, lalu mengangkat dua kantong belanja itu.
Aku spontan menunjuk kotak pizza.


"Pizza... untuk kita makan siang. Kemarin kamu sempat bilang hari ini libur dan malas keluar rumah,” kata Valko.


Ternyata Valko mengingat obrolan tidak penting tadi malam.
"Untung ternyata kamu benar-benar di rumah."
Aku tidak bisa menahan senyum tipis.


Pandangan Valko beralih ke buket mawar merah yang masih kupeluk.
"Itu..."
Ia menggaruk pelipisnya sendiri, tampak lebih gugup daripada saat diwawancarai puluhan wartawan di televisi.
"...buat kamu."


"Kenapa?"
Karena aku benar-benar penasaran, bukan sengaja menggodanya.
Valko menarik napas singkat.
"Karena kamu cantik."
Wajahku langsung terasa panas seperti remaja baru jatuh cinta.


Aku buru-buru memalingkan wajah. Entah kenapa, pujian sederhana itu justru jauh lebih mematikan daripada rayuan yang berlebihan.
Kulirik sekilas ke arahnya. Valko tampak ikut salah tingkah setelah mengatakannya.


Aku berdeham keras, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Lalu..."
Aku menunjuk dua kantong belanja dari butik super mewah.
Biasanya aku hanya bisa melihatnya di majalah fashion, atau melewati butiknya di mall tanpa berani masuk.
Dompetku bisa meronta dan menangis kalau belanja di sana.


"Yang itu?"
"Oh."
Ekspresinya sedikit lega karena topik berganti.
"Itu ada piyama."
"Piyama?" kataku bingung.
Ia mengangguk pelan.
"Untuk mengganti yang kemarin..."
Valko berhenti sepersekian detik.
"...yang rusak." Aku langsung tahu kejadian mana yang ia maksud. Mataku membulat teringat Valko menarik piyamaku dengan semangat.
Sebelum ia sempat melanjutkan kalimatnya, aku refleks menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Ssst!"
Wajahku sudah semerah tomat, "Jangan dibahas keras-keras!"
Valko berkedip beberapa kali dari balik tanganku, lalu mengangguk cepat sebagai tanda mengerti.


Aku buru-buru menarik kembali tanganku.
Ia tersenyum kecil, masih terlihat menurut.
Aku menunjuk kantong terakhir,"Yang satunya lagi?"
Valko mengambil napas pelan.
"Gaun."
"Gaun?"
Tatapannya kembali bertemu denganku.


"Kalau… kamu bersedia…"

Ia berhenti sesaat, seolah memilih kata dengan hati-hati.

"Aku ingin mengajakmu makan malam sebagai ucapan terima kasih."


Ruangan mendadak terasa sunyi. Aku hanya memandanginya tanpa mampu menjawab.
Kencan?

Atau... setidaknya makan malam berdua?


Pikiranku mulai berputar ke mana-mana.
Bukannya baru kemarin kami bertemu? Terus sekarang dia datang bawa bunga, pizza, hadiah... lalu ngajak makan malam?


Aku menopang dagu dengan tangan.
Ini cepat banget.
Di sisi lain...
Kalau jujur pada diri sendiri, aku memang ingin mengenalnya lebih jauh.


Pria ini memang datang ke hidupku dengan cara yang paling tidak masuk akal, tetapi setiap kali berbicara dengannya, aku justru merasa nyaman.


Ah, persetan lah! Kali ini aku memutuskan untuk lebih mendengarkan perasaan, atau dorongan hasratku?

Kalau memang ingin mengenalnya, kenapa harus pura-pura jual mahal?


Aku tersenyum kecil.
"Nanti kupikirkan."
Jawabanku memang belum benar-benar "iya", tetapi juga bukan penolakan.
Senyum Valko tampak sedikit melebar mendengarnya.

Beberapa menit kemudian kami sudah duduk berdampingan di ruang tamu.
Kotak pizza terbuka memenuhi meja.
Aroma keju yang baru dipanggang langsung memenuhi ruangan. Aku mengambil sepotong pertama tanpa banyak basa-basi.


"Selamat makan!” seru kami berdua.
Gigitan pertama langsung membuat perutku yang sejak tadi lapar akhirnya tenang.
"Enak?" tanya Valko.
Aku mengangguk sambil masih mengunyah.
"Banget."


Valko justru belum banyak makan.
Ia lebih sering memperhatikanku sambil sesekali tersenyum kecil, seolah merasa puas hanya karena melihatku menikmati makanan yang dibawanya.


"Kok kamu lihatin aku terus?"
"Tidak..."
Ia buru-buru menggeleng.
"Hanya..."
Ia tertawa pelan.
"...senang saja."
Setelah menghabiskan sepotong pizza, aku baru menyadari sesuatu.


Aku melihat jubah handuk yang masih kukenakan.
"...Astaga."
Aku menepuk jidat sendiri dan langsung berdiri.
"Sebentar ya."
Aku menunjuk ke arah kamar.
"Aku ganti baju dulu."


Belum sempat melangkah jauh, Valko menarik tanganku.
"Sebentar."
Aku menoleh.


Ia berdiri dari sofa, lalu menatapku dengan ekspresi yang lebih lembut daripada sebelumnya.


"Daripada kamu ganti baju, gimana kalau kita lanjutkan yang tadi malam?"


~ the end? ~

No comments